Mafia And Angel

Mafia And Angel
Bag. 51 - Kekecewaanku



Vena hanya menelan salivanya, karena, begitu kerasnya dan disiplinnya untuk menjadi Nyonya seorang Alberto Alexandre ini. Ziya yang mendengar cukup mengerti akan maksud dari ucapan Alberto sehingga membuat dirinya hanya tertunduk pasrah. Baginya, sekarang dia hanyalah seekor burung mainan Alberto yang hanya bisa pasrah terkurung di dalam sangkar emas.


Ziya yang sudah beberapa hari ini tidak bisa keluar dari kamar tanpa seizin dari Alberto membuat dirinya sangatlah bosan. Sehingga, hari ini, jadwal Alberto pulang ke istananya ini membuat Ziya bingung.


Apakah dirinya akan menunjukkan rasa takutnya,?


Atau apakah dia harus menunjukkan hasrat memberontak nya,,?


Tidak, tidak kalau dirinya berontak, maka keluarganya akan menjadi bahaya, jadi saat ini hal yang paling terbaik bagi Ziya adalah dirinya memutuskan harus bisa untuk pasrah akan nasibnya ini.


Ziya mengetahui bahwa Alberto telah tiba di dalam kediamannya ini, karena ia bisa melihat saat ini mobil Alberto telah sampai di pekarangan rumahnya. Ziya tidak melihat adanya Claire yang sering menyambutnya. Karena, tidak adanya Claire yang mengitari tubuhnya Alberto saat ini. Dan hal itu tidak seperti biasanya, timbullah di dalam pikiran Ziya kemana, Claire wanita yang begitu kasar pada dirinya itu.


" Tumben, biasanya wanita itu menyambut kedatangannya, tetapi kenapa, hari ini tidak ada,,?" Tanya Ziya dalam hati, saat melihat Alberto turun dari mobilnya.


Saat Alberto turun dari mobil, Alberto sangat jelas sekali menatap Ziya yang sedang berdiri di atas balkon kamar pribadinya itu. Karena, melihat Alberto yang menatap dirinya itu, dengan segera Ziya mengalihkan pandangannya ke arah lain. Sehingga hal itu menyebabkan Alberto semakin bertambah semangat untuk selalu penasaran dengan sosok Ziya yang tidak ada rasa perhatian pada dirinya ini sedikitpun.


Apakah Ziya masih marah terhadap perlakuannya beberapa hari yang lalu,,?


Ya, jelas sekali, namanya juga perempuan, perasaan seorang perempuan begitu rapuh dan begitu sensitif, apalagi kalau masalah mahkota, perempuan mana yang tidak marah dan tidak kecewa apabila dirinya selalu menjaga mahkotanya sekuat tenaganya itu. Disaat lelaki yang telah puas mengambilnya dikatakan secara langsung bahwa dirinya tidak memiliki mahkota lagi.


Sekuat-kuatnya perasaan dan tenaga wanita, di satu titik pasti akan ada kerapuhan pada dirinya. Oleh sebab itu, janganlah merendahkan wanita, Karena, apabila kekuatan seseorang wanita bangkit maka percayalah kehidupan dirinya bahkan orang yang dirangkulnya akan menjadi sejahtera.


Jadi, jangan pernah merendahkan martabat seorang wanita.


Kembali lagi ke pikiran Ziya yang sangat merasa benci, kesal, kecewa pada sosok pria yang berada jauh dari pandangannya itu. Sehingga hal itu, membuat Ziya mengalihkan pandangannya ke arah lain.


Alberto pun segera masuk ke dalam rumahnya. Ziya sama sekali tidak menyambut kedatangan Alberto disaat Alberto telah masuk ke dalam kamarnya.


Dan saat ini, Alberto telah berada di dalam kamarnya, sebenarnya Alberto ingin sekali menanyakan keadaan Ziya kepada Ziya sendiri, tapi, karena melihat Ziya yang begitu acuh terhadap dirinya, membuat Alberto hanya mengambil keperluannya di dalam kamar itu. Setelah itu, Alberto segera keluar kamar tanpa mengeluarkan suara sedikitpun dan tanpa menyapa Ziya sedikitpun.


Karena, telah melihat Alberto keluar dari kamarnya tanpa menyapanya sedikitpun, membuat Ziya meneteskan air matanya.


" Sungguh ke,, jam kau Alberto,, kau telah pulang tanpa sedikitpun, menoleh ke arahku,," Bilang Ziya di tengah tangisnya saat dirinya melihat Alberto yang keluar dari kamarnya itu.


" Aku rasa lebih baik aku pergi dari sini, dan membawa Demian bersamaku,," Ucap Ziya sendiri tanpa ada orang yang mendengarkannya.


" Daripada aku menahan siksaan di tempat ini, lebih baik aku pergi dari sini." Ucap Ziya sekali lagi yang terduduk lemah di lantai balkon saat ini.


" Dia sama sekali tidak menghargai diriku,," Ucap Ziya yang menangis bersedih.


" Zoya,, sekarang kau dimana,, kenapa kamu tega melakukan semua ini,," Ucap Ziya lagi yang menambah bumbu tangisannya.


Ziya tidak mengetahui bahwa Alberto sendiri sedang menuju ke ruang pribadinya di dalam ruang khusus CCTV keadaan semua rumahnya.


