
Rasanya dia tidak bisa menolak untuk mengurungkan niatnya untuk mati atau bunuh diri. Karena, penyemangat kecilnya telah datang memberi semangat dalam hidupnya. Disini, bagi Ziya cuma ada Demian, Vena dan Melly yang mengerti akan dirinya. Walaupun Alberto telah melakukan tindakan kasar dan melukai perasaannya, setidaknya ia masih bisa kuat karena, adanya Demian yang menjadi penyemangat dirinya saat ini.
Ziya yang merasa kesepian di saat Demian sedang sekolah hanya bisa melakukan sesuatu hal dengan termenung di dalam kamar itu saja. Ziya sama sekali tidak mau menanyakan kemana perginya Alberto saat ini, karena, mau kemana perginya Alberto tidak penting bagi dirinya untuk mengetahuinya.
Sesaat Vena, yang merasa kasihan pada keadaan Ziya yang seperti orang putus asa itu membuat dirinya, segera duduk menemaninya.
" Nyonya, minum obatnya," Ucap Vena yang memberikan obat dari resep yang telah disiapkan oleh Daniel.
" Terima kasih, Vena,," Jawab Ziya menerima segelas air putih dan sebutir obat.
Setelah meminumnya, Ziya yang sekarang sedang duduk di balkon kamar Alberto dan mencari udara segar sambil menatap taman yang berada di depannya. Cukup membuat Ziya merasa nyaman karena, bisa menghirup udara segar dan melihat-lihat taman yang ada di depannya.
Ziya lalu berniat untuk keluar dari kamar dan membuat sesuatu yang baru di taman tersebut.
" Vena, apakah saya bisa keluar,, ?" Tanya Ziya menoleh ke arah Vena dengan tatapan sendu nya.
" Maaf, Nyonya, Tuan berkata,," Bilang Vena yang belum selesai dilanjutkannya.
Ziya telah memotongnya dan mengangguk seolah mengerti.
" Baiklah, aku mengerti, aku tidak boleh keluar, kemanapun, yang aku mau sebelum dia pulang,," Ucap Ziya yang mengucapkan dan mengulangi semua pesan Alberto kepada Vena.
" Maafkan saya Nyonya,," Jawab Vena dengan wajah sendunya.
" Kamu tidak bersalah,," Bilang Ziya sedikit tersenyum tipis.
Lalu, Vena memikirkan sesuatu, memangnya mau kemana majikannya ini meminta keluar dari kamarnya.
" Maaf, Nyonya kalau Vena boleh tau, Nyonya mau keluar ingin pergi kemana,?" Tanya Vena yang sangat ingin mengetahuinya.
Ziya menoleh dan menjawab,,
" Aku hanya ingin ke taman itu,," Bilang Ziya menunjukkan taman di depan matanya.
" Oohhh,,, Nyonya hanya mau ke taman itu,, ?" Tanya Vena dan mengangguk.
" Heemm,," Jawab Ziya mengangguk.
Di dalam pikiran Ziya, dia hanya ingin membuat aktivitas baru di tengah keputusasaannya saat ini. Apabila, di saat ini ia terkurung di kamar, maka kemungkinan pikiran buruk akan selalu mengganggu dirinya. Oleh, sebab itu Ziya ingin mencari suasana baru, agar dirinya bisa sibuk dengan suatu hal yang bermanfaat.
Tidak seperti di dalam kamar ini, hanya diam, nonton tv, tidur dan makan. Tanpa melakukan aktivitas apapun. Ziya merasa bosan.
Ya, memang bosan,,?
Oleh sebab itu ia meminta Vena agar bisa membantu dirinya keluar sementara dari kamar ini.
" Baiklah, Nyonya,, Vena akan tanyakan pada tuan terlebih dahulu." Bilang Vena pada Ziya.
Ziya hanya mengangguk.
Sesaat Vena mulai mengeluarkan ponselnya dan segera menelepon Alberto, Tapi, sayang nomor ponsel Alberto tidak aktif. Vena tahu dan mengerti kemungkinan Alberto sedang melakukan rapat.
Lalu, Vena menelepon asisten pribadi Alberto yang sedang menemani Alberto di dalam rapat ke luar negeri itu.
Dering pertama,, langsung diangkat..
" Ada apa,, ?" Tanya asisten pribadi Alberto.
" Maaf, saya Vena pelayan pribadi Nyonya Zoya, apakah saya bisa berbicara dengan Tuan Besar Alberto." Ucap Vena di dalam teleponnya yang meminta untuk menyambungkan teleponnya pada Alberto.
" Baiklah tunggu sebentar." Jawab asisten pribadi Alberto.
Vena dan Ziya pun pastinya sedang menunggu jawaban dari Alberto langsung.
Sementara itu,, disaat Alberto yang sedang berada di Italia dalam dua hari ini, sedang melakukan rapat bersama karyawan di kantor miliknya sendiri.
" Frise,, Bagaimana hasil laporan yang telah kau buat beberapa bulan ini,, ?" Tanya Alberto kepada karyawan di kantornya ini.
" Terima kasih buat Tuan Alberto yang telah mempercayakan saya sebagai peneliti laporan hasil bulanan dalam jangka dua bulan ini." Ucap Frise pada Alberto.
