Mafia And Angel

Mafia And Angel
Bag. 227 - Hampir Saja Ketahuan



Setelah Vena mengantarkan pengawal itu keluar dari kamar majikannya ini, dengan segera Vena mencari keberadaan Ziya. Karena, seperti biasa Ziya akhir-akhir ini selalu berada di dalam ruangan penelitiannya itu, dengan langkah kakinya yang pasti Vena langsung saja menuju ke ruangan itu.


" Makanan sudah siap, aku harus segera memberitahu Nyonya untuk segera menyantap makan siangnya,," Ucap Vena sambil tersenyum setelah selesai menata ulang meja yang berisi dengan makanan hidangan darinya.


Ketika, Vena melangkahkan kakinya menuju ke ruangan penelitian khusus milik Ziya. Dan kini Vena akan menekan bel yang ada di depan ruangan itu, betapa terkejutnya Vena ketika menoleh ke arah samping dan tertuju sekali di dekat jendela kamar Ziya. Vena melihat keadaan Ziya yang sedang tergeletak di atas lantai dan sepertinya terlihat sedang tidak sadarkan diri.


" Oh My God, Nyonya,," Teriak Vena ketika menoleh dan melihat Ziya sudah tergeletak di atas lantai.


Tentu saja dengan segera Vena berlari ke tempat dimana Ziya sedang tergeletak saat ini. Betapa cemasnya Vena ketika melihat keadaan majikannya yang tidak lama ia tinggal ke dapur untuk mengambil dan menyediakan makan siangnya. Ternyata saat ini majikannya itu sedang tergeletak tidak sadarkan diri di atas lantai.


Setelah sampai di dekat Ziya, dengan segera Vena memangku kepala Ziya dengan hati yang cemas. Karena, Vena merupakan seorang perawat sebelum ia menjadi asisten pribadi Ziya, tentu saja dengan segera Vena melakukan suatu hal yang berhubungan dengan dunia keperawatan dalam menindaklanjuti sebuah masalah yang sedang ia hadapi saat ini.


" Nyonya,," Panggil Vena lembut pada Ziya sambil mengusap telapak tangan Ziya.


" Kenapa Nyonya bisa pingsan seperti ini,," Gumam Vena merasa heran dengan keadaan yang sedang terjadi itu.


" Nyonya, bangun Nyonya,," Ucap Vena lagi sambil tetap terus menerus mengusap telapak tangan Ziya agar Ziya bisa tersadar dari pingsannya itu.


Sudah berulang kali Vena lakukan suatu hal yang berhubungan dengan dunia keperawatan dalam hal merawat seseorang yang sedang dalam keadaan tidak sadarkan diri seperti saat ini. Karena, sudah cukup lama Vena berusaha membangunkan Ziya dari pingsannya dan Ziya juga tidak berhasil dibangunkan oleh Vena. Akhirnya, Vena mencoba untuk membawa tubuh Ziya agar bisa diletakkan di atas tempat tidurnya.


" Aduhhh, kenapa Nyonya tidak bangun juga,," Gumam Vena dengan wajah yang terlihat begitu cemas akan keadaan Ziya.


" Bagaimana ini,," Gumam Vena lagi seketika berpikir sejenak untuk melakukan tindakan apa terhadap majikannya.


Dan Vena mendapatkan sebuah ide untuk meletakkan tubuh Ziya di atas tempat tidur saja, supaya Ziya bisa istirahat walau kondisi tubuhnya masih dalam keadaan pingsan.


" Ya, aku harus segera meletakkan Nyonya ke atas tempat tidur,," Gumam Vena dengan wajah penuh semangat untuk segera membopong tubuh Ziya naik ke atas tempat tidur.


Namun, karena kondisi tubuh Vena yang tidak terlalu bisa membawa tubuh Ziya naik ke atas tempat tidur, akhirnya, Vena memutuskan untuk kembali menghubungi Alberto agar Tuan Besarnya itu bisa kembali ke kamarnya saat ini juga.


" Aduhhh, bagaimana ini, aku tidak sanggup membopong tubuh Nyonya,," Gumam Vena lagi ketika merasakan kekuatan tubuhnya tidak sanggup untuk menahan dan membopong tubuh Ziya agar bisa pindah ke tempat tidurnya.


