
Memang begitu sulit untuk melupakan apa yang telah dilakukan oleh Jimmy terhadap Zoya. Karena, selama ini perhatian dan juga kasih sayang yang diberi oleh Jimmy begitu besar terhadap Zoya. Oleh sebab itu apapun yang dilakukan oleh Zoya, Zoya selalu mengingat kenangan singkatnya bersama dengan Jimmy.
Walaupun saat ini Zoya tengah menangisi kepergian Jimmy dan juga menangisi keadaan dirinya yang sedang berada di dalam kehampaan serta kesendirian. Sehingga hal inilah yang membuat Zoya baru merasakan betapa pentingnya kasih sayang yang pernah ia rasakan dan juga ia dapatkan dari seorang pria seperti Jimmy.
Sambil menangis Zoya membuka kotak obat yang ada di atas meja, setelah membuka kotak obat yang berisikan berbagai macam keperluan obat, dengan perlahan-lahan Zoya mulai membersihkan luka di tangannya. Meskipun terasa begitu perih dan hal itu membuat Zoya semakin mengeluarkan suara-suara begitu perih dan juga kesakitan pastinya.
" Iiuuuuhhh periiihhhh,," Ungkap Zoya ketika ia mulai membersihkan luka di bagian tangannya.
" Maa,," Teriak Zoya seketika menyebut dan memanggil mamanya ketika ia merasakan hal yang begitu sakit dan juga perih seperti saat ini.
Sebenarnya di dalam hati Zoya selalu teringat akan sosok dari Mamanya yaitu Zalina. Meskipun ia sudah tahu bahwa sebenarnya Zalina merupakan Mommy kandungnya tapi hal itu tidak bisa ia akui karena, selalu saja dilarang oleh Erwin Daddy angkatnya. Karena, Erwin tidak mau jika Zoya besar nanti maka Zoya akan kembali dengan Zalina dan hal itu membuat Zalina menjadi semakin bahagia dengan menyatunya hati seorang anak dengan Ibunya kembali.
Walaupun selama ini Zoya dilarang untuk bertemu dengan keluarga kandungnya tapi disisi lain Zoya selalu teringat dan juga merindukan belaian kasih sayang dari seorang Ibu. Oleh sebab itu ketika Zoya mendapatkan sebuah kasih sayang dan juga perhatian dari seseorang yang bukanlah keluarganya maka Zoya begitu menghormatinya, karena, kasih sayang yang diberikan oleh orang lain tanpa minta balasan apapun. Merupakan sebuah kasih sayang yang memang selama ini dibutuhkan oleh Zoya selaku seorang putri tunggal dari Erwin dengan kehidupan begitu sepi.
Setelah menyebut dan memanggil Mommynya ketika ingin membuat perban dan menutup luka di jarinya itu lagi-lagi Zoya teringat kembali akan kelembutan yang selama ini diberikan oleh Jimmy padanya sehingga hal itu membuat Zoya juga teringat dengan perlakuannya selama ini yang ia lakukan kepada Demian putranya.
" Jim, aku sakit,," Gumam Zoya sambil meneteskan air matanya saat sedang membuat perban di bagian lukanya itu.
" Selama ini ketika aku lagi sakit kau selalu ada untukku Jim,," Sambung Zoya lagi yang masih saja mengenang kepergian Jimmy.
" Apakah ini adalah sebuah hukuman yang memang harus ku dapatkan ?" Tanya Zoya pada dirinya sendiri ketika terlintas dalam benaknya bahwa apa yang sedang terjadi dengannya merupakan sebuah hukuman untuknya yang telah tega meninggalkan putranya di dalam kediaman Alexandre selama beberapa bulan ini.
Seketika Zoya kembali menangis tersedu-sedu ketika ia terbayang akan wajah dari putra tunggalnya yang selama ini ia rawat dan ia asuh yaitu Demian. Meskipun selama ini Zoya tidak terlalu memberikan perhatiannya kepada Demian dengan sebuah perlakuan lembut layaknya seorang Ibu yang selalu memanjakan anak-anaknya, tapi sebenarnya Zoya memberikan sebuah perlakuan khusus untuk Demian ketika ia dewasa nanti agar ia bisa membedakan mana perlakuan buruk dan mana perlakuan baik yang telah ia berikan selama ini.
