
Jimmy saat ini baru saja kembali dari kantor cabangnya yang berada di Australia, dengan segera Jimmy melangkahkan kakinya menuju ke arah dalam mansion dan langsung saja menaiki tangga menuju ke lantai dua. Dalam seketika Jimmy tersenyum karena melihat buket bunga yang dia bawa khusus untuk Zoya.
" Baby, Jimmy bawakan ini khusus untukmu sayang,," Ucap Jimmy seketika melihat buket bunga yang ada di tangannya.
" Heemmm,, kira-kira apa yang sedang dia lakukan,," Pikir Jimmy saat kakinya masih melangkah anak tangga yang menuju ke lantai dua.
Akhirnya, langkah kaki Jimmy pun, sampai di depan kamarnya dan segera Jimmy mengetuk pintu kamarnya sendiri, karena, ia tahu pasti Zoya sedang berada di dalam. Sudah berapa kali Jimmy ketuk pintu itu, tapi masih saja tidak dibuka sedikitpun, Jimmy merasa heran, kenapa tidak dibuka, mungkin Zoya sedang tidak di kamar dan berada di luar.
" Heeemm,, kenapa tidak dibuka,," Tanya Jimmy merasa pintu tidak terbuka sedikitpun.
" Apa dia sedang berada di luar,," Ucap Jimmy yang mengira Zoya sedang berada di luar saat ini.
Seketika Jimmy segera memutarkan gagang pintu dan ternyata tidak terkunci, berarti Zoya sedang berada di dalam kamarnya.
" Heemm, tidak dikunci,," Ucap Jimmy seketika saat pintu kamarnya telah terbuka.
Dengan segera Jimmy melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar, saat masuk ke dalam kamarnya, Jimmy melihat suasana kamar sedikit gelap, sehingga Jimmy melihat semua gorden jendela sama sekali tidak terbuka.
" Gelap,," Ucap Jimmy seketika melihat suasana kamar yang terlihat gelap.
Jimmy merasa bahwa sepertinya, Zoya sedang tidak ada di kamar. Jadi, Jimmy berpikir lebih baik setelah dia membersihkan tubuhnya dan menggantikan pakaiannya. Barulah Jimmy mencari keberadaan Zoya.
" Heemmm,, sepertinya My Baby Zoya sedang berada di luar." Ucap Jimmy seraya masuk ke dalam kamar.
Dengan sengaja Jimmy menyipitkan matanya dan mencari sakelar tombol lampu kamarnya untuk dihidupkan. Setelah sampai di dekat sakelar lampu, Jimmy segera menekan tombol itu dan suasana kamarpun menjadi terang. Sekilas Jimmy menyunggingkan senyumannya.
Saat Jimmy meletakkan tas kerjanya di atas kursi dan sedikit melonggarkan dasinya, sekilas Jimmy melihat tubuh Zoya yang terkulai lemah terbaring di atas lantai. Betapa terkejutnya Jimmy saat melihat tubuh Zoya yang terkulai lemah di atas lantai.
" HAH!!! Zoya,," Suara Jimmy yang sedikit berteriak kaget saat melihat Zoya yang terbaring di atas lantai.
Dengan segera Jimmy berlari mendekati Zoya yang tubuhnya terbaring lemah, lalu, Jimmy segera mengangkat tubuh Zoya dan meletakkannya di atas tempat tidur. Dengan sangat hati-hati Jimmy membenarkan posisi tubuh Zoya di atas tempat tidur.
" Oh God, apa yang terjadi denganmu, Baby,," Ucap Jimmy sambil meletakkan tubuh Zoya di atas tempat tidur.
Saat Jimmy memperbaiki rambut Zoya, Jimmy melihat wajah Zoya yang basah akan air mata dan juga memerah, Jimmy berpikir apa yang terjadi pada Zoya, sehingga dia menangis seperti ini. Apakah Zoya merasa tidak nyaman tinggal di mansion miliknya ini.
" Kenapa sepertinya dia menangis,," Ucap Jimmy sambil merapikan rambut Zoya yang tidak beraturan itu.
" Apakah dia merasa tidak nyaman tinggal di mansion ini,," Pikir Jimmy lagi saat melihat keadaan Zoya yang cukup menyedihkan.
Lalu, Jimmy dengan lembutnya segera duduk di samping Zoya. Dan mengelus lembut rambut Zoya sambil membetulkan tubuh Zoya dengan benar, supaya Zoya waktu terbangun dari tidurnya merasakan tubuhnya tidak terasa sakit.
