Mafia And Angel

Mafia And Angel
Bag. 154 - Memberikan Perhatian



Ketika sedang serius membicarakan suatu hal pada Ziya tiba-tiba ponsel Alberto berbunyi menandakan adanya telepon yang masuk, Alberto segera mengambil ponselnya di dalam saku celananya dan menerima panggilan dari sahabatnya itu Zavier.


" Sebentar sayang,," Ucap Alberto yang meminta izin pada Ziya.


" Heemm,," Jawab Ziya mengangguk.


" Ya ada apa Zavier ?" Tanya Alberto langsung ketika mengangkat ponselnya.


" Dude, ada yang ingin ku sampaikan tentang Alexa,," Ucap Zavier yang langsung mengatakan tujuannya.


" Ya, katakan memangnya ada apa ?" Tanya Alberto lagi.


" Baru saja aku mendapat laporan bahwa, Alexa sedang mencari seseorang,," Ucap Zavier singkat yang hanya mengatakan inti dari video rekaman yang dilakukan oleh pengintainya itu.


" Mencari seseorang, maksudmu ?" Tanya Alberto lagi yang merasa penasaran.


" Entahlah aku juga tidak tahu siapa orang yang sedang dicarinya itu,," Jawab Zavier yang juga belum mengetahui siapa orang yang akan dicari oleh Alexa.


" Baik, tetap cari tahu dan segera kau dapatkan data orang yang sengaja dicari oleh Alexa,," Ucap Alberto memerintahkan Zavier dan membuat Ziya yang mendengarkannya penasaran.


" Heemm,, Alexa sedang mencari seseorang, siapa ?" Tanya Ziya dalam hati yang merasa penasaran akan orang yang sedang dicari oleh Alexa.


Karena, Ziya sedikit mendengarkan ucapan Alberto yang memerintahkan Zavier untuk segera mencari tahu siapa yang ingin dicari oleh Alexa, Ziya seperti mendapatkan suatu ide untuk mendekati Alexa.


" Heemm, ini kesempatan bagus bagiku, aku bisa mendekati Alexa, dengan cara ini, sepertinya ada sesuatu yang terjadi pada Alexa,," Gumam Ziya dalam hati sambil tersenyum mendengar ucapan Alberto yang sedang menerima telepon dari Zavier.


" Tapi, apakah Alberto mengizinkanku untuk mendekatinya,," Ucap Ziya lagi dalam hatinya.


" Aaahh,, yang penting aku harus meminta izin terlebih dahulu pada Alberto akan niatku ini,," Ucap Ziya lagi yang penuh semangat.


" Oke Dude, segera aku lacak,," Jawab Zavier dengan entengnya.


" Good,," Ucap Alberto untuk Zavier.


Seperti biasa, Zavier selalu memutuskan teleponnya ketika merasa sudah selesai melaporkan hasil pekerjaannya. Dan, Alberto juga mengetahui akan sifat dari Zavier ini. Setelah selesai menerima telepon dari Zavier dan menyimpan kembali ponselnya di dalam saku celananya, Alberto segera kembali mendekati Ziya dengan senyuman.


" Memangnya apa yang terjadi pada Alexa ?" Tanya Ziya langsung pada Alberto setelah Alberto menyelesaikan teleponnya.


" Heemm kau mendengarkannya sayang ?" Tanya Alberto pada Ziya.


" Ya jelas aku dengar kalau volume suaranya keras,," Jawab Ziya atas pertanyaan Alberto ini.


" Oohh, jadi karena volume suaraku kau mendengarnya,," Jawab Alberto yang membuat Ziya mengangguk.


" Memangnya apa yang terjadi pada Alexa ?" Tanya Ziya lagi pada Alberto.


" Menurut pengintaian yang dilakukan anak buah Zavier, Alexa sedang mencari seseorang, aku curiga apa yang sedang dilakukannya tanpa sepengetahuanku itu,," Jawab Alberto yang menjelaskannya secara rinci.


