
🌹Vote dong, ajak temen baca ini dong, iya dong🌹
Lily menangis dalam pelukan David, dia sesegukan sampai air mata dan ingusnya menempel di mantel David.Â
"Hiks… hiks… hiks…."
"Sudah, jangan menangis. Ayo kita pulang, dengan siapa kau datang, Sayang?"Â
David mencoba merangkup pipi Lily, dia membereskan rambut kekasihnya yang menghalangi pandangan. Membuat beberapa helai rambut ikut terbasahi oleh air mata.
"Dengan siapa kau datang, Sayang?"
"De…. Dengan taksi online."
'Sebastian sialan,' umpat David dalam hati. "Sudah, kita pulang ya."
Lily mengangguk.
"Mau aku gendong?"
Lily kembali mengangguk membuat David segera menggendongnya, Lily menyembunyikan wajahnya di ceruk leher David sambil menangis kembali.
"Sudah jangan menangis."
Keduanya kini sudah dalam mobil, Lily masih berada di pangkuan David.Â
Holland mengemudikan mobil tanpa menggangu kesenangan dan pertemuan majikannya.
"Jangan menangis lagi, nanti anak anak kita malah ikut menangis."
Mengingat itu malah membuat Lily semakin menangis, dia ingat bagaimana dirinya yang kejam hilang selama tiga bulan. Tidak mendengarkan kata Oma atau pun Radit, Lily menangis terisak.
"Sayang, sudah. Yang terpenting kita sudah bersama sekarang bukan?"
"Sebastian bilang… dia… hiks… dia… bilang… kau… hiks… hiks… pergi dan… menetap…. di Amerika…. Hiks… hiks… hiks…"
"Kenapa kau percaya pada pria penjahat kelamin seperti dia?"
"Kenapa…. Kenapa…. Dia… tidak memberitahu…. Lebih awal? Dia… dia…. Jahat…"
"Dia memang begitu," ucap David mengusap rambut istrinya penuh kasih sayang. "Sudah, Sayang. Jangan menangis."
Merasakan usapan di kepala membuat Lily mengantuk, perlahan tangisannya reda sampai akhirnya Lily terlelap di pangkuan David.
Pria itu tersenyum, dia mencium puncak kepala Lily berulang kali sebelum matanya fokus melihat perut Lily yang mulai membesar. Di sana ada calon anaknya, membuat David memegang dan mengusapnya untuk pertama kali.
Rasanya ada ribuan kupu kupu menggelitik di perutnya. David suka melakukannya, mengusap perut istrinya yang membuncit.
"Anda ada pertemuan dengan Nyonya Odelia, Tu-."
"Batalkan."
"Baik."
"Langsung bawa aku pulang."
"Baik, Tuan."
Sesampainya di basement, David menggendong Lily perlahan dan membawanya ke apartemen mereka. David membaringkannya di ranjang yang selama tiga bulan ini kosong, dia mencium kening istrinya dan menyelimuti kakinya.
David keluar untuk menemui Holland yang ada di sana. "Pergi ke apartemen lama Lily dan bawa barang barangnya."
"Baik, Tuan."
Setelah kepergian Holland, David pikir tidak akan ada lagi yang mengganggunya. Kenyataannya ada suara bel, saat melihat monitor ternyata dia adalah dokter yang pernah menjadi mantan kriminal.Â
David lupa akan hal ini, dia segera membuka pintu.
"Tuan, bolehlah saya mendapatkan foto istri anda sebelum saya melakukan operasi?"
"Operasi gagal, dia sudah kembali."
"Syukurlah, Tuan. Kalau begitu saya akan kembali ke rumah sakit."
"Tunggu," ucap David. "Suruh seorang dokter kandungan datang dan bawa alat alatnya untuk memeriksa Lily."
"Saya dokter kandungan, Tuan."
"Aku ingin wanita yang memeriksanya."
"Ba… baik, Tuan. Akan saya sampaikan."
"Oke, lekas pergi."
David menutup pintu, dia menatap ke sekeliling apartemen. David tersenyum mengingat akan ada keceriaan dan kehangatan lagi.
'Akan aku buat kau menempel dan tergila gila padaku, Lily Sayang. Sampai kau enggan meninggalkanku,' janji David dalam hati pada dirinya sendiri.
Saat membersihkan pantry David bergumam, "Ah, Lily Sayang. Kau pasti merasa beruntung dan bahagia dicintai pria sepertiku. Secara aku tampan, kaya, baik, pintar, dan melakukan apa pun demi dirinya. Aku jamin kau akan lengket padaku."
🌹🌹🌹
Lily terbangun dari tidurnya karena merasa lapar, dia melihat ke arah kanan. Di sana ada David yang juga terlelap, membuat Lily bergerak untuk berbalik menatap David.Â
Lily baru sadar, seharusnya dia mempertahankan sifatnya yang dulu, yaitu cuek dan tidak baper.Â
Saat Lily bergerak bangun, David ikut bangun. "Sayang, kau mau ke mana?"
Lily menunduk enggan menatap mata David, dia masih malu atas apa yang dia perbuat. Dia baru tersadar, dirinya tidak ada apa apa dibandingkan David, dan dia terlalu berani mengusir dan mencampakan David.
"Aku lapar," ucap Lily malu malu.
"Ingin memesan dari bawah?" Tanya David menyisipkan rambut Lily ke belakang.
"Aku akan masak."
"Ingin aku temani?"
"Tidak usah, kau tidur saja lagi."
Sebelum David menjawab, Lily buru buru keluar dan turun ke lantai satu. Dia tersenyum melihat tempatnya dahulu, Lily merindukan suasana ini.
Ketika dia sudah berada di dapur dan sedang memilih bahan makanan, dia mendengar suara pintu kamar di lantai satu terbuka.
