
Dalam seketika Ziya tidak sadar bahwa Alberto sudah berada di belakangnya. Dan. dalam satu gerakan cepat Alberto sudah menggendong Ziya saat ini. Ziya terkesiap saat tubuhnya sudah digendong oleh Alberto.
" Aaakkkhh,, Alberto apa yang kau lakukan,," Teriak Ziya kaget dengan gerakan Alberto yang segera menggendong tubuhnya itu.
Dengan senyuman nakalnya Alberto segera menjawab pertanyaan Ziya.
" Tentunya membawamu ke angkasa dan menuju ke surga,," Jawab Alberto yang segera membawa Ziya pergi dari kamar Demian.
" Aaakkkhh, Alberto turunkan aku,, aku malu,," Ucap Ziya yang meronta-ronta dalam gendongan Alberto saat ini.
Alberto sama sekali tidak mendengarkan teriakan Ziya, bagi, Alberto membawa tubuh Ziya seperti ini merupakan sebuah tindakan yang cukup bagus baginya. Masa bodoh Ziya teriak meronta-ronta, yang terpenting hasrat dirinya mendapatkan kehangatan dalam tubuh Ziya terpenuhi.
" Kau malu dengan siapa,," Tanya Alberto yang menggendong tubuh Ziya seperti membawa seorang pengantin wanita ke kamar pengantin membuat Ziya berwajah merah tersipu malu atas pertanyaan Alberto itu.
" Pengawal mu banyak yang lihat Alberto, Alberto turunkan aku,," Ucap Ziya sekali lagi tapi masih saja Alberto tidak menghiraukannya.
Saat ini Alberto sudah melangkah keluar dari kamar Demian, dan melangkahkan kakinya menuju kamarnya sendiri. Ziya terlihat menyembunyikan wajahnya di dada Alberto, merasa malu karena, saat ini banyak sekali pengawal Alberto yang melihat kelakuan Alberto itu.
" Iiihhh,, Alberto apa yang sedang kau lakukan, bagaimana aku nanti, mau taruh dimana wajahku,," Gumam Ziya dalam hati sambil menyembunyikan wajahnya tepat di dekat dada Alberto.
Ziya pura-pura tidak melihat semua pengawal yang sedang menyapa Alberto, dengan sengaja Alberto memelankan langkah kakinya agar semua pengawal bisa melihat kelakuannya ini.
Dan dengan sengaja juga Alberto menitipkan pesan pada Melly Baby Sitter Demian supaya bisa menjaga Demian dengan aman.
" Melly jaga Putraku, jika Demian menangis mencari Mommy nya segera hubungi aku,," Ucap Alberto yang memberikan perintah pada Melly.
" Aduuhhh, ada Melly lagi, dasar Alberto memang sengaja mempermalukan aku,," Umpat Ziya dalam hatinya, ingin sekali Ziya menggi-git dada Alberto tapi dia tidak bisa melakukannya karena, dia juga sedang berpura-pura tidur dalam gendongan Alberto saat ini.
" Baik Tuan,," Jawab Melly yang segera masuk ke dalam kamar Demian.
Setelah merasa bahwa keadaan cukup aman, Ziya segera mendongakkan kepalanya dan membuka kedua bola matanya.
" Kenapa lama sekali,, kau sengaja mempermalukan aku,," Ucap Ziya yang merasa kesal pada Alberto yang sengaja memelankan langkah kakinya.
Mendengar ucapan Ziya ini, Alberto merasa bahagia ternyata Ziya memberikan kode untuknya agar segera masuk ke dalam kamar.
" Apa sayang, kau ingin kita cepat masuk ke kamar dan melakukannya,," Jawab Alberto yang menerka kehendak Ziya.
" Baik, aku akan mempercepat langkahku, dan kita akan segera melakukannya,," Bilang Alberto lagi yang tersenyum menatap wajah Ziya.
Karena, mendengar ucapan Alberto yang salah menerka maksud perkataannya itu, membuat Ziya merasa semakin malu, karena, jawaban yang diucapkan Alberto padanya. Pastinya semua pengawal mendengar ucapan Alberto itu, karena, memang terdengar Alberto sengaja membesarkan volume suaranya supaya bisa terdengar oleh siapapun.
" Eeehhh,, bukan begitu maksudku,," Jawab Ziya yang merasa bahwa Alberto sengaja menjawab pertanyaannya seperti itu.
Namun, Alberto tidak menghiraukan ucapan Ziya sedikitpun baginya saat ini langkah kakinya harus segera sampai ke dalam kamarnya dan segera melahap habis tubuh Ziya.