" Mencari seseorang,, apakah Alexa sedang jatuh cinta, dan Alexa sengaja menutup rahasianya ini darimu, karena takut kau tidak menyetujuinya,," Bilang Ziya yang menerka perbuatan Alexa.


" Heemmm, sepertinya pemikiranmu sedikit masuk akal,," Ucap Alberto mengangguk.


Setelah Ziya mendengar ucapan Alberto yang menyatakan bahwa pemikirannya ini cukup masuk akal, jadi, dengan segera Ziya menanyakan suatu hal keinginannya untuk mendekati Alexa.


" Eemmm Alberto apakah aku boleh mendekati Alexa, untuk mengetahui apa yang sedang dicarinya itu ?" Tanya Ziya yang langsung meminta izin.


" Jangan, nanti kau akan mendapatkan perkataan yang buruk darinya,," Jawab Alberto yang sangat mengetahui tipe adiknya ini.


" Hehehehe,, tidak akan, Alberto, aku memahami isi hati Alexa, jadi, tidak mungkin Alexa akan berbicara yang buruk padaku,," Ucap Ziya yang merasa percaya diri akan dirinya itu.


" Sayang, kau tidak tahu siapa Alexa,," Bilang Alberto yang masih mencegah Ziya.


Ziya merasa bahwa Alberto terlalu takut akan suatu hal terjadi pada dirinya, jika ia mendekati Alexa. Oleh sebab itu, Ziya tetap bersikeras untuk mendekati semua keluarga Alberto.


" Alberto, jika aku tidak mendekati Alexa, bagaimana aku bisa mengetahui sifatnya, izinkan aku untuk mendekati semua keluargamu, Alberto,," Ucap Ziya yang terdengar lembut di telinga Alberto.


" Heeemm baiklah, aku mengizinkanmu untuk mendekati Alexa, tapi, ingat harus berhati-hati,," Bilang Alberto yang memperingatkan Ziya.


" Oke, terima kasih, karena, kau kembali telah mempercayakan aku,," Ucap Ziya yang tersenyum senang.


Karena, merasa hubungannya dan Ziya sudah membaik, Alberto segera meminta izin pada Ziya, untuk pergi ke ruangan penelitian miliknya sendiri, karena, ia ingin segera mencari tahu dimana Gladys meletakkan barang bukti yang bisa digunakan untuk membuktikan semua perbuatannya itu.


" Eemm,, sayang, aku ingin menuju ke ruanganku, karena, aku ingin segera mencari tahu keberadaan barang bukti yang telah tersimpan selama ini,," Bilang Alberto yang berpamitan pada Ziya.


" Oohh ya silahkan lebih cepat lebih bagus,," Jawab Ziya mengangguk dan memberikan semangat kepada pekerjaan Alberto.


Karena, Ziya juga merasa bahwa ia juga ingin melakukan penelitian pada pekerjaannya itu.


" Heemmm, kau ini, hati-hati di kamar," Bilang Alberto yang menjawil hidung Ziya dan segera turun dari tempat tidurnya.


" Oke, oh ya jika pekerjaanmu sudah selesai, jangan langsung masuk ke dalam ruang penelitianku, karena, aku ingin membuat racun lagi," Bilang Ziya yang memberikan antisipasi terlebih dahulu pada Alberto.


" Sayang,, keadaanmu baru saja membaik, lebih baik isitirahat saja, jangan melakukan apapun, yang memberatkan pikiran dan tubuhmu,," Bilang Alberto yang menasehati Ziya.


" Eemmm,, Alberto tubuhku memang sudah membaik,," Bilang Ziya yang masih ingin melakukan sesuatu pada penelitiannya.


" Ya, aku izinkan, tapi jangan terlalu lelah, Ok,," Ucap Alberto yang sengaja mengecup lembut bibir Ziya, Ziya hanya tersipu malu atas kelakuan Alberto yang tidak pernah puas untuk menciumi bibirnya.


