
Setelah selesai mandi bersama, sarapan bersama dan ganti pakaian bersama, sambil merapikan dasi yang sedang digunakan oleh Alberto. Dengan begitu telatennya Ziya membantu Alberto untuk merapikan semua pakaian yang sedang dipakai oleh pria tampan yang berada di hadapannya ini.
" Ziya,," Sapa Alberto kepada Ziya yang sedang sibuk merapikan bajunya untuk pergi ke kantor.
" Heemm,," Jawab Ziya sambil merapikan dasi yang digunakan oleh Alberto.
" Hari ini yakin, pergi ke sekolah untuk menemani Krystal ?" Tanya Alberto sambil mendongakkan dagunya Ziya untuk menatap wajahnya.
" Yakin, jika tidak segera diselesaikan masalahnya Krystal di sekolah, maka Krystal tidak akan bisa sekolah,," Jawab Ziya dengan begitu santai dan tenang.
" Oke aku izinkan, jangan lupa untuk selalu membiarkan pengawal mengikuti langkahmu,," Ucap Alberto yang selalu mengingatkan Ziya atas pengawal penjaganya.
" Yah, Alberto, aku sudah terbiasa dengan adanya mereka yang selalu mengawaliku,," Jawab Ziya masih dengan wajah datarnya.
" Kenapa, kau tidak suka jika banyak pengawal yang mengikutimu ?" Tanya Alberto lagi pada Ziya sambil melingkarkan kedua tangannya ke bagian pinggang Ziya.
" Tidak, aku sama sekali tidak pernah mengatakan aku tidak suka, hanya kasihan saja pada semua pengawal yang selalu menjagaku, aku kasihan pada mereka ketika mereka melindungiku dan pekerjaannya teledor, pasti mereka semua akan dihukum oleh dirimu, Alberto,," Jawab Ziya yang menceritakan tentang perasaannya mengasihani pengawalnya ketika teledor atau kurang tepat untuk melindungi Ziya.
" Hehehe, aku tidak menghukum mereka dengan hukuman berat, aku hanya memberikan mereka pelajaran supaya mereka bisa lebih baik lagi untuk menjagamu,," Gumam Alberto sambil tersenyum menatap wajah Ziya.
" Ya, aku tahu itu,," Jawab Ziya sambil melirik mata Alberto dengan tatapan dalam.
" Tapi, aku minta padamu, jangan memberikan mereka hukuman ataupun pelajaran yang berat lagi, karena, aku kasihan pada mereka yang rela mempertaruhkan nyawanya demi melindungiku Alberto,," Usul Ziya pada Alberto terhadap pengawalnya itu.
" Oke, aku akan mengikuti saranmu ini, jika permaisuri Ziya sudah meminta aku tidak bisa menolak,," Bilang Alberto sambil memberikan tanda hormat kepada Ziya.
" Hehehe, terima kasih, tapi tanda hormat yang kau berikan ini, lebih buruk dibandingkan Demian,," Ucap Ziya yang terdengar sedang mengejek dan menggoda Alberto.
" Ya, ya, aku akui, Demian memang yang terbaik di hatimu ini,," Ungkap Alberto kepada Ziya sambil meletakkan jarinya ke bagian dada Ziya.
" Karena, dia adalah segalanya bagiku, Alberto,," Gumam Ziya yang tersenyum lembut menatap wajah Alberto.
" Walaupun aku tidak tahu, siapa sebenarnya Demian bagiku sebelum ini, aku selalu berharap agar bisa mendapatkan bukti bahwa Demian lahir dari rahimku, tapi, sampai saat ini kenapa semua ingatan di kepalaku ini belum pulih semuanya,," Ucap Ziya dalam hati dengan wajah sendunya.
Ketika melihat wajah Ziya yang sedang berpikir begitu dalam itu, membuat Alberto langsung mengagetkan Ziya. Karena, Alberto selalu teringat akan kambuhnya penyakit Ziya, ketika Ziya sedang memikirkan sesuatu. Oleh sebab itu, Alberto sengaja membuyarkan lamunan Ziya supaya sakitnya Ziya itu tidak terulang lagi.
