
Tapi, hal yang dipikirkan oleh Vena ini tidak mungkin terjadi, karena, tidak mungkin Vena bisa keluar dari kamar Axeloe tanpa adanya kode dari jarinya Axeloe sendiri. Bisa dilihat dari pertama sekali sampai ke dalam kamar ini bahwa saat itu Axeloe sudah menutupi semua ruangan kamarnya menggunakan jari tangannya itu sebagai kode dari terkuncinya ruangan kamarnya ini.
" Yaahh, sepertinya aku harus menunggu Tuan Axeloe bangun dari tidurnya,," Gumam Vena yang sedang melirik ke arah kanan maupun kirinya untuk memastikan apakah dirinya bisa keluar atau tidak.
Dan nyatanya saat ini peluang terbesar tidak ada jalan keluar bagi Vena dari kamar Tuan Besar keluarga Alexandre ini. Sambil menghembuskan nafasnya pertanda bahwa Vena sudah mengerti dirinya tidak akan bisa lolos dari kurungan Axeloe sementara untuknya itu.
Sambil melihat kembali ke wajah Axeloe yang sedang tertidur pulas, akhirnya, Vena mengambil keputusan yang lebih tepat lagi, agar tidak mengganggu tidurnya Axeloe dengan ada dirinya yang berada di dekat Axeloe itu.
" Sepertinya, jika aku masih disini, Tuan Axeloe akan terganggu dengan adanya aku,," Bilang Vena dengan volume suara yang sangat kecil.
" Lebih baik, aku turun dari tempat tidur dan mencari tempat agar tidak mengganggu istirahatnya Tuan Axeloe,," Sambung Vena lagi dengan suara yang masih terdengar sangat kecil.
Sambil mengulangi hal yang sama, Vena menoleh ke arah kiri dan kanan untuk memastikan dimana ia akan berpindah dan setelah mendapatkan tempatnya barulah Vena beranjak secara perlahan-lahan dari tempat tidur itu menuju ke tempat yang telah ditemukan oleh Vena sendiri.
" Akkkhh ya, itu saja lebih baik aku tunggu Tuan Axeloe bangun di tempat itu saja,," Bilang Vena ketika berhasil menemukan sebuah tempat yang cukup bagus untuk dirinya.
" Lebih baik, aku ke sana saja biar Tuan Axeloe bisa istirahat dengan tenang,," Bilang Vena lagi sambil pelan-pelan beranjak turun dari tempat tidur agar bisa menjauhi Axeloe yang sedang istirahat.
Namun, sayangnya ketika Vena akan bergerak secara perlahan untuk segera turun dari tempat tidur, tiba-tiba kenapa Vena begitu sulit menggerakkan tubuhnya. Dan betapa kagetnya Vena ketika, pergelangan tangannya dipegang secara langsung oleh seseorang yang tidak lain lagi adalah Axeloe.
" Oh My God," Seru Vena kaget ketika ia merasakan bagian pergelangan tangannya yang langsung ditahan oleh Axeloe.
" Heeemmm,," Suara Axeloe yang terdengar oleh Vena sambil memegang erat pergelangan tangan wanita yang masih berada tidak jauh darinya itu.
" Ya ampunnn, sepertinya, Tuan Axeloe menahan tanganku,," Gumam Vena dalam hati sambil memejamkan matanya karena, merasa sangat kaget.
" Mati aku, bagaimana ini, apakah Tuan Axeloe akan marah padaku ?" Tanya Vena dalam hati yang hatinya mulai berdebar-debar karena takut dengan pergerakan dirinya yang telah diketahui oleh Axeloe.
Dengan begitu perlahan, Vena memutar lehernya dan membalikkan tubuhnya sedikit demi sedikit untuk memastikan, apakah Axeloe masih tertidur atau memang benar-benar telah menahan pergelangan tangannya itu. Sambil memejamkan matanya Vena mulai membalikkan tubuhnya menghadap ke arah Axeloe.
" Oh My God, apakah Tuan Axeloe masih tertidur atau aku yang ketahuan,," Gumam Vena dalam hatinya sambil menutup mata dan mulai membalikkan badannya menghadap ke arah Axeloe.
Dan ternyata disaat Vena membalikkan tubuhnya, dengan sangat jelas sekali Vena melihat bahwa mata Axeloe masih terpejam namun, tangannya begitu kuat memegang dan menahan pergelangan tangannya yang terasa sedikit lemas itu.
