Stuck With An Arrogant CEO

Stuck With An Arrogant CEO
Popok



🌹Vote dong🌹


"Oma… maaf aku terlambat."


"Tidak apa, kemarilah."


"Di mana Eta?"


"Sedang membeli permen."


Kening Lily berkerut. "Aku membelikannya untuk Oma."


"Ya, aku perlu banyak."


"Untuk apa?"


"Diet, Oma harus muat dengan pakaian gaun brides maid itu. Jangan khawatir, Oma akan baik baik saja."


"Oma, tidak perlu. Oma sudah muat dengan itu."


"Ya, tapi Oma merasa tidak. Sudah kau pesan saja."


Lily melakukannya, dia memesan pizza papperoni dan bagelen. Saat bertanya pada Oma ingin pesan apa, Oma menjawab, "Aku sudah pesan tadi."


Kenyataannya, yang Oma pesan adalah air dingin dengan makanan sup telur tanpa apa pun.


"Kenapa Oma pesan ini?"


"Oma sedang menurunkan berat badan."


"Oma…."


"Makan saja milikmu," ucap Oma saat pesanan Lily datang.


Karena lapar telah selesai senam, Lily makan dengan lahap, membuat Oma di depannya menelan ludah kasar. "Astaga, apa bodyguard mu tidak diajak makan?"


"Dia bilang punya pola makan berbeda, jadi dia mengawasi di sana."


"Tidakah kau merasa takut dengannya? Dia mengawasi dengan matanya yang tajam. Apa jangan janga….."


"Oma, jangan menakut nakuti."


"Dia robot?"


"Mana ada robot, sudah lah Oma ayo makan siang. Habiskan punya Oma."


Sebenarnya Oma mengajak Lily bicara agar dia tidak mendengar suara kunyahan pizza yang begitu menggiurkan dan terdengar penuh kenikmatan.


"Lily, Oma mau sepotong."


"Hmmm? Ambil saja Oma."


Lily yang baru makan sepotong pizza itu membiarkan Oma mengambilnya.


"Lusa kau ulang tahun, apa yang kalian rencanakan? Bagaimana kalau makan malam di rumah Oma? Eh, jangan, jika kalian makan nanti Oma ikut makan," ucap Oma mengambil lagi potongan pizza yang lain.


Dan percayalah, Oma sangat pandai bicara sambil menelan makanan. Membuat Lily baru habis satu potong sedangkan Oma yang ketiga kalinya.


"Apa yang kalian rencanakan?"


Pembicaraan itu membuat Lily menahan untuk menggigit makanan. "Aku belum tahu pasti. Tapi menurutku David akan memberikan kejutan."


Oma mengambil potongan yang lain. "Benarkah. Apa yang kau harapkan?"


Lily tertahan untuk menggigit. "Harapanku dia bisa bersamaku selamanya, Oma. Menemaniku dan anak anak."


"Oh ya, seperti apa?"


Dan seperti itulah hingga akhirnya Oma menghabiskan makanan Lily.


🌹🌹🌹


"Apa lagi yang kau butuhkan?"


"Aku rasa sudah, Oma."


"Bagaimana dengan kebutuhan bayi?"


"David bilang dia akan membelinya bukan dari Indonesia."


"Ini sudah bulan keempat bukan?"


Lily mengangguk.


"Setidaknya ayo kita lihat lihat di sana."


"Baiklah, Oma."


Sambil melanglah menuju tempat peralatan bayi, keduanya bercerita.


"Apa Nina selalu mengikutimu?"


"Dia datang saat David pergi, dan pergi saat David datang."


Tidak ingin membicarakannya lagi, Oma mengalihkan pembicaraan.


"Dulu Oma membeli peralatan bayi begitu tahu Dena hamil, dan menyuruh anak Oma segera pulang dari kaburnya."


"Kabur?"


"Dulu mereka kawin lari, tapi ya semuanya berakhir secepat itu. Oma merasa kasihan pada David. Papanya sudah meninggal, Mamanya menikah lagi dan punya keluarga baru. David menanggung semuanya seorang diri, dia selalu memendamnya."


"Benarkah, Oma?"


"Iya, itu yang menghambat David dewasa. Dia tidak ingin dunia penuh masalah, makannya dia masih kekanak kanakan hingga saat ini."


Lily tidak menyangka akan hal itu.


"Tapi saat bersamamu, David menjadi berubah. Kau memang yang terbaik."


"Terima kasih, Oma. Ngomong ngomong Lily merasa lelah, Lily akan diam di sini sebentar," ucap Lily duduk dan mengusap perutnya.


"Astaga, kau kesakitan?"


"Tidak, Oma. Ini hanya lelah."


"Kalau begitu tunggu di sini, Oma akan lihat lihat ke dalam."


"Baik, Oma."


"Nina! Tunggu majikanmu di sini!"


"Baik, Nyonya Besar."


"Ayo, Eta. Kita berperang."


Eta hanya mengangguk memgikuti langkah Oma dari belakang.


Oma berhenti di bagian popok, dia memilih milih popok bayi. Sampai seorang anak kecil yang orangtuanya sedang membeli pakaian itu mendekat.


"Apa nenek nenek juga pakai popok anak kecil?"


Oma mengerutkan keningnya lalu menoleh menatap makhluk pendek. "Kau bicara padaku?"


Anak itu mengangguk. "Apa matamu sedikit bermasalah, Nyonya? Popok orang dewasa sebelah sana. Ini popok untuk bayi."


🌹🌹🌹


tbc