Mafia And Angel

Mafia And Angel
Bag. 72 - Pemikiran Ziya



Sudah dua hari Ziya terbaring di atas tempat tidur tepatnya di kamar Alberto. Pagi hari yang cerah ini membuat Ziya merasakan bahwa tubuhnya sudah cukup lama tertidur pulas di atas tempat tidur, sehingga membuat dirinya sedikit menggerakkan satu tangannya untuk menyentuh pelipis kepalanya. Karena, sebelum Ziya pingsan ia merasa bahwa ada seseorang yang telah merencanakan perbuatan jahat terhadap dirinya.


Dan, di saat itu Ziya merasakan bahwa penjahat itu bukan hanya merencanakan melainkan segera melakukannya pada tubuhnya saat itu. Ziya mulai membuka matanya sedikit demi sedikit. Ziya merasa bahwa penglihatannya masih terasa buram dan lama kelamaan akhirnya jelas, terang, terlihat semua. Saat membuka matanya Ziya merasa bahwa dirinya masih berada di kamar Alberto. Ziya pikir dirinya telah berpindah tempat, tidak di kamar ini lagi, tapi ternyata kondisi mengatakan bahwa dirinya masih saja tetap di kamar ini.


" Ternyata, aku masih disini,," Ucap Ziya yang melihat benda-benda kamar Alberto masih persis sama seperti apa yang telah ia lihat sebelumnya.


" Aku pikir, aku sudah berpindah alam,," Bilang Ziya bergumam sendiri saat membuka jelas matanya itu.


Vena yang mendengarkan suara Ziya saat itu, segera bangun dari tidurnya. Karena, Vena yang ditugaskan untuk selalu menjaga Ziya, jadi selama Ziya belum bangun dan tersadar dari sakitnya, Vena akan tetap di kamar ini sampai Ziya sadarkan dirinya.


" Nyonya,, Nyonya sudah bangun,," Bilang Vena yang mengucek matanya lalu mendekati tempat tidur Ziya.


Ziya yang seakan tidak mengerti apa yang terjadi pada dirinya itu, membuat dirinya merasa haus dan ingin segera meneguk air yang segera membasahi tenggorokannya itu.


" Heemm,," Jawab Ziya mengangguk sapaan Vena padanya.


" Vena, Tolong ambilkan aku minum,," Bilang Ziya kepada Vena, Vena pun mengangguk.


" Baik, Nyonya,," Ucap Vena yang segera pergi ke tempat air minum yang ia letakkan di atas meja tepat di depan sofa.


Dengan segera Vena menuju ke tempat air minum dan mengambilnya, setelah itu Vena memberikannya pada Ziya. Ziya terlihat sangat haus sekali, karena, begitu cepat telah menghabiskan air minum yang diberikan oleh Vena.


Vena tersenyum melihat Ziya yang telah sadarkan diri dan bisa duduk dengan kembali normal, bahkan walaupun saat ini tubuh Ziya terlihat lemah serta wajahnya masih pucat, Vena yakin bahwa tubuh Ziya sudah kembali normal dan sehat kembali.


" Syukurlah, Nyonya sudah sadar kembali,," Bilang Vena yang menerima gelas minum dari Ziya.


" Hemm,, terima kasih,," Jawab Ziya yang sedikit mengukir senyumannya.


Ziya yang merasa penasaran dengan ucapan Vena yang bersyukur bahwa dirinya telah sadar segera menanyakannya kepada Vena saat ini.


" Memangnya, apa yang terjadi pada diriku, setelah,,,,," Tanya Ziya yang ucapannya gantung, karena, dirinya sangat mengingat bahwa ada seseorang laki-laki yang ingin merenggut harga dirinya saat itu.


Lalu, Ziya menundukkan kepalanya, karena, ia merasa bahwa dirinya telah mengalami suatu kejadian yang begitu tragis itu, membuat dirinya trauma karena, berturut-turut mengalami hal yang sangat buruk baginya itu.


Ya, sangat benar sekali, hal buruk yang terjadi pada dirinya itu.


Pertama, Paman Erwin menyuruh dirinya bersandiwara menjadi Zoya dan pastinya itu membuat dirinya sangat terkejut sekali telah mengubah kehidupannya yang sangatlah bahagia bersama orang tuanya dan semenjak itu kehidupan dirinya berubah total.


Kedua, Alberto suami dari kembarannya itu telah tega menghina dan mengatakan bahwa dirinya tidak perawan lagi setelah Alberto menyentuh dan merampas semua yang berharga di dalam dirinya. Sehingga atas ucapan Alberto ini membuat Ziya bagaikan seorang wanita sampah yang hanya disentuh, direnggut kesuciannya lalu dicampakkan begitu saja.