" Hei, sayang, apa yang sedang dipikirkan ?" Tanya Alberto pada Ziya yang sengaja mengagetkan lamunan Ziya itu.
" Heemm, tidak ada,," Jawab Ziya sambil tersenyum.
" Ingat sayang, walaupun saat ini kau belum bisa mengingat semua hal yang pernah terjadi kepadamu, aku meminta padamu dan memohon jangan pernah memikirkan sesuatu yang berat lagi, karena, aku tidak mau melihat penderitaan yang kau alami saat menahan rasa sakit jika sakit itu sedang kambuh,," Ucap Alberto meminta tulus kepada Ziya.
Ziya menyunggingkan senyumannya ketika melihat wajah Alberto yang begitu tulus meminta dan memohon kepadanya untuk tidak memikirkan sesuatu tentang keadaan dirinya terdahulu, karena, Alberto sendiri tidak mau melihat Ziya mengalami penderitaan lagi yang begitu menyayat hatinya.
" Heemm, baiklah Alberto, aku tidak akan melakukan suatu hal yang bisa membuat sakitku ini kambuh,," Jawab Ziya sambil memberikan sebuah kecupan manis di hidung Alberto.
" Terima kasih, sayang,," Ucap Alberto sambil membalas balik kecupan manis Ziya yang diletakkannya di bibir Ziya.
Setelah melihat semua keadaan di dalam tubuh Alberto terlihat rapi, dengan segera Ziya mengajak Alberto untuk keluar dari ruangan kamarnya ini. Karena, hari ini tujuan Ziya adalah pergi mengantarkan semua anak-anaknya ke sekolah dan Alberto sendiri akan pergi ke kantornya.
" Ayo, kita keluar kasihan anak-anak sudah menunggu lama,," Bilang Ziya yang mengingatkan Alberto.
" Oke,," Jawab Alberto sambil mengangkat tubuh Ziya.
" Eehhh, Alberto kenapa aku digendong ?" Tanya Ziya seketika kaget saat tubuhnya diangkat dan digendong oleh Alberto.
" Shhhuuuttt, hanya sampai di depan pintu,," Gumam Alberto yang menenangkan Ziya untuk tetap berada di dalam gendongannya.
" Heemm, sekarang sudah mulai bisa romantisnya dan kemarin romantisnya belum ada,," Umpat Ziya sambil menoleh ke arah jalan di depannya.
Alberto merasa geli ketika mendengar ucapan Ziya yang saat ini selalu mengena hatinya. Dan, juga akhir-akhir ini Alberto merasa bahwa sikap dan kelakuan Ziya selalu membuatnya mengalah. Sambil melirik wajah Ziya yang terlihat bertambah cantik itu, Alberto merasa penasaran dengan ucapan dan sedikit perubahan dari istrinya ini.
" Heemm, jika tidak segera pergi bekerja, rasanya aku ingin sekali menghukum perkataanmu ini yang selalu menggodaku,," Ucap Alberto gemas pada sikap Ziya saat ini.
" Hihihi,," Tawa Ziya yang terdengar lembut bagi Alberto.
Ziya sengaja melingkarkan kedua tangannya pada leher Alberto, supaya Alberto bisa lebih cepat untuk membawanya keluar dari kamar ini. Sesampainya di depan pintu kamar, dengan lembut Alberto menurunkan tubuh Ziya tepat di hadapannya.
" Hati-hati, jika terjadi apa-apa, langsung menghubungiku,," Bilang Alberto yang memberikan peringatan kepada Ziya untuk selalu menjaga dirinya.
" Siap," Jawab Ziya sambil menginjit dan menciumi pipi Alberto.
Untuk sesaat Alberto mengeluarkan sebuah ponsel Ziya yang selalu ditinggalkan Ziya di kamarnya itu, karena, Alberto teringat bahwa ia pernah cemas ketika tidak menemukan Ziya di dalam rumahnya ini dan ia juga begitu sulit menghubungi Vena disaat itu.