Lily yang merasa gugup bergegas masuk kamar mandi di lantai satu. Dia memegang jantungnya yang berdetak kencang, pipinya memerah malu. Lily gugup bertemu dengan David.
"Tuhan, apa yang harus lakukan? Setelah semua yang aku lakukan, aku malu," gumannya sendiri.
"Lily Sayang, apa yang sedang kau lakulan di dalam sana?"
"Sebentar, aku sedang mencuci wajah," ucap Lily.
"Jangan mengunci pintunya, kau membuatku khawatir."
"Sebentar." Lily keluar dengan wajah menunduk.Â
"Kenapa? Apa ada sesuatu yang sakit?"
"Sayang, apa kau menangis?"
"Aku minta maaf," ucap Lily dengan air matanya yang pecah kemudian memeluk David erat.
Bibir David menyungging saat Lily memeluknya erat sampai gunung Lily yang membengkak menyentuh dadanya, sungguh kenyal dan menyenangkan.
"Tidak apa, Sayang. Aku sudah katakan, masa lalu adalah masa lalu. Yang penting kau dan anak anak bersamaku sekarang."
Sambil mengatakan itu, David mengusap kelapa Lily merasakan tubuh istrinya yang banyak bergerak membuat gunung kenyal itu semakin terasa.
"Maaf."
"Sudah jangan menangis. Bukankah kau lapar, ingin memasak bersama atau memesan saja?"
Lily menghentikan isaknnya, sebenarnya dia sudah terlalu lapar hingga malas memasak, tapi Lily malu mengatakannya, apalagi saat David merangkup pipinya.
"Ingin memesan?"
Lily mengangguk pelan.
"Baiklah, duduk di sana. Biarkan aku yang menelpon, apa yang kau inginkan, Sayang?"
Lily diam saat dia duduk di sofa, dia kembali gugup.
"Sayang?"
"Aku ingin tumis ati sapi."
David memesan sesuai keinginan Lily, menelpon caffe di bawah. "Sayang, caffe di bawah sedang ada diskon pudding, kau mau?"
Lily mengangguk.
"Rasa apa?"
"Strawberry."
David segera mengatakannya, setelahnya menutup telpon.
"Sayang, lebih baik kau minum susu dulu."
"Susu?"
David berjalan ke arah pantry, dia membuka salah satu rak. Memperlihatkan adanya banyak ada dus susu.
Melihat itu Lily kembali menangis, dia mendekat pada David lalu kembali memeluk pria itu.
"Maafkan aku."
Dan David kembali tersenyum, dia merasakan hangatnya tubuh Lily. Dan David merasa kalau dirinya di dambakan.
🌹🌹🌹
Lily memasak makan malam banyak mengingat Oma akan datang. David melihat kesedihan itu di mata Lily, dia tidak bersemangat membuatnya mendekat dan melingkarkan tangan Lily di pinggangnya.
"Apa yang kau pikirkan?"
"Aku merasa bersalah pada Oma."
"Semuanya akan baik baik saja."
Saat Lily menyandarkan kepalanya di dada David, dia memeluk pria itu yang mana membuat David kembali menyunggingkan senyumannya merasakan kehangatan Lily.
"Sudah, tidak apa. Aku senang kau berada di sini bersamaku."
Lily mengangguk dan melepaskan pelukan saat David hendak mencium puncak kepalanya. Dia kembali memasak untuk Oma.
Dan tidak lama kemudian, Oma datang dengan Eta yang ada di belakangnya.
"Cucuku sayang…."
"Oma…" Lily menghentikan kegiatan memasaknya dan berlari menuju Oma.
"Hati hati bayimu, Lila."
"Oma, maafkan aku," ucap Lily mendekat lalu memeluk Oma.
Oma tersenyum dan mengusap kepala Lily. "Sudah, tidak apa. Begitulah kehidupan pernikahan, ada naik turunnya. Jangan menangis sudah."
Lily mengangguk, dia melepaskan pelukan dan membiarkan Oma mengusap air matanya. "Sudah, Oma rindu masakanmu. Eta! Bantu Lila!"
"Baik, Nyonya Besar."
Saat Eta dan Lily kembali ke dapur, David mendekat pada Oma. "Hallo, Oma."
"Cucuku yang bau, kau belum mandi bukan?"
"Oma, Oma tahu?" David berbisik. "Lily selalu memelukku, itu adalah bukti bahwa dia mendambakanku yang tampan, kaya dan baik hati. Dia tahu aku mencintainya."
"Terserah," ucap Oma begitu saja.
"Oma…," rengek David mengikuti Oma yang duduk di sofa. "Oma, Lily jadi lengket padaku. Membuatku selalu bersentuhan dengan hangatnya tubuhnya."
"Ingat anak anakmu," ucap Oma menaikan nada bicara.
"Aku belum memulainya, Oma. Tenang saja. Tapi Oma harus lihat bagaimana Lily menempel padaku, jadi bukan salahku jika aku membuka pabrik."
"Apa?"
David berdiri, dia mengambil kotak cincin yang diambil Holland dari apartemen lama Lily.
Lalu David mendekat pada Lily yang memasak.
"Sayang, apa kau mendapatkan ini dari Holland?"
Lily menengok, seketika itu mengingatkannya pada apa yang dilakukannya.
Lily menunduk dan menangis pelan. "Maafkan aku."
"Sayang, aku tidak bermaksud-"
Dan saat itulah Lily memeluk David, membuat David merasakan hangatnya dada Lily. Pria itu segera menatap Oma.
Oma mengajungka dua jempolnya ke udara, dan berteriak. "Mantul!"
Membuat Lily melepaskan pelukannya dan menatap Oma penuh tanya.
"Mantul! Mantul!"
🌹🌹🌹
to be continue
ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha