
Saat Alberto memuji Claire seperti itu, di wajah Claire begitu terlihat akan kebahagiaannya, karena, Claire berpikir pasti dia mendapatkan kembali kesempatan untuk mengambil hati Alberto. Jadi, saat ini Gladys hanya bisa pasrah menuruti ucapan Claire yang mematuhi perintahan dari Alberto.
" Baiklah, lepaskan aku," Bentak Gladys kepada pengawalnya Alberto.
" Jalankan,," Ucap Alberto memerintahkan pengawalnya untuk segera membawa Gladys dan Claire keluar dari ruang penahanan ini.
" Baik Tuan,," Jawab anak buah Alberto yang segera mematuhi perintahnya.
" Jangan lupa bawa mereka ke rumah sakit,," Bilang Alberto yang memerintahkan kepada pengawalnya.
" Baik Tuan,," Jawab pengawal Alberto.
Dengan segera semua anak buah Alberto yang telah diberikan perintah itu, menjalankan tugasnya. Untuk mengikat tangan Claire dan Gladys serta memasang penutup kepalanya. Setelah semuanya selesai, anak buah Alberto segera menuntun Gladys dan Claire untuk keluar dari ruangan permainan Alberto.
Setelah memerintahkan pengawalnya membawa kedua wanita yang selalu membuat kepalanya pusing itu, Alberto yang masih di dalam ruang permainannya, segera memerintahkan beberapa pengawal khususnya yang selama ini berada di markasnya, untuk menyiapkan semua barang-barang yang berhubungan dengan pembuatan sebuah ruangan pribadi khusus untuk Ziya.
Ziya bahkan tidak mengetahui jika Alberto telah berinisiatif untuk membuatkan sebuah ruangan khusus untuk dirinya melakukan penelitian itu. Dengan menghubungi nomor ponsel pengawalnya itu, Alberto segera menyampaikan perintahan yang ingin dilakukannya.
Dering pertama langsung diangkat oleh pengawal detektif yang selalu berada di markas besar Alexandre.
" Ya, Tuan,," Ucap Richie asisten pribadi Alberto yang berada di markas besar Alexandre.
" Aku akan segera ke markas,," Ucap Alberto pada Richie asisten pribadinya yang berada di markas Alexandre.
" Baik Tuan,," Jawab Richie yang suaranya terdengar dari ponsel Alberto.
" Dan kau aku tugaskan untuk menyiapkan semua alat-alat dan perlengkapan untuk membuat sebuah laboratorium penemuan." Bilang Alberto lagi yang memerintahkan pengawalnya untuk menyiapkan semua peralatan.
Alberto dengan sengaja menghubungi Richie asisten pribadinya yang berada di markas besar Alexandre, karena, Richi bukan hanya sekedar asisten pribadinya, melainkan seseorang yang mahir dalam pembuatan ruangan yang kedap akan suara dan juga sebuah ruangan yang terlihat begitu canggih akan mesin dan alat penggunaannya. Karena, selama ini memang Richi yang bertugas untuk membenahi semua sistem ruangan yang terlihat seperti laboratorium penelitian.
" Siap Tuan,, segera saya persiapkan semua peralatannya." Jawab Richie yang segera melakukan perintah dari Alberto.
" Bagus, aku akan segera pergi,," Ucap Alberto yang segera memutuskan teleponnya.
Setelah selesai menghubungi Richie Alberto segera melangkahkan kakinya keluar dari ruang permainannya. Dan, saat ini Alberto langsung melangkah menuju dimana keberadaan mobilnya yang sudah terparkir untuk membawanya ke markas hari ini.
Sementara itu, Ziya yang sedang berada di kamar sedang meneliti sehelai daun yang akan menjadi bahan percobaan pada penemuannya kali ini.
" Menurut Mama selain daun ini, masih ada bahan lain yang harus digunakan,," Gumam Ziya sendiri yang sedang memperhatikan daun tanaman merah yang berada di pegangannya.
" Dimana aku harus mencari bahan lainnya,," Ucap Ziya lagi sambil berpikir dimana dia harus mencari bahan lainnya.
Ziya memang pandai dalam membuat suatu hal, seperti apa saja yang telah diajarkan oleh Zalina padanya. Namun, untuk melengkapi hasil penemuannya itu, Ziya harus mencari semua bahan yang dibutuhkannya.
