
🌹Vote vote vote terus guys🌹
"Selamat datang," ucap Lily menyambut kedatangan suaminya, dia menyiapkan makan malam seperti biasanya.Â
"Hai, Sayang," ucap David mendekat dan memberikan ciuman di bibir Lily.
Terlihat David yang sedikit ragu, terlihat bingung untuk mengatakan sesuatu. Membuat Lily kebingungan. "Ada apa?"
"Sayang… aku rasa kau tidak membaca pesanku."
"Pesanmu?" Lily bergegas mengambil ponselnya yang sedang di carger. Melihat dua pesan yang David kirimkan. Matanya menatap lama pesan singkat yang menjelaskan bahwa David akan makan malam di luar bersama dengan investor. "Kau sudah makan?"
"Aku tidak keberatan memakan ini jika bersamamu."
"Tapi kau makan cukup banyak tadi," ucap Lily melihat pesan lain yang memperlihatkan kalau meja makan malam David tadi penuh dengan makanan laut, sialnya lagi kini Lily memasak kerang dan cumi goreng.
"Tidak apa, Sayang, kita bisa memakannya tanpa nasi."
"Tidak usah memaksa, apa kau ingin mandi?"
David tidak bisa berbohong, dia sangat kenyang. Terlepas dari itu, David dalam program sehat dan bugar demi masa depannya bersama Lily, supaya tidak ada yang mengira mereka anak dan ayah.
"Maaf, Sayang…" David mendekat, dia memberi ciuman di pipi untuk istrinya. "Aku bisa memakannya nanti jika semua makanan di perut sudah agak turun. Aku ke atas dulu ya."
Lily hanya mengangguk enggan memberikan tatapan. Saat David naik ke lantai dua, Lily segera pergi ke kamar mandi di lantai satu.
Dia mengeluarkan semua kekesalannya dengan menangis keras. Lily sengaja menyalakan shower, sementara dirinya duduk di closet sambil terisak. Rasanya sangat sesak dan tidak bisa didefinisikan. Lily sendiri bingung, dirinya tahan banting, tapi jika David yang melakukannya, kini rasanya sangat menyakitkan.
Karena Lily tidak kunjung naik ke lantai dua, David yang siap mandi itu turun dan mencari istrinya. "Lily? Sayang?"
Lily segera menyeka air matanya. "Aku di sini."
David mengikuti suara. "Apa yang kau lakukan di dalam? Kenapa mandi di sini?"
"Aku tidak mandi, aku sedang merasa mulas."
"Kau sakit?"
"Tidak, David. Maaf, bisakah kau mandi sendiri? Aku mungkin akan lama di sini."
David mengangguk di sana. "Tidak apa, aku akan mandi."
Setelah yakin David pergi, Lily segera menyeka air matanya dan kembali membereskan penampilannya. Lily keluar dari sana dan segera makan malam seorang diri. Kekesalannya masih ada, dia bahkan menghabiskan semua lauk pauknya sendirian tanpa bantuan David.
Kekesalan itu dia telan mentah mentah seorang diri.Â
Sampai David terkejut melihat Lily sedang mencuci piring menghabiskan banyaknya makanan di meja.
"Sayang, apa kau menghabiskan semuanya?"
"Ya, sayang jika dibuang."
David merasa nada bicara Lily penuh tekanan, apalagi posisi membelakangi, membuat David menggaruk alisnya bingung.Â
"Aku membawa sesuatu untukmu."
"Apa itu?" Tanya Lily.
"Berbaliklah."
Sebelum melakukannya, Lily menarik napas dalam dan menyiapkan senyuman. "Apa yang kau bawa?"
"Sebuah buku untukmu belajar bahasa Inggris."
Seketika Lily tersenyum, dia mendekat dan memeluk David seketika.
"Terima kasih, David."
"Oh, apapun untukmu, Sayangku."
🌹🌹🌹
Semakin hari, perasaan Lily semakin sensitive. Contohnya saja dua hari ke belakang ini David tidak meyetuhnya, alasannya karena David harus bekerja sampai sampai membawa pekerjaanya ke apartemen. Dia juga selalu bangun pagi untuk pergi lebih cepat. Lily merasa… David tidak menginginkannya lagi.
Lily diam cemberut menonton kartun di kamarnya saat David sedang bekerja di balkon seperti biasa.
David menydarinya, bagaiman Lily cemberut dan kesal padanya.Â
David menutup laptopnya, dia mendekati Lily yang sedang berbaring di sofa. "Apa kau belum mengantuk, Sayang?"
"Tidak," jawab Lily menegakan tubuh.
Dia membiarkan David duduk berselanjar di sana, kemudian Lily bisa bebas merebah di dada suaminya.
Tangan David entah kenapa masuk menerobos begitu saja ke dalam pakaian Lily begitu saja. Menyentuh perutnya dan mengelusnya di sana seolah dia tahu ada janin yang akan segera terbentuk di sana. Padahal, kenyataanya David tidak tahu.
Dia sendiri bingung, kenapa dirinya suka menyentuh perut Lily seperti ini. Rasanya menyenangkan dan menenangkan.Â
"Kenapa belum tidur?"
"Belum mengantuk."
"Matamu merah."
Lily mengadah. "David…."
David mengerti nada suara itu. "Apa yang kau inginkan? Katakan padaku."
"Aku ingin makan lengkeng."
"Gampang itu," ucap David mengeluarkan ponselnya, dia menghubungi Holland. "Holland, bawakan buah lengkeng dua kilo ke apartemen."
