
🌹Kasih vote jangan kendor🌹
Sedetik setelah Lily melihat kotak itu, seseorang lebih dulu memanggilnya. "Lily!"
Lily menoleh, tangannya otomatis menutup lagi kotak itu. "Luke?"
Pria itu datang mendekat. "Hai, apa kau baru saja kembali?"
"Ya, apa kau ingin menemui David?"
Luke mengangguk. "Aku tidak bisa menemuinya selama beberapa hari, dia baik baik saja bukan?"
Lily mengangguk, dia membuka pintu apartemen. "Kau ingin masuk?"
Dan sebelum Luke menjawab, saat itu pula David datang. Dia melihat kedatangan Luke yang sedang bicara dengan istrinya. "Luke?"
"David… kau sudah pulang?"
"Sayang," ucapnya melihat Lily. "Bisa kau siapkan ranjang? Aku ingin tidur siang?"
"Ya, baiklah. Ajak Luke masuk," ucap Lily memberi isyarat.
Ketiganya masuk.
"Ingin minum, Luke?"
"Tidak, dia akan sebentar," ucap David yang menjawab. "Tolong siapkan kamar, Sayang."
"Baik, aku tinggalkan kalian sebentar," ucap Lily membawa kotak meninggalkan keduanya.
Saat itulah tatapan Luke dan David beradu, mereka menatap satu sama lain dengan tajam. "Beraninya kau menemui istriku, aku bilang jauhi dia."
"Aku akan melakukannya," ucap Luke mengeluarkan sebuah undangan pesta pertunangannya bersama wanita yang dipilihkan kakenya. "Aku hanya ingin memberimu ini."
"Kau akan menikah dengan keadaan masih menyukai istriku?"
"Dengar, David. Aku tahu ini salah, tapi aku tidak ingin menghancurkan pernikahanmu jika kau akan serius dengannya. Aku hanya melihat bahwa Lily bukalah orang yang tepat untuk disakiti."
David terkekeh. "Aku akan menjaganya. Lebih baik kau hapus perasaanmu itu sebelum calon istrimu tahu."
Luke angkat tangan. "Aku tidak ingin ada masalah."
"Maka jauhi istriku."
"Akan aku lakukan jika kau menjauhi Sebastian."
"Apa maksudmu?"
"Dia berpengaruh buruk pada pernikahanmu."
"Dan jika aku lakukan?"
"Aku baru akan mengangkat tangan."
David terpikirkan sesuatu. "Aku bisa memberitahu calon istrimu kau menyukai istriku."
Luke mengangkat bahunya tidak peduli. "Kau tahu seorang model, mereka tidak peduli urusan orang lain."
David terdiam, dia mengetatkan rahangnya. "Pergi dari sini."
"Jangan lupa datang."
"Kau tidak berencana mencintai istrimu?"
Luke yang sudah berdiri mengangkat bahunya. "Aku sudah jatuh cinta padanya."
David diam sesaat. "Maka dari itu jauhi istriku."
"Aku tahu kau tidak akan paham, David. Tunanganku, yang bernama Medina itu memang teman masa kecilku. Aku sudah lama jatuh cinta padanya, tapi jika kau menyakiti Lily, cintaku lebih kuat melihat orang yang tetap bertahan."
Sebelum David membuka mulut, Luke segera berbalik dan menuju pintu. "Aku harap kau jauhi Sebastian, hidup itu akan ada akhirnya, David. Kau harus pandai memilih mana tempat yang akan membawa ketenangan saat berlabuh."
Setelah mengatakan itu, Luke pergi. David termenung beberapa saat, sampai akhirnya dia mengerjapkan mata dan segera naik ke lantai dua.
Di sana dia mendapati Lily yang sedang menyisir. Keinginan David untuk memeluk istrinya terhenti karena melihat sebuah kotak.
"Apa ini, Sayang?"
"Aku tidak tahu, itu ada di depan pintu apartemen."
"Benarkah?"
"Ya, aku akan ke kamar mandi dulu."
Saat Lily masuk kamar mandi, David membuka kotak itu. Dan dia terkejut melihat benda benda yamg didaptatkannya.