" Oh ya, lebih baik, aku harus segera menghubungi Tuan Besar dan memberitahukan keadaan Nyonya yang sebenarnya,," Ucap Vena dengan wajah penuh semangat.


Dengan segera Vena mengeluarkan ponsel dari dalam saku seragamnya dan langsung saja menelepon nomor ponsel yang selalu ada di dalam ponselnya itu. Dan saat ini ponselnya Alberto sudah terhubung langsung oleh panggilan yang sedang Vena lakukan.


" Aahhh aktif,," Seru Vena dengan wajah senang bercampur cemas.


Tidak lama dari penungguannya Vena, Alberto segera mengangkat telepon yang sedang dilakukan oleh asisten istrinya itu.


" Ya ada apa, Vena ?" Tanya Alberto langsung pada Vena dan jelas sekali terdengar bahwa Alberto sedang melangkahkan kakinya ke suatu tempat.


" Maaf Tuan, jika saya menghubungi Tuan saat ini,," Ucap Vena dengan suaranya yang terdengar seperti sedang mengalami sebuah kecemasan.


" Tidak apa-apa," Jawab Alberto tegas.


" Ada apa, cepat katakan ?" Tanya Alberto lagi kepada Vena dengan suaranya yang terdengar begitu serius.


" Maaf Tuan, sekarang Tuan ada dimana tolong kembalilah ke kamar Nyonya saat ini juga, Nyonya baru saja tidak sadarkan diri dan saya tidak sanggup untuk memindahkan tubuhnya, saya juga tidak mau meminta bantuan para pengawal diluar untuk memindahkan tubuh Nyonya Zoya ke atas tempat tidur,," Ucap Vena yang menjelaskan keadaan Ziya pada Alberto dengan detail.


" Apa !" Seru Alberto kaget ketika mendengar penjelasan Vena yang terdengar begitu serius dan juga mengkhawatirkan pikirannya itu.


" Tunggu disana Vena dan jangan lakukan apapun, saya akan segera kembali ke kamar,," Ucap Alberto yang terdengar tegas dalam memberikan sebuah perintah kepada semua pengikutnya.


" Baik Tuan,," Jawab Vena sambil mengangguk.


Setelah selesai menghubungi Tuan Besarnya itu ada kelegaan yang sedang dirasakan oleh Vena saat ini, karena, benar sekali tindakannya itu yang tidak mau meninggalkan Ziya sendirian dalam kondisi seperti ini. Karena, Vena juga sangat tahu bagaimana sifat dan sikap Alberto yang tidak memperbolehkan semua orang menyentuh tubuh istrinya itu.


" Untung saja, ternyata Tuan tidak pergi jauh dari kediaman ini, jika Tuan pergi jauh aku sangat khawatir dengan keadaan Nyonya seperti ini,," Gumam Vena merasa lega ketika mendengarkan ucapan Alberto yang ternyata masih berada di dalam kediamannya itu.


Oleh sebab itu, Vena tetap berada di posisinya semula dan terlihat sedang memangku tubuh Ziya. Sambil tetap memberikan sebuah tindakan agar Ziya bisa sadar dari pingsannya, Vena teringat akan suatu hal apa yang telah diceritakannya pada Ziya. Bahwa hari ini juga Vena melihat ada seseorang wanita yang sedang menggunakan jubah sengaja masuk ke dalam ruangan Axeloe.


" Nyonya, jangan pingsan seperti ini, tolong bangun,," Ucap Vena sambil tetap mengusap lembut tangannya Ziya.


Dan Vena baru tersadar mungkin saja apa yang sedang terjadi pada Ziya saat ini adalah wanita berjubah itu sengaja melakukan suatu tindakan di dalam ruangan Axeloe agar bisa melakukan sebuah tindakan buruk terhadap majikannya ini.


" Oh God, apa mungkin ada seseorang yang masuk ke dalam ruangan kamar Nyonya ?" Tanya Vena dengan wajahnya yang terlihat begitu cemas sekali.


" Jika benar itu terjadi, berarti orang itu berhasil melakukan sesuatu hal yang berhubungan dalam sistem alat keamanan kediaman ini,," Ucap Vena lagi yang terpikirkan akan suatu hal saat ini.


