Mafia And Angel

Mafia And Angel
Bag. 105 - Rencana Ziya



Memang kenyataannya saat itu Zoya pergi setelah menghempas tubuh Ziya dan Ziya tergelincir masuk ke dalam kolam air pancur, setelah itu Zoya pergi mengacuhkan keadaan Ziya dan meninggalkannya tanpa sedikitpun untuk menoleh ke arah Ziya.


" Bagaimana keadaan Ziya saat ini,," Tanya Zoya dalam hati yang penasaran akan keadaan Ziya saat ini.


Zoya memang tidak mengetahui bahwa saat ini Ziya telah lama berada di kediaman Alexandre menggantikan posisi dirinya sebagai istri dari Alberto.


Itu juga karena, perintahan dari Erwin, yang tidak diketahui oleh Zoya. Karena, saat Zoya kabur bersama Jimmy, Zoya sama sekali tidak mengetahui rencana dari Papinya itu.


" Apakah dia masih melanjutkan kuliahnya," Ucap Zoya sambil berpikir apakah saat ini Ziya masih melanjutkan kuliahnya.


Sebenarnya saat ini Zoya merasa bingung dengan keadaan yang telah terjadi padanya, karena, dalam ingatannya itu Ziya sama sekali tidak datang menolong dirinya, tapi, kenapa dalam mimpinya dia terjatuh dan juga dibantu oleh Ziya. Zoya benar-benar bingung akan kejadian yang telah terjadi itu.


" Apakah itu nyata atau sebuah mimpi,, kalau itu nyata, itu tidak mungkin, karena, aku sangat mengingat dengan jelas bahwa tubuh Ziya telah ku dorong dan ia terjatuh ke dalam kolam,," Ucap Zoya yang berpikir akan ingatannya itu.


" Tapi, kenapa sesaat ingatan itu berubah menjadi kakiku yang tersandung dan terjatuh, serta kenapa saat aku terjatuh Ziya berteriak memanggilku dan segera menolongku,," Suara Zoya yang berkata sambil memikirkan hal yang di alaminya.


" Apakah ini pertanda buruk bagiku,," Ucap Zoya yang berpikir hal negatif akan terjadi padanya.


Zoya merasa bahwa dirinya saat ini sudah memiliki tanda-tanda sesuatu hal yang buruk akan terjadi padanya.


" Ooohhh God, apa yang harus kulakukan, supaya aku bisa menghindari sesuatu yang akan terjadi." Ucap Zoya sambil berdoa supaya suatu yang buruk pada dirinya jangan sampai terjadi lagi.


Cukup sudah dirinya mendapatkan hal yang buruk saat ia masih di usia remaja, dimana saat itu ia diper-kosa oleh orang yang tidak dikenal hingga dia mengandung bayinya itu.


Zoya merasa begitu trauma saat dirinya mengalami musibah yang sangat buruk dan sangatlah membuat dirinya putus asa dan bunuh diri. Tapi, saat itu hanyalah kandungannya saja yang bisa menjadi penguat hidupnya. Zoya merasa sangat begitu mencintai kandungannya, karena, walaupun dia tidak mengetahui siapa orang yang telah memper-kosanya tapi, ia begitu menyayangi janin yang ada di dalam perutnya itu.


" Apabila benar, bahwa ingatanku itu adalah pertanda buruk untuk diriku, maka, aku akan menerimanya, karena, aku menyadari bahwa kesalahan ku sangatlah besar terhadap saudariku sendiri, karena, rencana busuk dari Papi Erwin aku telah menghancurkan kehidupannya juga." Ucap Zoya yang berpasrah diri tentang apa yang akan terjadi pada mimpinya itu.


Zoya sempat ingin bunuh diri, tapi, sikapnya itu membuat Erwin sangat marah besar pada dirinya. Karena, bagi Erwin Zoya adalah seorang Putri untuknya yang bisa menghasilkan uang yang banyak dan bahkan kekuasaan yang begitu besar. Oleh sebab itu, Zoya hanya bisa berpasrah diri terhadap dirinya yang sedang mengandung itu.


" Aku sudah banyak melakukan kesalahan terhadap saudariku, walau bagaimanapun dia adalah saudari kembarku yang dilahirkan Mama di waktu yang bersamaan."