Lalu, Alberto segera keluar dari kamarnya Ziya, sementara itu, Ziya hanya bisa tersenyum melihat betapa manisnya sifat Alberto saat ini padanya. Ziya memahami akan sikap Alberto yang memarahinya tadi, karena, terlihat jelas bahwa Alberto sangat cemburu padanya. Oleh sebab itu, Ziya kembali merasa bahagia ketika Alberto meminta maaf dan menjelaskan semua kemarahannya itu padanya.


Saat Alberto melangkahkan kakinya keluar tepat di depan pintu kamar Ziya, Isabelle Putri keduanya dengan wajah sedikit sendu dan pucat langsung memanggil Alberto dan menanyakan identitas tentang dirinya. Karena, baru hari ini saja Isabelle mengetahui bahwa dirinya bukanlah anak kandung dari Alberto. Itu semua karena, Claire yang memberitahukannya, sebenarnya Alberto juga berniat untuk tidak memberitahu Isabelle akan identitasnya itu.


" Daddy,," Panggil Isabelle dengan wajah sendu pada Alberto.


" Aku sedang sibuk, jika kau membutuhkan sesuatu panggil saja pelayan atau pengawal,," Ucap Alberto yang segera melangkahkan kakinya meninggalkan Isabelle yang masih berdiri mematung di hadapannya.


Ketika melihat Alberto berkata seperti itu, sudah jelas sekali bagi Isabelle bahwa Alberto memang bukanlah Daddy kandungnya. Sehingga dengan sangat cepat Isabelle langsung melontarkan pertanyaan-pertanyaan yang banyak kepada Alberto.


" Daddy, tunggu, apakah benar Belle bukan anak kandung Daddy ?" Tanya Isabelle langsung yang membuat Alberto segera menghentikan langkahnya.


Saat Isabelle mengatakan bahwa ia bukanlah anak kandung dari Alberto, pastinya Alberto sangat kaget sekali ketika mendengarkan hal itu, namun, walaupun terlihat kaget, Alberto masih saja diam tanpa menjawab sedikitpun pertanyaan yang dilontarkan oleh Isabelle padanya.


" Daddy, Isabelle hanya ingin tahu langsung dari Daddy, jika Isabelle bukanlah putri kandung, Daddy,," Bilang Isabelle lagi segera melangkah mengejar Alberto.


Karena, sudah berapa kali Alberto mendengarkan pernyataan dari Isabelle ini, Alberto segera bertanya pada Isabelle siapa yang telah berani memberitahunya tentang hal ini.


" Siapa yang telah memberitahumu ?" Tanya Alberto dengan suara dinginnya.


" Aunty Claire, Daddy tolong jawab pertanyaan Belle, apakah benar Belle bukan anak kandung, Daddy ?" Tanya Isabelle lagi yang terakhir kalinya.


Karena, mendengarkan ucapan Isabelle yang mengatakan bahwa orang yang memberitahukannya itu adalah Claire, semakin bertambah lagi kemarahan Alberto terhadap Claire. Walaupun sudah mengetahui siapa yang telah memberitahu Isabelle tentang identitasnya itu, Alberto masih saja tidak menjawab pertanyaan yang disampaikan Isabelle padanya dan Alberto sama sekali tidak menatap wajah putri keduanya itu, sehingga membuat Isabelle menangis akan kenyataan yang ia dapatkan ini.


Karena, tidak mendapatkan jawaban dari Alberto, Isabelle sudah mengerti bahwa dirinya bukanlah anak kandung dari Alberto. Dan Isabelle sangat memahami jika Alberto selalu bersikap dingin dan tidak memperdulikannya.


" Daddy tidak menjawab sedikitpun pertanyaan dariku dan bahkan Daddy sama sekali tidak memperdulikan kehadiranku, baik aku sudah mengerti kenapa Daddy seperti itu padaku, karena, aku bukanlah anak kandungnya," Gumam Isabelle yang melangkah sendiri dengan langkah gontai.


