Mafia And Angel

Mafia And Angel
Bag. 120 - Mandi Bersama Lagi



Karena, mendengar rengekan suara dari Demian, akhirnya Alberto menghentikan permainan jarinya itu pada bagian inti milik Ziya. Ziya terkesiap kaget saat mendengar suara rengekan Demian yang memanggil dirinya.


" Mommy,," Rengek Demian yang masih memejamkan matanya.


" Aaahh Demian,," Suara Ziya yang terkesiap kaget saat mendengar rengekan Demian.


" Alberto hentikan dulu,," Bilang Ziya lagi pada Alberto.


Karena, mendengar rengekan dari Demian, Alberto yang tersenyum segera menghentikan permainannya. Setelah tangannya Alberto keluar dari celana Ziya, dengan segera Ziya mendekatkan dirinya dengan tubuh Demian, lalu, Ziya langsung saja memeluk Demian dan membujuknya.


" Kenapa sayang,, Heemm ?" Tanya Ziya sambil memeluk Demian dari belakang.


" Kita main lagi ya Mom,," Suara Demian yang terdengar seperti igauan.


Sesaat Alberto terkekeh atas kelakuan Demian yang mengigau di tengah tidurnya itu.


" Demian mengigau sayang,, kita lanjutkan,," Goda Alberto yang memeluk erat tubuh Ziya dari belakang.


Namun, Ziya merasa gelora dan hasrat di tubuhnya sudah sedikit menyusut dan menghilang. Oleh sebab itu Ziya, tidak menginginkan melakukan hal itu pada Alberto malam ini. Karena, Alberto sendiri yang mengatakan bahwa malam ini khusus dirinya untuk menghangatkan tubuh Demian dengan penuh kasih sayang.


" Alberto, malam besok saja kita lakukan,, aku ngantuk,," Bilang Ziya yang masih memeluk erat tubuh Demian.


" Heemmm, baiklah sayang," Ucap Alberto yang menggantikan posisi tubuhnya menjadi terlentang di belakang tubuh Ziya.


Saat tubuhnya Alberto berpindah dari memeluk tubuhnya Ziya, hingga ke posisi yang terlentang, membuat Ziya merasa heran kenapa Alberto memindahkan posisinya itu.


" Eeemmm,, Alberto,," Panggil Ziya pada Alberto yang berada di belakangnya.


" Iya sayang,," Jawab Alberto yang posisi tubuhnya sudah terlentang dan juga menutup matanya.


" Kenapa dilepas pelukannya,," Tanya Ziya yang terdengar sangat menggemaskan sekali bagi Alberto.


Saat Alberto mendengarkan ucapan Ziya yang menggemaskan itu, membuat Alberto langsung berbalik dan segera memeluk perut Ziya lagi.


" Kenapa sayang, mau dipeluk, tidurnya," Bilang Alberto tepat di telinga Ziya.


" Heemmm,," Jawab Ziya mengangguk yang masih membelakangi tubuhnya Alberto.


" Baiklah,," Jawab Alberto yang segera memeluk tubuh Ziya dan mencium lembut rambut Ziya.


Setelah merasa tangan dan tubuhnya Alberto mendekap erat tubuh Ziya, dengan senyuman indahnya Ziya mengucapkan terima kasih dan juga permohonan maaf karena, malam ini mereka tidak bisa menghabiskan waktu berdua.


" Terima kasih, karena, sudah memelukku," Ucap Ziya yang memegang erat tangan Alberto.


Karena, melihat tangan Ziya memegang erat tangannya Alberto dan mendengarkan ucapan Ziya yang mengucapkan terima kasih itu, membuat Alberto semakin memeluk erat tubuh Ziya.


" Eemmm,, iya sayang,, ya sudah tidurlah,," Ucap Alberto yang mengelus lembut perut dan juga mencium rambutnya Ziya.


" Heemmm,," Jawab Ziya mengangguk dan mulai memejamkan matanya.


Setelah merasa tubuh Ziya hangat akan pelukannya itu, Alberto mendongakkan kepalanya dan melihat kondisi tubuh Demian yang tidur lelap di seberangnya serta Ziya juga sama seperti Demian yang juga mudah sekali tertidur dengan nyenyak. Alberto tersenyum melihat kedua orang yang disayanginya itu sekarang bersama dengannya. Karena, tidak bisa menahan kantuknya, Alberto segera membetulkan posisi selimut yang menutupi tubuh Demian, lalu tubuh Ziya dan Alberto ikut masuk ke dalam selimut itu memeluk erat tubuh wanita yang berada di sampingnya.


