
Setelah mengetahui jawaban dari Axeloe yang terdengar begitu dingin sekali, sehingga hal itu membuat Vena tidak berani lagi untuk bergerak apalagi membuat pertanyaan kembali kepada Axeloe. Dalam beberapa menit Alberto berada diluar ruangan dari kamarnya Ziya, yang masih disibukkan dengan panggilan dari Zavier tiba-tiba tubuh Ziya bergetar dan mengeluarkan keringat yang begitu banyak sekali dari tubuhnya.
" Oh My God, apa yang terjadi dengan Nyonya !" Ucap Vena spontan ketika melihat reaksi tubuh Ziya yang seketika mendadak gemetar dan mengeluarkan keringat dingin.
Sehingga hal ini membuat Vena kaget dan langsung melompat menaiki tempat tidur Ziya, sedangkan Axeloe sama sekali tidak menghiraukan kelakuan Vena yang begitu jelas sekali terlihat bahwa ia sangat panik melihat keadaan tubuh Ziya seperti saat ini.
Dengan wajah santainya dan masih tetap fokus meneliti tubuh Ziya atas obat yang telah dimasukkan. Sambil meminta sebuah alat kepada Vena, Axeloe mulai memeriksa mata Ziya dengan menggunakan alat penerangan yang lebih jelas.
" Ambilkan, senter mata,," Ucap Axeloe yang memerintahkan Vena.
" Hah, baik Tuan,," Jawab Vena dengan segera turun dari tempat tidur dan mengambil alat yang dimaksud di tempat semua alat Axeloe yang terletak di dekat meja.
Sambil menunggu Vena mengambil alat yang dibutuhkannya itu, Axeloe sendiri tetap memeriksa keadaan tubuh Ziya. Tubuh Ziya saat ini memang begitu terlihat dengan jelas dalam kondisi gemetaran dan mengeluarkan keringat dingin yang begitu banyak.
Namun, Ziya sama sekali tidak mengetahui apa yang sedang terjadi pada tubuhnya. Yang diketahui Ziya saat ini adalah Ziya melihat dan merasakan begitu jelas sekali bagaimana kehidupannya dahulu saat usianya masih belia dimana saat itu ia sedang melanjutkan pendidikannya di luar negeri dan Ziya juga merupakan salah satu mahasiswa tercerdas di kampusnya.
" Yess,, akhirnya aku bisa berhasil mendapatkan nilai sempurna,," Seru Ziya kegirangan setelah mendapatkan sebuah kertas hasil dari nilai pendidikan yang ia lakukan di sebuah universitas luar negeri.
Karena, sudah mendapatkan sebuah hasil yang begitu memuaskan dan juga sempurna itu, pulang dari kampusnya Ziya langsung menelepon kedua orang tuanya untuk memberitahukan apa yang telah ia dapatkan selama ia menempuh pendidikan di kampusnya saat ini.
" Aku harus menelepon Mama, supaya Mama dan Papa bahagia,," Gumam Ziya tersenyum bahagia sambil mengeluarkan ponsel dari dalam tasnya.
Setelah mendapatkan ponsel dalam tasnya itu, sambil bersantai ria di atas sofa yang ada di dalam apartemen kecil yang telah diberikan pihak kampus untuk mahasiswi tercerdas seperti Ziya, di atas sofa itu juga Ziya merebahkan tubuhnya sambil menelpon orang tuanya yang tempat tinggalnya cukup jauh dari Ziya.
" Heemmm kenapa tidak diangkat,," Gumam Ziya setelah melakukan panggilan telepon pertama kepada Zalina.
Satu panggilan yang dilakukan oleh Ziya belum diterima oleh Mamanya yaitu Zalina. Dan seperti biasa Ziya selalu memanggil kembali panggilannya terhadap Zalina, karena, ia tahu sesibuk apapun Mamanya pasti akan selalu menerima telepon darinya.
Panggilan kedua akhirnya diterima oleh Mamanya secara langsung.
" Halo, Mama,," Ucap Ziya dengan suara girangnya.
" Iya sayang, maaf jika mama lama,," Jawab Zalina dengan suara penuh kerinduan terhadap putrinya Ziya.
" Heemmm tidak apa-apa, Ma,," Bilang Ziya dengan suara begitu hangat hingga dapat menyejukkan hati Zalina.
" Apa Papa, ada Ma ?" Tanya Ziya langsung kepada Zalina.