" Maafkan aku, Ziya, Maafkan Zoya mu yang tidak bisa membantumu disaat permintaan Papi Erwin padaku, maafkan aku yang telah menghancurkan dirimu,," Ucap Zoya yang menangisi perbuatannya selama ini.


Karena, merasa bahwa dirinya terlalu banyak kesalahan pada saudara kembarnya sendiri, tak disadari akhirnya tubuh Zoya melemah dan terbaring di atas lantai.


Sementara itu,,


Ziya yang sedang berada di dalam kamar pribadi Alberto sedang menyelidiki setiap sudut kamar itu. Ziya merasa dirinya juga perlu untuk menyelidiki kamar ini, karena, Alberto sendiri yang mengatakan bahwa Martin masuk ke dalam kamarnya itu melalui jendela kecil yang ada di dalam ruangan tempat dimana mereka sedang sarapan pagi tadi.


" Aku harus menyelidiki kamar Alberto ini, kenapa bisa Martin, masuk melalui jendela kecil ini," Ucap Ziya dalam hatinya sambil memandangi jendela yang begitu kecil tapi terlihat sangatlah berbeda.


" Bagaimana cara dirinya masuk ke dalam jendela sekecil ini,," Pikir Ziya dalam hatinya sambil meneliti jendela itu.


" Baik, setelah mereka semua keluar dari penahanan Alberto, maka aku akan segera menyelidiki mereka, supaya aku bisa memecahkan masalah yang telah terjadi pada Alberto." Gumam Ziya lagi dalam hati sambil memandang ke arah luar jendela.


Ziya merasa kesepian saat ini, karena, dirinya telah ditinggal sendirian oleh Alberto.


" Heemm, Alberto kau sengaja membuat diriku kesepian, karena kau belum mempercayai akan kekuatanku yang bisa melawan mereka,," Gumam Ziya dalam hatinya merasa kesal akan kelakuan Alberto yang sengaja keluar dari kamarnya saat ini.


" Aku tahu kau melarangku keluar, karena, kau berpikir aku akan dicelakakan oleh mereka lagi,," Gumam Ziya berpikir bahwa pikiran Alberto yang melarangnya keluar karena, takut sesuatu yang buruk akan terjadi lagi padanya.


Ya, pastinya seperti saat kemarin, dimana Ziya sedang berada di taman dan rambutnya ditarik oleh Claire. Walaupun Ziya bisa melawan tapi, masih saja menyebabkan Ziya terluka.


" Alberto, jangan takut aku berjanji mereka tidak akan bisa menggangguku lagi, kau tahu bahwa mereka tidak mungkin berhasil untuk melakukan rencana jahat terhadapku,," Ucap Ziya lagi dalam hatinya, merasa akan kekuatannya itu.


Ziya saat ini akan berani menunjukkan keahliannya itu karena, Alberto juga telah mengetahui dirinya, bahwa dia bukanlah Zoya melainkan Ziya. Cuma Ziya merasa bingung dan heran, kenapa Alberto belum memanggilnya Ziya malah masih memanggilnya Zoya.


" Jika mereka berani menyentuh diriku lagi dan melakukan hal lain pada Demian maka aku akan segera menunjukkan diriku sebenarnya, karena, aku bukanlah Zoya, seperti apa yang mereka pikir selama ini." Pikir Ziya untuk merencanakan sesuatu pada siapa saja yang akan merendahkan dirinya.


" Ya itu Zoya yang bisa mereka injak hanya karena, uang, tapi tidak denganku, aku tidak akan sudi mereka menginjak-injak harga diriku ini,, aku sama sekali tidak seperti Zoya yang tergiur dengan uang." Ucap Ziya dalam hati sambil memandang keadaan diluar.


Namun Ziya berpikir kenapa Alberto belum mau memanggil namanya dengan nam aslinya yaitu Ziya.


" Tapi kenapa Alberto belum mau memanggil namaku,," Ucap Ziya dalam hatinya mengenai perkataan Alberto yang sampai saat ini belum memanggilnya dengan namanya sendiri.


" Apakah dia sama sekali tidak menyukaiku,, dia hanya merindukan sosok Zoya dari wajahku,," Pikir Ziya yang masih ragu akan sikap Alberto padanya.


Apakah Alberto tidak menyukai dirinya dan masih mencintai Zoya.


Tentunya karena, Zoya adalah istrinya yang telah memiliki seorang putra bersama dengannya, sedangkan dia hanya menggantikan sementara posisi Zoya.


