
Dengan segera Alberto melepaskan cekikan yang ia lakukan pada pelayan itu. Pelayan itu hanya bisa terduduk lemah sambil mengatur napasnya. Sementara itu, Alberto langsung saja berlari menuju ke kamar Madam Christin sesuai arahan yang dikatakan oleh pelayan tadi dan juga Vena ikut mengejar Alberto menuju ke kamar Madam Christin.
Di dalam kamarnya Madam Christin, Ziya yang masih terdiam dan bingung mau berkata apa, sedikit dikagetkan dari suara Madam Christin yang mengatakan bahwa saat ini Ziya masih dibebaskan untuk sementara atas pertanyaannya itu, namun, suatu ketika pasti Ziya sendiri yang akan mendatangi Madam Christin untuk memberitahu tentang identitasnya.
" Saat ini, kau mungkin masih banyak masalah yang dihadapi, jadi, untuk sementara aku akan memberikanmu kebebasan kapanpun kau bisa untuk menjawab pertanyaan dariku," Bilang Grandma Christin yang tersenyum lembut pada Ziya.
" Eemmm, Grandma," Ucap Ziya sedikit menatap Madam Christin.
" Aku sudah katakan, jangan takut untuk memikirkannya terlebih dahulu." Bilang Madam Christin yang membuat Ziya mengangguk.
" Terima kasih, Grandma,," Ucap Ziya yang bingung mau mengatakan apa.
" Ya, aku juga berterima kasih, karena, kau bersedia untuk menemuiku,," Bilang Grandma Christin pada Ziya.
" Kalau begitu saya permisi, selamat sore Grandma,," Ucap Ziya yang sedikit membungkukkan kepalanya berpamitan pada Grandma Christin untuk keluar dari kamar ini.
" Heemm,," Jawab Madam Christin yang tersenyum melihat kelakuan Ziya.
" Aku tahu kau siapa ? Kau bukanlah Zoya, sungguh terlihat dari tata caramu berbicara, walaupun kau berpura-pura bersandiwara menjadi Zoya, kau tidak akan sama dengannya, walaupun kau berpura-pura angkuh, maka sangat jelas dari mataku bahwa kau hanya bersandiwara,," Gumam Madam Christin dalam hati sambil tersenyum melihat kepergian Ziya.
Ziya perlahan melangkahkan kakinya keluar dari ruangan kamar Madam Christin sambil menahan napasnya. Setelah membuka pintu kamar itu, Ziya menutupnya dengan perlahan lalu, menghirup napas sebanyak mungkin. Setelah sampai diluar barulah Ziya merasa lega.
" Sepertinya, Grandma sudah mengetahui siapa aku,," Ucap Ziya sambil menghirup napas sebanyak mungkin.
Saat Ziya melangkahkan kakinya pergi menuju kamarnya, Alberto yang berlari melihat Ziya yang baru saja keluar dari kamar Madam Christin. Dan, saat itu juga Alberto langsung memeluk Ziya dengan sangat erat. Ziya bingung dan heran kenapa Alberto memeluknya seperti ini.
" Kau baru saja pergi kemana, sayang ?" Tanya Alberto pada Ziya yang sedang berada dalam pelukannya.
" Aku tidak pergi kemana-mana, aku hanya dipanggil oleh Grandma,," Jawab Ziya dengan jujur.
" Kau tidak bohong kalau kau benar dipanggil oleh Grandma ?" Tanya Alberto lagi pada Ziya.
" Tidak, aku tidak berbohong Alberto,," Jawab Ziya dengan jujur lagi.
" Heeehh, aku merasa cemas padamu, karena, Vena melaporkan bahwa kau sedang dipanggil oleh pelayan untuk menemui majikannya dan Vena takut kalau kau menemui orang asing yang akan mencelakakanmu,," Ucap Alberto yang terlihat jelas sangat takut kehilangan Ziya.
Ziya merasa senang ketika Alberto merasa cemas pada dirinya, padahal memang benar bahwa dia baru saja dari kamar Grandma untuk berbicara suatu hal tentang dirinya.
" Hihi, kau cemas padaku, Alberto, benarkah itu ?" Tanya Ziya dengan suara sedikit menggoda.
" Heemm,," Jawab Alberto mengangguk.
Setelah merasa puas memeluk Ziya, dengan perlahan Alberto melepaskan pelukannya. Dan, langsung bertanya kepada Ziya tentang panggilan yang dilakukan oleh Grandma kepadanya.
" Memangnya kenapa Grandma memanggilmu, sayang ?" Tanya Alberto menatap wajah Ziya.
" Kita bicarakan hal ini di kamar saja, Alberto,," Ucap Ziya dengan penuh kewaspadaan terhadap wilayah di sekitar mereka.
" Heemmm, baiklah," Jawab Alberto mengangguk.