Tak terasa pagi telah menyapa dan Alberto yang bangun terlebih dahulu dibandingkan Ziya, akhir-akhir ini selalu tersenyum melihat wajah Ziya yang berada di sampingnya, sementara itu Demian juga sudah menggeliatkan tubuhnya bangun di pagi ini. Melihat Demian bangun, Alberto langsung mengangkat tubuh Demian yang terbangun itu, supaya suara rengekan Demian di pagi ini tidak membangunkan Ziya yang masih tertidur pulas.


" Daddy,," Ucap Demian yang membuka mata saat terbangun dari tidurnya.


" Yes, Sayang,," Sapa Alberto pada Demian.


" Daddy sudah bangun,," Tanya Demian dengan suara seraknya.


" Hmmmm, Come ke kamar Demi, jangan gangguin Mommy yang sedang tidur,," Ucap Alberto yang segera mengambil Demian dari tempat tidur.


" Heemmm, Ok, Dad,," Suara Demian yang terdengar nyaring, membuat Ziya sedikit menggeliatkan tubuhnya.


" Sssttt,, nanti Mommy bangun,," Bilang Alberto yang memberi kode pada Demian supaya tidak membangunkan Ziya.


" Ok, Dad,," Jawab Demian dengan suara lembut, sambil memberikan jempolnya pada Alberto.


Sejenak Demian berbalik arah menghadap Ziya lalu, memeluk lembut tubuh Ziya dan menciumi pipinya.


" Mommy, Demi pelgi sekolah dulu ya,," Ucap Demian yang meminta izin pada Ziya.


Karena, telah selesai berpamitan langsung pada Ziya, akhirnya Demian masuk ke dalam gendongan Alberto dan mereka saat ini keluar dari ruang pribadi tempat tidur Alberto, meninggalkan Ziya sendiri di dalam kamarnya itu.


" Daddy, Demi pamit pelgi sekolah dulu ya,," Ucap Demian yang sudah berada di gendongan Melly saat ini.


" He'em sayang sekolah yang pintar supaya bisa membanggakan Mommy and Daddy,," Bilang Alberto yang berpesan pada Demian.


" Ok, Dad, pesan Daddy dan Mommy selalu terdengar sama,, hehehe,," Ucap Demian yang membuat Alberto merasa heran sendiri dengan dirinya.


Kenapa saat ini, ucapan Alberto sedikit terdengar sama dengan ucapannya Ziya.


" Hehehehe,, aneh,," Gumam Alberto dalam hati.


Demian yang telah diberikan dengan Melly itu, segera pergi dan melambaikan tangannya pada Alberto. karena, seperti biasa setiap pagi Demi harus pergi ke sekolah dan siangnya, Demi harus mengikuti pelajaran khusus seperti kursus privat yang telah ditetapkan oleh Alberto pada putranya itu, sehingga, waktu Demian hanyalah sore hari bisa bersama dengan Ziya.


Saat Alberto ingin masuk ke dalam kamarnya, Alberto melihat bahwa pagi ini Vena telah kembali pulang dari rumah sakit dan sudah masuk ke dalam rumahnya di lantai bawah. Vena segera mendongakkan kepalanya dan melihat ke lantai atas, Vena tidak melihat adanya Alberto yang sedang berdiri di depan pintu kamarnya itu.


Alberto berpikir bahwa Vena sudah kembali, berarti cukup bagus baginya, karena, sudah ada yang bisa dipercaya lagi untuk menjaga Ziya.


" Vena sudah kembali, bagus, jadi ada yang bisa menjaga Ziya." Ucap Alberto yang melihat Vena sudah kembali ke rumahnya.


Alberto segera masuk ke dalam kamarnya lagi dan membiarkan Vena untuk istirahat terlebih dahulu sebelum melakukan pekerjaannya. Sementara itu, Ziya yang berada di atas tempat tidur meraba kiri dan meraba kanan, tidak ada seorangpun yang berada di sampingnya.


" Kemana, Demian,," Ucap Ziya yang masih memejamkan matanya dan meraba-raba posisi tempat yang telah ditiduri oleh Demian.


Ziya pun beralih ke belakang tubuhnya, merasakan tubuh Alberto juga tidak ada di sana.


" Eemmm, kemana dia,," Ucap Ziya juga yang meraba tempat Alberto yang berada di belakangnya.


Alberto yang sudah masuk ke dalam kamarnya, tersenyum melihat kelakuan Ziya seperti anak kecil yang sedang mencari Ibunya. Meraba-raba bagian kiri dan kanan mencari dua orang yang sudah terbangun semuanya. Alberto yang melihat kelakuan Ziya itu, segera menaiki kembali tempat tidurnya dan sekarang posisi tubuh Alberto tepat berada di atas tubuh Ziya.