" Maafkan aku, Zoya,," Ucap Ziya merasa bersalah pada saudara kembarnya itu.


" Jika kau tidak pergi, tidak akan mungkin aku mengenal suamimu, tidak akan mungkin juga aku memiliki rasa ini padanya." Bilang Ziya dalam hatinya sambil mengingatkan kejadian saat dirinya pergi dari rumah hanya sekedar untuk menggantikan posisi Zoya.


" Maafkan aku, Zoya,," Ucap Ziya yang lagi-lagi merasa bahwa tindakan yang dilakukannya itu salah.


" Karena, telah berani mencintai suamimu sendiri." Ucap Ziya yang merenungi akan perasaannya terhadap Alberto.


Ya, pastinya Ziya bingung akan perasaannya itu, karena, saat ini hubungan antara dirinya dan Alberto sudah begitu mendalam dan bahkan sudah masuk ke fase yang begitu serius. Membuat Ziya seakan merasa bahwa dirinya ini adalah seorang saudari kembar yang tega merebut suami dari saudari kembarnya sendiri.


Di dalam hati Ziya apakah dirinya bersalah telah mencintai Alberto ?


Entahlah saat ini Ziya merasa bahwa dirinya sudah terlanjur mencintai suami dari kembarannya sendiri.


Ziya yang sedang disibukkan memikirkan perasaannya terhadap Zoya dan Alberto merasa kesepian karena, saat ini tidak ada yang bisa membuat dirinya tertawa bahagia. Siapa lagi kalau bukan putra kecilnya Demian.


Saat ini, Alberto telah pergi ke kantornya dan si kecil Demian juga masih di sekolahnya, sementara itu, asisten pribadi Ziya yaitu Vena masih dirawat di rumah sakit. Sedangkan, saat ini dia hanya sendirian di kamar, tidak diperbolehkan Alberto untuk keluar kamar sebelum Demian pulang dari sekolahnya.


" Heh! Dasar Alberto, membuat aku sendiri seperti ini,," Umpat Ziya kesal yang memberanikan dirinya untuk berbicara.


Bodoh amat dalam pikiran Ziya jika Alberto mendengarnya, karena, Ziya sudah tahu bahwa di kamarnya ini banyak sekali pengintai yang ada.


Padahal Ziya ingin sekali keluar dari kamar ini, walaupun kamar ini begitu luas masih saja membuat Ziya merasa bosan dan Ziya akhirnya memilih masuk ke dalam ruang tempat tidurnya melihat-lihat keadaan disana, karena, menurut Alberto di dalam kamarnya ini banyak sekali sistem pengintai dan sistem keamanan yang tersembunyi.


Oleh sebab itu, Ziya merasa bahwa ruangan ini seperti adanya mata Alberto yang menatap langsung meneliti dirinya. Ziya menoleh ke arah kanan, ke arah kiri, ke arah belakang dan ke arah depan, mencari keberadaan dimana Alberto meletakkan alat sistem keamanan yang telah dibuatnya itu.


" Alberto mengatakan bahwa di kamar ini banyak sekali pengintai yang ia buat dan ia letakkan secara tersembunyi, baiklah aku akan ikut untuk menelitinya." Ucap Ziya sambil tersenyum melihat kesana-kemari.


" Seperti yang dikatakan oleh Alberto bahwa Martin masuk ke dalam kamar ini, pasti memiliki tujuan lain, sehingga sampai saat ini, Alberto belum juga mengetahuinya,," Ucap Ziya dalam hatinya sambil menyelidiki ruangan yang begitu luas di hadapannya saat ini.


" Benar, yang dikatakan Alberto bahwa Martin terlihat pintar tapi nyatanya dia juga bisa terkecoh akan kelakuannya itu, sebenarnya apa yang ingin dilakukannya di dalam kamar ini,," Gumam Ziya lagi memikirkan tindakan Martin saat itu.


" Apakah dia sengaja ingin meretas sistem keamanan di kamar Alberto, supaya dia bisa menyergap Alberto,," Pikir Ziya sambil memikirkan maksud dari tindakan Martin.


" Heemmm, mereka semua telah ditahan oleh Alberto, bagaimana dengan nasib mereka," Pikir Ziya dalam hatinya.


