Mafia And Angel

Mafia And Angel
Bag. 102 - Penjelasan Tentang Martin



Karena, mendengarkan ucapan Ziya yang menyatakan Martin bahwa tidak mungkin hanya kalau sekedar kemungkinan, bisa jadi memang Martin sengaja untuk melakukan rencananya itu. Lalu, Alberto segera mengalihkan kembali ucapannya dengan menceritakan hal lain jadi tujuan Martin yang berada di kamarnya. Alberto segera menyambungkan pembicaraannya mengenai Martin, kenapa, saat itu Martin mencelakakan Ziya.


" Ya, pastinya dia memiliki rencana lain, terutama, karena, melihat kau yang terbaring lemah, oleh sebab itu, dia langsung mencelakakan dirimu,," Bilang Alberto yang membuat Ziya terperangah.


" Betul sekali,," Ucap Ziya yang merasa bahwa penjelasan dari Alberto sangat benar.


" Tapi, Alberto aku masih bingung dengan hasil bukti yang telah kau dapatkan, apakah benar itu semuanya teridentifikasi dari tubuhnya." Tanya Ziya lagi pada Alberto.


Alberto segera menjawab pertanyaan Ziya yang terus menerus menanyakan bagaimana Alberto bisa tahu bahwa hasil dari bukti jejak yang ia dapatkan adalah bukti jelas dan teridentifikasi dari tubuh Martin.


" Akan aku jelaskan, bagaimana aku bisa menetapkan Martin seorang, pelaku mutlak yang mencelakakan dirimu," Ucap Alberto yang memulai lagi untuk memberikan penjelasan pada Ziya.


" Karena, saat dia masuk ke dalam kamar ini, dia tahu kalau kamar ini memiliki sistem pengamanan yang begitu banyak, oleh sebab itu dia mulai beraksi untuk menghancurkan semua sistem keamanan yang terlihat oleh matanya. Saat itu ia merasa senang setelah selesai menghancurkan dan meretas semua sistem keamanan di kamar ini,," Ucap Alberto serius dengan tatapan wajah Ziya yang begitu serius sekali mendengarkannya.


" Tapi, bodohnya dia, dia tidak mengetahui bahwa di kamar pribadi kita ini memiliki suatu sistem lain yang tidak terlihat oleh matanya." Jelas Alberto yang membuat Ziya terperangah.


Ziya berpikir ternyata Alberto sungguh pintar dalam membuat sistem keamanan. Dan, bahkan sistem keamanan itu sama sekali tidak diketahui oleh siapapun.


" Dan bahkan aku juga tidak mengetahuinya,," Ucap Ziya yang merasa bahwa selama ini dia seringkali mendengus kesal apabila Vena menyebut nama Alberto.


Alberto hanya sedikit menaikkan ujung bibirnya mendengar ucapan Ziya yang juga tidak mengetahui adanya sistem pengamanan lain yang tidak diketahui oleh siapapun.


" Oleh sebab itu semua rekam jejak tubuhnya sudah ku dapatkan hari itu juga," Jawab Alberto tersenyum.


" Dan, saat ia melihat kau telah terbaring lemah di atas lantai, oleh sebab itu, dia segera mencari kesempatan untuk memper-kosa dirimu dalam beberapa keberuntungan rencananya,," Ucap Alberto pada Ziya yang mengakhiri perkataannya.


" Ooohhh,, jadi seperti itu, maksud Vena,," Jawab Ziya sambil mengangguk seakan mengerti akan penjelasan dari Ziya.


" Tapi, aku cukup beruntung, disaat itu aku percaya bahwa kau akan menyelamatkanku Alberto,," Ucap Ziya menatap lembut wajah Alberto.


Alberto tersenyum senang saat mendengar ucapan Ziya yang mengatakan bahwa saat itu ia percaya Alberto akan menyelamatkannya.


" Kenapa kau bisa berpikir seperti itu, sayanggg,," Tanya Alberto lembut sambil menciumi bahu Ziya.


" Karena, aku yakin kau akan datang menyelamatkanku,," Jawab Ziya yang menyunggingkan senyumannya menatap wajah Alberto.


Mendengar ucapan Ziya Alberto dengan segera mengecup lembut kening Ziya.


Ziya merasa bahwa tubuhnya sudah lama berendam di dalam bathtub, sehingga membuat dirinya untuk bangkit dan keluar dari bathtub dan menyelesaikan mandinya saat ini juga.


" Alberto, aku sudah dingin,," Ucap Ziya yang bergerak dari bathtub.


" Heemmm,, kita selesaikan mandinya dulu sayang, setelah itu kita sarapan bersama,," Ucap Alberto yang juga bergerak keluar dari bathtub.