Saat Alberto dan Ziya ingin melangkahkan kakinya dari tempat itu, Vena dengan napas yang ngos-ngosan telah sampai ke tempat dimana ia sedang mengejar Tuan Besarnya itu. Ziya hanya tersenyum melihat kelakuan Vena yang terlihat sungguh waspada menjaga dirinya.
" Nyonya, untunglah Nyonya tidak apa-apa,," Ucap Vena yang membuat Ziya tertawa.
" Aku tidak apa-apa, Vena, kenapa kau takut kehilanganku ?" Tanya Ziya sambil tersenyum menatap Vena.
" Eemm,, Nyonya jangan berkata seperti itu,," Bilang Vena yang merasa khawatir terhadap Ziya sore ini.
Ziya merasa kasihan terhadap Vena yang begitu setia terhadap dirinya, akhirnya Ziya memberikan kebebasan untuk Vena istirahat lebih awal hari ini, karena, terlihat Vena begitu lelah mengejar kaki Alberto yang sangat panjang ini. Sungguh berbeda dengan tubuh Vena yang terlihat kecil itu.
" Vena, aku perintahkan kau, untuk beristirahat lebih awal hari ini,," Ucap Ziya yang memberikan Vena waktu lebih awal istirahat.
" Tapi, Nyonya,," Ucap Vena yang mulutnya sedikit tercengang.
" Tidak ada kata tapi,," Bilang Ziya yang terlihat seperti memerintah dan membuat Alberto sedikit menaikkan ujung bibirnya.
Karena, telah mendapatkan perintah dari majikannya itu, akhirnya Vena hanya bisa menuruti perintah dari majikannya.
" Baik, Nyonya, terima kasih,," Ucap Vena mengangguk.
Lalu, Vena kembali memastikan keadaan Ziya saat ini.
" Tapi, Nyonya apakah Nyonya benar tidak apa-apa ?" Tanya Vena lagi.
" Ya, Vena kau jangan khawatir, aku tidak apa-apa,," Jawab Ziya sambil tersenyum.
" Dan, sekarang kau boleh istirahat,," Ucap Ziya kepada Vena.
" Baik Nyonya, terima kasih,," Bilang Vena yang membungkukkan kepalanya pada Ziya dan Alberto.
Karena, sudah mendapatkan izin dari Ziya untuk berisitirahat lebih awal, Vena hanya bisa pasrah atas perintah dari majikannya ini. Sungguh mulia sifat majikannya ini, selalu menyuruhnya untuk istirahat lebih awal.
" Untunglah, Nyonya tidak apa-apa,," Gumam Vena ketika melihat majikannya telah pergi dari hadapannya itu.
Setelah melihat Ziya dan Alberto yang melangkahkan kakinya menuju lantai atas untuk menuju ke kamar pribadi mereka. Vena juga melangkahkan kakinya menuju ke kamar pribadinya.
Sementara itu, saat ini Zoya dan Jimmy sudah sampai di tempat tujuan yang sudah mereka tentukan, Zoya merasa bahagia sekali ketika melihat tempat itu lebih indah daripada yang ia lihat di layar laptop Jimmy. Sesampainya disana, Jimmy segera memarkirkan mobilnya di dalam garasi mobil dan Zoya yang sudah turun dari mobil, menatap semua pemandangan yang indah di depan matanya.
" Waaaahhh,, ternyata pemandangannya lebih indah daripada yang kubayangkan selama ini,," Gumam Zoya yang memuji pemandangan di depan matanya saat ini.
" Lebih menarik dan lebih sejuk pastinya,," Ucap Zoya dengan sengaja menghirup udara segar di tempat tinggal barunya ini.
Walaupun Zoya dan Jimmy saat ini tinggal di sebuah Villa, namun, aksen pemandangan dari Villa ini sungguh memanjakan mata, Zoya merasa nyaman ketika ia bisa melihat pemandangan seperti ini dan pergi meninggalkan hiruk pikuk keramaian yang ada di mansion.
Bagi, Zoya lebih baik tinggal di tempat yang sepi seperti ini dibandingkan harus tinggal di mansion dengan beberapa pelayan yang selalu mengawasi gerak-geriknya.
" Bagaimana Baby ?" Tanya Jimmy pada Zoya ketika ia baru saja keluar dari mobilnya.
" Bagus, aku suka sekali, thank you Jimm,," Bilang Zoya tersenyum senang.
" Heemmm,, apakah kau lebih menyukai di tempat seperti ini, Baby ?" Tanya Jimmy lagi yang melangkah mendekati Zoya.
" Yes, Of Course,," Jawab Zoya mengangguk.
" That's Good,," Ucap Jimmy sambil memeluk tubuh Zoya dari belakang.