" Heemmm,, coba aku lihat apakah ada bahan lainnya yang ditanamkan disana,," Ucap Ziya seakan teringat tempat dimana ia menemukan bahan inti untuk membuat racun sesuai dengan penemuannya itu.
Ziya segera beranjak dari tempat duduknya dan melangkah menuju ke jendela yang memperlihatkan matanya saat menemukan bahan inti dalam racun. Sesampainya di jendela Ziya memperhatikan taman di seberang sana yang terletak di dekat danau, ternyata di sudut lainnya masih banyak lagi tanaman yang mirip dengan bahan pelengkap untuk membuat racun.
" Hah! sepertinya itu mirip dengan bahan yang sering disebutkan Mama,," Ucap Ziya yang melihat semua tanaman begitu banyak macam dan rupanya di taman dekat danau itu.
Ziya merasa curiga dengan Alberto, Axeloe, Alexa, kemungkinan tiga bersaudara ini, sengaja menanamkan semua tanaman yang berhubungan dengan bahan inti untuk membuat racun.
" Aku merasa yakin di antara mereka bertiga, pasti ada yang bisa membuat racun, kenapa, semua tanaman itu ada disini,," Ucap Ziya dalam hatinya yang berpikir tentang semua tanaman yang mengandung racun banyak di sekitar taman wilayah pekarangan istana Alexandre.
" Tidak mungkin, tanaman itu bisa ada semua di sekitar sini, kalau tidak mereka mampu untuk membuatnya,," Gumam Ziya lagi dalam hati.
" Alberto aku ingin ke taman itu lagi, untuk melengkapi semua bahan ini, tapi bagaimana,," Ucap Ziya yang masih merasa penasaran dengan taman yang telah ada semua bahan yang dibutuhkannya.
Saat Ziya sedang melamun dan ingin sekali terbang ke tempat dimana ia mendapatkan tanaman itu, Alberto yang telah sampai ke markas Alexandre, segera disambut oleh para pengawal lainnya dan juga asisten pribadinya Richie.
" Selamat datang, Tuan,," Ucap semua pengawal atas kedatangan Alberto.
" Heemmm,," Jawab Alberto yang segera keluar dari mobilnya.
Saat Alberto keluar dari mobilnya, Alberto segera melangkahkan kakinya menuju tempat dimana ruang besarnya berada. Richie yang bekerja sebagai asisten pribadinya khusus di markas segera mengikuti langkah kaki Alberto untuk masuk ke dalam ruangannya.
" Apakah sudah siap ?" Tanya Alberto pada Richie pengawalnya itu.
" Siap, Tuan,," Jawab Richie.
" Baik, lakukan pembuatannya di kediaman Alexandre dan pastikan kau membuat ruangan itu di kamar istriku,," Ucap Alberto yang memerintahkan Richie untuk segera bekerja.
Alberto yang telah sampai itu dan duduk di dalam ruangannya, dengan segera memerintahkan Richie untuk membuat ruangan penelitian khusus untuk Ziya.
Dengan segera juga Richi menjalankan tugas yang telah diberikan padanya.
" Baik Tuan, saya akan segera ke sana,," Jawab Richie yang segera menjalankan tugasnya dan Alberto hanya menganggukkan kepalanya saat mendengarkan ucapan Richie.
Setelah Richie keluar dari ruangannya, Alberto segera menghubungi Zavier kembali, kenapa sampai saat ini Zavier belum juga kembali ke negaranya.
" Heemm,, Anjing gila itu kemana ?" Gumam Alberto yang segera mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi Zavier.
" Kenapa sampai saat ini belum terlihat jejaknya." Bilang Alberto lagi sambil melihat alat yang dipegangnya.
Alberto dengan sengaja meletakkan sesuatu di tubuh Zavier, supaya Alberto bisa melacak dimanapun keberadaan Zavier saat ini. Karena, di dalam alat pelacakannya itu tidak menemukan jejak Zavier di negaranya ini, dengan segera Alberto menghubungi Zavier.
Dering pertama,,
Segera di angkat oleh Zavier.
" Yes, Dude,," Ucap Zavier saat menerima telepon dari Alberto.
" Dimana ?" Tanya Alberto singkat pada Zavier.
Saat Alberto yang menanyakan keberadaannya sudah sampai di mana. Zavier terkekeh mendengarnya.
" Hahahaha,, Rileks Dude, hari ini aku akan segera kembali, aku baru saja menyelesaikan tugas yang kau berikan padaku." Ucap Zavier yang berkata jujur pada Alberto.
