
Setelah Vena duduk di tepi tempat tidurnya barulah Ziya dengan lembut memulai pembicaraannya menanyakan suatu hal yang sedikit penting bagi Vena mengenai bagaimana sikap Axeloe saat sedang membawanya pergi dari ruangan Ziya. Tidak lupa untuk selalu menjaga kenyamanan Vena saat berbicara dengannya terlebih dahulu Ziya mengulas senyumannya agar Vena bisa leluasa dan tidak canggung saat bersama dengannya.
" Heeemmm, Vena berhubung kau sudah ada disini, bolehkah aku membicarakan suatu hal padamu ?" Tanya Ziya sekali lagi kepada Vena.
" Tentu saja, Nyonya apa itu ?" Tanya Vena balik pada Ziya seolah-olah bahwa Vena tidak keberatan dengan apa yang akan dibicarakan oleh Ziya padanya.
" Baiklah, sebenarnya, aku ingin menanyakan satu hal padamu, tapi, aku harap kau tidak tersinggung ataupun malu menceritakannya balik padaku,," Bilang Ziya yang masih berhati-hati dalam membuka pembicaraannya kepada Vena.
" Hahahaha, Nyonya, saya sudah cukup lama menjadi asisten pribadi Nyonya, jadi, untuk apa saya harus tersinggung ataupun malu, jika Nyonya mau menanyakan suatu hal padaku,," Jawab Vena penuh dengan keramahan sambil menyunggingkan senyumnya yang begitu manis.
" Baiklah, kalau kau berkata seperti itu, berarti aku boleh mempertanyakan hal ini padamu, Vena, dan aku harap kau jangan malu untuk menjawabnya ya,," Bilang Ziya lagi sambil mengulum senyumnya memberikan sebuah tanda mengherankan untuk Vena sendiri, sehingga ucapan yang dikatakan oleh Ziya itu membuat Vena sedikit penasaran.
" Iya, Nyonya, baiklah saya akan bersedia menjawab pertanyaan dari Nyonya dan tidak akan merasa malu untuk menjawabnya,," Ucap Vena dengan wajah penuh senyuman dan serius menjawab pertanyaan dari Ziya.
" Sebenarnya, ini bukan masalah yang serius, tapi, cukup serius untuk dibahas kita berdua,," Bilang Ziya lagi yang semakin menambah rasa penasaran Vena sebagai pendengarnya.
" Iya, Nyonya, apa itu, Nyonya suka sekali buat saya penasaran,," Gerutu Vena dengan gaya manisnya hingga membuat Ziya tertawa senang melihat kelakuan Vena yang memang sangat dekat dengannya itu.
" Hahahaha, kau lucu sekali Vena, baiklah, kalau begitu aku tidak akan membuatmu penasaran lagi,," Ucap Ziya yang tertawa riang melihat tingkah Vena penasaran akan pertanyaan yang akan ditanyakan olehnya itu.
Sambil menganggukkan kepalanya Vena dan ekspresi yang terlihat memang begitu penasaran dengan apa yang akan ditanyakan oleh Ziya. Akhirnya Ziya mulai menanyakan suatu hal yang membuat wajah Vena sedikit memerah karena, merasa memang sedikit malu untuk diceritakan kejadian yang sebenarnya telah terjadi pada dirinya ketika ia diajak oleh Axeloe ke ruangannya itu.
" Menurutmu Vena, bagaimana dengan Axeloe ?" Tanya Ziya langsung pada Vena dengan pertanyaan yang cukup singkat namun cukup sulit untuk diungkapkan oleh Vena atas pertanyaannya itu.
" Iya, Axeloe,, seorang pria adiknya Alberto yang telah memintamu untuk membantunya membawakan semua peralatannya itu,," Jawab Ziya sambil tersenyum menatap Vena dan melihat respon dari wajah Vena akan pertanyaannya itu.
" Aakkhh, itu Nyonya, apa,," Bilang Vena dengan suaranya yang sedikit bingung untuk menjawab apa atas pertanyaan Ziya yang sedikit membuatnya bingung ini.
" Apa ??? kenapa kamu menjawabnya, terbata-bata Vena,," Ucap Ziya seraya terlihat sedang merayu Vena.
" Ayolah, katakan padaku, bagaimana Axeloe menurutmu, Vena ?" Tanya Ziya lagi pada Vena dan kali ini terlihat dengan jelas bahwa Ziya sedang membujuk serta memperolok ekspresi wajah Vena yang tengah berubah sedikit memerah.
" Tidak ada, Nyonya, menurut saya, Tuan Axeloe sama seperti Tuan Besar, bijaksana dan juga disiplin,," Jawab Vena dengan wajahnya yang sedikit memerah.
" Heemm, sepertinya semua laki-laki sama saja, aku pikir, mereka memiliki sifat yang berbeda, walaupun Axeloe dan Alberto saudara kandung,," Gumam Ziya yang menyamakan sikap dari Alberto dan Axeloe setelah mendengar pernyataan dari Vena.
" Dan ada satu lagi Nyonya,," Ucap Vena yang perkataannya terhenti karena, Ziya langsung menyahut perkataannya itu.
" Apa ?" Tanya Ziya langsung menyahut perkataan Vena yang belum selesai.
Sungguh terlihat jelas bahwa Ziya saat ini merasa senang, karena, walaupun di dalam pikirannya masih banyak sekali masalah-masalah yang menumpuk dan mengganjal hatinya untuk segera diungkapkan kepada Alberto. Namun, semua masalah yang sedang dihadapinya seakan lenyap seketika ketika ia sedang berbicara sambil tertawa bahagia kepada Vena.
****