Sedangkan, Ziya masih berada di dalam posisi terlentang dan tidak mengetahui bahwa Alberto sudah berada di atas tubuhnya. Saat, Ziya ingin berbalik arah ke samping tubuhnya. Ziya merasakan penahanan dari tubuh besar Alberto, sehingga membuat Ziya membuka kedua matanya perlahan-lahan.


" Aakkh,, Alberto, kau sudah bangun,, Demian mana ?" Tanya Ziya yang posisinya tepat di bawah Alberto.


" Buka mata, Demian yang dicari,," Ucap Alberto yang membuat Ziya tersenyum.


" Hehehehe,, bukannya aku sudah menanyakan mu,," Ucap Ziya yang mengalihkan pembicaraannya supaya Alberto tidak cemberut.


" Yeah kalau begitu,," Bilang Alberto yang segera menurunkan tubuhnya dan menindih tubuh Ziya.


" Eemmm,, Alberto aku serius dimana Demian." Tanya Ziya lagi pada Alberto.


" Demian sudah pergi sekolah sayang," Jawab Alberto dengan menyentuh pipi Ziya dengan gemas.


" Ooohhh,, berarti aku kesiangan,," Bilang Ziya yang sedikit cemberut.


" Yeah begitulah,," Jawab Alberto yang masih memainkan rambut halus di sekitar kening Ziya.


Saat tubuh Alberto yang semakin turun dan menindih tubuhnya Ziya, untuk sesaat Ziya terkesiap karena, merasa tonjolan besar di bagian bawah milik Alberto yang telah menegang dan tepat sekali sedikit bermain dan menusuk bagian inti milik Ziya.


Alberto pintar sekali memposisikan tubuhnya hingga saat ini membuat kedua kaki Ziya merespon untuk sedikit terbuka.


" Alberto apa yang ingin kau lakukan,," Tanya Ziya dengan kedua tangannya yang menepis-nepis dada bidang Alberto.


" Heemmm,, Apa yang ingin kulakukan, ya,," Jawab Alberto seperti sedang memikirkan sesuatu.


" Oh ya,, apa yang ingin kulakukan adalah hal yang tertunda kemarin dan juga semalam,," Bilang Alberto yang menjelaskan secara detail pada Ziya.


Ziya sedikit menyunggingkan senyumannya, saat mendengar ucapan Alberto yang menyatakan suatu hal yang tertunda kemarin.


" Heeemm,, memangnya apa yang tertunda kemarin ?" Tanya Ziya yang bersandiwara lupa akan ucapan janjinya kemarin.


" Jadi, waktu kemarin yang menyampaikan janjinya harus bersandiwara lagi di depanku,," Ucap Alberto yang sengaja menggoyang-goyangkan pinggulnya untuk memberikan respon di bagian bawah.


Mendengar ucapan Alberto seperti itu, Ziya sedikit terkekeh geli dan segera melingkarkan kedua tangannya pada leher Alberto. Saat Ziya melingkarkan kedua tangannya itu, Alberto semakin suka dan penasaran dengan sikap Ziya saat ini yang mulai berani untuk bermain dengannya.


" Hihihihihihi,, memangnya kemarin janji apa,," Tanya Ziya balik pada Alberto dengan wajah manjanya.


" Heemmm,, sepertinya kau ini mau dihukum,," Ucap Alberto yang segera menarik tangan Ziya dari lehernya dan mendekap tangan Ziya menggunakan tangannya.


Otomatis Ziya terkesiap saat melihat tangan Alberto yang mendekap tangannya itu, berarti Alberto sedang menginginkan tubuhnya. Namun Ziya bisa saja untuk beralasan agar mereka tidak melakukan hal ini pada waktu yang kurang tepat seperti ini. Ziya merasa malu jika Alberto melakukan hal ini saat dirinya sedang bangun tidur.


" Eemmm,, Alberto jangan lakukan ini, aku malu,," Ucap Ziya yang segera melepaskan dekapan tangan Alberto dan menutup wajahnya.


Alberto semakin gemas dengan wajah Ziya yang berubah bersemu merah, membuat Alberto semakin penasaran atas sikap dan perilaku Ziya.


" Heemm,, kenapa ditutup sayang,," Tanya Alberto yang mencoba untuk membuka wajah Ziya.


" Aku malu, Alberto lepasin aku, aku mau ke kamar mandi,," Pinta Ziya yang masih menutup wajahnya.


" Buka dulu wajahmu baru aku akan melepaskanmu,," Bilang Alberto yang membuat Ziya perlahan-lahan membuka tangannya yang menutupi wajahnya.


Dengan perlahan Ziya membuka tangannya dan tanpa mengambil waktu yang lama, Alberto segera menerkam bibir lembut Ziya. Ziya terkesiap kaget saat Alberto menciumi bibirnya.


" Uuummmmppp Alberto,," Suara Ziya yang terkesiap atas kelakuan Alberto padanya.