Tapi walaupun Zoya tidak terlalu memanjakan Demian selama ini namun untuk saat ini Zoya teringat akan wajah Demian yang selalu merengek menangis di hadapannya. Sehingga hal itu membuat Zoya kembali menangis dan menyebut-nyebut nama Demian sambil memasang perban di tangannya.
" Demi,," Gumam Zoya dengan suara kecilnya sambil menangis dan berlinang air mata.
" Apakah kamu tahu bahwa Mommy sebenarnya sangat merindukanmu,," Gumam Zoya yang masih saja tetap memasang perban antar sela-sela jarinya itu.
" Mommy sebenarnya sangat menyayangi Demi, hanya saja,," Ucap Zoya yang mengungkapkan isi hatinya namun berhenti sejenak dikarenakan ia merasakan suatu hal yang salah terhadap apa yang selama ini ia lakukan terhadap Demian.
" Tidak seharusnya aku memberikan perlakuan seperti itu kepada Demian,," Gumam Zoya sambil memasang perbannya.
" Walau bagaimanapun dia adalah putraku, kenapa selama ini aku tidak pernah menyayanginya,," Ungkap Zoya yang merasa menyesali semua perbuatannya terhadap orang-orang yang telah tulus mencintai dirinya dan bahkan tulus menyayangi dirinya.
" Tidak seharusnya aku memperlakukan Demi dengan perlakuan yang selama ini aku lakukan padanya,," Ucap Zoya ketika teringat akan kelakuannya selama ini terhadap Demian putra satu-satunya.
" Jika aku masih memiliki waktu lagi aku ingin mengungkapkan rasa cintaku dan juga kerinduanku ini kepada orang yang selama ini telah menyayangi dan juga mencintaiku,," Ucap Zoya seketika mengukir senyumannya tanpa adanya rasa khawatir ataupun kecemasan terhadap hukuman yang akan diberikan oleh Alberto nanti padanya.
Meskipun sebenarnya Zoya sudah tahu bahwa ia akan mendapatkan hukuman dari Alberto, tapi Zoya sama sekali tidak memikirkan apa saja yang akan diberikan oleh Alberto kepadanya mengenai hukuman yang akan ia dapatkan nantinya. Karena, Zoya tidak terlalu memikirkan mengenai hukuman apa yang akan dia dapatkan dari Alberto. Sehingga hal itu membuat Zoya hanya disibukkan dengan tindakannya yang sedang membersihkan luka di jarinya itu.
Sedikit demi sedikit luka di jari-jari tangannya Zoya sudah bersih dan sudah di oleskan olehnya beberapa obat cair yang sudah tersedia di dalam kotak obat itu. Meskipun terasa begitu perih Zoya tetap menguatkan tubuhnya untuk bertahan dengan luka yang sedang diberikan obat olehnya itu.
" Iiiiihhhhh Perih,," Gumam Zoya dengan secara langsung bergumam sendiri dikarenakan rasa perih yang ditimbulkan dari obat yang ia gunakan dan memang sengaja ia bubuhkan di atas lukanya.
Cukup lama Zoya membersihkan lukanya sendiri dan juga menutup lukanya menggunakan perban karena hal itu ia lakukan dengan sendiri. Walaupun selama ini Zoya memiliki seorang pelayan ataupun asisten yang selalu menjaga dan melayani dirinya. Namun hal itu tidak membuat Zoya bisa melakukan suatu hal dengan mandiri, karena, Zoya juga tahu dimana harus ia melakukan sebuah tindakan dengan sendiri tanpa adanya bantuan dari pihak manapun.
" Akhirnya selesai juga,," Gumam Zoya ketika telah menyelesaikan tindakan yang sedang ia lakukan itu.