Sedangkan yang ketiga, dimana setelah Alberto kembali menghina dan menghujat dirinya dengan semua keburukan yang ada pada dirinya datanglah seseorang yang tega melakukan penganiayaan dan penyiksaan secara paksa terhadap tubuhnya yang sedang lemah itu.


Membuat Ziya berpikir apakah dirinya masih pantas untuk hidup ?


Sesaat Ziya menangis karena, merasa dirinya yang saat ini mendapatkan suatu bencana dan masalah yang bertubi-tubi dalam waktu sekejap. Vena, saat itu merasa kasihan terhadap Ziya yang spontan menangis menanyakan apa yang telah terjadi pada dirinya itu ?


Vena segera duduk di samping Ziya dan memegang bahu Ziya serta menenangkan pikiran Ziya yang sangat kalut saat ini.


" Nyonya,, jangan menangis,," Bilang Vena untuk membujuk Ziya.


Lalu, Ziya yang merasa bahwa Vena merupakan satu-satunya teman yang selalu berada di sampingnya segera memeluknya dan menangis sesenggukan.


" Aku tidak sanggup untuk menghadapi ini semua Vena,," Bilang Ziya yang menangis di pelukan Vena.


" Nyonya harus bersabar, walau bagaimanapun Tuan,," Ucap Vena yang kata-katanya terhenti karena mengingat bahwa Alberto telah memberikan pesan jangan pernah mengatakan apapun tentang hal dirinya saat Ziya pingsan setelah insiden yang sungguh mengenaskan itu.


Ziya yang sama sekali tidak mengingat dan mengetahui kejadian setelah dirinya pingsan itu merasa bahwa Alberto tetap saja berpikir bahwa dirinya adalah seorang perempuan rendahan yang tidak diketahui siapa orang yang telah menyentuh dirinya sebelum Alberto pada malam dimana Alberto menyentuh dirinya.


Sungguh Ziya tidak tahu, apa sebenarnya maksud dari Vena yang berbicara terputus padanya itu.


" Tapi, aku, aku sama sekali tidak per,," Ucap Ziya yang terputus karena, ia belum mau menceritakan semua yang terjadi padanya seperti apa yang telah dituduhkan Alberto padanya.


" Nyonya,, walau bagaimanapun Nyonya,, Nyonya tetap harus kuat, karena, kasihan dengan Tuan Muda Demian, yang selalu menangis apabila melihat Nyonya yang sedang sakit." Ucap Vena yang mengalihkan pembicaraannya kepada Ziya.


Setelah menghapus air matanya Lalu, Ziya teringat akan Demian, kenapa pagi ini dirinya sama sekali tidak melihat Demian datang ke kamarnya.


" Demian, Vena, dimana Demian,?" Tanya Ziya kepada Vena secara langsung.


Dengan tersenyum Vena menjawab begitu lembut tentang keberadaan Demian saat ini.


" Nyonya,, sebenarnya selama Nyonya sakit, Tuan muda selalu menemani Nyonya tidur di kamar ini, dan baru pagi sebelum Nyonya bangun, Tuan Demian sudah pergi ke sekolahnya,," Bilang Vena dengan lembut menjelaskan keberadaan Demian saat ini.


Ziya merasa lega mendengarkan penjelasan dari Vena yang mengatakan bahwa selama ini Demian berada di sisinya.


" Oohhh God, dia anak yang pintar, terima kasih Tuhan, telah memberikan Ziya anak sepintar Demian,, Mommy kangen kamu, nak, maafin Mommy yang mengingkari janji untuk selalu menempel denganmu,," Bilang Ziya yang seakan membuat Vena terharu.


Begitu cintanya Ziya pada Demian, karena, bagi Ziya tidak ada seorangpun di kediaman ini yang menjadi pelipur hatinya selain kehadiran Demian yang selalu membuatnya menjadi lupa akan kekhawatiran dirinya terhadap semua masalah yang telah terjadi padanya itu.


Vena pun dengan segera meminta izin untuk keluar dari kamar Alberto saat ini, karena Ziya majikannya telah sadarkan diri, oleh sebab itu Vena ingin membawakan sarapan dan makanan untuk majikannya itu.


" Nyonya, Vena izin keluar untuk mengambil sarapan untuk Nyonya,," Bilang Vena meminta izin kepada Ziya dan segera berdiri dari duduknya.


" Tapi, saya tidak lapar, Vena,," Ucap Ziya yang merasa bahwa dirinya malas untuk memakan apapun.


Tapi, sayang perut Ziya tidak mau berkompromi dengan ucapannya itu.