Alberto pun segera mempersilahkan Frise sebagai orang kepercayaannya untuk melakukan presentasi terhadap hasil laporan bulan ini dan bulan kemarin.
" Baiklah, Tuan Alberto saya akan mulai melakukan presentasinya,, Menurut statistik laporan bulan lalu, hasil dari penjualan dan penerimaan barang senjata api yang telah dilakukan oleh perusahaan kita sedikit merosot dari hasil presentasi statistik bulan lalunya.," Bilang Frise yang membuat Alberto sedikit mengerutkan keningnya.
" Tapi, kita begitu bersyukur, atas keberhasilan kelompok mafia kita yang telah menyelesaikan permasalahan yang terjadi di pelabuhan sekitar dua minggu yang lalu membuat hasil statistik bulan ini bisa menutupi semua kerugian yang terjadi di bulan lalu, Tuan,," Ucap Frise yang tersenyum merekah memberikan hasil presentasinya.
Alberto pun sedikit menaikkan ujung bibirnya, dia mengerti maksud dari omongan dari hasil presentasi statistik bulan kemarin dan bulan ini yang telah dijelaskan oleh Frise.
Lalu, dengan mengakhiri hasil laporan presentasinya Frise mengucapkan terima kasih dan selamat pada Tuan Besarnya ini.
" Terima kasih Tuan, dan selamat akhirnya Alexandre Group bisa mengembalikan hasil statistik data pencapaian yang sesuai dengan target dan bahkan lebih dari itu." Ucap Frise yang membungkukkan tubuhnya menghormati Alberto.
Terdengar suara tepuk tangan yang gemuruh dan memuaskan bagi Alberto, tidak sia-sia dia mengirim semua teman handalnya itu untuk mengurus bisnis pribadinya ini. Sehingga mendapatkan pencapaian yang cukup memuaskan.
" Justru, saya yang seharusnya mengucapkan terima kasih kepada kalian semua. Tanpa adanya kalian maka Alexandre Group tidak akan bisa seperti ini." Bilang Alberto yang selalu menyanjung dan memuji semua karyawannya.
Oleh sebab itu, semua orang yang menjadi pengikut Alberto akan selalu sejahtera dalam kehidupannya.
Sesaat Alberto sedikit bertanya dalam hati, karena, di tengah rapatnya ini, asisten pribadi Alberto yang sedang berada di pintu depan ruangan rapat telah menerima telepon dari seseorang. Dan, Alberto melirik sepertinya itu bukanlah telepon biasa. Sesaat Alberto, melihat bahwa asisten pribadinya memberi kode bahwa dirinya sedang menerima telepon dari Vena pelayan pribadi Ziya.
Alberto seakan mengerti apa yang dimaksud oleh asistennya itu. Dengan segera Alberto menyelesaikan rapatnya saat ini.
" Baik, aku rasa pertemuan kita cukup sampai disini," Bilang Alberto kepada semua karyawannya.
" Terima kasih Tuan, sampai jumpa lagi dan selalu berhati-hati." Ucap semua karyawan Alberto.
Semua karyawan yang sedang berada di dalam ruang rapat berdiri dan membungkukkan badannya memberi hormat pada Alberto lalu, satu persatu keluar meninggalkan Alberto.
Dengan segera asisten pribadi Alberto masuk ke dalam ruangan, memberikan teleponnya kepada Alberto.
" Tuan, ada telepon dari Vena pelayan pribadi Nyonya Zoya, katanya ada yang ingin dibicarakan.." Bilang asisten Alberto sambil memberikan Handphonenya.
Alberto menerima telepon itu dan meletakkan di dekat telinganya.
" Ada apa,, ?" Tanya Alberto.
Vena yang sudah lama menjadi pelayan pribadi Alberto membuatnya begitu mengenal suara Alberto saat ini.
" Tuan,, ini apa,, Vena mau bertanya, apakah Nyonya Zoya boleh keluar dari kamar,, ?" Tanya Vena yang sedikit terbata-bata bingung mau bagaimana berbicara kepada Alberto.
Alberto yang mendengar ucapan Vena langsung mengernyitkan alisnya.
" Keluar, mau kemana,,?" Tanya Alberto sedikit garang terdengar.
" Ini Tuan, Nyonya mau keluar menuju taman di depan kamar ini." Ucap Vena yang segera menyampaikan niat isi hati dan keinginan Ziya.
Alberto sedikit mendenguskan nafasnya.
" Tidak, tidak boleh, saya sudah bilang kalau saya sudah pulang baru boleh keluar dari kamar itu, mengerti." Ucap suara yang terdengar oleh Ziya.
Vena hanya menelan salivanya, karena, begitu kerasnya dan disiplinnya untuk menjadi Nyonya seorang Alberto Alexandre ini.
Ziya yang mendengar cukup mengerti akan maksud dari ucapan Alberto sehingga membuat dirinya hanya tertunduk pasrah. Baginya, sekarang dia hanyalah seekor burung mainan Alberto yang hanya bisa pasrah terkurung di dalam sangkar emas.
***
Maaf Readers baru up,, 🙏
Seharian ini mati lampu dan Hp author lowbat,, jadi ya, bisa up sekarang baru hidup lampunya,,😭😭
Maafin author ya,,🤗🤗