Setelah menyelesaikan tindakannya dalam menutupi semua luka yang ada di jarinya dengan perlahan Zoya merapikan semua alat-alat yang ada di atas meja dimana alat tersebut baru saja selesai ia gunakan. Meskipun saat ini air mata Zoya sudah sedikit berkurang karena terlalu sering menangisi kepergian Jimmy hingga membuat Zoya hanya bisa mengukir sebuah senyuman di wajah cantiknya.
" Jim, aku tahu bahwa kau selalu berada di sampingku,," Ucap Zoya sambil mengukir senyuman di wajahnya.
" Aku tahu bahwa saat ini kau masih berada di sisiku,," Ucap Zoya lagi yang merasa begitu yakin dengan perasaannya bahwa saat ini meskipun Jimmy sudah tiada namun, Jimmy masih tetap berada di sisinya.
Sementara itu, di sisi lainnya tepatnya di dalam kediaman Alexandre terlihatlah Gladys yang sedang sibuk mondar-mandir di dalam sebuah ruangan. Dimana ruangan tersebut memang ruangan khusus miliknya ketika ia sedang bersama dengan Claire dalam membuat sebuah rencana yang selalu ingin mereka lakukan.
Tapi untuk saat ini Claire sudah tidak lagi bersama dengannya sehingga hal itu membuat Gladys harus bisa melakukan tindakan apapun dengan sendiri. Melakukan rencana apapun di dalam kediaman Alexandre ini agar bisa menggapai tujuannya. Karena, tidak mungkin jika Gladys melakukan sebuah rencana untuk menghancurkan kejayaan Alberto selaku pewaris utama dari keluarga Alexandre.
Karena, Alexa putrinya itu adalah adik kandung dari Alberto dan tidak mungkin ia membocorkan apa saja rahasia yang ia miliki selama ini kepada Alexa. Karena, meskipun Alexa putrinya tapi Alexa tidak akan mau untuk menghancurkan kejayaan yang dimiliki oleh kakaknya sendiri itu. Sehingga rencana besar yang telah dimiliki oleh Gladys saat ini hanya bisa dilakukannya dengan sendiri tanpa meminta bantuan siapapun.
" Bagaimana ini ?" Gumam Gladys dengan wajah yang terlihat sedang kebingungan.
" Sekarang aku tinggal sendiri disini,," Ucap Gladys dengan wajah yang terlihat sedang kebingungan di ruangan khusus miliknya.
" Bagaimana aku harus menjalankan rencana yang selama ini aku rancang,," Sambung Gladys lagi masih tetap mondar-mandir di dalam ruangannya seperti tengah kebingungan mencari sebuah jawaban untuk rancangan rencananya yang telah lama sudah tersusun di dalam pikirannya.
Benar sekali apa yang baru saja dinyatakan oleh Gladys bahwa ia memang telah menyusun semua rencana yang selama ini sudah ada dalam rancangannya namun tidak bisa ia lakukan karena, posisinya saat ini sudah tidak ada lagi orang yang bisa diandalkan untuk melakukan secara tipis-tipis rencananya itu.
" Hiiihhh, kenapa juga Claire sampai kabur dari tempat ini ?" Tanya Gladys dengan dirinya sendiri mengenai sikap dan juga keputusan yang diambil oleh Claire.
" Coba masih ada dia, pasti aku tidak sesibuk ini,," Ucap Gladys lagi yang terlihat tengah menggerutu dengan kelakuan dan juga kesalahannya sendiri.
Memang benar kelakuan Claire yang keluar begitu saja secara tiba-tiba dari kediaman dan juga kehidupan mewah keluarga besar Alexandre itu semua adalah kesalahannya Gladys sendiri. Karena, apabila saat itu Gladys tidak menyatakan bahwa Claire hanyalah sebagai umpannya saja. Kemungkinan besar Claire masih akan tetap ada di dekatnya dan membantunya dalam melakukan rencana-rencana apapun yang telah ia rancang.
" Heehhh, Claire, Claire kenapa kamu tega meninggalkan Aunty sendiri disini ?" Tanya Gladys dengan dirinya sendiri karena, kelakuan Claire yang telah pergi meninggalkan dirinya sendiri tanpa ada seorangpun yang bisa membantunya lagi.
