
Dan ternyata disaat Vena membalikkan tubuhnya, dengan sangat jelas sekali Vena melihat bahwa mata Axeloe masih terpejam namun, tangannya begitu kuat memegang dan menahan pergelangan tangannya yang terasa sedikit lemas itu.
" Aduuuhhh, kenapa Tuan Axeloe menggenggam tanganku ?" Gerutu Vena dalam hati karena, merasa cemas dengan sikap Axeloe yang masih tertidur tapi dengan sengaja membuat Vena tidak bisa bergerak.
" Mata Tuan Axeloe masih terpejam, kenapa, tangannya begitu kuat sekali menggenggam pergelangan tanganku,," Bilang Vena saat lehernya telah menghadap ke arah Axeloe yang sedang tertidur.
" Kayaknya, Tuan Axeloe hanya berpura-pura saja tertidur,," Sambung Vena lagi yang mengira kelakuan Axeloe saat ini.
" Baiklah, aku ingin lihat apakah Tuan Axeloe memang tertidur atau hanya berpura-pura, tidak mungkin tidur jika tangannya bisa menggenggam pergelangan tanganku ini dengan sangat erat,," Sambung Vena lagi yang bergumam sendiri di dalam hatinya.
Jelas sekali Vena terkejut atas kelakuan Axeloe yang dilakukan dengan sengaja sehingga membuat Vena yang tadinya tidak kaget dan ingin menjauhi dari tempat tidur malah saat ini terdiam bagaikan es yang tengah membeku, jadi sangat wajar jika, Vena menggerutu sendiri atas kelakuan yang dilakukan Axeloe secara tiba-tiba padanya itu.
Dan ketika Vena tengah menoleh ke arah Axeloe, benar sekali ternyata Axeloe hanya berpura-pura tidur, agar bisa mengetahui apa yang akan dilakukan oleh Vena jika ia diketahui oleh Vena sedang tertidur seperti saat ini. Karena, sudah ketahuan oleh Axeloe bahwa Vena ingin menjauhi tempat tidur itu, pastinya Vena segera mencari akal agar dirinya bisa terbebaskan dari Tuan Besar yang cukup jahil padanya ini.
" Huuuuuuhhhh, sepertinya aku harus mencari ide untuk mengelak kecurigaan Tuan Axeloe dengan tindakanku yang ingin menjauhi tempat tidurnya ini,," Gumam Vena yang telah memiliki sebuah ide agar dirinya bisa menjawab dan mengelak dari pertanyaannya Axeloe.
Sekali lagi Vena menoleh ke arah Axeloe dan kali ini mata Axeloe telah terbuka dengan sempurna, sehingga semakin membuat jantung Vena berdegup dengan kencangnya. Dengan nafas dan suara yang terdengar cukup berat Axeloe mulai membuka pertanyaan kepada Vena dengan keadaan suhu tangannya begitu dingin.
" Eeehhmmm, sudah selesai ?" Tanya Axeloe dengan suara yang terdengar cukup berat.
" Bagus, terima kasih,," Sambung Axeloe kembali.
Karena, mendengar jawaban dari Vena bahwa perintah yang telah ia berikan sudah selesai dilakukannya itu. Sehingga dengan segera Axeloe sedikit menggerakkan tubuhnya dan melihat hasil dari kerja Vena dalam membalut luka yang ada di dadanya itu. Dan terlihat begitu jelas bahwa saat ini tubuhnya malah sudah tertutup oleh baju yang awalnya dibuka oleh dirinya sendiri serta telah ditutup oleh Vena.
" Bagus, terima kasih, bahkan kau juga telah memasang kancing bajuku,," Ucap Axeloe masih dengan suara beratnya.
" Heemm ya Tuan," Jawab Vena lagi dengan suara yang terdengar cukup kecil.
" Memangnya kau mau kemana ?" Tanya Axeloe dengan segera ketika melihat posisi tempat Vena sudah berubah dari awal posisinya.
" Eehhh, saya hanya ingin berpindah ke tempat sana Tuan, agar Tuan bisa beristirahat dengan tenang dan tidak terganggu dengan adanya saya yang masih berada disini,," Ucap Vena dengan baik dan benar sehingga membuat Axeloe sedikit menganggukkan kepalanya.
Dengan sangat perlahan Vena mencari alasan dan juga kata-kata yang lembut agar jawabannya itu sama sekali tidak menyinggung perasaan Axeloe. Sehingga membuat Vena harus merangkai kata-kata terlebih dahulu sesuai dengan keadaan yang ada, agar jawabannya itu bukanlah sebuah alasan saja.
****