Mafia And Angel

Mafia And Angel
Bag. 122 - Pembebasan Tawanan



Terlihat Claire dan Gladys yang merasa semakin putus asa atas kelakuan Alberto pada mereka berdua. Claire berpikir bahwa sepertinya Alberto tidak akan membebaskan mereka lagi, tidak ada kesempatan untuk mereka lagi keluar dari tempat yang begitu menyesakkan napasnya itu.


" Heh!! sudah berapa hari kita disini Aunty,," Ucap Claire yang terlihat sangat kusut, kotor dan bahkan jelek.


" Shut up, Claire, jangan selalu merengek padaku,," Bilang Gladys yang sedang duduk di dalam ruangan yang begitu menyakitkan pandangan mereka berdua.


" Aku tidak merengek Aunty,, cuma sepertinya kita akan lama tinggal disini," Ucap Claire yang bergelayut di dekat pintu ruangan.


" Hello,," Teriak Claire di dalam ruangan itu.


Saat Claire berteriak di dalam ruangan itu, membuat Claire merasa takut bahwa selama ini, di dalam ruangan itu, tidak ada sedikitpun orang yang berada disana. Karena, tidak ada yang menyahut panggilannya.


" Heemmm, sepertinya, tidak ada orang Aunty,," Ucap Claire yang membalikkan tubuhnya menghadap arah Gladys.


" Heh! walaupun ada orang, apakah orang itu bisa membantu kita,," Jawab Gladys yang memang benar dengan pikirannya itu.


" Heh! Aunty, aku bosan disini,," Ucap Claire lagi pada Gladys.


" Memangnya kau pikir, cuma kau saja yang bosan tinggal disini, aku juga,," Jawab Gladys yang membuat Claire duduk tepat di sebelah Gladys.


" Aunty ada cara untuk kita bisa keluar dari sini,," Tanya Claire yang menoleh ke arah Gladys.


" Tidak perlu pakai cara, Claire, sebentar lagi kita akan keluar dan bebas dari tempat ini,," Ucap Gladys yang merasa yakin akan ucapannya itu.


" Hahahaha,, Aunty bisa saja bilang seperti itu, bagaimana denganku,," Bilang Claire serius pada Gladys.


" Kalau aku keluar, pastinya kau juga keluar Claire sayang,," Jawab Gladys yang memang begitu menyayangi keponakannya ini.


" Benarkah, Aunty,," Ucap Claire lagi pada Gladys.


" Bagaimana Aunty tahu kalau kita akan keluar dari tempat ini," Tanya Claire lagi menatap serius wajah Gladys.


" Ya,, aku tahu, karena, besok Mommy Christin akan pulang dari luar negeri dan lusanya Alexa juga akan kembali ke rumah ini." Ucap Gladys yang membuat Claire tersenyum mengerti.


" Oooohhhh,, jadi maksudnya,," Ucap Claire yang terputus, seakan mengerti penjelasan dari Gladys.


" Yeah, benar sekali Claire,," Jawab Gladys tersenyum sinis.


" Jadi, setelah kita keluar, maka kita akan melakukan rencana lain lagi untuk mengeluarkan wanita ja-lang itu dari rumah ini,," Ucap Gladys yang terlihat menampakkan senyuman sinisnya.


" Betul sekali, Aunty,,," Jawab Claire dengan mengikuti ekspresi wajah dari Gladys.


Sementara itu,


Di dalam kamarnya, Vena merasa sudah cukup sehat untuk mulai bekerja hari ini, hingga Vena langsung saja menggantikan seragamnya seperti biasa ia pakai selama bekerja di kediaman Alexandre ini.


" Apa kabar, Nyonya, semoga dia baik-baik saja,," Ucap Vena yang sedang menggantikan bajunya.


Setelah selesai Vena, langsung keluar dari kamarnya dan merasa aneh dengan suasana di kediaman, kenapa sepi sekali tidak ada para Nyonya besar di dalam rumah ini, hanya terlihat pelayan dan juga pengawal Alberto yang menjaga kediaman ini.


" Kemana semua Nyonya besar, kenapa tidak ada ?" Tanya Vena saat ia keluar dari kamarnya.


Seketika Vena bertanya dengan satu pelayan yang bekerja disana.


" Dimana semua Nyonya kenapa tidak terlihat,," Tanya Vena kepada salah satu pelayan yang selalu bertugas memasakkan makanan khusus untuk Nyonya besar Zoya atau Ziya.


" Nyonya besar, maksudmu, Vena,," Tanya pelayan perempuan itu pada Vena.