" Aduuuhhh, kenapa Tuan Axeloe menggenggam tanganku ?" Gerutu Vena dalam hati karena, merasa cemas dengan sikap Axeloe yang masih tertidur tapi dengan sengaja membuat Vena tidak bisa bergerak.
" Kayaknya, Tuan Axeloe hanya berpura-pura saja tertidur,," Sambung Vena lagi yang mengira kelakuan Axeloe saat ini.
" Baiklah, aku ingin lihat apakah Tuan Axeloe memang tertidur atau hanya berpura-pura, tidak mungkin tidur jika tangannya bisa menggenggam pergelangan tanganku ini dengan sangat erat,," Sambung Vena lagi yang bergumam sendiri di dalam hatinya.
Jelas sekali Vena terkejut atas kelakuan Axeloe yang dilakukan dengan sengaja sehingga membuat Vena yang tadinya tidak kaget dan ingin menjauhi dari tempat tidur malah saat ini terdiam bagaikan es yang tengah membeku, jadi sangat wajar jika, Vena menggerutu sendiri atas kelakuan yang dilakukan Axeloe secara tiba-tiba padanya itu.
Dan ketika Vena tengah menoleh ke arah Axeloe, benar sekali ternyata Axeloe hanya berpura-pura tidur, agar bisa mengetahui apa yang akan dilakukan oleh Vena jika ia diketahui oleh Vena sedang tertidur seperti saat ini. Karena, sudah ketahuan oleh Axeloe bahwa Vena ingin menjauhi tempat tidur itu, pastinya Vena segera mencari akal agar dirinya bisa terbebaskan dari Tuan Besar yang cukup jahil padanya ini.
" Huuuuuuhhhh, sepertinya aku harus mencari ide untuk mengelak kecurigaan Tuan Axeloe dengan tindakanku yang ingin menjauhi tempat tidurnya ini,," Gumam Vena yang telah memiliki sebuah ide agar dirinya bisa menjawab dan mengelak dari pertanyaannya Axeloe.
Sekali lagi Vena menoleh ke arah Axeloe dan kali ini mata Axeloe telah terbuka dengan sempurna, sehingga semakin membuat jantung Vena berdegup dengan kencangnya. Dengan nafas dan suara yang terdengar cukup berat Axeloe mulai membuka pertanyaan kepada Vena dengan keadaan suhu tangannya begitu dingin.
" Eeehhmmm, sudah selesai ?" Tanya Axeloe dengan suara yang terdengar cukup berat.
" Ya Tuan,," Jawab Vena singkat sambil menganggukkan kepalanya.
" Bagus, terima kasih,," Sambung Axeloe kembali.
Karena, mendengar jawaban dari Vena bahwa perintah yang telah ia berikan sudah selesai dilakukannya itu. Sehingga dengan segera Axeloe sedikit menggerakkan tubuhnya dan melihat hasil dari kerja Vena dalam membalut luka yang ada di dadanya itu. Dan terlihat begitu jelas bahwa saat ini tubuhnya malah sudah tertutup oleh baju yang awalnya dibuka oleh dirinya sendiri serta telah ditutup oleh Vena.
" Bagus, terima kasih, bahkan kau juga telah memasang kancing bajuku,," Ucap Axeloe masih dengan suara beratnya.
" Heemm ya Tuan," Jawab Vena lagi dengan suara yang terdengar cukup kecil.
" Memangnya kau mau kemana ?" Tanya Axeloe dengan segera ketika melihat posisi tempat Vena sudah berubah dari awal posisinya.
" Eehhh, saya hanya ingin berpindah ke tempat sana Tuan, agar Tuan bisa beristirahat dengan tenang dan tidak terganggu dengan adanya saya yang masih berada disini,," Ucap Vena dengan baik dan benar sehingga membuat Axeloe sedikit menganggukkan kepalanya.
Dengan sangat perlahan Vena mencari alasan dan juga kata-kata yang lembut agar jawabannya itu sama sekali tidak menyinggung perasaan Axeloe. Sehingga membuat Vena harus merangkai kata-kata terlebih dahulu sesuai dengan keadaan yang ada, agar jawabannya itu bukanlah sebuah alasan saja.
****