Saat ini Isabelle ingin menuruni tangga untuk kembali ke kamarnya sendiri, meratapi nasibnya yang telah mengetahui tentang identitasnya itu, bahwa ia bukanlah anak kandung dari Alberto. Namun, saat Isabelle menuruni tangga, disaat itu Isabelle tak sengaja berpapasan langsung dengan Vena, yang baru saja menaiki tangga untuk menuju kamar majikannya. Vena, segera memberi hormat dan menyapa majikan mudanya ini.


" Siang Nona,," Ucap Vena yang menyapa Isabelle.


Namun, sedikitpun Isabelle untuk menyahut sapaan dari Vena. Vena sedikit tersenyum karena, kemungkinan Isabelle sedang tidak ingin menyapa para pelayan di kediaman ini. Lalu, Vena kembali melihat dengan jelas wajah Isabelle ketika mereka sangat dekat dan Vena kaget saat melihat wajah Isabelle menangis dan pucat. Tiba-tiba Isabelle terkulai pingsan tepat di hadapan Vena, Vena segera berteriak memanggil semua pengawal yang ada.


" Aaakkhh, Nona, Nona kenapa ?" Tanya Vena yang menangkap tubuh Isabelle saat terkulai pingsan.


" Pengawal tolong, Nona Isabelle pingsan,," Teriak Vena kepada semua pengawal yang berada di atas maupun di bawah.


Karena, mendengar suara teriakan Vena dengan segera semua pengawal membantu Vena untuk mengangkat Isabelle ke lantai bawah.


" Ada apa Vena ?" Tanya beberapa pengawal yang segera turun ke tangga.


" Ini Nona Isabelle pingsan,," Ucap Vena yang masih memangku tubuh Isabelle.


" Ayo, segera bawa ke kamarnya,," Ucap salah satu pengawal yang segera mengangkat tubuh Isabelle.


" Iya, iya bawa langsung ke kamarnya,," Bilang Vena segera mengikuti pengawal yang membawa Isabelle.


Dengan segera Vena dan beberapa pengawal membawa Isabelle langsung menuju kamarnya. Sesampainya tepat di kamar Isabelle, Vena segera membuka pintunya dan beberapa pengawal masuk lalu meletakkan tubuh Isabelle tepat di tempat tidurnya. Karena, sudah selesai diletakkan di atas tempat tidurnya, Vena bingung harus memanggil siapa untuk memberitahu tentang keadaan Isabelle saat ini.


" Pak, saya harus panggil siapa, untuk memberitahu keadaan Nona Isabelle ?" Tanya Vena kepada beberapa pengawal.


" Kami juga tidak tahu, Vena, karena, Nona Isabelle tidak ada asisten pribadinya,," Jawab pengawal itu pada Vena dengan jelas.


" Aduh bagaimana ini," Gumam Vena yang bingung.


" Begini saja untuk sementara jaga Nona Isabelle dan saya mau panggil Nyonya Zoya," Ucap Vena yang mempercayakan Isabelle pada pengawal majikannya sendiri.


" Baik, kami tunggu di luar,," Jawab salah satu pengawal pada Vena.


" Apa, tidak ada satupun yang mau membantuku,," Ucap Vena yang mulutnya menganga.


" Bukannya tidak mau membantu Vena, kami tidak ada perintah dari Tuan Besar untuk melayani Nona Isabelle." Jawab pelayan itu membuat Vena tercengang.


" Oke, baik kalau tidak ada perintah dari Tuan Besar, minimal sesama manusia harus saling membantu, apalagi kita semua bekerja di kediamannya,," Ucap Vena yang masih bersikeras untuk mengajak beberapa pelayan membantunya menyadarkan Isabelle.


" Maaf Vena, kami semua sudah ada pekerjaannya masing-masing,," Jawab pelayan itu langsung membuat Vena mengerti bahwa tidak ada satupun pelayan di dalam kediaman ini yang memperhatikan keadaan Nona Muda Isabelle.


Tanpa pikir panjang lagi, Vena segera melangkahkan kakinya menuju ke lantai dua dimana tempat majikannya, karena, cuma majikannya saja orang yang paling baik berada di kediaman ini.