Sebenarnya Zoya memang menyukai tempat seperti ini, yang pastinya Zoya lebih memilih tinggal di tempat seperti ini, supaya tidak bisa lagi semua orang mengawasi dan mengintai dirinya.
" Ok,," Jawab Zoya mengangguk dan tersenyum.
Dengan senang hati Zoya mengikuti ajakan Jimmy untuk masuk ke dalam Villa, sementara itu, Jimmy langsung saja memegang erat tangan Zoya untuk mengajaknya masuk melihat bagaimana suasana di dalam Villa itu.
" Nah Baby, apakah kau suka, dengan Villa ini ?" Tanya Jimmy yang menatap wajah Zoya.
" Aku suka sekali, Jimm, thank you karena, kau bersedia mewujudkan keinginanku,," Ucap Zoya yang memeluk erat lengan Jimmy.
" Eemm, Baby, berjanjilah untuk tidak akan meninggalkanku,," Bilang Jimmy yang sengaja melepas topi Zoya.
" Heemm, aku tidak akan pernah meninggalkanmu Jimm,," Ucap Zoya menatap balik wajah Jimmy.
Karena, Zoya terlihat begitu lembut dan ucapannya terdengar serius, dengan perlakuan lembut Jimmy mendaratkan bibirnya pada landasan yang paling indah yaitu bibir Zoya. Zoya hanya tersenyum melihat Jimmy yang ingin menciuminya itu.
Lalu, Zoya sengaja menggoda Jimmy dengan menutupi bibirnya menggunakan tangannya, jadi, saat pendaratan bibir Jimmy sedikit lagi sampai, Jimmy kaget ketika merasakan telapak tangan Zoya bukanlah bibir lembut yang selalu indah di matanya.
" Hahahaha,, tertipu,," Ucap Zoya dengan segera menjauhi Jimmy.
Zoya segera berlari sedikit menjauhi Jimmy. Jelas Jimmy sangat gregetan dengan sikap Zoya seakan selalu membuat hari-harinya terasa bahagia.
" Awas kau Baby, bila tertangkap aku akan menghukummu,," Bilang Jimmy yang merasa tanggung akan perlakuannya itu.
" Hukum saja kalau mendapatkan aku,," Ucap Zoya lagi yang sengaja memancing pikiran Jimmy.
Zoya segera berlari-lari mengelilingi semua perabotan ruang tamu Villa sehingga membuat Jimmy begitu gemas untuk mendapatkan dirinya.
Ziya dan Alberto yang telah sampai ke lantai atas, dengan segera Alberto mengajak Ziya untuk membicarakan suatu hal apa yang dilakukan Grandma pada Ziya saat dipanggilnya tadi.
" Eemmm, sayang kita sudah di kamar, memangnya apa yang dilakukan Grandma ?" Tanya Alberto yang memutar tubuh Ziya.
Saat Alberto memutar tubuh Ziya itu, Ziya merasa heran dengan kelakuan Alberto pada dirinya ini. Sehingga membuat Ziya lebih memilih menanyakan tindakan yang sedang dilakukan oleh Alberto pada dirinya. Sebenarnya Alberto sendiri juga ingin memeriksa tubuh Ziya, apakah Grandma Christin telah menyakiti tubuh Ziya saat Ziya dipanggilnya tadi.
" Alberto, apa yang kau lakukan, kenapa kau mengelilingi tubuhku ?" Tanya Ziya pada Alberto.
" Aku hanya ingin memastikan tubuhmu, apakah ada yang terluka,," Jawab Alberto lagi setelah sampai ke hadapan Ziya.
" Heemm, Alberto aku tidak apa-apa,," Bilang Ziya jujur untuk meyakinkan Alberto.
" Heemmm oke, tidak ada tanda-tandanya,," Ucap Alberto yang terlihat sangat antisipasi pada tubuh Ziya.
" Sekarang, kau jawab pertanyaanku dengan jujur, sebenarnya apa saja yang dilakukan Grandma padamu, apakah Grandma menanyakanmu sesuatu ?" Tanya Alberto tepat pada intinya.
" Ya, kau benar, Alberto,," Jawab Ziya mengangguk.
" Grandma sengaja memanggilku, karena, sepertinya Grandma mengetahui identitasku,," Jawab Ziya menatap wajah Alberto dengan jujur.
Setelah mendengar jawaban dari Ziya Alberto terlihat sedikit berpikir, lalu, dalam sekejap dua tertawa membuat Ziya saat ini bingung melihat kelakuannya yang tertawa mendengarkan penjelasannya itu.
" Hahahaha,," Suara tawa Alberto yang membuat Ziya bingung.
" Kenapa kau tertawa ?" Tanya Ziya heran atas sikap Alberto yang menertawakannya.