" Dan ini, kau selalu meninggalkannya,," Bilang Alberto lagi sambil menunjukkan ponsel milik Ziya sendiri.
" Aku tidak membutuhkannya, karena, sudah ada Vena yang selalu aktif untuk menghubungimu Alberto,," Ungkap Ziya sambil meletakkan ponsel itu kembali ke atas meja di dekat pintu.
" Dan, sekarang juga, aku tidak bisa menggunakan ponsel itu, karena, aku tidak mengingat berapa nomor ponsel orang tuaku yang berada di bawah ancaman Paman Erwin,," Gumam Ziya dalam hati sambil meletakkan ponselnya di atas meja.
" Gunakan saja, aku takut terjadi apa-apa padamu, Ziya,," Ucap Alberto lagi yang terdengar sedikit keras kepala kepada Ziya.
" Aku sudah katakan, Alberto, jika terjadi apa-apa padaku, kau selalu cepat datang untuk membantuku,," Bilang Ziya yang begitu yakin dan membuat Alberto merasa bahwa Ziya tetap menyayanginya.
" Terima kasih, sayang, walaupun perbuatan yang kulakukan padamu selalu buruk, tapi, kau selalu saja bersikap baik padaku dan bahkan kau tetap saja menerimaku apa adanya." Gumam Alberto yang langsung memeluk tubuh Ziya.
" Heemm, ya Alberto karena, aku begitu mencintaimu,," Jawab Ziya yang membalas pelukan Alberto.
Setelah memberikan kenyamanan bagi Alberto, dengan perlahan Ziya melepaskan pelukannya dan memberitahukan Alberto untuk segera membuka pintu kamarnya ini.
" Alberto sekarang bukakan pintunya," Ucap Ziya yang terdengar lucu bagi Alberto.
" Hihihi baik sayang,," Jawab Alberto sambil membuka pintu kamarnya.
Setelah terbuka pintu kamarnya itu, benar sekali apa yang dilakukan oleh Demian, dengan menggunakan senjata ampuh dari mulutnya itu begitu cerewetnya Demian ketika melihat wajah kedua orang tuanya baru saja keluar dari kamarnya itu.
" Iiiihhhh Mommy kenapa lama sekali ?" Rengek Demian lucu yang langsung memeluk kaki Ziya.
" Aakkh sayang maafkan Mommy, Demian sudah lama menunggu ?" Tanya Ziya langsung sambil menjongkokkan tubuhnya menghadap Demian.
Setelah menjongkokkan tubuhnya menghadap Demian dengan segera Ziya merentangkan kedua tangannya dan menggendong tubuh putra kecilnya itu.
" He'eh Mom, ini pasti ulah Daddy yang sengaja ingin mengambil Mommy dari Demian." Gerutu Demian dengan wajah cemberut sambil melihat ke arah Alberto.
Seketika membuat Alberto tertawa saat mendengarkan perkataan Demian yang sedang menggerutu kesal padanya itu.
" Hahahaha, tidak sayang, jangan salahkan Daddy jika Mommynya lama, karena, sebelum ini Mommy meminta Daddy untuk menyayanginya terlebih dahulu." Ucap Alberto yang membuat Ziya terperangah malu ketika mendengarkan ucapan Alberto yang sengaja membuatnya merasa malu itu.
" Iiihhhh, Daddy, Mommy sudah katakan, jangan pernah berkata yang tidak-tidak di depan Demian,," Umpat Ziya sambil membulatkan matanya menatap tajam ke arah Alberto.
" Oke, oke sorry Mommy sayang,," Gumam Alberto sengaja memberikan Ziya sebuah kecupan di depan semua pengawalnya ini.
Dan, lagi-lagi Alberto membuat Ziya tersipu malu akan tindakan yang dilakukannya ini. Saat ini wajah Ziya menatap Alberto begitu geram sekali. Sedangkan, Alberto sendiri terkekeh geli melihat wajah Ziya yang begitu geram padanya itu.