" Tapi sebenarnya ini semua salah orang tua itu juga, kenapa juga dia memancing emosi ku sehingga aku mengeluarkan kata-kata yang sebenarnya bukan dari niat hatiku untuk dinyatakan,," Gerutu Gladys dengan sangat kesal atas perlakuan dari orang tua yang dimaksud
" Apalagi semua ucapan yang disampaikan olehku itu didengarkan oleh Claire,," Sambung Gladys lagi dengan wajah kesalnya.
" Kalau kondisinya seperti ini, bagaimana caranya aku bisa menjalankan rencana yang selama ini aku rancang,," Ungkap Gladys lagi dengan wajahnya sambil berpikir keras memikirkan suatu hal yang bersangkutan dengan rencana yang memang sudah lama ia rancang sendiri dan rencananya itu hendak ia lakukan dengan menggunakan Claire keponakannya sebagai alat bantunya.
Namun karena kesalahan yang ia lakukan hingga membuat Claire keluar dari kediaman Alexandre dan juga hubungannya dengan Claire terpecah belah dan semua rencana yang selama ini ia rancang bersama dengan Claire hanya percuma saja.
Tidak ada orang lain lagi yang bisa membantu semua rencananya dan juga orang yang bisa dipercayai oleh Gladys selain Claire. Oleh sebab itu sangat wajar jika Gladys saat ini merasa begitu bersalah sekali atas sikap dan juga ucapannya saat ia tengah mengobrol dengan temannya melalui telepon dan obrolan yang ia lakukan itu di dengar secara langsung oleh Claire.
Walau bagaimanapun Claire adalah keponakan dan juga orang yang selama ini menjadi tangan kanan dari Gladys serta juga orang yang begitu berguna bagi Gladys. Oleh sebab itu Gladys merasa begitu menyesali atas semua perbuatan yang telah ia lakukan terhadap Claire. Meskipun selama ini Gladys menganggap Claire orang yang begitu berguna tapi sebenarnya Gladys sangat menyayangi Claire melebihi rasa sayang yang ia berikan terhadap putrinya sendiri yaitu Alexa.
Apa mungkin karena Claire dari kecil ia asuh sendiri atau karena Gladys merasa bahwa Claire dari lahir sudah tidak ada orang tuanya, jadi Gladys menganggap Claire merupakan seorang keponakan dan juga anak perempuan yang begitu menyedihkan sekali. Oleh sebab itu Gladys begitu menyesal sekali ketika melihat dengan mata kepala sendiri bahwa Claire begitu marah dan kecewa atas semua perlakuan yang telah dilakukan olehnya.
Dan saat ini Gladys sendiri merasa begitu bingung sekali bagaimana dengan rencana selanjutnya yang akan ia lakukan lagi. Ketika Gladys tengah mondar-mandir di dalam ruangan kamarnya tiba-tiba ada seseorang yang tengah mengetuk pintu kamarnya dengan begitu hati-hati dan suara yang terdengar begitu lembut.
" Aduh bagaimana ini ?" Tanya Gladys dengan dirinya sendiri sambil mondar-mandir.
Tok!!
Tok!!
Tok!!
" Siapa yang mengetuk pintu ?" Tanya Gladys dengan dirinya sendiri sambil membalikkan tubuhnya ke arah pintu ketika ia mendengarkan suara ketukan pintu dari arah luar ruangan kamarnya.
Tentu saja Gladys begitu terkejut dengan adanya orang yang sedang mengetuk pintu ruangan pribadi miliknya. Karena, ruangan yang sedang ia tempati saat ini adalah ruangan yang begitu pribadi dan hanya bisa dimasukkan kedua anaknya serta keponakannya. Meskipun ruangan pribadi miliknya itu merupakan aset kediaman Alexandre, namun karena, ia merupakan seorang nyonya besar di dalam kediaman ini jadi ruangan manapun berhak ia miliki dan ia tempati.
Meskipun kediaman Alexandre ini merupakan pemilik utamanya adalah Alberto Alexandre namun karena Daddy-nya Alberto masih hidup yaitu Vasco Alexandre oleh sebab itu Gladys masih bisa menguasai kediaman Alexandre ini.
****