Karena, ucapan penjelasan Vena begitu jelas sekali terdengar bahwa ia sedang mengalami kesulitan dan ada suatu hal yang sedang terjadi pada Ziya. Sehingga membuat Alberto merasa begitu sangat cemas dengan keadaan istrinya itu. Secara otomatis, Alberto segera berlari dari tempatnya saat ini juga menuju ke kamar Ziya dengan secepat mungkin.


Dan saat ini Alberto sedang merasa sangat bahagia sekali, karena, secara langsung Axeloe adiknya yang baru saja menyelesaikan penelitian dan penelitian itu juga berhasil ia lakukan. Oleh sebab itu, apapun konsekuensinya terhadap Ziya nantinya, Alberto hanya ingin meminta satu hal dari Ziya yaitu kesembuhan total yang selama ini telah hilang dari hidupnya.


Terlihat Alberto dan Axeloe sedang melangkahkan kakinya secara beriringan menuju ke lantai atas dimana lantai kedua adalah tempat khusus milik Alberto, Ziya dan juga putranya yaitu Demian. Disaat Alberto sedang berbicara serius mengenai hal perkembangan Ziya pada Axeloe tiba-tiba ada sebuah panggilan yang masuk ke dalam ponselnya.


Tentu saja dengan segera Alberto mengambil ponselnya dan melihat siapa orang yang sedang memanggilnya itu. Dan terlihat dari ponsel itu bahwa Vena sang asisten pribadi dari Ziya istrinya, sedang menghubunginya. Dan dengan segera Alberto menerima panggilan itu.


" Vena kenapa dia menelepon ?" Tanya Alberto yang menghentikan langkah kakinya.


" Vena,," Seru Axeloe di dalam hatinya ketika ia terbersit mendengar Alberto menyebutkan nama Vena.


" Siapa dia ?" Tanya Axeloe seakan lupa dengan seorang wanita yang berpapasan dengannya itu adalah Vena sang asisten pribadi Ziya.


" Apakah dia wanita yang berpapasan denganku saat aku akan memeriksa Ziya, dan dia adalah asisten pribadinya Ziya ?" Tanya Axeloe lagi dalam pikirannya seakan mengingat siapa yang bernama Vena saat Alberto menyebutkan namanya itu.


Tentu saja ketika Alberto menyebutkan nama Vena, Axeloe terlihat sedikit melirik nomor ponsel Vena yang tertera di dalam layar ponsel Kakaknya itu. Dan, dengan senyuman mengembangnya Axeloe bisa menghapal dengan jelas berapa nomor angka yang tertera pada layar ponselnya Alberto.


" Ya halo, ada apa Vena ?" Tanya Alberto kepada Vena yang sedang memanggilnya itu.


" Tuan, maaf Tuan ada dimana ?" Tanya Vena yang terdengar oleh Alberto dan juga Axeloe.


" Tuan,," Gumam Axeloe dalam hati saat mendengar suara Vena dalam ponselnya Alberto.


" Ternyata benar sepertinya dia,," Gumam Axeloe lagi dalam hatinya sambil tersenyum senang.


Jelas saja jika, Axeloe tersenyum senang ketika mengetahui bahwa wanita yang berpapasan dengannya adalah benar-benar Vena. Dan wanita itu tidak berbohong dengan identitasnya saat Axeloe sedang berpapasan dengannya itu. Entah kenapa Axeloe sedikit terbersit dengan wanita yang memiliki raut wajah oriental berciri khas perpaduan Asia dan Eropa, jadi, ciri wanita seperti itu bagi Axeloe cukup langkah dan sulit untuk didapatkan.


Walaupun banyak wanita di luaran sana yang mengenal dan mengetahui bagaimana tampannya Axeloe dan mengetahui kecerdasan Axeloe di dalam dunia kesehatan pastinya semua wanita akan menempel dengannya. Namun, Axeloe hanya ingin mencari wanita yang jual mahal, seperti Vena, seolah takut dan tidak terlalu fokus dengan adanya Tuan Muda kedua yang jauh berbeda dengan Tuan Besarnya itu Alberto.


Karena, bagi Axeloe ketampanannya itu tidak bisa dibandingkan oleh siapapun, hanya Demian saja yang bisa membandingkan ketampanan yang ia miliki itu, oleh sebab itu, Alberto hanya bisa mengalah dengan adiknya ini jika harus dibandingkan ketampanannya.