" Baby, ada apa denganmu,," Bilang Jimmy yang mengelus-elus lembut rambut Zoya.
Jimmy merasa kemungkinan besar, Zoya takut atau khawatir akan sesuatu, sehingga membuat dia menjadi ketakutan dan menangis.
" Apa ada yang ingin mencelakakan mu Baby,," Tanya Jimmy sesaat pada Zoya.
Seketika Jimmy hendak memasangkan selimut pada tubuh Zoya, Zoya meringis seperti sedang merasakan sakit di bagian dadanya. Saat melihat Zoya sedang meringis Jimmy segera mendekati wajah Zoya.
" Ada apa, Baby,, apa yang sakit,," Tanya Jimmy begitu perhatian terhadap Zoya.
Zoya terlihat sedang memegang dan menahan dadanya, namun tidak terdengar suara Zoya mengatakan bahwa dadanya sakit. Jimmy segera membantu Zoya untuk menahan rasa sakit pada tubuhnya itu.
" Bagian mana yang sakit Baby,," Tanya Jimmy lagi pada Zoya.
Zoya semakin meringis saat mendengar Jimmy menanyakan bagian tubuh mananya yang sakit, membuat Jimmy semakin cemas dan bingung bagaimana dia harus menghadapi tubuh Zoya saat ini.
" Jimmy, dadaku merasa sakit, kalau melihat kebaikan darimu selalu tercurahkan untukku, aku merasakan bahasa diriku semakin berdosa saat mendapatkan kebaikan darimu, Jimm,," Gumam Zoya dalam hatinya yang masih meringis menahan rasa sesak di dadanya.
Lalu, Jimmy berpikir bahwa dirinya harus segera menelepon bagian rumah sakit, karena, melihat kondisi Zoya yang terlihat tambah menangis itu.
" Oh God, Baby, aku bukan dokter, jadi aku tidak tahu bagian mana yang sakit,," Ucap Jimmy yang terlihat dari wajahnya sangat panik akan kondisi Zoya.
" Tunggu sebentar, Sayang, aku segera menelepon rumah sakit." Ucap Jimmy lagi yang segera melangkahkan kakinya mengambil ponselnya.
Saat Jimmy hendak pergi meninggalkan Zoya sejenak, dalam seketika tangan Zoya menggenggam jemari Jimmy untuk menghentikan tindakannya itu menelepon rumah sakit. Jimmy terkejut saat merasa jemari Zoya memegang erat jemarinya itu. Jimmy segera membalikkan kepalanya melihat keadaan Zoya.
Saat Jimmy berbalik melihat Zoya, saat itu juga Zoya membukakan matanya dan menggelengkan kepalanya pada Jimmy, memberikan kode pada Jimmy bahwa dirinya tidak merasa sakit lagi.
" Tidak perlu menelepon rumah sakit, Jimm,," Bilang Zoya dengan suara yang sangat kecil terdengar oleh Jimmy.
Mendengar ucapan Zoya seperti itu, membuat Jimmy segera memundurkan langkahnya dan kembali mendekati Zoya. Lalu, Jimmy dengan lembut kembali duduk di samping Zoya.
" Ada apa, heemm,," Tanya Jimmy dengan lembutnya pada Zoya sambil mengusap lembut rambut Zoya.
" Kau sakit, Baby, kenapa tidak mau ke rumah sakit." Ucap Jimmy lagi seraya membetulkan selimut yang menutupi tubuh Zoya.
" Aku tidak apa-apa Jimm,," Jawab Zoya yang sedikit menyunggingkan senyumannya.
" Kalau Baby tidak apa-apa, tidak mungkin Baby menangis seperti ini, Baby pasti saat ini sedang menahan rasa sakitnya bukan,," Tanya Jimmy lagi yang masih merasa bahwa Zoya saat ini sedang menahan rasa sakitnya itu.
" Heemmm,, tidak Jimm,," Jawab Zoya yang menggelengkan kepalanya.
Walaupun melihat reaksi Zoya yang menggelengkan kepalanya itu, tapi Jimmy masih saja tidak percaya akan ucapan Zoya yang berkelit itu. Jimmy masih bersikeras untuk membawa Zoya ke rumah sakit saat ini.
" Tapi, Baby kondisi tubuhmu itu, terlihat bahwa tubuhmu memang sakit, kita ke rumah sakit, ya, Ok,," Ucap Jimmy yang masih saja membujuk Zoya untuk pergi ke rumah sakit.
Walaupun Jimmy bersikeras untuk membawa Zoya ke rumah sakit, Zoya lebih keras kepala lagi untuk tidak ke rumah sakit.