Karena, Ziya juga merasa begitu tidak enak jika dikurung. Dirinya saja yang dikurung oleh Alberto di dalam kamar pribadi yang begitu indah ini masih terasa tidak nyaman dan begitu membosankan. Apalagi Claire dan Gladys yang saat ini ditahan oleh Alberto.


Dan, bagaimana juga nasib dari Martin yang jelas-jelas sudah ketahuan oleh Alberto bahwa dirinya adalah seorang pelaku.


Sesaat Ziya merasa dan berpikir pastinya keadaan mereka sungguh menyedihkan. Karena, Ziya tahu bagaimana kejamnya Alberto terhadap tawanannya. Tubuh Ziya sedikit bergidik ngeri karena, mengetahui bagaimana kejamnya sikap Alberto itu.


" Iiihhh, apa yang terjadi pada mereka." Gumam Ziya yabg sedang memperkirakan keadaan yang telah terjadi pada dua wanita licik itu.


Terutama putra dari Gladys yang telah sengaja membuat dirinya celaka. Sampai saat ini Ziya merasa bahwa Martin adalah orang yang paling tepat baginya untuk mendapatkan semua informasi yang sedang ia selidiki itu.


" Aaahhh,, sepertinya aku mendapatkan sesuatu,," Ucap Ziya dalam hatinya sambil menjelentikkan kedua tangannya.


Karena, dirinya saat ini seperti sedang mendapatkan suatu ide yang cemerlang untuk membantu Alberto dalam membuka masalahnya itu.


Walaupun seperti itu, Ziya masih menyembunyikan rencananya ini pada Alberto. Karena, ia tidak mau nantinya Alberto akan memikirkan tindakannya ini, sehingga dirinya tidak bisa lagi untuk merencanakan sesuatu yang lain pada penyelidikannya ini.


" Baik, aku akan menggunakan dia, untuk mendapatkan informasi yang ingin Alberto dapatkan,," Ucap Ziya tersenyum senang karena dirinya juga sudah mendapatkan mangsa terbaru.


" Heemm,, Alberto kau lihat saja nanti, informasi yang ingin kau dapatkan dari Martin, akan aku dapatkan, dan setelah aku mendapatkannya, aku berharap semoga dengan informasi itu bisa membantumu dalam menyelesaikan masalah yang kau hadapi selama ini." Gumam Ziya senang, sambil menyunggingkan senyumannya, karena, dirinya saat ini sedikit bisa mencari sasaran yang tepat untuknya mendapatkan informasi.


Memang benar yang dikatakan oleh Ziya, apabila sedang merencanakan sesuatu dalam hal penyidikan kita harus bisa mendapatkan sasaran yang tepat untuk menjadikan sumber informasi yang paling utama baginya.


Ziya bisa mengingat ucapan Martin disaat itu, bahwa disaat Ziya menendang kaki Martin seolah menolak keinginan Martin itu, Martin berteriak marah karena, Zoya telah menolaknya, berarti Martin menyukai Zoya dan selama ini kemungkinan Zoya juga telah memberikan dirinya harapan yang begitu besar.


" Aku tidak mengetahui apa hubungan Zoya dengan Martin, tapi yang jelas terlihat bagiku, sepertinya selama ini Zoya memberikan harapan padanya, sehingga dia mengira saat aku datang ke tempat ini, aku adalah Zoya, dan karena, aku tidak menghiraukan dirinya itu, dia merasa bahwa Zoya telah menjauhinya." Ucap Ziya yang menerka keadaan hubungan yang telah terjadi pada Zoya dan Martin.


" Aaahh,, aku akan gunakan dia untuk mendapatkan informasi yang berhubungan dengan masalah Alberto, sepertinya dia menginginkan Zoya, tapi, karena, saat ini adalah Ziya, makanya dia berpikir bahwa Zoya telah berani menolaknya. Baik, akan aku gunakan wajahku ini yang mirip dengan Zoya untuk mendekatinya demi mendapatkan informasi yang selama ini Alberto cari." Ucap Ziya yang berencana untuk melakukan sesuatu pada Martin.


Ziya tahu dengan caranya mendekati Martin, pasti dirinya itu dengan mudah mendapatkan informasi apa saja yang ingin diketahui oleh Alberto. Tapi, apakah Alberto akan berterima kasih pada sikap Ziya ini, yang bisa mempertaruhkan nyawanya demi mendapatkan informasi yang ingin Alberto dapatkan selama ini.


****