" Katakan saja Vena ada apa ?" Tanya Alberto lagi pada Vena disela serunya lamunan Axeloe yang sedang melamunkan tentang Vena.


" Nyonya, Nyonya Zoya tidak sadarkan diri di dalam kamar,," Bilang Vena dengan segera kepada Alberto.


" Apa !!" Seru Alberto secara langsung ketika mendengarkan laporan dari Vena.


" Tunggu disana dan jangan pernah tinggalkan Istriku dalam keadaan apapun, aku segera ke kamar,," Ucap Alberto dengan tegas memberikan pesan kepada Vena.


" Baik Tuan,," Jawab Vena yang masih terdengar di ponselnya Alberto.


Karena, mengetahui bahwa keadaan Ziya saat ini sedang tidak sadarkan diri, secara otomatis Alberto langsung saja berlari menaiki anak tangga untuk meluncur masuk ke dalam kamarnya. Tentu saja melihat tingkah laku Alberto seperti itu, Axeloe juga mengiringi langkah kaki Alberto yang berlari secepat mungkin untuk kembali ke kamarnya.


" Ziya pingsan ?" Tanya Axeloe sambil mengiringi langkah lari Alberto yang sangat cepat.


" Ya,," Jawab Alberto tetap dengan wajahnya yang fokus dengan segera meluncur ke kamarnya itu.


Sesampainya di lantai atas, Alberto langsung masuk ke dalam kamar pribadi Ziya. Dan ternyata benar sekali saat Alberto masuk ke dalam kamar itu, terlihat saat ini Vena sedang membantu memindahkan tubuh Ziya ke atas tempat tidur. Tentu saja dengan segera Alberto mengangkat tubuh Ziya dan memindahkannya ke atas tempat tidur.


" Sayang,," Seru Alberto saat memasuki kamar pribadi Ziya.


Dengan napasnya yang memburu Alberto segera meletakkan tubuh Ziya di atas tempat tidur dan memangku tubuh Ziya itu. Dan, dari raut wajah Vena memang terlihat seperti sedang ketakutan oleh sebab itu, Alberto menanyakan keadaan Ziya kepada Vena tidak seperti kejadian dahulu.


" Ada apa Vena, kenapa Istriku bisa pingsan ?" Tanya Alberto langsung kepada Vena.


" Maaf Tuan, sebenarnya sebelum Nyonya pingsan, Nyonya dan saya pergi ke ruangan Tuan, namun, karena, tidak menemukan Tuan, jadinya saya dan Nyonya kembali ke kamar dan,," Ucap Vena yang melaporkan insiden kejadian pada Alberto dengan perlahan-lahan dan tersusun tapi sayang Alberto tidak mau mendengarkan penjelasannya yang terlalu panjang itu.


Karena, mendengar ucapan laporan yang disampaikan oleh Vena terlalu panjang dan detail akhirnya, Alberto mengangkat tangannya ke hadapan Vena, hingga membuat Vena sedikit kaget dan Alberto ingin Vena memberitahukan inti kejadiannya saja bagaimana Ziya bisa pingsan tanpa sepengetahuan Vena yang selalu berada di sampingnya itu.


" Cukup Vena, intinya saja,," Ucap Alberto kepada Vena sambil mengangkat tangannya menandakan bahwa tangannya itu adalah sebuah isyarat.


" Baik Tuan,," Jawab Vena mengangguk.


" Disaat saya sedang keluar untuk mengambil dan menyiapkan makan siang untuk Nyonya dan saya kembali lagi ke kamar, Nyonya sudah jatuh pingsan seperti ini, Tuan,," Jawab Vena dengan sejujurnya.


" Vena,," Umpat Alberto dengan suaranya yang geram.


Betapa geramnya Alberto ketika mendengar laporan Vena yang membuat emosinya menjadi naik seperti saat ini. Karena, begitu jelas sekali terlihat bahwa saat ini rahang wajah Alberto mengeras ketika mengetahui kebenaran bahwa Vena meninggalkan Ziya sebentar hanya untuk mengambil dan menyiapkan makan siangnya Ziya.


****