Apalagi dengan adanya catatan bertuliskan,
"Menangis darahlah wahai kau wanita jelek. David tidak pernah menginginkanmu."
Saa itu pula, David tahu siapa orangnya. Di sana ada inisial D dan M. Membuat rahang David mengetat, yang membuatnya bergegas pergi dengan kotak tersebut di tangannya.
Ketika Lily keluar, dia mengerutkan kening tidak mendapati suaminya. "David?"
Dan tidak ada sahutan.
🌹🌹🌹
Megan dan Dena tertawa bersama, mengira rencana mereka berhasil.
Anggur ada di kedua tangan mereka, sambil bersulang dan bersenang senang di atas ranjang dengan menghabiskan uang dari David. Dena memiliki kartu kredit unlimited dari putranya, yang membuatnya selalu membeli apapun dan memenuhi kebutuhan keluarganya di Amerika.
Sebenarnya, Dena ingin David menikahi Megan agar Dena bisa menggendalikan putranya. Karena akhir akhir ini, David selalu mengabaikannya. Bukan hanya karena itu, Lily yang ada di pihak Oma membuat Dena harus bersusah payah menggeser posisinya.
"Mama, this is very fun. She would cry and regret having been with David. (Mama, ini sangat menyenangkan. Dia pasti akan menangis dan menyesal telah bersama David.)"
"I know, she is not a classy woman who knows modern life, she will definitely leave right away. What about you in that position, Megan? (Aku tahu, dia bukanlah wanita berkelas yang tahu kehidupan modern, dia pasti akan langsung pergi. Bagaimana denganmu jika dalam posisi itu, Megan?)"
Megan menggeleng. "I'm a professional woman, Mama. David wants to be with the others, his rights, provided he only has children with me and marries me. I really don't mind. (Aku ini wanita profesional, Mama. David ingin bersama yang lain itu haknya, asal dia hanya memiliki anak denganku dan menikahi aku. Aku sungguh tidak keberatan.)"
Dena bertepuk tangan. "Very good, you're very smart. Rightfully so, modern and classy women always know what they are doing. (Bagus sekali, kau sangat pintar. Memang seharusnya begitu, wanita modern dan berkelas selalu tahu apa yang dilakukannya.)"
Megan mengangguk senang, sampai akhirnya dia merasakan anggur di tangannya habis. "Mama, ayo beli lagi."
"Baiklah.." Dena berdiri, dia menegakan tubuhnya. "Ayo ke caffe bawah."
Sampai mereka memesan beberapa makanan, dan Dena mengeluarkan kartu kredit.
Dan pelayan berkata, "Maaf, Nyonya, kartu ini sudah nonaktif."
Seketika tawa Dena terhenti, dia menatap pelayan itu. "Tidak mungkin, coba lagi."
"Tetap tidak bisa, Nyonya."
"Apa?! Bagaimana bisa?!"
"Tuan David memerintahkan saya melucuti semua fasilitas yang anda miliki, Nyonya."
Seketika Dena dan Megan berbalik, di sana ada Holland mendekat. "Apa maksudmu?"
"Saya diperintahkan untuk mengantarkan anda ke bandara."
"Apa maksudnya ini? Ini adalah penghinaan."
"Saya juga diberi peringtan, jika kalian berdua tida ikut dalam waktu setengah jam, maka semua fasilitas termasuk yang ada di Amerika akan diambil kembali oleh Tuan David."
Dan ancaman itu membuat Dena takut. "Ayo Megan, kita pergi."
Holland hanya menunggu beberapa menit sampai keduanya turun dengan koper. Dan membawa mereka ke bandara.
Di jalan, Dena masih marah.
"Katakan padaku atas dasar apa dia melakukan ini padaku."
"Anda bisa bicara dengan Tuan David, Nyonya."
Mereka berhenti di bandara, di mana di sana ada David baru sampai dan keluar dari ferarri hitamnya.
"David!" Dena berlari mendekat. "Apa maksudmu? Kenapa kau memberhentikan kartu kredit Mama? Apa maksudnya?"
"Apa maksud Mama memberikan kotak itu? Untuk menghacurkan perikahanku?"
Dena tertawa keras, dia mengusap wajahnya. "David, aku membantumu agar lepas darinya. Apa kau bodoh?"
