Stuck With An Arrogant CEO

Stuck With An Arrogant CEO
Ventilasi



🌹vote yaaa🌹


"Sayang, kenapa? Kau ingin mabuk?"


Lily menggeleng, dia hanya merasa dingin. Apalagi mulai memasuki dataran tinggi, dan Lily memakai gaun tebal.


Melihat Lily terus mengusap perutnya, David memilih berhenti sebentar di rest area. "Kau ingin ke kamar mandi?"


Lily mengangguk malu malu. Diantar oleh David yang menunggu di luar, Lily masuk WC umum. Dia mengangkat roknya memperlihatkan celana dalamnya yang terbuat dari tile. Dan Lily tidak memakai celana lagi, membuat udara berhembus langsung masuk ke dalam.


"Kenapa Marylin membuat celana semacam ini? Ini membuatku dingin," ucap Lily pelan.


Dan sialnya lagi, Lily ingat dia tidak membawa celana. Kebanyakan dia membawa gaun hamil agar perutnya tidak tertekan, dengan celana dalam khusus ibu hamil. 


Sayangnya celana dalamnya sangat transparan membuat udara berlalu lalang.


"Sayang, apa kau tidak apa?"


Lily keluar dengan memasukan kedua tangannya dalam jaket. 


"Bolehkah… kita makan sup dulu di sini?"


David menatap banner yang ditatap Lily, di sana mereka menghidangkan sup iga.


David mengangguk, dia menggengam tangan Lily. Ini pertama kalinya mereka melakukan perjalanan malam hanya berdua, David ingin menjadi pria sesungguhnya yang bisa melindungi istrinya.


Lagipula Holland harus menyiapkan pernikahan dibantu oleh Nina dan Oma, juga Marylin.


Memesan sup iga, Lily tersenyum saat sup dihidangkan di depannya.


"Hati hati, itu masih panas."


Lily yang tidak sabaran langsung melahapnya. "Aduh, panas."


"Lihat, aku bilang apa. Jangan lakukan itu. Sini, biar aku yang meniupnya."


Dengan telaten, David meniup sup dan menyuapkannya pada Lily.


"Kau tidak pesan?"


"Tidak."


Alasannya karena jika kenyang, David akan mengantuk.


Sambil makan, David melihat Lily terus memegang bagian bawah perutnya. "Sayang ada apa? Apa kau ingin buang air kecil lagi?"


Lily menggeleng, sebenarnya dia menahan dingin yang masuk.


Sampai makan selesai, Lily masih melakukannya.


"Sayang, aku tahu ada yang salah. Ada apa?"


Baru saat dalam mobil, Lily mengatakannya dengan malu malu.


"Sayang, katakan."


"Celana dalamku terlalu…. Terbuka, membuatku kedinginan."


"Benarkah?"


"David, aku malu," ucap Lily saat suaminya hendak mengangkat roknya.


"Sayang, aku pernah melihat lebih dalam dari itu."


Lily menunduk malu saat David mengangkat roknya. Suaminya berdecak, "Ck, pantas saja. Terlalu banyak ventilasi. Apa Marylin membuat yang seperti ini semua?"


Lily mengangguk.


"Pakai celana dalamku dan boxer, itu akan menghangatkan."


Lily malu untuk berucap.


"Tidak perlu malu, sebentar aku ambil."


David membawanya dari bagasi.


"Pakai ini, Sayang."


"Apa ini menghangatkan?"


"Apa perlu bertanya? Bagaimana senapanku saat pertama kali kau membukanya, hangat bukan? Ini celana dalam dan boxer premium yang dibuat hanya untukku, ayo pakai."


🌹🌹🌹


Sayangnya Lily tertidur, membuat David harus menggendongnya agar dia tidak terbangun. 


Sementara untuk barang barang dibantu oleh penjaga villa di sana.


"Ada yang bisa saya bantu lagi, Tuan Muda?"


"Ya, siapkan kejutannya."


"Baik, Tuan Muda."


David membawa Lily ke kamar utama dan menidurkannya di sana. Dia akan membiarkan Lily istirahat untuk tengah malam nanti.


Sebelum pergi, David mengusap perut istrinya tersayang. "Papa pergi sebentar ya."


David mempersiapkan dirinya setampan mungkin, dia memakai sweater hitam lengkap dengan rambutnya yang mencuat ke atas.


Pesta kejutannya ada di balkon halaman belakang yang mengarah langsung ke pesawahan yang diterangi banyak lentera membentuk hati. Dan itu akan dinyalakan nanti jika Lily datang.


"Sayang… ayo bangun, aku punya sesuatu untukmu."


"Hmmmmm?" Lily berguman tidak karuan.


"Sayang, ayo bangun. Ada sesuatu yang harus kau lihat."


Kenyataan pahit, Lily memejamkan matanya rapat. Bayi bayi dalam perutnya seolah tidak mengizinkannya bangun.


"Sayang, ada yang ingin aku tunjukan padamu. Ayo bangun."


"Hmmmmm?"


David kehilangan kesabaran, dia tidak ingin tengah malam lewat begitu saja. Dia mencoba membangunkan dengan ciuman di pipi. "Sayang…. Ayo bangun…."


"Hmmmmm?"


Plak!


Tanpa diduga tangan Lily tidak sengaja menampar pipi David yang membuat pria itu mengedip beberapa kali. "Astaga, aku harus bagaimana?"


David beranjak dari tempat tidur. Dia menuju tempat kejutan di mana orang orang pejaga villa sudah ada di sana.


Tangan David menyiratkan agar lentera jangan dulu dinyalakan.


"Tuan, apa ada yang salah?"


"Istriku tidak mau bangun, sebentar aku akan mencari jalan lain."


Dan David menghubunginya dari sana, menelpon Lily beberapa kali sampai akhirnya istrinya mengangkatnya.


"David?" Suara khas bangun tidur.


"Sayang, tolong aku. Kakiku digigit, aku ada di balkon belakang. Tolong aku!"


"Astaga, sebentar aku datang."


David langsung menutup telponnya, membuat Lily yang berlari kacau. 


"David?! David?! Jangan matikan tel…..," ucapan Lily menggatung saat dia keluar dari pintu. Satu per satu cahaya di bawah sana menyala lalu akhirnya membentuk hati dan bertuliskan I love you. 


Akibatnya, sawah terterangi cahaya lentera, diiringi oleh suara angklung dan suling yang mengingatkan Lily pada kampung halaman.


Lalu datanglah David, "Selamat ulang tahun, Sayang."


"David…." Mata Lily berkaca kaca. "Kau bilang…. Kau tergigit."


David terkekeh, dia merangkup pipi Lily. "Aku digigit semut."


"Apa?"


"Selamat menua, Sayang. Aku mencintaimu."


Lily mendapat pelukan hangat dari David, diiringi suara jangkrik di sawah yang begitu indah.


"Aku juga mencintaimu."


"Aku tahu, aku tahu, Sayang. Tidak ada yang tidak jatuh hati pada pria sepertiku. Dan aku melabuhkan hatiku padamu, Sayang."


🌹🌹🌹


tbc...


ha ha ha ha.