"Baik, Tuan."
"Bukankah itu terlalu banyak?" Tanya Lily saat telpon terputus.
"Benarkah? Kita simpan saja sisanya."
"Aku ikut, kita makan saja di bawah."
David membawanya dari Holland, sementara Lily menyiapkan air minum di sofa yang ada di balkon lantai pertama. Balkon yang luas, terdapat gazebo di sana. "Kita makan di sana?" Tanya Lily sambil menunjuk ke luar jendela.
"Aku ikut saja."
Lily tersenyum bahagia, dia ke sana lebih dulu dan menunggu David membawa satu keranjang buah lengkeng.
Lily bertepuk tangan senang.
"Apa ini tidak terlalu banyak?" Tanya Lily kebingungan.
"Tidak, kita simpan saja."
Dan malam itu, Lily memakannya cukup banyak sampai akhirnya habis.
"David… aku mau lagi."
David terkekeh, tanpa sadar dia berucap, "Astaga, kau seperti orang yang sedang berbadan dua."
🌹🌹🌹
Ini adalah hari yang ditunggu tunggu Lily, dia akan memberi kejutan dengan Oma untuk David. Saat bersiap di apartemen, Lily menelpon Oma.
"Oma? Kita akan berangkat bersama?"
"Sayang, maafkan Oma, Oma barusan mengalami diare. Kau duluan tidak apa?"
"Astaga, lekas sembuh Oma. Tidak apa, nanti Lily akan ke rumah bersama David."
"Baik, Oma tunggu kalian. Dan ambil kue di toko kue Samaranda, Oma memesan. Bilang atas Nama Nyonya Fernandez."
Lily melihat hadiahnya dalam kotak kecil sudah ada di dalam tas miliknya. Sekarang tugasnya berarti hanyalah mengambil kue. Holland sudah siap di bawah seperti biasa.
"Selamat siang, Nyonya."
"Selamat siang, Holland."
Lily masuk ke dalam. "Kita ke toko kue dulu, Holland."
"Baik, Nyonya."
Di perjalanan, Lily ingat bagaimana pagi dan malam tadi David menyinggung soal ulang tahun, dan dirinya sengaja pura pura lupa untuk hal ini. Lily ingin semuanya menjadi kejutan.
Saat masuk ke toko kue, Holland mengikuti dari belakang Lily.Â
"Selamat datang di toko kami."
"Hallo, aku ingin membawa kue pesanan atas Nama Nyonya Fernandez."
"Anda membawa struknya, Nyonya?"
Lily mengeluarkan ponselnya dan memperlihatkan Oma yang merekam diri lalu mengatakan dia memindahkan kekuasaan mengambil kue pada cucu menantunya. Yang membuat pegawai di sana menjadi segan pada Lily.
"Sebentar, Nyonya."
Lily menunggu kue itu tiba, pikirnya kue itu akan besar. Kenyataanya, kuenya hanyalah sebesar ponsel, berwarna emas dan banyak dijumpai permata di sana. Tulisan yang menawan dan elegan.
"Apa kau yakin ini kue nya?"
"Betul, Nyonya. Ini rincian yang diberikan Nyonya Besar waktu itu."
Lily membacanya, sampai dia menelan ludah akibat biaya pembuatannya. Pantas saja kue sekecil ini berada dalam lemari kaca besar dengan pengamanan super.
"Baik, Terima kasih."
Holland yang membawakannya. Saat di mobil, Lily mengeluarkan kue itu dari balik kaca tebal, dan memindahkannya pada plastik kecil yang disiapkan pegawai tadi.Â
"Anda butuh bantuan, Nyonya?"
"Tidak, Holland. Terima kasih."
Lily berlari kecil menuju ke lift khsusu dirinya. Saat berada di lantai tempat David berada, tidak ada siapa pun. Yang menandakan sekretaris baru David sedang istirahat atau mengerjakan tugas dari David.
Lily menyimpan kuenya di meja sekretaris David dan mulai memasang lilin di sana. Setelahnya dia membawanya menuju pintu ruangan David.
Sayangnya, pintu itu tidak tertutup rapat, membuat Lily mendengar suara tawa Sebastian di dalam sana.
"Woho! Ha ha ha ha ha! Kau menang David, aku menantangmu memberi tahu istrimu tentang taruhan kita di awal, dan sesuai dugaanmu, dia tetap berada di sampingmu."
Lily menegang di sana.
"Itu artinya aku menang lagi."
"Ya, Bung. Kau selalu menang, kau memberitahunya tentang taruhan untuk taruhan yang lain. Selamat, kau mendapatkan kapal pesiarku. Kau hebat merekam saat adegan itu."
"Kapalnya sudah aku ambil."
"Aku tahu, itu milikmu."
Seketika itu pula Lily merasakan pusing, mual dan sesak. Penglihatannya tidak bisa fokus. Menelan semua kepahitan yang ada. Kenyataan bahwa David memberitahunya tentang taruhan di awal pernikahan adalah untuk taruhan yang lain. Lily merasa bingung, marah dan ingin berteriak menangis.
Lily tidak mendengar lagi apa yang mereka bicarakan, Lily fokus pada rasa sakitnya.
Perasaan itu dia telan semuanya sendirian, sampai akhirnya Lily jatuh pingsan.
David begitu jahat.
🌹🌹🌹
to be continue
ha ha ha ha ha ha ha ha