David mendekat perlahan, dan suaranya yang berat mengatakan, "Back to America, Mama. Or you will get the worst. I will withdraw all your facilities. (Kembali ke Amerika, Mama. Atau kau akan mendapatkan hal terburuk. Semua fasilitasmu akan aku tarik.)"
"David!"
"Dan bawa wanita ular itu bersamamu," ucap David bermaksud pada Megan yang ada di belakang Dena.
"David! Aku Mamamu!"
"Semakin kau lambat pergi ke Amerika, semakin banyak fasilitas yang aku tarik, Mama."
"David!"
"Satu lagi, aku dan Lily akan tetap bersama. Dia adalah nyawaku."
🌹🌹🌹
Lily diam, menanti David pulang. Dan ini sudah larut malam, makan malam sudah dingin, telpon pun tidak diangkat.
Membuat Lily khawatir dibuatnya, apalagi dia mengetahui kalau David tidak ada di rumah Oma dari Eta.
Lily tidak bisa tidur, dia diam di ruang televisi di lantai bawah sambil memakan cemilan. Berharap David datang dan segera memberitahunya apa yang terjadi.
Sampai akhirnya, Lily terlelap dalam tidurnya. Saat itulah David datang dengan sebuah buket di tangannya. Langkahnya semakin pelan saat mendekati istrinya, dia melihat bagaimana istrinya terihat menantinya. Saat melihat ke arah dapur, di meja makan ada makanan. Membuat David semakin yakin dengan apa yang akan dilakukannya.
Dia menarik napas dalam, berjongkok agar melihat wajah istrinya dengan jelas. Dia mengusap pipinya pelan, sampai akhirnya Lily terbangun.
"David?" Lily mendudukan dirinya. Dia mengucek matanya. "Kau sudah pulang?"
David menahan dagu Lily saat hendak melihat jam, David duduk di sofa dan menarik Lily agar duduk di pangkuannya sambil menghadap dirinya.
"Astaga….," Gumam Lily merasa limbung jika saja David tidak memegang pinggangnya.
"Ini untukmu," ucap David memberikan buket bunga.
Yang membuat Lily heran, dia menerimanya perlahan. "Terima kasih."
Lama David menatap dirinya, menyisipkan rambutnya ke belakang. Membuat Lily bertanya tanya perihal David.Â
"Ada apa?"
"Ada yang harus aku katakan padamu, Sayang."
Lily melihat wajah David sangat serius. "Ada apa?"
"Apa kau akan marah?"
"Kau bahkan belum mengatakannya," ucap Lily dengan suara pelan. "Ada apa?"
David menimang ego dan perasaannya, keduanya saling melawab hingga akhirnya hanya satu yang menang. Satu yang pasti, David tidak ingin kehilangan wanita di depannya, dia nyaman dengan Lily, dan ingin tetap seperti itu.
"Sayang…"
"Ada apa, David?" Tanya Lily dengan suara pelannya.
"Apa kau tahu kenapa aku menikahimu?"
Lily menunduk, dia menjawab pelan, "Karena pekerjaan?"
David kembali memegag dagu Lily, mengarahkan pandangan istrinya hingga menatap matanya yang tajam. "Aku menikahimu karena kalah taruhan dari Luke dan Sebastian," ucap David membuat Lily menegang.
"Kami balap kuda, sampai aku kalah dan ditantang mereka untuk menikahi wanita bertubuh mungil. Lalu pilihanku jatuh padamu."
Lily tidak bisa mengatakan apapun.
"Sebelum menikah, aku adalah pria bejat. Aku bermain dengan banyak wanita, one night stand demi kesenangan. Bermain di klab malam sampai dini hari. Bahkan sampai menikah pun, aku terkadang pergi ke sana."
Lily menunduk, perasaannya tidak bisa dideskripsikan dengan kata kata.Â
Dan David, dia kembali memaksa tatapan Lily untuk menghadapnya.
"Sampai aku sadar, aku nyaman hidup denganmu. Aku tidak tahu perasaan apa ini, satu yang pasti, aku ingin kau tetap menjadi istriku. Sampai kapan pun itu."
🌹🌹🌹
To be continue...