" Ya, Maksudku, Madam Christin, Madam Gladys, Nona Claire, Nona Alexa, Nona Krystal dan juga Nona Isabelle." Tanya Vena kepada pelayan yang memang sudah dekat dengannya itu.


Saat pelayan itu mendengarkan pertanyaan Vena yang menanyakan keberadaan para Nyonya dan Nona besar di rumah ini. Sedikit pelayan itu memberi kode pada Vena agar dirinya bisa membisikkan sesuatu kepada Vena.


" Sini,," Ucap pelayan itu pada Vena.


Melihat kode yang diberikan oleh pelayan itu pada Vena, Vena langsung mendekatkan telinganya.


" Nyonya Gladys dan Nona Claire ditahan oleh Tuan Besar,," Ucap pelayan itu yang membisikkan sesuatu kepada Vena dengan volume suara yang begitu kecil.


Mendengar bisikan yang di sampaikan oleh pelayan itu, Vena terkesiap kaget mengetahuinya.


" Aakkh benarkah,," Tanya Vena yang kaget tak percaya atas ucapan dari pelayan itu.


" Yah,, sementara, Madam Christin dan Nona Alexa sedang berada di luar negeri,," Ucap pelayan itu yang menjelaskan keadaan ini pada Vena.


" Ooohhh,, berarti Madam Christin dan Nona Alexa sedang berada di luar negeri." Bilang Vena yang mengangguk mengerti akan ucapan yang disampaikan oleh pelayan khusus itu.


" Baiklah terima kasih,," Ucap Vena yang segera melangkahkan kakinya meninggalkan ruangan dapur.


" Heemmm,," Jawab pelayan itu pada Vena.


Setelah menyelesaikan pembicaraannya itu, Vena segera melangkahkan kakinya menuju ke lantai dua pastinya langsung menemui Ziya sang majikannya itu.


Saat Vena ingin memasuki kamarnya Ziya, seorang pengawal mengatakan bahwa Ziya selama ini selalu berada di kamar Tuan Besarnya itu.


" Vena,," Panggil salah satu pengawal yang melihat Vena ingin masuk ke dalam kamarnya Ziya.


" Ya,," Jawab Vena yang menghentikan langkahnya.


" Nyonya Zoya ada di kamar Tuan,," Ucap pengawal itu pada Vena.


" Oh baiklah,," Jawab Vena yang melangkahkan kakinya menuju ke kamar pribadi Alberto.


Vena tahu bahwa jika Ziya berada di kamar Tuan Alberto pastinya, Vena tidak bisa masuk ke dalam jika sudah ada sang Tuan Besar. Oleh sebab itu Vena sengaja menunggu majikannya tepat di luar pintu kamar pribadi Alberto.


Di dalam kamar, Alberto dan Ziya yang sudah selesai mandi bersama, ganti baju bersama dan bahkan sarapan bersama itu, membuat Ziya momennya saat ini begitu indah sekali. Ziya berharap dengan sifat dan perlakuan Alberto seperti ini, tidak hanya sebatas ini saja.


Saat ini Alberto, telah bersiap-siap akan pergi ke ruang permainannya itu untuk melihat bagaimana keadaan Martin, Gladys, dan Claire yang telah ditahannya itu.


" Aku pergi,," Bilang Alberto pada Ziya sambil mencium lembut bibir Ziya.


" Heemm,," Jawab Ziya mengangguk.


Pada saat Alberto membuka pintunya, Alberto melihat sudah ada Vena yang berdiri di depan pintu kamarnya. Ziya terkesiap kaget melihat Vena, yang sudah berdiri di depan kamarnya Alberto ini.


" Vena,," Ucap Ziya yang melihat Vena telah berdiri di depan kamar Alberto.


" Selamat pagi Tuan, Nyonya,," Bilang Vena yang menundukkan kepalanya memberi hormat pada Ziya dan Alberto.


" Heemm,," Jawab Alberto yang juga melihat Vena sudah ada di depan pintu kamarnya ini.


" Aku pergi,," Bilang Alberto yang mengecupi kening Ziya.


" Yah,," Jawab Ziya mengangguk dan tersenyum.


Setelah Alberto melangkahkan kakinya pergi dari kamarnya itu dengan segera Ziya mengajak Vena masuk ke dalam kamar pribadinya Alberto. Vena tersenyum lembut melihat tingkah laku Ziya yang terlihat sudah ceria dan bahagia saat ini, kemungkinan, Alberto sudah menceritakan siapa sebenarnya Alberto selama ini.


" Baik Nyonya,," Jawab Vena yang tersenyum melihat Ziya.


Setelah Ziya dan Vena masuk ke dalam kamarnya Alberto, seperti biasa Vena menutup pintu kamar pribadi Alberto itu. Lalu, Ziya melangkahkan kakinya menuju ke ruangan dimana Ziya meletakkan kertas undangan pesta itu, Ziya segera menunjukkan kepada Vena, karena, besok mereka akan pergi ke suatu tempat.


Vena melihat apa yang telah ditunjukkan Ziya padanya itu dan Vena membacanya, bahwa sepertinya Tuan Besar Alberto telah memberikan kebebasan pada Ziya seperti ini, pergi keluar untuk mendatangi sebuah pesta.


" Heemm,, Nyonya sepertinya ini undangan pesta di luar,," Tanya Vena setelah melihat undangan pesta yang ditunjukkan oleh Ziya.


" Dan, kau tahu Vena saat ini Alberto sudah bisa memberikan kebebasan padaku untuk pergi keluar,," Bilang Ziya yang merasa bangga.


Ya, pantas saja Ziya merasa bahagia, karena, saat ini Alberto sudah mempercayainya untuk melakukan apapun diluar dari rumahnya ini. Sehingga membuat Ziya merasa sangat yakin untuk membantu Alberto menyelesaikan masalahnya.


" Heemm, berarti sesuatu baik untuk Nyonya," Bilang Vena yang mengucapkan selamat untuk kebahagiaan Ziya saat ini.


" Ya, Vena,," Ucap Ziya tersenyum.


" Benar yang kau katakan, apabila aku menuruti perintahnya, maka aku akan merasa lega," Bilang Ziya lagi yang mengingatkan ucapan Vena.


Memang saat itu Vena mengingatkan Ziya untuk patuh dan taat dengan perintahan Alberto, sehingga membuat diri Ziya tidak merasa terkekang lagi dan bisa membuat Ziya merasa lega menjalani kehidupannya si tempat ini.


" Heemm,, ya Nyonya,," Jawab Vena yang tersenyum melihat wajah Ziya yang tersenyum lega.


" Oh ya, Vena, aku izinkan kau hari ini untuk istirahat terlebih dahulu, karena, kau baru kembali ke rumah, maka lebih baik kau istirahat dulu," Ucap Ziya yang menatap lembut wajah Vena.


Terlihat wajah Vena tidak lagi pucat seperti kemarin dan lebam di wajahnya sudah sedikit menghilang membuat Ziya merasa kasihan pada kehidupan Vena.


" Tapi Nyonya, Vena sudah benar-benar fit,," Jawab Vena serius dan jujur pada Ziya.


" Heeemm,, Vena aku tahu kalau tubuhmu sudah terlihat fit, tapi, aku izinkan kau untuk istirahat duku hari ini, karena, besok kau akan menjagaku lagi, kau kumpulkan dulu tenagamu, Vena,," Ucap Ziya yang menepuk bahu Vena lembut.


Karena, mendengar ucapan Ziya yang menyatakan bahwa Vena harus istirahat hari ini, membuat Vena terharu akan kebaikan Ziya padanya itu.


" Nyonya, terima kasih banyak, yang sudah baik pada Vena,," Ucap Vena yang merasa terharu akan sikap Ziya padanya.


" Heemmm,, ya Vena,," Jawab Ziya mengangguk.


" Vena maafkan aku saat itu, karena, tidak bisa membantumu,," Ucap Ziya yang menatap wajah Vena.


" Tidak Nyonya, Nyonya sudah banyak membantu Vena," Jawab Vena yang menundukkan kepalanya pada Ziya.


" Kau wanita baik, suatu saat kebahagiaan akan digapai olehmu Vena,," Ucap Ziya yang mendoakan kebaikan pada Vena.


Karena, mendengar ucapan Ziya yang mendoakannya itu, tanpa sadar Vena langsung memeluk tubuh Ziya. Membuat Ziya tersenyum akan kelakuan Vena ini.


" Terima kasih, Nyonya,," Bilang Vena yang memeluk tubuh Ziya.


" Iya, sama-sama, Vena,," Jawab Ziya yang menepuk lembut punggung Vena.


Setelah merasa bahwa Vena bersikap terlalu dekat dengan Ziya majikannya itu, Vena merasa malu dan segera melepaskan pelukannya pada Ziya.


" Maafkan saya, Nyonya,," Ucap Vena yang melepaskan pelukannya dari tubuh Ziya.


" Tidak apa-apa, Vena, tidak perlu sungkan denganku, anggap saja aku adalah saudaramu,," Bilang Ziya yang tersenyum melihat wajah Vena.