" Ok," Jawab Alberto singkat.
" Tunggu, Dude,," Ucap Zavier yang mencegah Alberto untuk memutuskan teleponnya.
" Ada apa ?" Tanya Alberto kepada Zavier.
" Pengintai yang sudah kuberikan tugas, melaporkan bahwa Zoya terlihat sedang bersedih,," Ucap Zavier melaporkan sebuah peristiwa yang terjadi pada Zoya.
" Bersedih, terus,," Tanya Alberto lagi tanpa memikirkan apa yang telah terjadi pada Zoya.
" Sepertinya dia menyesali perbuatannya yang telah meninggalkanmu, Dude,," Ucap Zavier sambil mengejek Alberto.
" Heh!! tidak mungkin dia menyesali perbuatannya, karena, sampai saat ini apakah dia mengingat bagaimana Demian." Bilang Alberto lagi pada Zavier.
Zavier sedikit terkekeh mendengar jawaban dari Alberto. Karena, saat kejadian itu hanya Zavier dan Axeloe yang mengetahui jelas kejadiannya, Zavier ingin sekali memberitahu kebenarannya pada Alberto, namun Axeloe melarang Zavier untuk mengungkapkan kejadian yang sebenarnya, karena, saat itu, Axeloe memiliki rencana lain pada Zoya. Jika, Zoya masuk ke dalam kehidupan mereka, kemungkinan Axeloe berhasil membuka rahasia kehidupannya di masa kecil dulu.
Sehingga sampai saat ini, Alberto tidak mengetahui apa yang sebenarnya telah terjadi. Dan, rahasia tentang siapa Ibu asli dari Demian, Alberto belum ingin untuk mengetahuinya. Karena, saat itu juga Alberto jelas-jelas telah melakukannya dengan Zoya.
Sehingga jelas sekali, jika Zoya yang membawakan putranya saat itu dengan hasil DNA yang positif sama dengannya.
" Heh!! apakah kau masih mencintainya,," Tanya Zavier seolah saat ini dia juga bisa memikirkan masalah cinta.
" Semenjak kapan, aku mencintainya, aku hanya mengasihaninya, karena, dia adalah ibu dari Putraku,," Jawab Alberto atas pertanyaan Zavier.
" Apa kau menyukai wanita yang sedang bersamamu,," Tanya Zavier lagi pada Alberto.
" Kau tidak perlu tahu, karena, dia telah masuk dalam kehidupanku, maka aku tidak akan melepaskannya sampai kapanpun,," Ucap Alberto sambil tersenyum menjelaskan perasaannya pada Zavier.
" Heh!! kau telah bersamanya, bagaimana dengan istrimu, Zoya,," Tanya Zavier lagi pada Alberto.
Zavier sangat ingin jika saat ini, Alberto mengetahui siapa sebenarnya istri aslinya dan juga Ibu kandung dari putranya itu.
" Setelah Axeloe kembali aku akan mencari tahu siapa sebenarnya Mommy kandung Demian,," Ucap Alberto yang membuat Zavier terdiam seperti menyetujui tindakannya ini.
" Kenapa kau berpikir seperti itu, Dude,," Tanya Zavier yang memancing ingatan Alberto.
" Karena, aku telah meneliti semua tindakan Ziya dan Zoya selama ini terhadap putraku, Demian,," Ucap Alberto yang sangat ingin mengetahui siapa sebenarnya Ibu kandung dari putranya itu.
" Kau tahu, perlakuan Ziya selamat ini begitu sayang dan penuh kasih terhadap Demian, bukan karena, Demian itu putra dari kembarannya melainkan memang sikap dan sifatnya yang terlalu lembut dan baik pada orang lain." Jelas Alberto pada Zavier dan saat ini Zavier hanya bisa mendengarkannya saja.
" Dan, kau tahu bagaimana sikap dan cara Zoya kepada anaknya sendiri, sungguh berbeda dengan sikap Ziya yang hanya sekedar keponakannya saja,," Bilang Alberto lagi pada Zavier yang hanya terdiam.
" Berarti sudah terlihat jelas siapa Mommy kandung Demian, Dude,," Bilang Zavier yang membuat Alberto penasaran dan bingung.
Alberto sedikit tercengang saat mendengar ucapan Zavier yang menyatakan bahwa sudah terlihat jelas, siapa yang sebenarnya adalah Mommy kandung dari Demian. Alberto bingung maksud dari perkataan Zavier padanya itu.
