Mafia And Angel

Mafia And Angel
Bag. 133 - Kecantikan Ziya



Mentari pagi sudah muncul menyinari seluruh kota saat ini, Alberto yang tidur dengan posisi memeluk tubuh Ziya, membuka matanya dan melihat tubuh wanita cantik yang masih polos tanpa sehelai benangpun membuatnya semakin mengeratkan pelukannya itu. Alberto tersenyum melihat wajah Ziya yang masih tertidur pulas. Dan, Alberto baru menyadari bahwa dirinya dan Ziya ternyata mereka tidur di dalam kamarnya Ziya, bukan di kamar pribadinya sendiri.


" Ooohhh God, ternyata aku dan Ziya tidur disini," Ucap Alberto yang mengucek matanya.


Setelah menguap dan membuka matanya dengan sempurna, sambil tersenyum Alberto turun dari tempat tidur dan mengambil jubah mandi di dalam kamarnya Zoya ini. Setelah mendapatkannya dengan segera Alberto memakaikannya dan mengangkat tubuh Ziya yang tertutup dengan selimut.


Ziya yang tidurnya sangat lelap sekali tidak mengetahui bahwa Alberto sudah mengangkat tubuhnya itu, membuat Alberto semakin mudah membawa Ziya untuk kembali ke kamar pribadinya. Alberto sangat tahu bahwa saat ini Demian pasti belum terbangun dari tidurnya.


Dan, Alberto melihat suasana di dalam kediamannya saat ini terlihat masih sepi, walaupun ada beberapa pengawal yang sudah siap berjaga di posisi masing-masing.


" Pagi, Tuan,," Ucap Frengky yang sudah berdiri siaga di depan pintu kamar pribadinya.


" Heemm,," Jawab Alberto mengangguk.


" Tuan, ada laporan dari kantor bahwa hari ini,," Ucap Frengky yang ingin melaporkan sesuatu pada Alberto.


Namun pembicaraan Frengky terputus karena, Alberto memberikan sebuah kode tangannya mengenai laporan yang ingin disampaikan Frengky itu disampaikan setelah ia telah menyelesaikan tugasnya di dalam kamar.


" Laporkan setelah aku keluar nanti,," Ucap Alberto yang memberikan perintah kepada Frengky.


" Baik Tuan, Maaf,," Bilang Frengky yang menundukkan kepalanya.


" Heemmm,," Jawab Alberto singkat.


Dengan segera Alberto membuka pintu kamarnya dan melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruangan tempat tidur pribadi miliknya. Dengan sangat hati-hati Alberto meletakkan tubuh Ziya di atas tempat tidur bersebelahan dengan Demian. Setelah meletakkan Ziya yang tertidur pulas di atas ranjang lalu mengecup keningnya Ziya dan Demian dengan segera Alberto melangkahkan kakinya menuju ke kamar mandi.


Setelah selesai mandi, Alberto keluar dari kamar mandi dan menggantikan pakaiannya untuk ke kantor. Setelah itu, Alberto segera menuju ke tempat tidur dan menciumi kening Demian juga Ziya. Saat mencium lembut keningnya Demian, ternyata Demian sudah terbangun dan melihat bahwa Alberto sang Daddy sedang menciumnya.


" Daddy," Ucap Demian dengan suara khas bangun tidur.


" Sssttt, nanti Mommy bangun sayang,," Bilang Alberto lembut pada Demian.


" Come, ikut Daddy," Bilang Alberto lagi yang menggendong tubuh Demian.


" Heemm, tunggu sebental, Dad,," Ucap Demian dengan wajahnya yang masih mengantuk.


" Demi mau cium Mommy,," Ucap Demian yang meminta kembali turun ke tempat tidur.


" Oh yeah,," Jawab Alberto yang menurunkan tubuh Demian ke atas tempat tidur.


Dengan segera Demian mencium pipi Ziya dan kembali meloncat ke tubuh Alberto.


" Daaahhh Mommy, Demi pelgi sekolah dulu,," Ucap Demian yang berpamitan dengan Ziya.


Sementara itu, Ziya sendiri tidak tahu bahwa Demian dan Alberto sudah pergi ke kantor dan ke sekolahnya menurut kegiatan mereka masing-masing. Saat Alberto keluar dari kamarnya, Alberto segera memberikan Demian kepada Melly yang sudah menunggu Demian di depan pintu, sementara itu, pagi ini Vena juga sudah berdiri di depan pintu. Namun, Alberto tahu akan kegiatan Vena yang sudah bisa bekerja hari ini. Alberto segera menyuruh Vena untuk masuk ke dalam menunggu Ziya yang masih tertidur pulas.