KRUKK !!


Bunyi perut Ziya yang berteriak segera meminta makanan saat ini.


Sehingga, sangat terdengar sekali bahwa perutnya berteriak meminta sesuatu untuk segera dimakan oleh Ziya saat ini. Memang mulut Ziya berkata tidak lapar, tapi lain dengan perutnya, karena sudah tiga hari Ziya tertidur lemah di dalam kamar ini. Pastinya sangat membuat perutnya itu merasakan lapar yang begitu dahsyat.


" Tunggu sebentar ya, Nyonya, Vena akan kembali membawakan sarapan." Ucap Vena yang segera meninggalkan Ziya sendiri di kamarnya itu.


Ziya tidak bisa menolak saat ini, hanya bisa mengangguk atas ucapan Vena itu, saat ini membuat Ziya merasa bosan karena, sendiri di dalam kamar.


Lalu, Karena, sendiri di dalam kamar, Ziya tidak menghiraukan dimana dan kemana Alberto saat ini. Sebab, ia teringat saat terakhir sebelum kejadian mengenaskan yang telah menimpanya itu, Alberto dengan sengaja memperlakukan dirinya dengan kasar dan masih saja menuduh dirinya wanita yang sangat buruk di mata Alberto. Membuat Ziya saat ini begitu membenci Alberto.


" Aku benci kamu,," Ucap Ziya sendiri yang melihat wajah Alberto terbingkai indah di dalam kamar itu.


Ziya berpikir saat kejadian itu, dia selalu berteriak meminta bantuan dan memanggil nama Alberto, Memangnya siapakah orang yang telah menyelematkan dirinya saat kejadian itu terjadi. Karena, Ziya jelas mendengar bunyi tembakan di saat tubuhnya telah lemah menghadapi orang yang ingin memper-kosanya itu.


Ziya kembali memutar otaknya berpikir siapa orang yang telah menyelamatkan dirinya. Apakah Alberto sendiri,?


" Siapa orang yang telah menyelamatkan diriku,," Ucap Ziya yang bertanya-tanya sendiri memikirkan siapa orang yang telah menyelamatkan dirinya saat itu.


" Apakah dia orang yang telah menyelamatkanku,," Bilang Ziya berpikir apakah Alberto yang telah menyelamatkan dirinya.


" Kenapa aku bisa lupa dan tidak mengetahui apa-apa yang terjadi setelah itu." Bilang Ziya lagi memikirkan kejadian itu.


" Apakah orang yang mencelakakan diriku telah mati,,?" Ucap Ziya lagi mengira bahwa orang yang ingin memper-kosanya itu telah lenyap di muka bumi ini.


Karena, saat itu Ziya jelas mendengar dan melihat bagaimana suara tembakan itu membuat laki-laki itu terhuyung lemah di atas tubuhnya. Dan, saat itu Ziya tak sadarkan diri, lalu melihat wajah tampan yang tersenyum kepadanya.


" Siapa laki-laki tampan yang tersenyum kepadaku itu,," Ucap Ziya lagi-lagi memikirkan sesuatu tentang kejadiannya itu.


Sementara itu,,


Vena yang telah keluar dari kamar meminta semua pengawal untuk menjaga Ziya dengan pengawalan dan penjagaan yang begitu ketat, karena, ia khawatir akan terjadi lagi insiden peristiwa mengenaskan pada majikannya di saat dirinya sedang tidak berada di kamar Alberto.


" Jaga Nyonya dengan ketat dan dengarkan suara apapun dari dalam,," Bilang Vena yang meminta semua pengawal di depan pintu kamar Alberto menjaga keselamatan Ziya di dalam.


" Baik, Vena,," Ucap salah satu pengawal kepada Vena.


Vena pun mengangguk dan segera melangkahkan kakinya turun ke bawah ke bagian dapur untuk menyiapkan sarapan pagi buat Ziya.


Sesaat Vena yang sedang di dapur terlihat dua wanita ular yang ingin mendekati Vena dan pastinya melakukan rencananya itu melalui Vena sang asisten pribadi Ziya saat ini.


" Itu, Aunty, asistennya Zoya telah keluar dari kamar,," Bilang Claire yang menatap dan memperhatikan gerak-gerik Vena yang melangkah menuju ke dapur.


" Kita lihat keadaannya dulu,," Bilang Gladys yang pemikirannya sama-sama sadis dengan keponakannya itu.


" Baik Aunty,," Bilang Claire yang seakan merencanakan sesuatu terhadap Vena ketika Vena telah selesai melakukan persiapan sarapan untuk majikannya itu.