Alberto fokus melihat keadaan Ziya yang sedang terduduk lemah sambil menangis. Alberto dengan sengaja membesarkan volume suara CCTV yang ada di dekat balkon rumahnya.


Sebenarnya, Alberto merasa sedikit kasihan terhadap Ziya. Tapi, dia ingin kejujuran dari mulut Ziya sendiri supaya bisa membuat dirinya akan mempercayai Ziya. Tapi, kenapa Ziya tidak pernah mengatakan apapun pada dirinya.


Apa maksud dirinya bekerja sama dengan laki-laki licik Erwin.


Tidak mungkin, hanya karena, dimanfaatkan dan takut akan ancaman Ziya berani datang ke rumahnya itu.


Tapi, sebenarnya Alberto sendiri juga sedikit demi sedikit akan bisa menguak misteri dan rahasia dari Ziya yang selama ini membuat dirinya begitu penasaran.


" Aku, tidak akan melepaskan kau, dari genggamanku," Ucap Alberto menaikkan ujung bibirnya.


" Untuk sementara, maafkan aku yang telah membuat kau merasa tersiksa,, tapi setelah aku mengetahui kebenarannya, maka akan ku bebaskan kau,, tapi tidak bebas seutuhnya,, kau akan tetap menjadi milikku selamanya." Ucap Alberto lagi sambil tersenyum sinis dan mengangkat telepon dari temannya Samuel.


" Halo,," Ucap Alberto yang menerima telepon dari Samuel.


" Dude, aku menerima laporan bahwa Claire dan Gladys ingin melakukan sesuatu di tempatmu,," Bilang Samuel yang memberikan informasi kepada Alberto.


Alberto merasa santai, karena, dua wanita ini memang selalu membuat masalah di kediamannya, tapi ia belum juga mengusir ular betina Claire dari rumahnya.


" Heh! Thanks Dude,, aku akan mempermainkan perbuatannya di rumah." Bilang Alberto sambil tersenyum sinis.


" Yaps,," Ucap Samuel singkat memutuskan teleponnya.


Alberto yang menerima informasi tersebut, membuat dirinya sendiri merasa santai, karena, ia tidak pernah takut dan gentar apapun yang akan dilakukan oleh dua wanita jahat di rumahnya itu.


" Aku akan lihat, apa yang akan mereka lakukan." Ucap Alberto yang tersenyum sinis.


Sementara itu, Ziya yang masih menangis di atas balkon kamar pribadi Alberto, segera mengelap air matanya saat Vena sedang datang menghampirinya membawa sebuah nampan yang berisi makan siangnya.


" Nyonya, silahkan nikmati makan siangnya." Ucap Vena tersenyum.


" Terima kasih, Vena,," Ucap Ziya yang segera duduk di dekat meja yang telah diletakkan nampan makan siangnya.


" Sama-sama, Nyonya, cepat sembuh Nyonya,," Bilang Vena tersenyum tulus.


DOORRR!!


Untuk Ziya kaget mendengar suara tembakan di bawah. Ziya dan Vena segera berlari melihat ke bawah balkon apa yang sedang terjadi saat ini. Kenapa, terdapat bunyi tembakan, memang sebenarnya sudah menjadi kebiasaan di tempat Alberto ini terdengar suara tembakan. Tapi, biasanya suara tembakan itu tidak terlalu keras seperti saat ini.


" Oh My God,," Ucap Vena sontak kaget ketika mendengarkan suara tembakan yang tidak terlalu jauh dari tempatnya saat ini.


Dan, Ziya melihat bahwa Alberto sedang duduk di satu sisi, sedangkan di sisi jauh Alberto seperti sasaran tembaknya ada seseorang yang sedang berdiri disana.


" Hah! apa yang mereka lakukan,," Ucap Ziya yang suaranya tidak terlalu terdengar oleh Vena yang berada di sampingnya.


" Apa Nyonya, ?" Tanya Vena yang tidak terlalu mendengarkannya.


" Akkhh,, tidak apa-apa Vena,," Jawab Ziya menggelengkan kepalanya.


Lalu, Ziya kembali memperhatikan seseorang yang sedang berdiri menjadi sasaran tembakan Alberto saat ini.


Dengan gaya santainya, Alberto memainkan pelatuk pistol saat itu, membuat seseorang yang menjadi sasaran tembak berdiri dengan kaki yang gemetaran.


" Jangan Alberto, jangan,," Ucap seseorang yang menjadi sasaran tembak oleh Alberto saat ini.


Alberto saat itu, semakin tersenyum sempurna, sehingga membuat Ziya yang tengah memperhatikannya dari balkon atas kamarnya itu sedikit terperanjat melihat senyuman indah yang telah terukir di wajah tampan itu. Tapi, sesaat Ziya, membulatkan matanya saat melihat seseorang yang menjadi sasaran tembak Alberto adalah Claire sang kekasih atau sekretaris Alberto sendiri.


" Oh My God, kenapa dia yang menjadi sasarannya ?" Tanya Ziya sendiri dalam hatinya ketika melihat seseorang yang tengah menjadi sasaran tembak oleh Alberto saat ini.


Dan pastinya Ziya terperangah melihat Claire yang ternyata sekarang berdiri mematung dan akan menjadi sasaran tembak oleh Alberto, serta untuk dijadikan sebuah permainan bagi Alberto yang tengah ingin bermain-main saat ini.


****