" Hanya Nyonyaku orang yang paling baik di dalam kediaman ini,," Ucap Vena yang segera berlari kecil menuju ke kamar Ziya.


Sementara itu, di dalam kamarnya Ziya, saat ini Ziya segera masuk ke dalam ruangan penelitiannya untuk kembali memeriksa hasil racun lain yang baru saja dibuatnya lagi.


" Heemm,, sepertinya aku harus ke taman itu lagi, untuk mengambil bahan lain,," Ucap Ziya sendiri yang melihat gelas kimia di hadapannya.


Saat Ziya sedang sibuk di dalam ruangan penelitiannya itu, Vena baru saja sampai di dalam kamar majikannya ini, dan Vena langsung saja masuk dan memanggil majikannya.


" Nyonya,, Nyonya,," Panggil Vena terhadap Ziya.


Namun, Ziya sama sekali tidak mendengar panggilan dari Vena, karena, ruangannya itu sudah terpasang kedap suara, apapun yang terjadi di luar Ziya di dalam tidak akan mendengarkannya. Kecuali, jika orang dari luar memencet tombol bel pintu yang ada di luar.


" Heemm, Nyonya kemana ?" Tanya Vena sendiri yang bingung akan keberadaan majikannya.


" Apa mungkin Nyonya sedang berada di dalam ruangan pribadinya." Gumam Vena yang merasa bahwa Ziya sedang berada di ruang penelitiannya.


Vena segera mendekati ruangan itu dan terlihat ruangan itu cukup khusus dibuat untuk Ziya. Untuk pertama kalinya Vena mengetuk pintu ruangan itu, namun, masih saja tidak ada respon, lalu, Vena melihat ada tombol bel yang berada di dekat pintu. Dengan segera, Vena memencet tombol bel itu dan memang benar, dari dalam ruangan Ziya mendengarkan suara bel tersebut.


" Heemmm,, ada orang, apakah Alberto,," Gumam Ziya saat mendengar suara bel.


Lalu, Ziya segera mematikan semua lampu ruangan dan menonaktifkan semua alat untuk membuat racun. Dan, membuka baju khusus yang telah dipakainya, Ziya melihat siapa orang yang berada diluar dari lubang pintu dan Ziya segera membuka pintu ketika matanya melihat Vena.


" Ada apa, Vena ?" Tanya Ziya ketika membuka pintu ruangannya.


" Nyonya, Nona Isabelle,," Ucap Vena yang terburu-buru.


" Kenapa dengan Isabelle ?" Tanya Ziya lagi.


" Nona Isabelle pingsan dan suhu tubuhnya sangat panas,," Jawab Vena yang membuat Ziya sedikit terkejut.


" Isabelle sakit ?" Tanya Ziya lagi.


" Betul Nyonya, kebetulan tadi Nona Isabelle dari lantai ini, namun ketika mau turun ke lantai bawah, saya berpapasan dengannya dan Nona Isabelle tiba-tiba pingsan,," Jawab Vena menjelaskan keadaan yang sudah terjadi.


" Isabelle sakit dan sampai pingsan,, memangnya tidak ada pelayan yang merawatnya,," Ucap Ziya yang mengerutkan dahinya.


" Tidak ada Nyonya, karena, semua pelayan mengatakan bahwa mereka sudah memiliki pekerjaannya masing-masing,," Jawab Vena yang menyatakan penjelasan dari para pelayan yang ditemuinya tadi.


" Heeemm, begitu rupanya, baiklah Vena kita akan segera kesana,," Bilang Ziya segera mengajak Vena.


" Baik, Nyonya,," Jawab Vena mengangguk.


Dengan segera Ziya keluar dari kamarnya dan merasa lega, karena, akhirnya dia tidak dikurung lagi dan bisa bebas seperti biasanya di dalam kediaman ini. Ziya segera melangkahkan kakinya menuju ke istana kedua dimana tempat itu khusus dibangun untuk semua para wanita. Dan, Ziya segera masuk ke dalam ruang kamar Isabelle, karena, Ziya melihat beberapa pengawalnya sudah menunggu di depan kamar itu.