Jelas saja, Ziya malu saat mendengar perkataan Alberto yang memalukan dirinya itu, karena, ditempat mereka sedang berdiri ini begitu banyak pengawal pribadi Alberto sendiri dan pengawal Ziya juga, begitu juga pengawal pribadi anaknya Demian. Tidak luput juga asisten pribadi Ziya yaitu Vena serta Melly sang Baby sitter putranya dan juga Isabelle yang sedari tadi juga menunggu Ziya untuk keluar dari kamarnya. Sungguh ramai sekali orang-orang yang berada di dekat mereka saat ini, sehingga Alberto sengaja membuat Ziya tersipu malu seperti itu.
" Heemm, oke kalau begitu Daddy mau pergi ke kantor dulu,," Bilang Alberto dengan wajah seriusnya dan bijaksana.
" Baik Daddy, hati-hati di jalan,," Ucap Demian dan Isabelle bersamaan.
Sementara itu, Ziya hanya bisa tersenyum melihat tingkah Alberto yang bisa dirubah dalam waktu singkat seperti ini. Ziya melihat wajah Alberto begitu mempesona ketika sikapnya seperti saat ini yang begitu serius dan juga bijaksana ketika memberikan sebuah perintah kepada anak buahnya itu. Namun, Ziya lebih tertarik lagi ketika merasakan keromantisan yang dilakukan Alberto kepada dirinya itu.
Ketika, Alberto sudah lebih dahulu pergi meninggalkan ruangan ini, barulah Ziya dan anak-anaknya mengiringi langkah kaki Alberto untuk menuruni tangga. Ziya merasa heran kenapa saat ini Krystal tidak ada bersama dengan mereka.
" Belle, Kak Krystal dimana ?" Tanya Ziya langsung pada Isabelle.
" Kak Krystal sudah menunggu Mommy dibawah,," Jawab Isabelle sambil bergandengan dengan tangan Ziya yang sedang menggendong Demian.
" Nanti setelah Mommy mengantar Demian ke sekolah dan juga Belle, Kak Kryst bilang kalau Mommy mau mengantarkannya juga ke sekolah, betulkah itu Mom ?" Tanya Isabelle pada Ziya sambil menuruni tangga.
" Heemm, iya sayang,," Jawab Ziya mengangguk.
" Kak Kyst sama seperti kita ya Mom, mau diantar ke sekolah,," Celetuk Demian yang terdengar lucu dan membuat Ziya spontan mencium pipinya.
" Hehehe iya sayangnya Mommy,," Jawab Ziya tersenyum.
Ketika sampai di bawah Alberto membiarkan istri dan para anak-anaknya terlebih dahulu pergi meninggalkan kediamannya ini. Karena, Alberto ingin memastikan berapa pengawal yang selalu mengiringi perjalanan Ziya.
Sedangkan, saat ini Krystal sudah berada di bawah dan bahkan sudah berada di dekat mobil sedang menunggu kedatangan Ziya. Ketika melihat Ziya bersama Demian dan juga Isabelle, Krystal langsung mendekati Ziya dan langsung mengambil Demian dalam gendongannya Ziya. Namun, Demian merasa takut ketika melihat kebaikan yang ditunjukkan oleh Krystal padanya itu, sehingga Demian sendiri tidak mau mengikuti Krystal dan tetap menempel pada Mommynya ini.
" Demi, ikut Kak Kryst, ya,," Ajak Krystal langsung terhadap Demian.
" Eemmm, Demi tidak mau, Demi mau digendong Mommy,," Jawab Demian langsung dan terlihat sedang menempelkan kepalanya pada dada Ziya.
" Tidak apa-apa, sayang, Kak Krystal mau menggendong Demi berarti Kak Krystal menyayangi Demian sayang,," Ucap Ziya pada Demian, yang menenangkan suasana hati Krystal ketika ditolak ajakannya dari Demian.