Saat tiba di depan pintu kamarnya, semua pengawal Alberto menundukkan kepalanya pada Tuan Besarnya itu, sementara itu Alberto segera membukakan pintu dan membawa masuk tubuh Ziya. Memang Ziya sengaja menutup matanya saat terlihat adanya pengawal yang mereka lewati itu, karena, Ziya tidak mau menahan malu atas perbuatan Alberto ini pada dirinya.
" Akhirnya kita sampai sayang,," Ucap Alberto yang membisikkan ucapannya tepat di telinga Ziya.
Karena, mendengar ucapan Alberto yang menyatakan dirinya sudah sampai di kamar, dengan segera Ziya membuka matanya. Setelah terbuka, ternyata benar keadaan saat ini adalah keadaan di dalam kamar Alberto. Ziya meminta turun dari gendongan Alberto tapi masih saja Alberto tidak menurunkannya.
" Turunkan aku, Alberto,," Pinta Ziya memelas menatap wajah Alberto.
" Tidak akan, sebelum sampai di tempat tidur, kau tidak akan aku turunkan,," Jawab Alberto yang bersikeras tetap menggendong tubuh Ziya.
" Memangnya kenapa kau takut aku menolak keinginanmu,," Tanya Ziya menatap serius wajah Alberto.
Alberto terlihat menggelengkan kepalanya.
" No,," Jawab Alberto singkat.
" Lalu, Kau takut aku lari,," Tanya Ziya lagi sambil menyelidiki wajah Alberto.
" No,," Jawab Alberto sambil menggelengkan kepalanya.
Karena, tidak sabar mendengarkan ucapan yang serius dan jujur dari Alberto, akhirnya Ziya meninggikan sedikit volume suaranya.
" Lalu, apa,?" Tanya Ziya lagi dengan meninggikan volume suaranya.
Alberto yang melihat wajah Ziya begitu cantik sekali, terlihat begitu menggemaskan sekali, Alberto dengan segera menutup mulut Ziya dengan bibirnya. Supaya Ziya tidak lagi memberikan pertanyaan untuk menurunkan tubuhnya itu.
CUP !!??
" Uuummppp Alberto,," Suara Ziya terakhir terdengar sebelum bibirnya dicium oleh bibir Alberto.
Tangan Ziya terlihat sedang memukul-mukul lembut dada Alberto, ingin menolak ciuman tiba-tiba yang dilakukan Alberto padanya. Namun, apa boleh buat bibirnya saat ini sudah terbuai oleh keindahan dan kenikmatan yang telah diberikan Alberto padanya. Alberto tahu bahwa tangan Ziya merespon seperti itu melainkan sikap manja seorang wanita yang mendapatkan perlakuan lembut dari pasangannya.
Di dalam langkah kakinya itu, Alberto masih saja menautkan bibirnya pada bibir Ziya, malah saat ini Ziya membuka mulutnya dan membiarkan lidah Alberto membelit lidahnya itu, karena, bagi Ziya ciuman dari Alberto begitu memabukkan yang ia rasakan saat ini, belitan indah dari lidah Alberto membuat Ziya membalas ciuman yang diberikan Alberto ini.
Alberto merasa bahwa saat ini Ziya sudah bisa berciuman mesra dengan dirinya. Seperti saat ini Ziya melingkarkan kedua tangannya pada leher Alberto karena, dengan sengaja menahan kepala Alberto supaya tidak melepaskan ciumannya itu. Alberto pastinya begitu menyukai sikap Ziya yang membalas kelakuannya ini.
Setelah sampai di ruang tempat tidur pribadinya, Alberto dengan segera menekan tombol alarm pengaman kamarnya dan menutup semua tirai jendela yang ada serta menutup semua pintu di ruang pribadinya ini, Ziya tidak tahu apa yang telah Alberto lakukan, karena, saat ini Ziya hanya terbuai akan indahnya bibir Alberto yang melekat dengan bibirnya itu.
Setelah selesai melakukan semuanya, Alberto melangkahkan kakinya menuju ke atas tempat tidurnya dan meletakkan tubuh Ziya dengan lembut di atas tempat tidur. Ziya baru tersadar saat tubuhnya udah berada di atas tempat tidur. Dan, karena merasa tubuhnya sudah berada di atas tempat tidur, Ziya akhirnya membukakan kedua bola matanya yang telah ia tutup sedari tadi sembari menikmati indahnya belitan lidah yang dilakukan Alberto padanya.
" Sayang, buka matamu,," Ucap Alberto lembut yang menatap wajah Ziya dengan tatapan rasa sayangnya.
Mendengar ucapan Alberto seperti itu, dengan perlahan Ziya segera membuka kedua matanya. Saat mata Ziya terbuka yang ada tepat di depan pandangannya adalah wajah tampan Alberto yang menatapnya dengan penuh kelembutan. Ziya menelan salivanya saat melihat wajah Alberto yang begitu indah di matanya.