" Maksudmu,," Tanya Alberto yang sedikit memicingkan matanya begitu terlihat bahwa ia sangat penasaran dengan perkataan Zavier.
" Hahahaha,, kau adalah orang yang pintar, Dude, pasti kau tahu maksudku apa ?" Bilang Zavier pada Alberto.
Dan, seperti biasa Zavier selalu bersikap memutuskan teleponnya jika ia merasa tidak ada yang ingin disampaikannya lagi pada Alberto. Dengan sikap ini seringkali membuat Alberto merasa kesal.
" Zavier,," Panggil Alberto pada teleponnya, berharap segera mengetahui apa yang telah dikatakan oleh Zavier padanya.
" Oohhh,, Sh. it,," Ucap Alberto saat melihat teleponnya yang telah diputus sengaja oleh Zavier.
Alberto merasakan bahwa sepertinya ada sesuatu yang janggal pada perkataan Zavier kali ini padanya, karena, selama ini memanglah Alberto tidak terlalu memikirkan maksud dari perkataan Zavier. Karena, Alberto tidak terlalu fokus siapa sebenarnya Mommy kandung dari Putranya itu.
Bagi, Alberto bisa menyenangkan dan menggembirakan Demian atas kehadiran seorang Ibu untuknya saja, Alberto sudah tidak memikirkannya lagi.
" Sepertinya Zavier telah menyimpan sesuatu dariku,," Ucap Alberto yang merasa curiga dengan perkataan Zavier padanya.
Namun kali ini Alberto merasa curiga dengan keadaan ini semua, sehingga Alberto berpikir untuk menguak semua misteri yang terjadi pada dirinya dan juga Zoya. Alberto ingin memastikan apakah benar Zoya adalah ibu kandung dari Demian.
" Aku akan menghubunginya lagi, apakah dia selama ini telah menyimpan suatu rahasia padaku,," Ucap Alberto yang segera menghubungi Zavier lagi.
Saat Alberto ingin menelpon kembali Zavier untuk menanyakan apa maksud dari perkataannya itu, tiba-tiba ponselnya sendiri berbunyi menandakan adanya telepon yang masuk.
Alberto melihat layar ponselnya, ternyata Richie yang telah menghubunginya itu. Dengan segera Alberto mengangkat teleponnya.
" Halo,," Bilang Alberto yang langsung mengangkat teleponnya.
" Tuan, saat ini saya sudah selesai mengerjakan tugas yang telah diberikan oleh Tuan,," Bilang Richie yang terdengar dari ponselnya.
Alberto menaikkan kedua alisnya, menyatakan cukup cepat dan ahli sekali atas pekerjaan Richie ini.
" Bagus, aku akan segera kembali untuk memeriksakannya." Bilang Alberto yang segera memutuskan teleponnya.
Setelah mematikan teleponnya, Alberto segera melangkahkan kakinya keluar dari ruangan dan mengurungkan niatnya untuk menelepon Zavier kembali.
" Urusan Zavier, aku pending dulu, lebih baik aku memeriksa hasil dari pekerjaan yang dilakukan Richie,," Bilang Alberto saat dirinya sedang menuju ke sebuah ruangan di markasnya itu.
Alberto memang sengaja pergi ke markasnya untuk mengambil semua a
peralatan yang dibutuhkan oleh Ziya dalam penelitiannya itu.
" Baik, aku akan membawa ini semua, kemungkinan Ziya akan membutuhkannya." Ucap Alberto yang melihat semua benda di dalam ruangan penyimpanan peralatan.
Dengan segera Alberto memerintahkan semua pengawalnya untuk membawa semua peralatan yang dibutuhkannya itu kembali ke kediamannya.
Setelah selesai dan merasa cukup, Alberto segera melangkahkan kakinya keluar dari ruang markasnya ini dan menaiki mobilnya.
" Kembali ke kediaman,," Ucap Alberto kepada supirnya.
" Baik Tuan,," Jawab supir handal Alberto yang segera melajukan mobilnya.
Di dalam mobil Alberto membuka laptopnya untuk melihat semua laporan kantor hari ini, Alberto memang tidak ke kantor, karena, hari ini ia mau fokus terhadap ruangan khusus untuk Ziya. Baginya bisa membahagiakan Ziya dengan pemberian sebuah ruangan khusus, kemungkinan Ziya akan tetap fokus untuk tinggal bersama dengannya.
***