" Tidak Jimm, aku tidak mau,," Bilang Zoya yang segera memalingkan wajahnya membelakangi tubuh Jimmy.
Jimmy merasa kaget saat melihat wajah Zoya yang berpaling dari hadapannya, sehingga dengan langsung Jimmy membujuk Zoya untuk tidak jadi pergi ke rumah sakit.
" Oke, Oke, Fine,, kita tidak perlu ke rumah sakit." Jawab Jimmy ketika melihat wajah Zoya yang berpaling ke arah lain.
Mendengar ucapan Jimmy yang mendengar ucapannya itu, Zoya segera mengalihkan lagi wajahnya dan pandangannya menatap Jimmy. Di mata Zoya saat ini, waktu dirinya untuk membicarakan hal penting pada Jimmy.
" Jimm,," Ucap Zoya yang menyapa Jimmy.
" Heemmm,," Jawab Jimmy lembut yang masih mengelus rambut Zoya.
" Boleh aku minta sesuatu,," Tanya Zoya yang memulai pembicaraannya itu.
Saat Jimmy mendengar ucapan Zoya yang meminta sesuatu padanya, saat itu juga Jimmy segera mengangguk, mendengarkan semua permintaan Zoya padanya.
" Heemmm,, apa Baby, katakan," Ucap Jimmy yang segera ingin mendengar permintaan Zoya padanya.
Zoya tersenyum saat mendengar jawaban dari mulut Jimmy yang memperbolehkan ia untuk meminta sesuatu.
" Baiklah, kalau diperbolehkan, maukah kau pergi bersama denganku ke suatu tempat,," Ucap Zoya langsung pada Jimmy.
Jimmy merasa bahwa ucapan Zoya ini sepertinya menuju ke hal yang serius seperti hubungan pernikahan. Memang itu harapan Jimmy selama ini, bisa menikah dengan Zoya tanpa pemaksaan darinya dan itu semua atas kehendak Zoya sendiri.
" Apakah dia ingin mengajakku menikah,," Gumam Jimmy yang berpikir dalam hatinya atas maksud Zoya yang mau mengajaknya ke suatu tempat.
" Eeemmm,, memangnya kita mau kemana, Baby,," Tanya Jimmy balik pada Zoya.
" Aku ingin mengajakmu pergi ke suatu tempat yang sepi, hanya kita berdua saja ada disana,," Ucap Zoya serius menatap mata Jimmy.
Di dalam benak Jimmy bertanya-tanya, maksud Zoya apa ? Ingin mengajak dirinya untuk pergi dari mansion ini. Dan pastinya mencari tempat lain yang seakan sepi dari lingkungan sekitar. Ya, seperti keadaan Villa di tengah hutan yang jauh akan komunitas manusia.
" Maksudmu, Baby ?" Tanya Jimmy lagi seakan tidak mengerti maksud perkataan Zoya.
" Ya, maksudku, kita pergi dari mansion ini, dan tinggal bersama di sebuah tempat yang sepi dari orang-orang,," Ucap Zoya yang menjelaskannya secara detail pada Jimmy.
Saat mendengar ucapan Zoya yang ingin pergi dari mansion ini dan tinggal di sebuah tempat yang sepi akan orang-orang, Jimmy mengerlingkan matanya seakan mengerti maksud dari Zoya.
" Eemm, baiklah Baby, Jimmy menyetujui keinginan, Baby,," Jawab Jimmy yang menatap wajah Zoya dengan keseriusan jawabannya itu.
Karena, mendengar jawaban dari Jimmy yang mau mengikuti keinginannya itu, membuat Zoya merasa bahagia atas tindakan Jimmy ini padanya.
" Aaaahhhhh benarkah, Jimm,," Tanya Zoya segera bangkit dari baringnya lalu menatap wajah Jimmy dengan penuh rasa kebahagiaan.
" Ya,," Jawab Jimmy singkat yang tersenyum pada Zoya.
" Aahhh, Thank you,," Ucap Zoya yang segera memeluk tubuh Jimmy dengan erat.
Karena, merasa sudah bisa membuat Zoya bahagia, cukup puas bagi Jimmy untuk melihat wajah Zoya tersenyum senang. Sehingga membuat Jimmy membalas juga pelukan erat yang dilakukan Zoya padanya.
" Yeah, Baby, apapun yang kau inginkan akan aku turuti, asal kau mencintaiku dengan ketulusan hatimu,," Jawab Jimmy sembari membalas pelukan dari Zoya.
" Heemm,," Jawab Zoya yang mengangguk di balik pelukannya itu.
Jimmy merasa bahagia ketika melihat wajah Zoya bisa bahagia, bagi Jimmy ketulusan cintanya hanya untuk satu orang saja yaitu Zoya.
Berbeda dengan perasaan yang sedang dirasakan Zoya saat ini, baginya rasa cinta Zoya itu hanya dilabuhkan dengan satu orang juga yaitu ayah dari anak yang telah dikandungnya dulu. Padahal Zoya tidak tahu siapa ayah dari anak yang dikandungnya dulu. Zoya akui bahwa Zoya membenci ayah dari anaknya itu, namun rasa bencinya itu membuat hatinya merasa penasaran dan menimbulkan hasrat cinta yang begitu mendalam.
Sementara itu,,
Alberto yang sedang berada di dalam kamarnya dan saat ini Alberto sedang membuai lembut tubuh Ziya, hingga mereka akan melakukan hal-hal yang menuju ke arah gejolak asmara yang begitu panas dan pepatah mengatakan bahwa dunia hanya milik kita berdua dan yang lainnya hanya ngontrak.
Itu yang dirasakan oleh Alberto saat ini pada Ziya. Ziya yang sedang berada di gendongan Alberto, dengan segera Alberto membawanya menuju ke ruang tempat tidurnya dan tetap menautkan ciuman bibir mereka itu tanpa melepaskannya sedikitpun.
Saat ini tubuh Zoya hanya memakai segitiga pengaman penutup bagian inti bawahnya dan juga kain pengaman penjerat gunung kembar miliknya itu yang masih terlihat begitu menonjol dan kencang sekali.
Sehingga membuat jiwa Alberto menggebu-gebu saat melihat pemandangan di depan matanya ini. Saat Alberto sedang melangkahkan kakinya menuju ke tempat tidurnya itu, tiba-tiba pintu kamarnya diketuk oleh seseorang.
TOK
TOK
TOK
Tentu saja hal itu membuat Alberto dan Ziya kaget, sontak Ziya segera melepaskan ciumannya dari Alberto. Walaupun tubuhnya masih digendong oleh Alberto, namun mata Ziya terlihat seakan bertanya pada Alberto.
" Siapa,," Tanya Ziya menatap wajah Alberto.
Alberto merasa bahwa hal diluar tidak penting baginya. Jadi, Alberto tetap saja melanjutkan permainannya itu, namun Ziya menolaknya, karena, Ziya merasa bahwa hal diluar kemungkinan sangat penting bagi Alberto.
" Biarkan saja, kita lanjutkan permainan kita,, setelah selesai baru akan kubuka pintunya,," Ucap Alberto pada Ziya dan segera ingin mendaratkan lagi bibirnya menyentuh bibir Ziya.
Ketika Alberto ingin mendaratkan bibirnya menuju landasan yang paling empuk yaitu bibir Ziya. Sesaat dua jari Ziya menolak keinginan Alberto itu padanya. Sehingga membuat Alberto kesal akan sikap Ziya ini padanya.
" Heemm,, Alberto, lihat dulu,," Ucap Ziya yang meletakkan kedua jarinya di bibir Alberto.
" Heehh sayang,," Pinta Alberto yang tidak mau menuruti kehendak Ziya untuk melihat keadaan di luar.
" Cepat buka,," Bilang Ziya yang mulai memerintahkan Alberto.
" Yeah, Ok,," Jawab Alberto segera menurunkan tubuh Ziya dan mengambil baju Ziya di atas sofa.
Dengan perlahan Alberto memasangkan baju Ziya yang terlihat seperti dress berkancing dari atas sampai ke bawah. Setelah selesai, Alberto segera melangkahkan kakinya menuju ke arah pintu dan Ziya segera merapikan tubuh dan rambutnya saat itu.
Saat membuka pintu, Alberto kaget melihat Demian yang segera berlari masuk ke dalam kamarnya itu. Ternyata dari tadi yang mengetuk adalah Baby Sitter Demian dan Demian sendiri sedang menunggu Daddynya membukakan pintu sambil duduk di atas sofa tepat di depan pintu kamar Alberto.
" Daddy,," Suara Demian yang berteriak segera masuk ke dalam kamar.
Saat mendengar suara Demian yang berteriak menyapa Daddynya itu, spontan Ziya langsung sumringah bahagia mendengar suara Demian itu. Berarti semenjak tadi Demian sudah pulang dari sekolahnya. Sementara itu, Alberto merasa bahwa api gelora asmaranya itu padam seketika saat melihat langkah kaki Demian yang berlari masuk ke dalam kamarnya.
****