" Heemm,," Jawab Ziya mengangguk.


Dengan segera Ziya beranjak keluar dari bathtub sekarang sedang berdiri tepat di bawah pancuran shower. Alberto dengan sigap tegak berdiri tepat di belakang Ziya. Terlihat tubuh Ziya yang begitu indah di bawah shower saat ini, ingin sekali rasanya Alberto melakukannya lagi pada Ziya, tapi, Alberto tahu bahwa Ziya sepertinya belum siap melakukannya lagi.


Hehehehe,, sabar Alberto 🤩


Masih banyak waktu senggang lainnya.


Setelah selesai mandi bersama saat ini, Ziya sedang memakai jubah handuknya dan segera melangkah keluar dari kamar mandi, sementara itu, Alberto sendiri mengelap tubuhnya menggunakan handuk mandi. Walaupun Alberto sudah mandi sebelum ia mandi bersama dengan Ziya. Alberto merasa bahwa jika mandi bersama Ziya akan terasa momennya lebih indah dilakukan.


Alberto melihat rambut Ziya yang terurai basah dan air di rambutnya itu menetes kemana-mana, membuat Alberto segera mengambil handuk untuk mengeringkan rambutnya Ziya. Saat Alberto meletakkan handuk di rambutnya Ziya, Ziya tersenyum menerima perlakuan dari Alberto.


" Ternyata dia juga memiliki sisi lembutnya,," Gumam Ziya dalam hati sedikit tersenyum merasakan perlakuan lembut dari Alberto untuknya.


" Kenapa, Zoya tidak bisa bertahan untuk selalu disisinya, sedangkan, perlakuannya juga bisa lembut terhadap wanita, walaupun dia bekerja dalam dunia hitam." Gumam Ziya dalam hati sambil memandang wajah Alberto dalam pantulan cermin yang ia lihat saat ini.


Alberto mengetahui bahwa Ziya seperti sedang menatap dirinya, tapi, Alberto tidak mengetahui apa yang ada dalam pikiran Ziya saat ini. Sebenarnya, Alberto ingin sekali mengagetkan pandangan Ziya terhadap dirinya, namun hal itu diurungkannya, karena, ia ingin melihat berapa lama Ziya menatap wajahnya itu.


" Tapi, Paman Erwin sendiri yang mengatakan bahwa Alberto sama sekali tidak memperhatikan dan memperdulikan kehadiran Zoya, selama Zoya tinggal disini,," Pikir Ziya lagi saat mengingat ucapan dan perkataan yang disampaikan oleh Erwin padanya dulu.


Erwin pernah menyampaikan pada Ziya, sebenarnya Alberto sama sekali tidak pernah memperdulikan kehadiran Zoya di sisinya. Tapi, kelakuan dan sikap Alberto padanya sungguh berbeda, dari awal saat ia masuk ke dalam kediaman ini, Alberto memang telah memperdulikan dirinya. Walaupun disaat itu, Alberto belum mengetahui apa dan siapa Ziya sebenarnya.


" Mungkin juga benar, yang disampaikan Paman, bahwa Alberto memang tidak memperdulikan kehadiran Zoya,, tapi apa bedanya aku dan Zoya," Pikir Ziya dalam hati sambil memandang wajahnya sendiri.


" Eemmm,, sepertinya, Alberto mulai memperhatikan dan memperdulikan kehadiranku, semenjak diriku memberanikan diri untuk mengakui identitasku yang sebenarnya." Ucap Ziya lagi dalam hati sambil mengulas sedikit senyumannya.


Bukan hanya Ziya yang sedang berpikir sesuatu tentang kelakuan Alberto terhadap dirinya, melainkan Alberto juga memikirkan tentang Ziya yang selalu memandangnya itu.


" Heemm,, dia sedang memikirkan apa,, kenapa semakin lama semakin membuatku penasaran,," Tanya Alberto dalam hati yang menerka lamunan Ziya saat ini.


Karena, tidak tahan lagi melihat tingkah laku Ziya yang melamunkan dirinya itu, secara tiba-tiba Alberto mengagetkan sikap dan kelakuan Ziya yang tersenyum-senyum sendiri menatap wajahnya.


" Ada apa,," Tanya Alberto yang mengagetkan Ziya.


Sesaat lamunan Ziya sedikit buyar ketika dirinya sedang menatap Alberto, karena, dengan sengaja Alberto telah mengagetkan dirinya.


" Hah! apa,?" Tanya Ziya balik yang terkejut mendengar suara Alberto yang mengagetkannya.


" Kau sedang melamunkan apa,," Tanya Alberto yang melingkarkan tangannya di bagian perut Ziya.


" Tidak ada,," Jawab Ziya singkat pada Alberto.


