
🌹Vote yuu🌹
Angin bertiup pelan, matahari mulai bersinar, burung burung bernyanyian dan suara petani yang turun ke sawah mulai menghiasi.
Lily bahagia bisa berjalan jalan sambil menggenggam tangan suaminya, melihat bagaimana aktivitas para petani mencari nafkah.
Padi mulai berbuah, suara air mengalir sungguh membuat Lily betah. Dia melangkah di jalan setapak dengan gembira.
"Apa kau sangat senang?"
"Ini mengingatkanku pada kampung halaman."
"Aku tahu, itu sebabnya aku mengajakmu ke mari."
"Sampai kapan kita di sini? Seminggu?"
"Sayang, kau tahu aku sedang banyak proyek akhir akhir ini. Kita harus kembali senin pagi."
Lily tidak bisa menyembunyikan kesedihannya.
"Kau tahu aku aku bekerja untuk kalian," ucapnya mengusap pinggang istrinya.
"Aku tahu."
"Beri aku ciuman."
"Jangan di sini, David. Aku malu."
David terkekeh di buatnya.
"Apa yang kau lakukan?" Tanya David saat Lily melepaskan tangannya lalu membuka sandal yang dipakainya. "Sayang, kakimu bisa tertusuk."
"Ini menyenangkan, David. Cobalah."
Sebagai penolaka halus, David mencium kening Lily lama. "Nikmatilah."
Lily tersenyum merasakan rumput yang basah karena embun di pagi hari.
"Jangan lewat sana, Sayang. Jalan setapak ini."
"Kemana kita sebenarnya pergi?"
"Aku dengar ada tempat makan para petani yang enak di sekitar sini."
Lily bertepuk tangan riang, membuat David terkekeh. "Astaga, istriku benar benar seperti anak kecil."
Dengan tangan yang masih saling bertautan, mereka menuju tempat makan yang dimaksud. Tidak sesimple yang David bayangkan, ternyata itu jauh dari standar terendahnya.
Hanya warung bilik kecil dengan kursi panjang dan meja kayu tanpa alas.
"Pesen apa, Teh?"
"Ada apa aja, Bu?"
Tapi David tidak tega jika membawa Lily menjauh lagi.
"Ini menunya, Teh."
Bahkan tulisan menunya ada dalam buku kumal.
"Kau ingin makan apa, David?"
David membacanya, tidak ada yang membuatnya tertarik.
"David."
"Ini saja," ucapnya menunjuk bahasa yang belum dia kenal.
"Bu, pesan tumis toe, sayur tutut, tumis jalestrong sama bakar sawike. Pake sambel coel ya, Bu."
"Siap, Neng."
Dan ternyata, warung warung di pinggir sawah inilah yang menjadi daya tarik para penyewa villa.
Saat pesanan datang, David terkejut. Dia berbisik, "Sayang, kau pesan katak?"
"Itu sawike, David. Kau yang memesannya."
Davis menelan ludahnya kasar, dia ingat perkataan Oma yang mengatakan, "Kau adalah katak, dan bayi bayimu berudu."
🌹🌹🌹
Oma berdecak kembali, "Aku tidak bisa melakukannya!"
Pelatih senam dan Eta yang mendengar Oma mengatakan itu berulang kali menghenal napas.
Untuk yang kesekian kalinya, Eta berkata, "Kalau begitu kita ganti saja hadiahnya, Nyonya Besar."
"Tidak mau, Lily dan David harus melihat aku bugar."
"Nyonya besar."
"Ayo latihan lagi."
Eta mengelus dadanya melihat Oma yang berlatih zumba dengan gerakan yang lebih ekstrem dari senam biasanya. Ada gerakan bolo bolo kepala, menggoyangka pinggul sampai meliuk liukan kepala layaknya ular.
Dengan diiringi penari zumba di belakang, Oma mencoba memadukan lagi happy birthday dengan gerakannya yang lincah.
Dan anehnya lagi, nada dari lagu happy birthday sangat mirip dengan lagu milik Nella Kharisma yakni Jaran Goyang.
Kira kira seperti itulah liriknya, diikuti nada Jaran Goyang dan gerakan Oma yang membolo bolo kan kepala.
Eta segera keluar untuk membawakan air. Sebuah poci kaca dengan tujuh gelas agar semua orang minum.
Saat lagu selesai, segera Eta mengatakan, "Minum dulu, Nyonya Besar."
"Ah, iya…" Oma berjalan lebih dulu.
Dan tanpa diduga, dia membuka tutup poci lalu meminum dari sana. Oma sangat kehausan.
"Astaga, aku haus. Ambil lagi untuk yang lain."
"Baik, Nyonya Besar."
Oma berbalik pada sang instruktur senam. "Apa kau pikir kita harus mengganti liriknya?"
"Terserah padamu, Nyonya Besar."
"Ya, tapi aku ingin tetap lagu Jaran Goyang. Untuk kalian, hafalkan koreo… koreo apa? Korengan, ya?"
"Koreografi, Nyonya Besar."
"Ya terserah. Saat cucu cucuku pulang, kita akan tampil di balkon penthouse. Oke?"
"Baik, Nyonya Besar," ucap para penari latar bersamaan.
Oma bertepuk tangan sambil berbalik. "Mereka akan terkejut melihat aku, dan mungkin saja David akan membuatkan konser tunggal untukku."
🌹🌹🌹
"A--apa ini?" Tanya Lily saat dia melihat sebuah kotak yang seukuran dengannya di dalam kamar.
"Hadiahmu."
"Hadiahku?"
David mengangguk.
"Bukalah, Sayang."
Ada sebuab pita di sana, Lily mendekat dan menariknya. Dia terkejut saat terbuka, di dalam sana adalah gaun pengantin lamanya yang telah dimodifikasi sehingga berubah menjadi menawan.
"Gaun ini…..?"
"Aku menyuruh Marylin pergi ke apartemen lama mu yang jelek, Sayang."
"Ini… sangat indah."
Dulunya gaun ini kumal. Saat menikah dengan David, gaun yang Lily kenakan sangat pas. Hanya saja terlihat seperti barang bekas dan tidak niat sama sekali untuk menikah.
Dan sekarang, Lily hampir tidak mengenali gaun itu jika saja batu safir di dadanya tidak ada.
"Awal yang baru untuk kita," ucap David memeluk dari belakang, dia mengusap perut istrinya. "Kau, aku, dan anak anak kita."
Lily terharu melihatnya. Ada aksesoris mahkota di sana, dengan sepatu kaca.
"Astaga, aku merasa seperti Cinderella."
"Apa pun untukmu, Sayang."
"Terima kasih."
"Apa pun itu, hanya untuk dirimu."
Lily menggenggam tangan David di depan perutnya. "Kau benar benar membuatku terkejut."
"Jika saja aku tahu kau wanita yang aku cari, akan aku urus kau sejak bayi."
Lily mengerutkan keningnya, dia mengadah. "Berapa umurmu saat aku baru lahir?"
"Kira kira 16 tahun, atau 17 ya? Aku lupa."
Lily diam, dia sendiri tidak mengira akan berakhir seperti ini. Mereka saling melengkapi.
"Aku juga punya hadiah lain untukmu."
"Apa itu?"
"Duduklah di ranjang."
Lily menurut, dia menatap David yang mengambil kotak lain di dalam laci. Sebuah kotak kecil yang membuat Lily penasaran.
"Apa itu?"
"Bukalah."
Lily menerimanya, dia membukanya perlahan. Seketika senyumannya pudar. "I… ini?"
"Ya, itu pengaman dengan desain tuxedo, bayi bayi mungil kita akan suka melihat papanya datang menggunakan tuxedo."
Lily kehilangan kata kata.
🌹🌹🌹
tbc...