" Sayang, kenapa, aku tidak mau menurunkan tubuhmu, saat kita sampai di kamar,," Ucap Alberto lembut menatap wajah Ziya.
" Kenapa,?" Tanya Ziya dengan suaranya sedikit serak
" Aku tidak menghargai dirimu,," Ucap Alberto lagi sambil menyentuh lembut mata Ziya.
" Aku tidak menghargai ketulusanmu, untuk melayaniku,," Ucap Alberto lagi sambil membetulkan rambut halus di wajah Ziya.
" Aku telah memperlakukan tubuhmu dengan kasar,," Bilang Alberto lagi sambil menaiki tubuh Ziya.
Dan saat ini pastinya Ziya terdiam membisu mendengarkan ucapan-ucapan manis dari mulut Alberto padanya.
" Sampai-sampai aku telah menghinamu dengan menyatakan kau wanita rendahan," Ucap Alberto yang membuat Ziya terperangah kaget atas ucapan Alberto ini.
" Maafkan aku selama ini yang telah menyakiti perasaanmu,," Ucap Alberto tulus menatap wajah Ziya.
" Maafkan aku yang telah menyiksa tubuhmu,," Ucap Alberto sambil mengelus lembut rambut Ziya.
" Maafkan aku yang telah menganggap dirimu wanita rendahan,," Tambah Alberto lagi sambil mengelus lembut hidung Ziya.
" Maafkan aku yang telah menyentuhmu secara paksa," Ucap Alberto lagi yang menambah Ziya merasa sangat bahagia sekali mendengarkan semua ucapannya ini
" Dan maafkan aku yang telah membuat hidupmu merasa terbebani atas semua kehendak ku,," Ucap Alberto terakhir sambil mengecup lembut puncak kepala Ziya.
Diawal saat Alberto menyebutkan kata maaf Ziya sudah merasa bahagia dan senang atas ucapan Alberto. Tapi, Ziya tidak menyangka bahwa Alberto menyampaikan kata maaf yang begitu banyak sekali pada dirinya seperti saat ini. Ziya tidak bisa lagi mengucapkan kata-kata apalagi, yang Ziya lakukan saat ini hanya terdiam mendengar semua ucapan yang dikatakan Alberto saja.
" Aku mohon jangan pernah meminta pergi dari kehidupanku,," Ucap Alberto lagi yang membuat Ziya terperangah.
" Aku mohon jangan pernah membenciku lagi,," Bilang Alberto lagi menambah ucapannya untuk meyakinkan Ziya akan ketulusannya itu.
" Aku mohon jangan pernah berpikir untuk meninggalkan aku,," Pinta Alberto tulus sambil mencium lembut bibir Ziya.
Ziya hanya bisa terdiam tanpa kata atas semua ucapan yang disampaikan Alberto padanya, saat ini, mata Ziya hanya bisa memberikan tanda bahwa dirinya semua menerima permohonan dan permintaan maaf dari Alberto itu, tapi mulutnya saat ini tidak bisa mengeluarkan kata-kata apapun. Sehingga membuat Alberto menghapus air matanya Ziya yang sudah tidak bisa terbendung lagi itu.
" Jangan menangis sayang, akulah yang bersalah padamu," Gumam Alberto sambil menghapus air mata Ziya yang mengalir di wajah cantiknya itu.
" Akulah yang membuatmu menderita,," Ucap Alberto lagi menambah kesedihan di wajah Ziya.
" Maafkan aku tidak bisa menjagamu," Ucap Alberto yang memeluk erat tubuh Ziya, seakan tidak mau melepaskan tubuh Ziya jauh dari dirinya.
" Maafkan aku terlambat untuk melindungimu,," Ucap Alberto menyesali perbuatannya sebelum terjadi kejadian mengenaskan pada Ziya kemarin.
" Maafkan aku, maafkan semua kesalahanku istriku,," Ucap Alberto yang mengingatkan kelakuannya bersikap kasar pada Ziya dan juga ucapannya yang menyatakan Ziya tidak perawan lagi. Membuat Ziya merasa bahwa dirinya memang wanita yang sangat rendah.
Karena, mendengar ucapan Alberto yang meminta maaf sudah banyak sekali terdengar oleh Ziya. Dengan segera Ziya menutup bibir Alberto dengan jari telunjuknya. Lalu, memeluk erat tubuh Alberto yang berada di atas tubuhnya itu.
" Sssttt,," Ucap Ziya sambil meletakkan jari telunjuknya tepat di kedua bibir Alberto.
" Jangan bicara lagi, aku mengerti, Alberto,," Bilang Ziya sambil memeluk erat tubuh Alberto.
Dengan segera Alberto membalas pelukan erat dari Ziya. Saat ini Alberto membiarkan Ziya untuk memeluk tubuhnya dengan erat, karena, memang itu yang diinginkan oleh Alberto pada Ziya.
Alberto merasa yakin bahwa Ziya merupakan wanita baik dan bahkan lebih baik lagi daripada wanita yang terbaik, karena, Alberto baru mengetahui dan menyadari bahwa selama ini Ziya tidak bisa berciuman itu menandakan bahwa Ziya merupakan wanita yang belum tersentuh oleh laki-laki manapun, sedangkan saat pertama kali Alberto menyentuh tubuhnya kenapa wanita seperti Ziya ini tidak perawan lagi, siapa yang telah mengambil mahkotanya itu.
" Maafkan aku, Ziya, aku harus mencari tahu, siapa sebenarnya dirimu, dan aku akan mencari tahu siapa orang yang telah berani mengambil mahkota milikmu itu,," Ucap Alberto sambil menatap wajah Ziya yang menangis mendengarkan semua perkataannya itu.
" Dan jika aku mengetahui orang itu, maka orang itu tidak akan pernah aku ampuni atas dosa yang telah ia lakukan padamu,," Ucap Alberto yang begitu mengasihi Ziya.
" Walaupun kau disentuh oleh orang yang tidak kukenal, aku akan tetap menyayangimu dan menjagamu, aku tidak ingin lagi terjadi sesuatu pada dirimu, aku akan selalu mendampingi dirimu sampai kapanpun,," Ucap Alberto yang begitu tulus menyayangi Ziya.
Karena, merasa bahwa Ziya menangis yang begitu mendalam di pelukannya itu, membuat Alberto membiarkan Ziya puas menangis di dalam pelukannya ini, karena, saat ini Alberto bisa lega sudah menyampaikan semua maksud yang mengganjal di hatinya selama ini, Alberto merasa menyesal saat dirinya bertindak kasar pada Ziya waktu itu.
" Maafkan aku yang telah menyakiti tubuh dan perasaanmu,," Ucap Alberto di tengah tangisan Ziya yang berada dalam pelukannya itu.
Mengakibatkan hal yang mengenaskan menimpa Ziya, jika saja Alberto tidak terlambat maka kemungkinan saat ini Alberto tidak akan bisa lagi memeluk Ziya seperti saat ini.
" Sssttt,," Ucap Ziya yang menghentikan Isak tangisnya
Sesaat Ziya teringat akan ucapan Vena yang selalu membela Alberto setelah kejadian mengenaskan menimpa dirinya, cuma saat itu Vena tidak mau mengungkapkan siapa sebenarnya orang yang telah menyelamatkan dirinya.
" Alberto,," Suara Ziya terdengar di tengah Isak tangisnya.
" Heeemm,," Jawab Alberto yang menatap wajah Ziya sambil menghapus air mata Ziya.
" Aku boleh bertanya,," Tanya Ziya menatap serius wajah Alberto.
" Katakan,," Jawab Alberto yang mengizinkan Ziya untuk bertanya.
" Aku ingin bertanya,," Bilang Ziya dengan menata ucapannya sangat lembut.
" Disaat aku pingsan setelah kejadian itu, apakah wajah yang tersenyum di hadapanku itu adalah wajahmu,," Tanya Ziya langsung menatap wajah Alberto dengan tatapan lembut.
Alberto yang mendengarkan ucapan Ziya yang mengetahui bahwa dirinyalah yang telah menolongnya itu membuat dirinya segera mengangguk dan tersenyum lembut menatap wajah Ziya.
" Ya sayang,," Jawab Alberto mengangguk dan tersenyum menatap wajah Ziya.
Ziya terperangah atas pengakuan Alberto padanya, bahwa seorang laki-laki yang tersenyum menatap wajahnya disaat kejadian itu adalah benar-benar sosok Alberto, orang yang selama ini telah menyelamatkannya.
" Jadi, benar orang yang menyelamatkan aku adalah kau,," Ucap Ziya dengan segera memeluk Alberto.
" Akkkhh,, terima kasih, Alberto,," Ucap Ziya lagi dengan memeluk tubuh Alberto sangat erat.
Alberto sangat bahagia melihat wajah Ziya yang begitu senang saat mengetahui bahwa dirinyalah yang telah menyelamatkan Ziya di waktu kejadian itu. Rahasia ini belum di ungkapkan oleh Vena, karena, Alberto tidak mau apabila Ziya mengetahuinya dari orang lain. Alberto ingin Ziya mengetahuinya sendiri seperti malam ini.
****