" Heemm,, benarkah,," Tanya Alberto seakan tidak percaya pada ucapan Ziya.


" Ya, Alberto aku lapar mari kita sarapan,," Ucap Ziya yang mengalihkan pembicaraannya.


Alberto tersenyum melihat keadaan Ziya saat ini, karena, Ziya belum menggantikan pakaiannya tapi sudah ingin mengajak dirinya sarapan, terlihat sekali bahwa Ziya sedang mengalihkan pembicaraannya itu.


" Heh! Ziya Ziya aku tahu kalau kau sedang memikirkan sesuatu dan terlihat sekali bahwa kau sudah mengalihkan pembicaraanmu padaku,," Gumam Alberto tersenyum simpul melihat kelakuan Ziya yang begitu terlihat sekali amatiran dalam bersandiwara untuk mengalihkan pembicaraannya.


" Kau saja belum menggantikan bajumu,, mau sarapan seperti itu,," Ucap Alberto pada Ziya.


Karena, mendengar ucapan Alberto seperti itu Ziya merasa bahwa dirinya telah ketahuan mengalihkan pembicaraannya tadi. Akhirnya Ziya hanya bisa nyengir sendiri merasa malu atas ucapan Alberto terhadapnya.


" Hehehe,, sebentar aku ganti baju dulu,," Ucap Ziya yang mulai membuka lemari pakaian dan mengambil baju selera hatinya hari ini.


" Heemm, aku tunggu di luar,," Jawab Alberto seraya keluar dari ruang pakaian miliknya dan juga milik Ziya.


Setelah mendapatkan dress yang cukup indah dengan segera Ziya menggantikan pakaiannya. Lalu, memoleskan sedikit make up di wajahnya dan menyisir rambutnya sendiri menggunakan alat penyisir rambut yang bisa segera mengering rambut.


Setelah selesai, Ziya keluar dari ruangan itu dan mencari keberadaan Alberto. Saat kaki Ziya melangkah dengan perlahan-lahan, Ziya melihat Alberto sedang duduk di sofa bagian luar tempat tidurnya.


" Heemm,, ternyata dia disana,," Ucap Ziya tersenyum seraya melangkahkan kakinya menuju ke arah Alberto.


Ternyata Alberto menunggu dirinya disana.


Tapi, Ziya melihat bahwa di atas meja sudah banyak sekali makanan yang telah dihidangkan.


" Kenapa, makanannya banyak sekali disini,," Gumam Ziya dalam hati merasa heran melihat makanan yang banyak sekali tertata rapi di atas meja.


Ziya bingung kenapa banyak sekali makanan di atas meja ini. Bukannya setiap pagi Alberto sarapan bersama dengan keluarga besarnya. Tapi, kenapa hari ini Alberto sengaja sarapan di kamar ini. Ziya merasa heran, kemana orang-orang.


" Kenapa, Alberto mengajakku sarapan disini, kemana Grandma, Alexa, Isabelle dan Krystal,," Gumam Ziya dalam hati menghitung jumlah orang di dalam rumah tanpa memikirkan dua wanita yang tidak jelas baginya itu.


" Dan Demian, Demian dimana ?" Tanya Ziya sedikit merasa khawatir, kenapa hari ini dirinya belum bertemu dengan Demian.


Alberto yang telah melihat Ziya sedang berdiri tidak jadi dari hadapannya itu, segera memanggil Ziya untuk duduk di dekatnya.


" Kemarilah,," Panggil Alberto dengan melambaikan tangannya pada Ziya.


Ziya segera melangkahkan kakinya menuju ke arah Alberto yang memanggilnya itu. Setelah mendekati keberadaan Alberto, Alberto memerintahkan Ziya untuk duduk di sampingnya. Lalu, setelah duduk di samping Alberto, Ziya segera menanyakan dimana keberadaan Demian.


" Makanlah,," Tawar Alberto pada Ziya, sambil meletakkan makanan tepat di hadapan Ziya.


" Heemm, terima kasih,," Jawab Ziya singkat.


Lalu, dengan cepat Ziya menanyakan dimana keberadaan Demian, kenapa semenjak dia bangun. Dia sama sekali belum bertemu dengan Demian.


" Alberto, Demian dimana,?" Tanya Ziya menatap serius wajah Alberto.


" Sekarang, sudah jama berapa, sayang,," Tanya Alberto balik pada Ziya.


Mendengar ucapan Alberto yang menanyakan jam dengan segera Ziya menoleh ke arah jarum jam di tangannya.


Sudah menunjukkan angka lewat dari jam delapan.


Ziya sedikit tersenyum, seakan mengerti maksud dari Alberto.


" Hehehe,, Demian pasti sudah pergi sekolah ya,," Ucap Ziya yang menahan tawanya.