" Heeemm, Demian tidak mau Mommy, Demian takut,," Jawab Demian yang masih menempelkan kepalanya pada dada Ziya.
" Ya sudah jika Demi, masih takut pada Kakak, nanti Kakak akan belikan sesuatu untuk Demian, Demian mau apa ?" Tanya Krystal lagi pada Demian hanya karena, ingin membujuk Demian.
" Demi, tidak mau apa-apa, karena, sudah ada Mommy yang selalu menyayangi Demi." Jawab Demian langsung sehingga membuat Krystal tersenyum pasrah.
" Maafkan Kak Krystal ya, jika selama ini Kak Kryst selalu bersikap kasar pada Demi," Ucap Krystal dengan wajah tersenyum sambil mengelus pipi lembut Demian.
" Tidak apa-apa Kak Kyst, Demi sudah memaafkan semua tindakan Kak Kyst pada Demi, asal Kak Kyst janji, jangan lagi melakukan tindakan itu pada Mommy maupun Demian,," Ucap Demian yang terdengar lebih dewasa pemikirannya dibandingkan kedua kakak perempuannya ini.
Begitu bahagianya Ziya ketika mendengarkan perkataan Demian yang bisa memaafkan semua tindakan kekasaran dari saudaranya itu padanya. Dan, terlebih lagi ucapan Demian begitu terdengar lebih pintar dan juga bijaksana dalam menghadapi perbuatan kasar yang sering dilakukan oleh saudaranya itu.
" Terima kasih, Demian, Kak Kryst janji, Kakak tidak akan lagi bersikap kasar dan keras pada Demian,," Jawab Krystal mengangguk sambil memberikan senyuman tulusnya pada Demian.
" Terima kasih sayang, Putra Mommy inj memang orang yang begitu luar biasa kebaikannya. Tetap selalu menjadi orang yang baik ya sayang, supaya Semua orang bisa menyayangi Demi setulus hatinya seperti Kak Isabelle dan juga Kak Krystal,," Gumam Ziya yang memberikan pujian kepada anaknya itu.
" He'eh Mom, Demi akan selalu mengingat semua perkataan dari Mommy, bahwa untuk selalu memaafkan kesalahan yang pernah dilakukan orang lain terhadap kita,," Jawab Demian lucu yang membuat Ziya tersenyum bahagia mendengarnya.
Dalam pikiran Ziya saat ini memang terasa begitu bahagia, karena, akhirnya saat ini Ziya bisa menyatukan kembali persaudaraan yang pernah terpecah belah atas hasutan yang dilakukan oleh Claire terhadap anak-anaknya ini.
Sesampainya mobil yang dikendarai oleh Ziya dan ketiga anaknya itu tepat di depan gerbang masuk sekolahnya Demian. Ziya turun begitu juga dengan Demian, sambil memberikan pesan terbaik untuk putranya itu dan menitipkan Demian kepada Melly barulah Ziya memerintahkan supir pribadinya untuk mengantar mereka ke sekolahnya Isabelle terlebih dahulu.
" Ingat pesan Mommy and Daddy, Demi sayang, harus belajar yang banyak supaya menjadi anak yang,," Ucap Ziya sambil menjongkokkan tubuhnya menghadap Demian.
" Pintar,," Sambung Demian yang sengaja menyambungkan perkataan Ziya.
" Hehehehe, bagus, Mommy pergi dulu ya sayang,," Ucap Ziya lagi sambil menciumi pipi kiri dan kanannya Demian.
" Oke Mom, hati-hati di jalan,," Ucap Demian sambil tersenyum.
" Bye Demian,," Ucap Krystal dan Isabelle bersamaan yang melambaikan tangan pada Demi.
" Bye,," Jawab Demian sambil melangkahkan kakinya menuju ke arah kelasnya.
