
🌹VOTE YA GAISSSS🌹
🌹IGE KUH : @Redlily123🌹
Semua orang telah pulang, meninggalkan Lily, David, anak anak dan juga dua pengasuh paruh baya khusus untuk Baby Ares dan Baby Athena.
Lily tidak ingin memasak dibantu oleh orang lain. Dia ingin berguna bagi anak anak dan suaminya juga. Dan kedua pengasuh itu hanya diperbolehkan datang saat David pergi. Jadi, Lily ingin merasakan sosok ibu yang sebenarnya.
Seperti sekarang, Lily sedang menimang Baby Athena yang lebih rewel daripada kakaknya. Baby Ares sudah terlelap di dalam box bayi mungil miliknya.
"Sayang…., Ingin bergantian?"
"Tidak usah," jawab Lily masih dingin.Â
Lily sengaja membuka tirau kamar, yang memperlihatkan kolam ikan dan gazebo di halaman belakang.
"Sayang…., Aku merindukanmu," ucap David memeluk dari belakang. "Kita berdamai ya?"
"Aku bilang aku masih butuh waktu, David."
"Sampai kapan."
"Sampai aku bisa mencerna semua apa yang terjadi. Kau tahu kematian bukan untuk permainan."
David mengangguk. "Aku paham, maaf."
"Periksa Ares dulu, aku sedang mencoba menidurkan Athena."
David menunduk, menatap Baby Athena yang belum juga memejamkan mata.Â
Dia tidak menyusu, tidak juga memejamkan mata. Yang ada hanya merengek layaknya bayi yang bosan dengan keadaan.
"Biar aku yang menggendongnya, kau istirahat saja, Sayang."
Lily ragu.
"Ayolah, kau tahu aku ahli dalam semua hal."
Dan karena itu, Lily memberikannya pada David. "Oke… come here my darling….."
Lily tersenyum mendengar rengekan Baby Athena berhenti.Â
"Aku akan membawanya ke lantai atas. Ingin ikut? Kau belum melihat keadaan lantai dua, Sayang."
"Nanti saja, aku ingin menyusui Ares. Dia tidak akan menyusu jika tidak diberi."
David cemberut merasa diabaikan. Dia menatap putrinya yang ada dalam pangkuan. "Tidak apa, Sayang. Kita akan berduaan juga di lantai atas. Come on."
Kaki David melangkah menaiki tangga menuju lantai dua. Di sana hanya ada ruangan luas. Lebih tepatnta loteng, bukan lantai dua. Karena ini satu lantai. Atap yang dibuat terbuka.
David mengubah konsep mewah jadi sederhana dengan ruangan yang terbatas. Supaya jika Lily marah padanya, mereka tetap berdekatan.
Di atap, hanya ada ruangan kosong. Dan benda benda akan bermunculan jika menekan tombol yang diinginkan.
Seperti sekarang, David menekan untuk memuculkan sofa dan perapian.
"Ayo kita bersantai di sana, My Baby."
David duduk, dia tersenyum menatap wajah cantik putrinya yang kembali merengek.
"Hallo bayi kaya, cantik dan istimewa milik Daddy. Merengeklah, apa yang kau inginkan?"
David tidak mengerti, Baby Ares sangat kalem dan tenang, berbanding terbalik dengan saudarinya.
"Athena, apa kau menyerap semua rengekan kakakmu? Atau kau tidak kebagian sifat kalem dan cool dari Daddy ini? Benar begitu?"
🌹🌹🌹
"Ada apa?"
"Kau benar benar akan ke Amerika?" Tanya David yang masih fokus pada laptop.
"Kenapa semua orang menyindir Amerika? Ya, aku akan ke sana."
"Aku perlu bantuanmu," ucap David menatap Sebastian. "Aku butuh kau untuk membuat istriku tidak marah lagi."
"Kenapa harus aku yang melakukannya?" Tanya Sebastian, dia duduk di sofa.
"Kau ini biangnya wanita. Beritahu aku cara membujuk wanita dengan cara yang tepat."
"Apa kau lupa? Kau adalah mantan biang wanita."
"Dan aku melupakannya karena jatuh cinta."
Sebastian berdecak, dia mengendurkan dasinya. "Kau bisa memberinya bunga."
"Tidakkah itu terlalu sederhana?"
"Istrimu sederhana. Kalau dia masih marah, kenapa ke kantor?"
"Aku harus memergoki para pemegang saham yang akan rapat untuk menggantikan posisiku."
"Astaga," gumam Sebastian. "Dia melakukannya?"
"Aku butuh saranmu untuk Lily."
"Wanita suka seorang pria yang dingin dan terkesan badboy. Percaya atau tidak. Tapi karena Lily melihat sifat aslimu, beri saja dia bunga."
"Berikan begitu saja?"
Sebastian menggeleng. "Tekan bel. Lalu saat istrimu keluar, kau berbalik untuk memberi kesan misterius. Lalu katakan isi hatimu, setelahnya berbalik dan memberikan bunga di tanganmu. Itu akan sangat manjur."
"Benarkah?"
"Mau taruhan?"
"Tidak," gumam David melangkah keluar begitu saja.
Membuat Sebastian bingung. "Hei! Kau mau kemana?!"
"Pulang. Apa yang kau lakukan di ruanganku, Bas?!"
Sebastian menggeleng. "Sungguh siaall."
David saat itu juga melakukan apa yang dikatakan Sebastian. Dia membeli bunga mawar.
Seharian dia sudah menyelesaikan tugasnya dan pekerjaannya, tapi dia diam sampai sore memikirkan cara meminta maaf pada istrinya.
Tadi pagi saja Lily masih dingin, meskipun masih membalas ucapannya.Â
Sesuai instruksi, sampai di depan pintu rumah David segera menekan bel kemudian berbalik membelakangi. Punggungnya tepat tersinari sinar matahari.
Saat terdengar pintu terbuka, David berucap, "Sayang, aku tahu aku salah. Kematian adalah hal yang tidak diperuntukan permainan. Begitu pun dengan cintaku. Aku ingin membuktikan padamu. Kalau aku mencintaimu, Sayang. Maafkanlah aku, dan genggam tanganku lagi."
Dan saat David berbalik…… "Astaga, Eta!"
🌹🌹🌹
TBC.