" Dimana Bella sekarang ?" Tanya Ziya pada pengawalnya.


" Di dalam Nyonya,," Jawab pengawalnya itu.


" Baik, kalian tunggu diluar dan Vena ayo masuk,," Ucap Ziya yang memerintahkan pengawalnya untuk tetap menunggu diluar dan mengajak Vena masuk ke dalam kamar Isabelle.


Saat Ziya masuk ke dalam kamar Isabelle, Ziya melihat kamar ini sangat gelap dengan segera Vena menekan tombol lampu dan membuka semua jendela yang ada. Akhirnya suasana kamar terlihat cerah, walaupun kamarnya Isabelle ini sama berantakannya dengan kamar kakaknya, oleh sebab itu Ziya segera melangkah mendekati tempat tidur Isabelle.


" Semua pelayan tahu kalau dia sedang sakit, kenapa tidak ada yang merawatnya." Ucap Ziya yang mulai duduk di samping Belle.


" Nyonya tadi Nona Isabelle pingsan dan sekarang belum sadarkan diri,," Ucap Vena yang masih berdiri di sebelah Ziya.


Ziya segera memeriksakan keadaan Isabelle dan saat ini Isabelle tidak lagi pingsan, namun tubuhnya sangat lemah, karena, menahan rasa sakit dalam tubuhnya.


" Dia bukan pingsan, tubuhnya lemah sehingga ia tak sadarkan diri, tapi, sekarang sudah tidak lagi,, Vena cepat panggil dokter ?" Ucap Ziya yang memerintahkan Vena untuk segera memanggil dokter.


" Baik Nyonya,," Jawab Vena mengangguk.


Dengan segera Vena menelepon dokter anak untuk memeriksa keadaan Isabelle. Sambil menunggu kedatangan dokter, dengan inisiatifnya sendiri Ziya segera mengambil air hangat yang sudah ada di dalam kamar mandi, lalu, Ziya mengambil sehelai kain kecil yang ada di kamar itu.


" Walaupun dia bukan anak kandung Alberto, tapi, dia juga seorang anak, aku akan merawatnya, kasihan sekali kamu, nak,," Ucap Ziya yang merasa kasihan terhadap Isabelle.


Dengan lembut Ziya mengompres dahi Isabelle dan memberikan minyak hangat di bagian tubuh yang diperlukan. Isabelle sedikit meringis ketika merasakan sakit hangat di bagian hidungnya.


" Apa yang sakit sayang ?" Tanya Ziya lembut pada Isabelle.


Isabelle seperti mendengarkan suara dari seorang wanita yang begitu lembut di telinganya. Walaupun meringis kesakitan dalam tubuhnya, Isabelle mencoba membuka sedikit matanya dan Isabelle melihat wajah Ziya yang terlihat di hadapannya.


Karena, melihat wajah Ziya yang berada di dekatnya itu, membuat Isabelle menguraikan air matanya. Ziya merasa khawatir ketika melihat Isabelle yang menangis.


" Ada apa, jangan menangis, apa yang sakit katakan ?" Ucap Ziya yang membujuk Isabelle untuk tidak menangis.


" Hiks,, hiks,, hiks,," Hanya itu yang bisa diungkapkan Isabelle yang menangis sendiri.


" Jangan menangis sayang,," Ucap Ziya yang segera memeluk tubuh Isabelle.


Isabelle kaget ketika melihat Ziya memeluk tubuhnya, walaupun kaget, Isabelle merasa hangat sekali ketika dipeluk seorang wanita seperti Ziya. Karena, Isabelle sudah lama sekali tidak pernah dipeluk dan disayang oleh Mommynya, jadi, untuk sementara Isabelle biarkan saja Ziya memeluk tubuhnya dan Isabelle terharu akan sikap Ziya yang lembut padanya itu.


" Cup, cup, cup, sudah jangan menangis," Ucap Ziya yang mengelus lembut punggung Isabelle.