Setelah selesai menyiapkan sarapan pagi untuk majikannya, dengan membawa nampan yang berisi sarapan untuk Ziya, Vena segera melangkahkan kakinya ke lantai dua dan lagi-lagi melewati dua wanita ular itu yang sedang memperhatikan gerak-gerik dirinya.


Vena tidak tahu bahwa Claire dan Gladys telah mengincar kelengahan Vena saat ini. Karena, sudah beberapa Vena sama sekali tidak keluar dari kamar Alberto itu, berarti Ziya belum sembuh sedikitpun, sedangkan saat ini Vena telah keluar dari kamar itu berarti Ziya sudah sadar dan sudah sembuh.


Oleh sebab itu, Claire dan Gladys bisa melakukan rencananya kepada Alberto yang telah mengurung dan menyekap keberadaan Martin saat ini.


" Aunty, dia kembali lagi ke kamar, bagaimana kita bisa melakukan rencananya." Ucap Claire yang setengah berbisik pada Gladys.


" Calm down, Baby,, tunggu setelah dia keluar lagi, karena, terlihat asisten wanita ja-lang itu membawa makanan pastinya untuk wanita ja-lang yang telah sembuh dari sakitnya dan pastinya dia akan keluar lagi dari kamar untuk memenuhi semua kebutuhan wanita ja-lang itu." Bilang Gladys dengan mata sinisnya menatap gerak-gerik langkah Vena.


" Terus, kita kapan melakukannya, Aunty,," Bilang Claire yang tidak mau sabar menunggu kesempatan mengganggu asisten pribadi Ziya saat ini.


" Tunggu aba-aba dari, Aunty,," Bilang Gladys yang begitu pintar menyusun strategi jahatnya itu.


Claire saat ini pastinya segera ingin melakukannya, tapi, sayangnya Gladys Auntynya itu belum mengizinkan dirinya untuk melakukan rencananya itu.


Setelah tiba di kamar Alberto, Vena merasa sepertinya aman-aman saja saat ini. Dengan tersenyum Vena masuk ke dalam tempat tidur pribadi Alberto dan melihat Ziya sedang berbaring sambil menggoyangkan jarinya di atas bibirnya seperti sedang memikirkan sesuatu.


" Nyonya, ini sarapannya,," Bilang Vena meletakkan nampan sarapan di atas meja samping tempat tidur.


Ziya yang sedang melamun itu sedikit dikagetkan dengan suara Vena yang mengantarkan sarapan padanya. Ziya ingin duduk dengan segera Vena membantunya.


" Makanlah Nyonya sarapannya, supaya Nyonya cepat sembuh!!" Ucap Vena yang menawarkan sarapan untuk Ziya.


Ziya menatap Vena dengan tatapan sendu, walaupun dalam keadaan terpaksa akhirnya Ziya memakan makanan yang telah disediakan oleh Vena itu.


" Duduk disini, Vena," Ucap Ziya sesaat ya g yang menatap Vena.


Sambil tersenyum, Vena segera duduk di hadapan Ziya. Setelah duduk Ziya menawarkan untuk makan bersamanya. Ziya tahu pasti Vena belum makan juga saat ini.


" Makanlah bersama denganku,," Bilang Ziya langsung kepada Vena membuat Vena pastinya sangat terkejut atas tawaran Ziya saat ini.


" Aakkh,, Maaf Nyonya saya tidak boleh makan bersama anda,," Bilang Vena yang menolak secara halus tawaran Ziya padanya itu.


" Memangnya kenapa,?" Tanya Ziya spontan kepada Vena.


" Karena, saya cuma pelayan Nyonya, jadi saya tidak boleh makan bersama Nyonya,," Bilang Vena yang menjelaskan keadaan dirinya itu.


Ziya yang merasa bahwa Vena terlalu merendahkan dirinya itu membuat Ziya berpikir, kenapa pelayan tidak boleh makan bersama dengannya, tidak ada aturan seperti itu, itu adalah aturan bagi orang yang hidup dalam dunia kesombongan dan sama sekali tidak memikirkan akan akhirat nanti.


" Memangnya pelayan bukan manusia,," Ucap Ziya yang membuat Vena sedikit tersenyum.


" Kau sama saja denganku, Pokoknya aku tidak mau tahu, kau harus makan bersama denganku sekarang,," Bilang Ziya yang memerintah Vena untuk segera makan bersama dengannya.


Vena tersenyum menatap majikannya ini. Sungguh mulia hati majikannya ini karena, tidak memandang dirinya sebelah mata. Sikap Majikannya ini membuat dirinya merasa bahwa majikannya itu sama sekali tidak membeda-bedakan kedudukan antara majikan dan seorang pelayan.