" Bawa Demian dan antar ke sekolahnya." Ucap Alberto kepada Melly sambil memberikan Demian ke gendongan Melly.


" Daaahhh,, Daddy,," Ucap Demian yang berpamitan juga pada Alberto.


" Daaahhh,," Jawab Alberto yang juga melambaikan tangannya.


" Pagi, Tuan,," Sapa Vena dengan hormat pada Alberto.


" Pagi,, kau segera masuk dan temani Nyonya Zoya untuk pergi hari ini,," Bilang Alberto kepada Vena.


" Baik Tuan,," Jawab Vena yang segera melangkah masuk ke dalam kamar Alberto.


Sementara itu, Frengky segera mendekati Alberto dan melaporkan schedule Alberto hari ini di kantor.


" Tuan, hari ini akan diadakan rapat dengan perusahaan yang ingin ikut bergabung dalam perusahaan Tuan." Bilang Frengky yang melaporkan daftar kerja Alberto hari ini.


" Baik," Jawab Alberto yang segera melangkahkan kakinya keluar.


Setelah merasa aman terhadap kedua orang yang dicintainya itu, Alberto segera melangkahkan kakinya menuju ke arah tangga. Saat Alberto sedang menuruni tangga, Alberto melihat Grandma Christin baru saja kembali dari luar negeri, saat ini sudah ada Gladys yang menyambut kedatangan Grandma ke dalam rumah besar itu.


" Grandma,," Bilang Alberto yang melihat wajah Grandma Christin.


Alberto segera melangkahkan kakinya dengan cepat menuruni tangga itu, lalu, menghampiri Grandma Christin terlebih dahulu sebelum pergi ke kantor.


" Grandma,, baru pulang," Tanya Alberto yang segera menyalami neneknya dan memeluknya.


" Heemm yah Alberto,, apa kau merindukan Grandma,," Tanya Grandma Christin balik pada Alberto.


" Tentunya,," Jawab Alberto tersenyum.


" Heemmm,, aku pikir kau tidak lagi merindukanku, karena, sudah ada Istrimu yang cantik itu begitu setia menunggumu." Ucap Grandma Christin yang terdengar seperti mengetahui siapa sosok Ziya sebenarnya.


Alberto mengerti akan ucapan dari Neneknya itu, sepertinya saat ini Nenek Alberto sudah mengetahui siapa sebenarnya Ziya yang bersandiwara menjadi Zoya ini, namun Alberto belum mau mengungkapkan kebenaran Ziya di depan Gladys. Cukup Neneknya saja yang mengetahui hal itu.


" Heemm, Grandma Alberto pergi dulu ke kantor,," Ucap Alberto yang berpamitan langsung pada Christin.


" Heeemm, Yah,," Jawab Christin sambil tersenyum.


Alberto hanya berpamitan kepada Neneknya dan melewati wajah Gladys yang sudah ada disana. Namun, Christin sepertinya mengetahui pasti sudah banyak yang terjadi di dalam kediamannya ini, selama ia tidak berada disini.


" Heh!! Dasar, lihat saja kau, saat suamiku kembali, aku akan mengambil semua harta milikmu menjadi milik Martin seutuhnya." Ucap Gladys dalam hati sambil berpura-pura tersenyum di hadapan Alberto.


Walaupun begitu, Christin belum mau juga bertanya langsung dengan Alberto sebenarnya apa yang telah terjadi selama ini di kediaman mereka.


" Sepertinya, ada yang telah terjadi selama ini di rumah." Pikir Christin dalam hatinya saat melihat wajah Alberto yang begitu datar melewati Gladys.


" Aku akan segera mencari tahu, apa yang sebenarnya terjadi selama aku di luar negeri,," Ucap Christin dalam hatinya.


Setelah Alberto pergi dari hadapan Gladys dan Christin, terlihat Claire saat ini sedang melangkah mendekati Neneknya Alberto itu. Selalu sok ramah dan sok baik di hadapan Christin ini, supaya selalu dikatakan baik oleh Neneknya Alberto ini.


" Grandma,, Grandma sudah kembali,," Ucap Claire yang melangkah mendekati Christin.


" Yah,, seperti kau lihat,," Bilang Christin yang berwajah datar pads Claire.


Sebenarnya, Christin tidak terlalu menyukai Claire yang selama ini tinggal disini, karena, Claire merupakan wanita yang sangat genit dan begitu membuat cucunya Alberto selalu pusing. Namun, karena, Claire merupakan keponakan satu-satunya dari Gladys menantunya itu. Ya, mau tidak mau Christin berpura-pura baik terhadap Claire.


" Ayo, Mom, kita sarapan bersama,," Ucap Gladys yang menawarkan Christin untuk makan bersama dengan mereka.