Lalu, Ziya segera masuk ke dalam mobilnya untuk mengantar kedua putri Alberto ini. Biasanya Ziya hanya mengantarkan Demian saja ke sekolahnya dan sekarang pekerjaan Ziya lebih banyak lagi yaitu ikut mengantar Isabelle yang bersikap manja kepada Ziya semenjak akrab dengannya itu.
Sesampainya di depan gerbang masuk ke sekolah Isabelle, dengan sengaja Isabelle mengajak Ziya untuk mengantarkan dirinya sampai ke dalam sekolah, supaya semua temannya bisa tahu bahwa benar Isabelle adalah putri dari keluarga Alexandre. Walaupun, Alberto bukanlah Daddy kandung dari kedua putri ini, namun Alberto tidak pernah menyampaikan sesuatu ke publik bahwa Isabelle dan Krystal bukan putri kandung dari Alberto.
Dan, juga Alberto memutuskan untuk tidak memberitahu publik bahwa Isabelle dan juga Krystal adalah putrinya, karena, Alberto hanya ingin memberikan perlindungan terhadap kedua putrinya ini, agar kedua putrinya ini bisa keluar kemanapun mereka inginkan tanpa adanya suatu bahaya yang mengancam.
" Mommy, Bisakah Mommy mengantar Belle sampai ke dalam sekolah ?" Tanya Isabelle kepada Ziya yang sedang duduk di tengah antara dirinya dan juga Krystal.
" Bisa, mari Mommy antar Belle sampai ke dalam ya,," Jawab Ziya sambil tersenyum dan beranjak turun dari mobil.
" Terima kasih, Mom," Gumam Isabelle yang ikut beranjak turun dari mobil.
Gerakan Ziya yang ingin turun dari mobil seketika terhenti karena, mendengar ucapan yang disampaikan oleh Krystal.
" Memangnya ada apa Belle, kenapa kau mau diantar sampai ke dalam, memangnya ada yang mengganggumu ?" Tanya Krystal langsung pada Isabelle, sehingga menyebabkan Isabelle dan juga Ziya berhenti beranjak untuk keluar dari mobil.
" Bukan, karena, itu Kak, Belle hanya ingin agar semua teman-teman Belle tahu bahwa, kita mempunyai Mommy,," Jawab Isabelle spontan membuat Ziya tersenyum.
" Oooohhh, bukan karena kau diganggu mereka ?" Tanya Krystal lagi pada Isabelle.
" Tidak,," Jawab Isabelle singkat.
" Heemm, Kak Krystal ikut juga ya mengantar Belle,," Gumam Krystal ikut beranjak keluar dari mobil.
Saat Krystal keluar dari mobilnya sebenarnya, Isabelle tidak mau mengajak Krystal ikut ke dalam sekolahnya, karena, Isabelle takut nanti Krystal membuat gaduh di sekolahnya. Karena, seperti biasa sifat Krystal yang tidak menyukai sikap orang suka menindas adiknya.
" Tidak perlu Kak Kryst mengantar Belle, Belle takut nanti Kak Kryst membuat masalah di sekolah Belle,," Ucap Isabelle yang ikut keluar dari mobil.
" Memangnya kenapa, sepertinya kau takut sekali Belle, pokoknya Kakak mau ikut mengantar Belle,," Bilang Krystal yang bersikeras untuk ikut mengantar Isabelle.
" Tapi, Kak Kryst,," Ucap Isabelle yang mencegah Krystal.
Ziya bingung sendiri melihat kelakuan Isabelle dan Krystal yang selalu beradu mulut hanya suatu hal yang kecil, seperti saat ini, Isabelle dan Krystal beradu mulut lagi hanya sekedar kekhawatiran yang dirasakan oleh Isabelle dan Krystal sengaja ingin melihat orang yang telah membuat Isabelle merasa tidak nyaman.
" Sudah, sudah jangan ribut, ayo Belle Mommy mengantarmu sampai ke dalam dan Mommy ingin tahu siapa yang telah membuatmu sampai takut begini,," Ucap Ziya yang melerai pertikaian adu mulut antara Isabelle dan juga Krystal.