" Sangat jelas jika aku tertawa, karena, mendengar penjelasanmu itu yang membuat aku berpikir bahwa Grandma bukan saja sekedar mengetahui identitasmu sayang, melainkan Grandma sudah sangat yakin bahwa kau bukanlah,," Ucap Alberto yang seketika terputus, karena, Alberto lebih memilih membisikkan nama Zoya tepat di telinga Ziya.
" Zoya,," Ucap Alberto yang berbisik ke telinga Ziya.
Ziya merasa bahwa identitasnya memang telah lama ketahuan oleh orang-orang di dalam kediaman ini. Karena, selama ini Alberto yang sengaja menutupi identitasnya oleh sebab itu, Ziya masih terlihat seperti Zoya.
" Jika Grandma mengetahui identitasku, aku harus bagaimana ?" Tanya Ziya merasa sedikit khawatir.
" Kau tidak perlu takut sayang, Grandma adalah orang yang sangat baik, jadi, dia akan selalu menyukaimu jika ia sudah berkata suka atas sikapmu ini,," Bilang Alberto yang memberikan support kepada Ziya.
" Dan tiba disaat yang tepat nanti semua orang di kediaman ini akan tahu identitasmu yang sebenarnya,," Ucap Alberto yang membuat Ziya penasaran.
" Maksudmu, Alberto ?" Tanya Ziya yang terlihat bingung dan penasaran.
" Kau akan tahu sendiri nanti, sayang,," Ucap Alberto sambil tersenyum kepada Ziya.
" Heemm,," Jawab Ziya mengangguk.
Ketika, Alberto ingin mendaratkan pesawat tempur bibirnya dengan landasan yang terbaik dan terhebat yaitu bibir Ziya. Dalam sekejap Alberto dikejutkan akan ucapan Ziya yang sedang melihat pergerakan Martin begitu mencurigakan.
" Oh ya, Alberto,," Ucap Ziya yang menghentikan tindakan Alberto padanya.
" Baru saja sebelum aku dipanggil oleh Grandma, aku melihat kelakuan Martin yang begitu mencurigakan,," Ucap Ziya yang membuat Alberto menatapnya serius.
" Maksudmu, kau melakukan rencana lagi terhadapnya ?" Tanya Alberto dengan wajah yang penuh tanda tanya.
" Tidak Alberto, aku bersama Vena hanya lewat dan kebetulan aku melihatnya keluar dari kediaman ini menaiki mobil." Ucap Ziya yang menjelaskan kejadian tadi.
" Memangnya kenapa kalau dia keluar dari kediaman ini ?" Tanya Alberto yang tidak mengerti akan maksud dari perkataan Ziya.
" Apakah dia memiliki tempat tinggal lain selain disini ?" Tanya Ziya balik pada Alberto.
" Yes, of course, Baby, memangnya kenapa ?" Tanya Alberto juga pada Ziya.
" Kalau dia memang ada tempat tinggal, kenapa kau tidak menggeledah rumahnya saja. Ya, mungkin selama ini kau belum mendapatkan bukti valid dari perkataannya, tapi, dia sendiri sudah berkata bahwa,," Ucap Ziya yang terputus karena, Alberto menutup mulutnya dengan bibirnya sendiri.
Sehingga tindakan yang dilakukan oleh Alberto seperti itu membuat Ziya kaget, karena, merasa tanggung belum menyelesaikan perkataannya.
" Eeemmmm Alberto apa yang kau lakukan,," Teriak Ziya seketika terlepas dari bibirnya Alberto.
" Ya, aku mengerti sayang, memang itu yang ingin aku lakukan bersama Axeloe,," Jawab Alberto mengangguk dan bangga memiliki istri yang begitu pintar seperti wanita dihadapannya ini.
" Kenapa harus menunggu Axeloe ?" Tanya Ziya dengan ekspresi wajah yang tidak sabar ingin segera menyelesaikan masalah yang sudah lama terjadi ini.
" Sayang, jika aku sendiri yang menggeledahnya tidak akan terasa seru jika tidak mengajak Axeloe, karena, Axeloe begitu menyukai hal yang menantang seperti ini,," Jawab Alberto tersenyum sinis memandang ke depan.
" Heeemm ya sudah kalau menurutmu harus menunggu Axeloe, lakukan mana yang terbaik bagimu, Alberto," Jawab Ziya mengangguk sambil tersenyum.
Akhirnya Alberto sudah menemukan cara bagaimana ia harus mengatasi masalahnya ini. Benar yang dikatakan Ziya kenapa harus menunggu Axeloe, padahal Alberto sendiri bisa melakukannya dengan segera dan tuntas. Namun, Alberto mengetahui apa saja kesukaan dari adiknya itu. Yang pasti Alberto ingin memberikan tugas ini kepada adiknya yang begitu terkenal kejam.
***