" Baiklah,," Jawab Christin.


" Heemmm,, dimana istrinya Alberto, Zoya,, apa dia juga sudah pergi mengantarkan Demian." Tanya Christin seketika pada dua wanita yang berada di belakangnya.


" Heemm, paling masih tidur,," Jawab Gladys dengan wajah masamnya.


Saat Christin mendengarkan ucapan yang dikatakan Gladys dan Claire, sepertinya sampai saat ini permusuhan antara Zoya dan Gladys serta Claire belum juga dituntaskan secara damai, masih saja seperti yang lama. Namun, Christin menanggapi hal ini dengan perasaan biasa saja. Walaupun, Christin mencurigai siapa sebenarnya Zoya yang sekarang, Christin belum mau menanyakan langsung kepada Zoya.


Sementara itu, di dalam kamar pribadi Alberto, terlihat saat ini Vena sedang duduk menunggu Ziya bangun dari tidurnya. Sedangkan Ziya yang masih bergelung di dalam selimut menggeliat, mengeluarkan kedua tangannya ke atas dan menarik tubuhnya.


Perlahan-lahan Ziya membuka matanya dan menutupi mulutnya sambil menguap, setelah merasakan bahwa jiwanya telah kembali semua ke dalam raganya saat ini, Ziya tersenyum sendiri saat mengingatkan kejadian yang dilakukannya bersama Alberto.


Ziya tidak menyadari bahwa dirinya saat ini sudah berada di dalam kamar Alberto tanpa menggunakan sehelai benangpun yang menutupi seluruh tubuhnya secara langsung. Hanya ada selimut tebal yang menggelung menutup tubuhnya, sambil tersenyum Ziya bangun dan duduk. Melihat kondisi di sekitar kamar sudah berbeda, membuat Ziya mengingat kapan dirinya kembali ke kamar ini.


" Hah!! kenapa aku berada disini." Bilang Ziya saat matanya melihat kondisi kamar yang berbeda.


" Perasaan semalam bukannya aku masih bersama dengannya di kamarku sendiri, kenapa sudah ada disini." Bilang Ziya lagi yang bingung dengan posisi tubuhnya sudah dipindahkan ke kamar ini.


" Pasti, Alberto yang membawaku dalam keadaan tertidur,," Ucap Ziya yang segera membuka selimutnya.


Saat Ziya membuka selimutnya, Ziya terkesiap kaget melihat tubuhnya yang polos tanpa memakai sehelai benangpun.


" Aaakkkhh,," Teriak Ziya kaget saat melihat tubuhnya yang tidak memakai apa-apa.


" Alberto,," Teriak Ziya dari dalam kamar, sehingga menyebabkan suaranya terdengar sampai keluar.


Vena yang sedang menunggu Ziya di dalam ruang tunggu kamar pribadi Alberto, spontan kaget mendengar suara Ziya yang berteriak memanggil Alberto dan segera masuk ke dalam ruangan tempat tidur kamar itu.


Ziya semakin kaget saat melihat Vena yang masuk ke dalam dan bertanya dengannya tentang apa yang telah terjadi. Ziya merasa malu, karena, telah berteriak dengan keadaan tubuh yang tanpa tertutup apapun.


" Ada apa, Nyonya ?" Tanya Vena saat masuk ke dalam ruangan.


" Aaakkkhh, Vena sejak kapan kau ada disini,," Tanya Ziya balik kepada Vena yang kaget atas kedatangan Vena, sambil menutupi tubuhnya menggunakan selimut.


" Maaf Nyonya sudah sedari tadi,," Jawab Vena menundukkan kepalanya.


Vena segera menundukkan kepalanya, karena merasa sedikit bersalah akan sikapnya itu.


" Ya sudah tidak apa-apa,," Ucap Ziya yang segera berdiri menggunakan selimut untuk menutupi tubuhnya.


" Mari Nyonya, Vena siapkan air mandinya dan hari ini Nyonya akan keluar untuk pergi ke sebuah pesta." Bilang Vena yang mengingatkan jadwal Ziya hari ini.


" Ke sebuah pesta," Ucap Ziya sambil berpikir.


" Oh iya aku hampir lupa, Baiklah,," Bilang Ziya sambil melangkah menuju ke kamar mandi.


Di dalam kamar mandi Vena telah menyiapkan air mandi untuk Ziya, setelah selesai menyiapkan semuanya, Ziya langsung masuk ke dalam bathtub dan sementara itu, Ziya memerintahkan Vena untuk mengambil barang-barang baru dari kamar Zoya untuk digunakannya saat pergi ke pesta nanti.


" Silahkan Nyonya," Ucap Vena kepada Ziya.


" Terima kasih, Vena." Bilang Ziya sambil tersenyum.