" Dan, Krystal ayo ikut ke dalam, tapi, ingat cukup melihat dan mengantar Belle saja, jangan membuat masalah, kasihan adikmu,," Bilang Ziya yang memperingatkan kelakuan Krystal.
" Oke Mom,," Jawab Krystal sambil tersenyum.
Dan, akhirnya Ziya bisa menghembuskan nafas leganya ketika ia bisa melerai kegaduhan yang terjadi di antara Isabelle dan Krystal. Akhirnya Ziya menggandeng kedua tangan remaja putrinya Alberto ini, Ziya menganggap kedua putri ini seperti anak kecil, karena, mereka berdua memang masih kecil bagi Ziya.
Sementara itu, Vena hanya tersenyum melihat kelakuan Ziya yang terlihat benar-benar seperti seorang Ibu yang sedang menasehati kedua putrinya itu, Vena hanya mengiringi langkah dari majikannya itu yang ikut masuk ke dalam sekolahnya Isabelle.
Beberapa pengawal mengikuti langkah kaki dari Nyonya besarnya ini, sehingga semua siswa di sekolah Isabelle cukup tercengang melihat kedatangan Isabelle ke sekolah yang diantar langsung oleh Ziya atau mereka kenal adalah Zoya seorang aktris atau model terkenal di negaranya ini.
" Waaaahhh, ternyata Isabelle putrinya Zoya Andricha ya," Gumam beberapa siswa yang melihat Isabelle diantarkan langsung oleh Ziya.
" Iya benar sekali, tapi, kenapa selama ini tidak pernah diantar ya,," Gumam salah satu siswa lagi yang sengaja mencibir Isabelle.
" Yeah, paling Isabelle ingin menunjukkan bahwa ia memang benar putrinya Zoya Andricha dan Alberto Alexandre, padahal sebenarnya dia bukanlah siapa-siapa di keluarga Alexandre." Ucap salah satu siswa lagi yang memang tidak menyukai Isabelle.
" Bukannya kalian tahu bahwa Mister Alberto Alexandre sama sekali tidak pernah mengumumkan kalau Isabelle itu putrinya,," Gumam salah satu siswa itu yang memang tidak menyukai Isabelle.
Dan, Krystal sebagai seorang Kakak perempuan dari Isabelle otomatis sangat geram saat mendengar perkataan yang sengaja digunjingkan dari beberapa siswa terhadap Isabelle. Namun, Ziya selalu mengingatkan amarah Krystal yang terlihat memuncak itu, karena, Ziya sendiri juga mendengar perkataan yang sedang digunjingkan oleh beberapa siswa terhadap Isabelle.
" Iiihhhh, ternyata teman di sekolahmu ini lebih membuatku muak, Belle," Gerutu Krystal yang mengepal tangannya.
" Akan aku balas kalian semua, lihat saja kalau kalian semua keluar dari sekolah ini, akan aku tunjukkan siapa sebenarnya kakak dari Isabelle Alexandre," Umpat Krystal dengan wajah yang penuh amarah.
" Krystal, Mommy sudah pernah mengingatkan, tidak boleh membuat masalah," Ucap Ziya sengaja mencegah kelakuan Krystal yang tidak bisa menahan amarahnya itu.
" Iya Mom, Krystal ingat, tapi mereka semua itu begitu membuat Krystal marah,," Jawab Krystal lagi dengan menunjukkan wajah amarahnya kepada semua siswa yang ada di sekitarnya itu.
" Iya Kak, Belle mohon, jangan buat masalah di sekolah Belle,," Ucap Isabelle memohon perhatian dari Kakaknya itu.
" Iya iya Kakak tahu,," Jawab Krystal jengkel.
Ziya hanya bisa tersenyum melihat kelakuan Krystal yang tidak bisa menahan amarahnya ketika sedang memuncak seperti ini. Jadi, Ziya hanya bisa memberikan nasehat yang lembut kepada Krystal yang memiliki sifat cuek dan juga keras ini.
****