Mafia And Angel

Mafia And Angel
Bag.



Saat ini memang Erwin melihat Ziya begitu marah sekali, namun, sebentar lagi rencana yang selama ini telah menjadi idamannya akan berhasil jika Ziya sudah masuk dalam bagian rencananya itu. Sambil tersenyum senang Erwin menatap wajah putri kembar dari kakak kandungnya itu dan memberikan kode perintah untuk para pengawalnya yang bertugas memberikan obat kepada Ziya.


" Lakukan,," Ucap Erwin yang sengaja memberikan sebuah perintah kepada anak buahnya.


Dengan segera anak buah Erwin yang telah bertugas bagian menyuntikkan obat ke dalam tubuh Ziya mengangguk dan langsung melakukan tugasnya itu. Sementara itu, Erwin melangkah ke sebuah sofa untuk melihat semua pekerjaan yang sedang dilakukan oleh para pengawalnya itu terhadap Ziya.


Dan Ziya sendiri jelas saja menolak atas semua apa yang sedang dilakukan oleh beberapa pengawal terhadap dirinya itu. Sambil berteriak-teriak meminta permohonan kepada Pamannya agar tidak melakukan tindakan yang salah pada dirinya itu, Ziya meronta-ronta menangis karena, tidak bisa bergerak sedikitpun dari tempatnya saat ini.


" Paman, jangan lakukan ini, Ziya tidak mau,," Ucap Ziya yang menangis memohon kepada Erwin.


" Paman, tolong Ziya tidak mau,," Teriak Ziya yang masih saja memohon pertolongan kepada Pamannya agar Erwin luluh melihat dirinya yang sedang menangis.


Percuma saja hal itu dilakukan oleh Ziya, karena, Erwin masih saja bersikeras dan kukuh untuk melakukan rencana yang selama ini dimimpikannya itu. Jadi, walaupun Ziya sudah berteriak sekeras mungkin, bagi Erwin suara Ziya tidak akan meluluhkan hatinya dan mengurungkan niatnya untuk melakukan rencana besar miliknya saat ini.


" Paman Erwin, jangan lakukan ini,," Teriak Ziya terakhir saat tubuhnya sudah dimasukkan beberapa jarum suntik yang berisi obat.


Dengan kondisi tubuh yang masih bergetar dan berkeringat yang bercucuran membuat Ziya akhirnya berteriak dengan suara yang terdengar begitu kuat dan jelas dalam menyebutkan nama Erwin dengan sebutan Paman. Sehingga hal itu membuat Vena yang mendengarkan ucapan igauan Ziya bertanya heran dengan rasa yang begitu penasaran.


" Paman Erwin jangan lakukan itu,," Teriak Ziya dengan suara yang sangat keras dan jelas sekali hingga membuat Vena serta Axeloe sedikit kaget saat mendengar suara Ziya.


" Apa ?" Gumam Vena yang seketika kaget mendengar ucapan Ziya saat mengigau menyebutkan nama Erwin.


" Paman Erwin,," Gumam Vena lagi dengan mata yang sedikit terbelalak saat mendengar ucapan Ziya.


Namun hal itu, membuat Axeloe terlihat biasa saja, karena, Axeloe lebih mengetahui bahwa saat ini pasti obat yang telah dimasukkan olehnya itu sedang bekerja di dalam tubuh Ziya, bisa dilihat saat ini Ziya sedang dalam keadaan tidur dan bermimpi bahwa Ziya mengingat kembali apa yang pernah terjadi pada dirinya waktu dulu.


Dan juga Axeloe sama sekali tidak menghiraukan rasa penasaran dan heran yang sedang ada pada Vena saat ini, karena, bagi Axeloe tindakan yang dilakukan untuk Ziya sajalah hal yang paling utama dan untuk menghilangkan rasa penasaran Vena akan ia lakukan setelah ia selesai melakukan tindakannya terhadap Ziya.


" Bagus, sepertinya obat ini bereaksi,," Ucap Axeloe dengan wajah senangnya saat mendengar suara Ziya yang berteriak jelas menyebutkan nama Erwin.


Saat kondisi tubuh Ziya dalam kondisi bergetar hebat dengan tiba-tiba Ziya terbangun dari tidurnya itu dengan posisi duduk dan mata menatap ke depan hingga hal itu membuat Vena sangat terkejut sekali, bisa dilihat bahwa rasa terkejut Vena itu ditunjukkan dengan tindakan tubuhnya yang seketika mundur beberapa langkah ke belakang.


****