" Ada, sayang ini Papa lagi di samping Mama,," Jawab Zalina memberitahukan keadaan yang sebenarnya kepada putrinya Ziya.
" Apakah sayang baik-baik saja disana ?" Tanya Zalina lagi kepada Ziya.
" Iya Ma, Ziya baik-baik saja disini," Jawab Ziya sambil melebarkan senyumannya ketika mendengarkan suara kekhawatiran yang selalu ditimbulkan oleh Zalina jika Ziya sedang meneleponnya.
" Apa Sayang ?" Tanya Zalina dan James berbarengan.
" Hehehehe, Mama dan Papa romantis sekali, ungkapan rasa penasarannya bersamaan,," Ucap Ziya dengan suaranya yang sengaja meledek kedua orang tuanya.
Dan terdengar bahwa saat ini Zalina dan James sedang tertawa bersama ketika mendengar ledekan yang diungkap oleh Ziya. Setelah tertawanya mereda barulah Zalina bertanya kembali pada Ziya suatu hal apa yang ingin diberitahukan oleh Ziya kepada mereka.
" Hehehehe, apa sayang ?" Tanya Zalina dengan suara yang terdengar begitu bahagia ketika mendengarkan suara bahagia dari putrinya.
" Coba tebak, apa yang ingin disampaikan oleh Ziya ?" Tanya Ziya secara tidak langsung memberikan sebuah pertanyaan balik pada orang tuanya.
" Heeemmm, Mama dan Papa tidak tahu sayang, apa itu ?" Tanya Zalina lagi pada Ziya dengan suara penasaran.
" Congratulations Mom, Dad, Ziya menjadi mahasiswi terbaik semester ini,," Ucap Ziya dengan suara penuh kegirangan di dalam teleponnya itu.
" Waahhh selamat sayang, Mama dan Papa senang mendengarnya,," Suara Zalina yang terdengar begitu bahagia sekali dari dalam teleponnya Ziya saat ini.
" Dan Ziya masih tetap bisa menempati apartemen ini, Ma,," Sambung Ziya lagi memberitahukan suatu hal yang benar kepada orang tuanya.
" Wah, Mama dan Papa senang mendengarnya sayang, kamu di sana tetap jaga diri, jaga kesehatan, jangan lupa untuk selalu makan dan beristirahat tepat waktu sayang,," Bilang Zalina memberikan sebuah pesan kepada Ziya.
" Tentu Ma, nasihat Mama dan Papa selalu Ziya ingat dan selalu Ziya tanamkan dalam hati,," Jawab Ziya sambil tersenyum dan masih berguling ria di atas sofa.
" Sayang, Papa mau bicara,," Ucap Zalina setelah mendengar suara kegembiraan dari Ziya.
" Iya Ma,," Jawab Ziya mengangguk sendiri seolah memang sedang berbicara dengan kedua orang tuanya secara bertatapan langsung.
" Ziya, Papa cuma mau kasih pesan, selalu jaga diri, jaga kesehatan dan jangan lupa untuk selalu berhati-hati kemanapun Ziya akan pergi, karena, Ziya jauh dari penjagaan Papa, ingat itu nak,," Ucap James memberikan sebuah nasihat kepada Ziya.
" Baik Pa, Ziya selalu ingat akan pesan dan nasihat dari Papa, karena, pesan dari Papa dan Mama selalu Ziya tanam dalam keseharian Ziya,," Jawab Ziya dengan lembut terhadap Papanya.
" Jangan lupa juga Papa dan Mama selalu jaga kesehatan, selalu jaga cinta Mama dan Papa ya, Ziya sayang Mama dan Papa,," Bilang Ziya lagi pada James yang mendengarkan ucapan darinya.
" Iya putriku, Papa akan selalu menjaga Mamamu ini,," Ucap James yang terdengar sedang memberikan sebuah kecupan pada Zalina dan pastinya Ziya tersenyum senang ketika mendengarkan kemesraan yang terjadi di antara kedua orang tuanya itu.
" Heemm, so sweet, Ziya senang sekali mendengarnya,," Celetuk Ziya ketika mendengar suara kecupan orang tuanya.
Dan disaat Ziya sedang bersantai ria menelepon kedua orang tuanya itu, tiba-tiba terdengar suara bel menandakan bahwa saat ini di luar apartemennya kedatangan seseorang yang sedang mengunjunginya.
****