" Tidak Nyonya, Nyonya adalah tetap majikan terbaikku,," Bilang Vena yang merasa bahwa sifat Ziya terlalu baik padanya.


" Heeemm,, Vena hari ini aku izinkan kau untuk beristirahat di kamarmu dan jangan kemana-mana serta melakukan pekerjaan apapun,," Ucap Ziya yang memerintahkan Vena untuk kembali ke kamarnya lagi.


" Tapi, Nyonya,," Ucap Vena yang menyanggah perintahan Ziya.


" Tidak ada kata tapi-tapian,, ini perintah,," Bilang Ziya terlihat seperti ucapan Alberto yang sedang memerintahkan anak buahnya.


" Baiklah Nyonya,, terima kasih banyak,," Bilang Vena lagi yang segera membungkukkan tubuhnya menghormati Ziya.


" Heemmm,," Jawab Ziya yang tersenyum melihat kelakuan Vena.


Karena, mendengar perintahan dari Ziya, mau tidak mau Vena segera mengikuti perintahan itu.


Dengan segera Vena melangkahkan kakinya keluar dari kamar Alberto dan saat ini tinggalah Ziya sendiri di kamarnya. Setelah Vena keluar dari kamarnya, Ziya segera melangkahkan kakinya menuju ke ruangan khusus tempat tidur Alberto dimana, Ziya meletakkan beberapa helai daun yang diambilnya dari taman dekat danau itu.


" Aku akan segera meneliti ini, apakah aku bisa melakukannya lagi,," Ucap Ziya yang berbicara biasa saja di dalam kamar Alberto ini.


Lagian juga Alberto sudah mengetahui kemampuan yang dimilikinya untuk membuat sesuatu yang bermanfaat dan berharga yaitu racun pelindung diri.


Alberto yang telah melangkahkan kakinya menuju ke lantai bawah, segera masuk ke dalam ruangan dimana ia mengurung Martin selama ini, terlihat beberapa pengawal Alberto yang membuka pintu untuk Tuan Besarnya ini.


" Silahkan masuk, Tuan," Ucap pengawal pada Alberto.


" Heemmm,," Jawab Alberto yang hanya meletakkan jarinya pada sebuah mesin untuk membuka pintu ruangan yang menyekap Martin selama ini.


" Bagaimana dengan keadaan tawanan,," Tanya Alberto pada seorang pengawalnya.


" Sudah selesai kami pasangkan sistem yang telah diperintahkan oleh Tuan pada tubuhnya,," Jawab pengawal itu pada Alberto.


Pengawal Alberto ini sengaja diperintahkan olehnya untuk memasang suatu sistem kartu di dalam tubuh Martin, supaya kalau Martin kabur dengan mudah Alberto bisa melacak keberadaannya.


" Bagus," Ucap Alberto kepada pengawalnya itu.


" Apakah dia tahu kalian memasangnya ini,," Tanya Alberto pada pengawalnya itu.


" Tidak, Tuan,," Jawab pengawal itu dengan sangat yakin pada Alberto.


" Yakin," Tanya Alberto lagi yang menatap tajam wajah pengawal kepercayaannya itu.


" Yakin, Tuan,," Jawab pengawal itu dengan penuh semangat.


" Baik, aku ingin melihatnya,," Bilang Alberto yang memerintahkan kepada pengawalnya itu.


Alberto sengaja mengajak pengawalnya itu untuk membuktikan, apakah benar saat ini tubuh Martin sudah terpasang sistem pengintai darinya.


" Silahkan, Tuan," Ucap pengawal Alberto yang memberikan sebuah remote control untuk mengetahui dimana keberadaan Martin saat ini.


Alberto segera melihat hasil dari sistem kartu pengintai yang dipasangkan oleh pengawalnya itu tepat di selipkannya di bagian kepala Martin yang terbuka karena terluka akan pukulan keras dari Ziya saat kejadian itu. Dan, ternyata benar bahwa alat sistem pengintai sudah dipasang dengan sempurna.


" Bagus, aku suka hasil kerja kerasmu,," Ucap Alberto yang memuji kehebatan dari pengawalnya itu.


" Terima kasih, Tuan,," Jawab pengawal itu yang membungkukkan tubuhnya memberi hormat pada Alberto.


Sungguh pintar sekali, Alberto memilih tempat yang tidak diketahui oleh sang penerima alat sistem pengintai itu. Sehingga sampai saat ini, Martin tidak mengetahui bahwa di dalam tubuhnya sudah terpasang chip pengintai yang telah diperintahkan Alberto kepada anak buah handalnya itu.


****