" Heemm,," Jawab Alberto mengangguk.


" Tapi, pagi tadi sebelum kau bangun, apa kau tidak merasakan bahwa Demian memeluk dan menciummu,," Ucap Alberto pada Ziya menjelaskan kelakuan Demian sebelum pergi ke sekolah.


Ziya sedikit menoleh ke arah Alberto dan menatapnya.


" Tidak,, aku tidak merasakannya,," Jawab Ziya sambil menggelengkan kepalanya.


" Heeh!! apakah percintaan yang kita lakukan semalam terlalu melelahkan," Goda Alberto pada Ziya.


" Hingga kau tidur nyenyak, tanpa mengetahui adanya Demian disampingmu," Ucap Alberto pada Ziya.


Ziya yang merasa bahwa ucapan Alberto memang betul sekali, perlakuan Alberto padanya malam tadi, begitu sangat melelahkan tubuhnya, hingga ia sendiri tidak sadar bahwa Demian mengunjungi dirinya dan mencium serta memeluk tubuhnya.


" Jadi, Demian sudah datang pagi ini, tapi, aku sama sekali tidak menepati janji padanya, aku merasa berbohong pada Demian, bahwa seharusnya malam tadi aku tidur dengannya,," Ucap Ziya yang merasa bahwa dirinya telah mengingkari janjinya pada Demian.


" Heemm,, Demian sangat mengerti orang tuanya,," Jawab Alberto penuh tanda tanya, yang membuat Ziya segera menoleh ke arah Alberto.


Saat Ziya menoleh ke arah Alberto, dengan segera Alberto menyuruh Ziya untuk menyantap sarapan paginya ini.


" Ya sudah makanlah,," Tawar Alberto pada Ziya dan hanya dibalas dengan anggukan dari Ziya.


Ziya pun dengan segera menyantap sarapan paginya, di sela sarapan paginya Ziya ingin sekali bertanya kenapa mereka tidak sarapan bersama keluarga pagi ini.


" Alberto, kenapa kita sarapan disini ?" Tanya Ziya di sela sarapannya.


" Karena semua orang sedang tidak ada di rumah." Jawab Alberto santai.


Ziya seakan tidak mengerti ucapan dari Alberto.


" Maksudnya,," Tanya Ziya lagi pada Alberto.


" Grandma dan Alexa sedang pergi keluar negeri,," Jawab Alberto santai terhadap Ziya.


Mendengar jawaban Alberto yang mengatakan bahwa Grandma dan Alexa sedang berada di luar negeri, Ziya mengangguk seolah mengerti.


" Tapi, kemana yang lainnya apakah juga ikut keluar negeri,," Pikir Ziya dalam hatinya.


" Terus Krystal dan Isabelle sudah pergi ke sekolah ?" Tanya Ziya lagi pada Alberto.


" Heeemm,," Jawab Alberto singkat.


Terlihat sekali bahwa Alberto tidak memperdulikan adanya kedua putrinya itu.


" Heemm, Alberto sepertinya juga tidak memperdulikan kedua putrinya." Gumam Ziya dalam hati melihat reaksi jawaban Alberto yang biasa-biasa saja.


Berbeda dengan Demian, perhatian Alberto sungguh terlihat sekali di matanya. Tapi, dengan kedua putrinya itu, Alberto sama sekali tidak memperdulikan keberadaanya.


" Lain halnya dengan Demian, apa karena, Demian adalah putra kandungnya sendiri, sedangkan, kedua putrinya itu hanya sekedar anak perempuan." Gumam Ziya dalam hati sedikit heran akan sikap Alberto terhadap kedua putrinya itu.


" Baiklah, jika tidak ada yang bisa mendidik dan menuntun kedua putrimu itu, Alberto, biarkan aku yang akan mengurus dan mendidiknya, biar mereka tahu bagaimana seharusnya menjadi seorang anak perempuan dari Daddy seperti dirimu, Alberto." Ucap Ziya dalam hati yang bertekad untuk mencoba mendekati kedua putri Alberto.


" Walaupun Daddy mereka seorang mafia dan tidak memperdulikan mereka, tapi, aku ingin mereka mendapatkan kasih sayang dari seorang Mommy yang mungkin mereka tidak rasakan, baik, aku akan coba untuk melakukan ini pada mereka berdua,," Ucap Ziya dalam hati sambil tersenyum senang karena, dirinya telah merencanakan sesuatu yang baik akan kedua putri dari Alberto.


Untuk sesaat Ziya berencana mendekati kedua putri Alberto, Ziya merasa kasihan kepada sikap dan perilaku kedua putri Alberto yang kedua-duanya sama sekali tidak memiliki atitude yang baik sebagai seorang anak perempuan.


****