Stuck With An Arrogant CEO

Stuck With An Arrogant CEO
S3 : ARES FERNANDEZ



🌹JANGAN LUPA KASIH EMAK VOTE YA ANAK ANAK KESAYANGAN EMAK SEMUANYA.🌹


🌹IGEH EMAK JUGA DIFOLLOW DI : @REDLILY123.🌹


🌹SELAMAT MEMBACA, EMAK SAYANG KALIAN SEMUA.🌹


Kedatangan Ares tentu saja membuatnya menjadi pusat perhatian, apalagi dengan menggandeng seorang wanita yang sangat cantik yang sering mereka bicarakan. Dan hal hal yang kembali mereka dengar adalah;


“Wah…, mereka sangat cocok.”


“Aku patah hati, tapi mereka sangat serasi.”


“Tampan dan cantik, ya itulah takdir.”


“Sudah kukatakan Kak Ares mengincar wanita itu.”


“Aku rasa club penggemar Ares akan berhenti sampai di sini, dia sudah bahagia.”


“Kita harus menyemangatinya sebagai idola kita, kita harus tetap mendukungnya meskipun ini terasa sakit.”


“Ares dan Laura, wah aku tidak sabar menunggu undangan datang.”


Hal itu membuat Ares berdehem, dia merasa agak canggung dan risih.


Laura duduk lebih dulu di bangku di sana.


“Aku ingin makan burger tanpa daging, juga salad tomat dan jus wortel,” ucapnya sambil menatap Ares yang masih berdiri.


Hal itu membuat Ares mengerutkan keningnya. “Kau seharusnya memesan ke sana, aku tidak bekerja di sini.”


Laura mengerucutkan bibirnya, sambil merengek manja dan menggoyangkan tangan Ares. “Pesankan untukku, aku benar benar kelelahan.”


“Oke, baiklah,” ucap Ares segera melepaskan tangannya dan berjalan ke tempat pemesanan. Dia meminta beberapa makanan untuknya dan pesanan Laura, kemudian Ares kembali ke meja yang ditempati Laura.


Mata Ares melotot melihat sekumpulan teman temannya ternyata ada di meja di belakang Laura.


Membuat Laura menengok ke belakang kemudian tertawa. “Mereka sangat lucu.”


“Lucu? Kau serius? Mereka itu mengerikan, kuharap kau tidak terganggu.”


“Tentu tidak, jika bersamamu aku suka.”


Otak Ares teringat akan sesuatu, yang membuatnya bertanya. “Apa Cantika sekolah?”


“Kenapa kau menanyakannya?”


“Aku membeli susu strawberry, dan dia menyukainya. Jadi akan aku berikan padannya.”


Laura memalingkan wajahnya sesaat. “Cantika tidak masuk sekolah.”


“Apa? Kau serius?”


“Ya, dalam keterangannya dia sakit,” ucap Laura kemudian menggenggam tangan Ares yang ada di atas meja. “Bisakah kita mencari topic pembicaraan lain? Kenapa kau selalu bertanya tentang dia?”


“Dia sahabatku, dan mungkin aku yang membuatnya sakit dan tidak masuk sekolah.”


“Kau bisa memengoknya nanti, mari alihkan pembicaraan.


“Baiklah,” ucap Ares menarik tangannya yang digenggam Laura secara perlahan, supaya perempuan itu tidak terlalu menyadarinya.“Kau sedang diet?”


“Ya.”


“Lalu itu artinya kau tidak memakan kue milikku?”


Laura terdiam beberapa detik, setelahnya dia mengubah ekspresi wajahnya dengan cepat. “Siapa yang mengatakan itu? Aku memakannya. Selama kau yang membuatnya, aku akan memakan apapun itu.”


🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Cantika memasukan kekurangannya ke dalam kantong.


“Kenapa keluar? Bukankah masih sakit?”


“Tidak,” ucap Cantika. “Lihat, sekarang sudah bisa digerakan. Biar Cantika yang memberikannya pada tetangga.”


“Lahh bisa berjalan, kalau sudah begini tadi sekolah saja,” omel sang Nenek.


“Lah, kan Nenek yang bilang Cantika jangan sekolah tadi pagi.”


“Yasudah sana, berikan itu pada mereka. Udah kasih jamu untuk Mamamu?”


“Sudah, Nek. Mama sedang tidur,” jawab Cantika melangkah menuju pintu keluar.


Meskipun dia masih terpincang pincang saat berjalan, tapi rasa sakitnya tidak seburuk seperti kemarin.


Cantika berjalan menuju ke rumah Laura, dia mengerutkan keningnya saat pintu itu terbuka.


“Permisi?! Tomat pesanannya, Bu.”


“Bawa ke dapur, De,” ucap seseorang dari dalam sana.


Yang mana membuat Cantika berani masuk dan mencari cari dapur.


“Hallo, Bu. Ini tomat pesanannya.”


“Oh, iya. Letakan di meja itu. Cantika tidak sekolah?” tanya wanita yang sedang mencuci sayuran.


“Izin sakit, Bu,” jawab Cantika. “Bibi nya kemana, Bu?”


Karena biasanya pembantu lah yang mengerjakan semuanya.


“Libur dulu, jadi Ibu kerja sendiri.”


“Oh iya.”


“Sambil keluar titip sampah ini ya, buang ke belakang. Cantika jalan belakang gimana?”


“Iya, Bu. Tidak apa apa. Yang ini ya?” Cantika menunjuk kantong sampah.


“Iya, terima kasih ya. Uangnya sudah ‘kan kemarin?”


“Iya, Bu sudah. Cantika permisi.”


Karena harus membuang sampah, Cantika berjalan ke belakang rumah Laura untuk membuangnya.


Saat sampai di sana, dia melemparnya pada lubang sampah di sana. Dan terkejutnya dia saat melihat sesuatu yang tidak asing.


Itu adalah keranjang yang dibawa Ares, dan cookiesnya pun masih ada, hanya dengan kondisi yang sudah sangat buruk karena tertindih sampah lain.


“Apa Laura tidak memakannya?”


🌹🌹🌹🌹


 


 


TO BE CONTINUE