Stuck With An Arrogant CEO

Stuck With An Arrogant CEO
Kertas Permohonan



🌹VOTE🌹


Lily melambaikan tangan melihat kepergian kedua orangtuanya. Dia tersenyum menahan tangis saat mereka hilang di koridor. Dan saat itulah David menggenggam tangannya erat.


"Tidak apa, Sayang. Mereka akan kembali ke sini suatu saat nanti."


Lily tersenyum, dia memeluk David.


"Astaga, apa kau sangat mencintaiku sampai melakukan ini? Aku tahu aku tampan, dan kaya, dan baik hati. Pantas saja kau sangat mencintaiku, Sayang."


"David…"


"Hmmm?"


"Aku ingin makan sebelum pulang."


David menatap jam tangannya, ini sudah pukul dua dini hari. "Kau memeluku agar kita berjalan jalan di malam hari?"


Lily terkekeh, dia menggandeng tangan David menuju ke dalam mobil. Lily sudah mengganti baju dengan gaun tidur yang panjang.


"Ingin makan di mana?"


"Di pinggiran, ayok."


"Pinggiran?" Tanya David tidak percaya.


"Ayolah, kau sering melakukannya denganku."


David menarik napas dalam. Demi Lily, kini dia beralih tempat menjadi makan di pinggiran. Dan piliha Lily jatuh pada pedagang sate yang ada di pinggir jalan.


"Kau ingin makan sate?"


Lily mengangguk.


"Di jam seperti ini?"


"Apa yang salah, David?"


"Bagaimana jika ini tempat sate yang didatangi Suzana?"


Lily tertawa tidak percaya. "Kau percaya itu? Kau menonton film Suzana?"


"Sayang, seharusnya kau paham dimana aku menemukan hal hal semacam itu."


"Ah, Oma," gumam Lily yang dibalas anggukan oleh David.


Keduanya keluar. Seperti biasa, hanya Lily yang memesan makanan di sana. David menatap istrinya yang makan dengan lahap.


"Perlahan, Sayang. Makan dengan pelan."


Lily tersenyum, dia merasa sangat bahagia hari ini.


Dan ada satu yang ingin Lily tanyakan, dia sangat penasara. "Hmm… David?"


"Katakan, sayang. Jangan membuat diri sendiri menjadi penasaran."


"Apakah…?"


"Ya?"


"Dena?"


David berhenti mengaduk teh manis, dia menatap Lily lalu menggenggam tangannya. "Jangan khawatir, dia tidak akan mengganggu kita lagi."


"Bukan begitu, David. Dia itu orang yang melahirkanmu."


David tau kemana arah pembicaran istrinya. "Lily Sayang, aku tidak melakukannya untuk siapa pun. Aku tidak ingin dia menjadi monster mengerikan, Sayang."


"Apa itu…. Tidak keterlaluan?"


David menggeleng. "Aku punya perhitungan sendiri, Sayang. Jangan khawatirkan apa pun."


Lily menatap dalam David, yang membuat pria itu sedikit salah tingkah. "Apa kau ingin kita membuat adonan? Baiklah cepat selesaikan makannya, Sayang."


"A--apa? Bukan begitu."


🌹🌹🌹


"Nyonya Besar, ayo bangun. Mereka akan kembali."


"Booyaaaaahhhh," ucap Oma dalam tidurnya, dia malah terlentang.


"Nyonya Besar, ayo bangun. Kita kembali ke tempat kita, ke kamar hotemu, Nyonya."


Oma malah mengeluarkan suara.


"Nyonya…."


Eta kebingungan, apalagi saat mendengar suara pintu terbuka. Di sana Lily dan David datang.


"Tuan, Nyonya…"


"Astaga, kenapa ada pendiri Lambe Turah di atas lahan pabriku?"


"David…"


"Maaf, Tuan. Saya mencoba membangunkannya, tapi Nyonya Besar tetap tidur."


"Apa yang ditangannya?" Tanya David.


"Cerita putri duyung, sebelumnya Nyonya Besar membacakannya untuk Nyonya Muda."


"Tapi dia malah tertidur?"


"Iya, Tuan."


David menggelengkan kepalanya tidak percaya.


"David, ayo pergi ke kamar lain."


"Lahan pabrik kita digusur, lihatlah bagaimana Oma tidur di atas mawar yang aku pesan, Sayang?"


"David, ayo pergi."


"Mawarku."


"David, ayo," ucap Lily menarik suaminya untuk menuju ke kamar hotel milik Oma.


"Sampai jumpa, Mawar mahalku."


"Boooyaaaaah!" Teriak Oma dalam tidurnya.


"Ayo, keluar," ucap Lily lagi. "Oma sedang main game."


David terpaksa menurut, di kamar dia melihat ada banyak jimat China bergantungan.


"Astaga, apa ini?" Tanya David.


Kamar Oma penuh dengan jimat dan salib seolah membuat David merasa dirinya dalam film horror.


"Sayang, jimat apa ini?"


"Ini bukan jimat, ini kertas permohonan."


"Hah?"


"Lihat ini, Oma memohon banyak hal."


"Apa saja?"


"Agar kau tetap tampan supaya aku tetap mencintaimu."


"Apa?!"


🌹🌹🌹


Tbc.