Beberapa menit kemudian datanglah seorang dokter perempuan ke kamar Isabelle yang diantar oleh pengawalnya Ziya.


" Nyonya dokter sudah datang,," Ucap Vena yang memberitahu pada Ziya.


" Oh iya, silahkan periksa Dok,," Bilang Ziya pada dokter.


Ziya kembali membaringkan tubuh Isabelle dan sekarang dokter sedang memeriksakan tubuh Isabelle. Setelah selesai memeriksanya dokter itu segera memberikan resep obat kepada Ziya.


" Putri anda cuma demam, Nyonya, dan saya sarankan agar Putri anda tetap beristirahat dalam beberapa hari ini." Bilang dokter itu setelah memeriksakan keadaan Isabelle.


" Terima kasih dokter,," Ucap Ziya mengangguk.


" Dan, ini resepnya, saya permisi Nyonya,," Bilang Dokter itu yang memberikan sebuah resep pada Ziya.


" Baik dokter,," Ucap Ziya.


Setelah diperiksa oleh dokter Ziya segera merapikan kembali selimut untuk menutupi tubuh Isabelle, setelah itu memanggil Vena untuk segera membeli obat sesuai resep yang diberikan dokter itu padanya.


" Vena, segera dapatkan semua obat ini dan katakan pada pelayan untuk membuat bubur Isabelle,," Ucap Ziya yang memerintahkan Vena.


" Baik Nyonya,," Jawab Vena dengan segera melangkahkan kakinya keluar.


Setelah Vena keluar dari kamarnya, Ziya kembali menoleh menatap lembut wajah Isabelle. Lalu, Ziya kembali meletakkan kain kompres di kening Isabelle, Isabelle merasa begitu nyaman akan perlakuan Ziya padanya. Dan, karena melihat wajah Ziya begitu tulus menyayanginya dengan segera Isabelle bertanya sesuatu kepada Ziya.


" Jangan lupa untuk istirahat ya sayang, jangan melakukan apa-apa,," Ucap Ziya lembut ketika Ziya meletakkan kompres pada dahi Isabelle.


" Apakah kau tidak membenciku lagi ?" Tanya Isabelle langsung yang membuat Ziya terkejut, lalu, Ziya segera menatap Isabelle dengan lembut dan menggelengkan kepalanya.


" Aku tidak pernah membencimu, nak,," Jawab Ziya tulus.


" Tapi dulu, kenapa kau terlihat sangat membenciku,," Ucap Isabelle yang menatap balik wajah Ziya.


" Itu dulu dan sekarang tidak lagi, aku berjanji untuk tidak seperti itu lagi,," Jawab Ziya sambil tersenyum.


Ziya merasa sedikit kesal dengan kelakuan Zoya yang ternyata selama ini membenci putrinya Alberto. Pantas saja hati Krystal cukup sulit untuk dilunakkan olehnya, karena, Zoya telah menanam bibit kebencian pada putrinya Alberto ini.


" Apakah kau menyayangiku,, seperti kau menyayangi Demi ?" Tanya Isabelle yang membuat Ziya segera melebarkan senyumannya dan memeluk tubuh Isabelle.


" Tentu saja aku menyayangimu sayang, jika aku tidak menyayangimu tidak mungkin aku berada di sini,," Bilang Ziya sambil mengelus lembut rambut Isabelle.


" Terima kasih,," Jawab Isabelle sambil memeluk erat tubuh Ziya.


Isabelle merasa sangat nyaman ketika mendapatkan pelukan dari Ziya. Tidak seperti Claire yang mengatakan bahwa dirinya perhatian pada Isabelle, namun tidak pernah sekalipun Claire mendekati tubuh Isabelle dan bahkan memeluknya.


***


Bab selanjutnya tidak usah dibaca soalnya Author masih ngeditnya itu naskahnya masih ada yang perlu di revisi, jadi cukup batas ini ya Readers 😘


Di tempat Author lagi mati lampu jadi Author tetap usahakan update 3 bab ya,,