Ziya segera melangkah dan masuk ke dalam bathtub.


" Vena, tolong ambilkan barang-barang yang telah disiapkan di kamarku,," Bilang Ziya kepada Vena.


" Baik Nyonya,," Jawab Vena mengangguk dan segera keluar dari kamar mandi.


Setelah Vena keluar dari kamar mandi, Ziya yang sedang sendirian di dalam bathtub berpikir sejak kapan dia pindah ke kamar ini. Pasti Alberto membawanya dalam keadaan polos.


" Heemmm,, Sejak kapan Alberto memindahkan aku kesini, kenapa aku tidur sangat nyenyak,," Ucap Ziya berpikir kenapa dia tidak tahu dengan dirinya yang sudah pindah ke kamar ini.


" Apa, Alberto membawaku dalam keadaan,," Ucap Ziya yang berpikir tentang keadaan tubuhnya yang polos itu.


" Aaakkhh Alberto memalukan." Teriak Ziya yang sama sekali suaranya tidak keluar dari kamar mandi.


Setelah selesai memikirkan tentang Alberto yang telah memindahkan dirinya itu, dengan cepat Ziya menyelesaikan acara mandinya dan keluar dari kamar mandi, Ziya segera melangkahkan kakinya keluar menuju ke ruang ganti. Ternyata di dalam ruang ganti Vena sudah ada di sana sambil mempersiapkan barang-barang Ziya.


" Ini Nyonya,," Bilang Vena yang segera membantu Ziya untuk menggantikan pakaiannya.


" Terima kasih Vena,," Jawab Ziya yang tersenyum dan segera memakai pakaian yang telah diberikan Alberto kepadanya.


Setelah selesai semuanya, Ziya menatap tubuhnya yang terlihat sangat cantik di hadapan cermin. Ziya tersenyum melihat kecantikannya itu, kenapa wajahnya terlihat sangat cantik sekali sekarang.


Aneh!!!


" Kau sungguh cantik, Nyonya," Puji Vena tersenyum melihat wajah Ziya dan tampilan Ziya di balik cermin.


" Terima kasih Vena,," Jawab Ziya tersenyum.


" Kau juga cantik, Vena,," Bilang Ziya yang juga memuji kecantikan Vena.


" Terima kasih, Nyonya,," Jawab Vena yang tersipu malu mendengar pujian dari Ziya.


Ziya merasa aneh sendiri dengan tubuhnya saat ini, karena, terlihat memang sudah berubah dan sangat cantik sekali. Ziya berpikir perubahan pada tubuhnya itu apa karena, saat ini perasaannya sudah tidak khawatir dan tidak merasa tertekan lagi, jadi sinar wajahnya begitu terpancar saat ini.


" Ayo Vena kita pergi,," Bilang Ziya kepada Vena setelah selesai menatap wajah dan tubuhnya.


" Mari Nyonya,," Jawab Vena mengangguk.


Dengan segera Ziya melangkahkan kakinya keluar dari kamar pribadi Alberto dengan diiringi oleh Vena dan juga beberapa pengawal dibelakangnya. Ziya sudah merasa terbiasa dengan adanya pengawal yang selalu mengawali kemanapun ia pergi. Ziya melihat bahwa Grandma Christin sudah kembali dari luar negeri, sehingga membuat Ziya terlebih dahulu menghampiri Grandma Christin sebelum mereka pergi ke sebuah pesta.


" Grandma Christin sudah kembali,," Tanya Ziya pada Vena.


" Yah Nyonya, pagi ini Madam Christin kembali dari luar negeri." Jawab Vena.


" Oohhh, baiklah Vena, sebelum keluar aku mau menyapa Grandma dulu." Ucap Ziya kepada Vena.


" Tapi, Nyonya disana ada Nyonya Gladys dan Nona Claire." Bilang Vena yang terlihat masih takut dengan kedua wanita ular itu.


" Jangan takut Vena, ada aku, mereka tidak akan berani lagi mengganggu kita,," Bilang Ziya yang merasa berani menghadapi kedua wanita lemah dihadapannya itu.


" Baik Nyonya, tapi, jika mereka,," Bilang Vena lagi yang sangat takut kepada Gladys dan Claire.


" Tenang saja Vena jangan takut,," Ucap Ziya yang menguatkan hati Vena.


" Baik Nyonya." Jawab Vena mengangguk dan mengikuti langkah kaki Ziya.


Vena hanya bisamengangguk saja dengan keinginan Ziya itu yang tidak menghiraukan adanya Claire dan Gladys yang duduk bersama dengan Christin di ruang makan. Dengan segera Ziya melangkahkan kakinya menuju ke arah Grandma Christin.


****