Alberto tidak mau mendengarkan ucapan Ziya yang terkesiap itu, saat ini, bagi Alberto adalah menciumi bibir Ziya dengan sepuas mungkin. Begitu juga dengan Ziya, karena, bibir Alberto yang terlalu lembut menyapu bibirnya itu, membuat Ziya juga mengikuti arus dari ajakan Alberto untuknya itu.


Ziya juga merasa tidak malu lagi, saat lidah Alberto memaksa masuk ke dalam bibir Ziya, sebenarnya Ziya malu adalah hal ini, jika berciuman di pagi hari saat bangun tidur, apakah terasa nikmat dan tidak memalukan, ternyata benar ciuman yang dilakukan oleh Alberto terasa begitu nikmat dan indah sekali. Hingga Ziya tak sadar bahwa respon tubuhnya yang ingin sekali buang air kecil jadi tertunda sejenak, karena, menikmati bibir indah milik Alberto ini.


Setelah cukup lama, Alberto menciumi bibir Ziya, tanpa melepaskan ciumannya itu, Alberto segera bangun dari tempatnya lalu, melepaskan ciumannya. Mata Ziya yang terpejam seketika terbuka saat Alberto melepaskan ciumannya.


" Alber,, to,," Ucap Ziya yang ketika bibir Alberto terlepas dari bibirnya.


" Heemm,," Jawab Alberto yang berdiri di samping tempat tidur.


Lalu, dengan satu gerakan Alberto sudah mengangkat tubuh Ziya. Saat ini Ziya sudah berada di atas gendongan Alberto dengan tersenyum Ziya sendiri melingkarkan kedua tangannya pada leher Alberto.


" Mau ke kamar mandi,," Tanya Alberto pada Ziya.


" He'em,," Jawab Ziya mengangguk.


Setelah mendapatkan jawaban dari Ziya, dengan segera Alberto melangkahkan kakinya menuju ke kamar mandi sambil mencium lembut bibir Ziya. Begitu juga dengan Ziya yang membalas kecu-pan lembut dari bibir Alberto. Ziya semakin menikmati betapa indahnya dan terbuainya saat bibirnya menyatu dengan bibir milik Alberto. Hingga saat ini Ziya sudah berada di kamar mandi dan di dudukan Alberto tepat di pinggir wastafel. Setelah itu, Alberto memindahkan tubuh Ziya ke toilet dan melepaskan ciumannya.


" Sayang bukannya tadi kau mau buang air kecil,," Ucap Alberto setelah melepaskan ciumannya.


" Heemm,," Jawab Ziya mengangguk.


" Buang saja, aku ingin melihatnya,," Bilang Alberto pada Ziya.


" Heemmm tidak Alberto aku malu,," Jawab Ziya yang menahan air kecilnya.


Karena, Ziya malu, akhirnya dengan segera Alberto mencium bibir Ziya lagi, karena, kaget atas tindakan Alberto itu, membuat Ziya segera membuang air kecil yang ditahannya. Setelah selesai, Alberto tersenyum atas kelakuannya itu, hingga membuat wajah Ziya tersipu malu.


Lalu, Ciuman mesra itu dilakukan oleh Alberto lagi, setelah melihat Ziya bangkit dari atas toilet, tanpa sadar karena, terbuai akan ciuman maut yang diberikan oleh Alberto itu, tangannya Ziya sendiri sudah meraba-raba lembut bagian belakang tubuh Alberto. Dan, tangan Alberto sendiri juga sudah menelusup masuk ke dalam bajunya Ziya membuka pengait kain penjerat gunung milik Ziya.


Setelah terbuka, Alberto segera membuka semua pakaian yang telah dipakai oleh Ziya. Sebelum memasukkan Ziya ke dalam bathtub Alberto terlihat sangat menyayangi Ziya, sehingga air berendam untuk mereka berdua, Alberto yang melakukannya.


Alberto menghidupkan semua kran air yang mengalir untuk mengisi bathtub, lalu, Alberto memasukkan serbuk sabun ke dalam air tersebut. Setelah merasa cukup Alberto langsung mengangkat tubuh Ziya masuk ke dalam bathtub, sesaat Alberto duduk sambil menggendong tubuh Ziya yang polos seperti bayi baru lahir.


" Kita mandi bersama sayang,," Ucap Alberto yang mencium pipi Ziya.


" Heemm,," Jawab Ziya mengangguk.


Dengan lembutnya Ziya membuka semua baju yang masih dipakai oleh Alberto dan saat ini tubuh mereka sama-sama tidak memakai sehelai benangpun, sama-sama polos, hingga apabila bersentuhan kulit Ziya merasakan suatu lain dalam tubuhnya.


****