
🌹JANGAN LUPA KASIH EMAK VOTE YA KESAYANGAN EMAK SEMUANYA.🌹
🌹IGEH EMAK JUGA DIFOLLOW DI : @REDLILY123.🌹
🌹SELAMAT MEMBACA, EMAK SAYANG KALIAN SEMUA.🌹
Sesuai keinginan David, kini keduanya terlelap di mobil setelah aktivitas gila mereka tadi malam. Dan Lily benar benar tidak mendapati siapapun di sini, hanya ada deburan ombak dan angin.
Kali ini Lily dengan terlelap di bangku belakang sendirian karena dirinya merasa pegal jika harus duduk di pangkuan David untuk waktu yang lama, yang mana membuat pria itu pada akhirnya mengalah membiarkan sang istri menemukan ruang untuk dirinya sendiri di belakang.
Sebelum matahari terbit, David keluar dari mobil. Dia berjalan untuk mencari makanan hangat yang bisa dimakan istrinya saat bangun tadi.
Karena menyewa pantai, David harus melangkah cukup lama sendirian sampai akhirnya menemukan tukang bubur yang tengah bersiap untuk berjualan.
“Pak, saya bisa pesan?”
“Oh, bisa, Pak. Mau berapa?”
“Dua, tanpa kacang ya, Pak. Sama sate telurnya empat.”
“Silahkan tunggu sebentar, Pak.”
David duduk di bangku panjang sambil menatap ke arah pantai, masih sangat sepi sekali. Bahkan dalam perjalanan, David harus menerangi langkahnya dengan senter ponsel.
“Bapak sedang mencari penginapan, Pak? Ada yang murah di belakang toilet itu, Pak,” ucap sang penjual bubur yang sering melihat bule terlantarkan itu, dia merasa iba melihat David yang penampilannya kacau. Dengan rambutnya yang acak acakan.
“Maksudnya, Pak?”
“Iya.., daripada keluyuran takut ada yang jahat, mending menginap di sana. Itu murah kok, kalau Bapak gak bisa bayar juga bisa tidur di kamar yang kecil, sebagai bayarannya harus bersih bersih,” jelas penjual bubur itu mengatakan kalau David bisa menjadi pembantu jika dirinya tidak sanggup membayar.
David hanya menghela napas, nasib belum ada cahaya matahari bukan? jadi tidak ada yang bisa melihat wajah tampannya sekarang ini.
Dia berdehem. “Terima kasih sarannya, Pak,” ucap David mengeluarkan uang saat hendak membayar. “Ini uangnya.”
Dan saat melihat banyak lembaran seratus ribu di dompet David, tukang bubur itu terkejut bukan main. Seketika dia mengarahkan center pada wajah David yang membuat pria itu memejamkan matanya silau. “Pak? Kenapa, Pak?”
“Gusti Agung, tampan sekali. Maaf saya tidak lihat wajah bapak yang tampan paripurna, saya pikir Bapak gembel karena rambutnya acak acak begitu.”
David hanya tersenyum. “Tidak apa, Pak. Kembaliannya untuk Bapak saja ya.”
“Terima kasih, Bapak tampan.”
David semakin senang mendapatkan pujian tersebut, dia kembali ke mobil yang jauh dari jangkauang orang oorang.
Semakin dekat dengan mobil, semakin David mendengar suara isak tangis. Yang mana membuatnya bergegas untuk mendekat. Jujur saja, David takut sesuatu terjadi dengan istrinya.
“Sayang?” tanya David segera membuka pintu mobil, dia mendapati Lily yang sudah kembali berpakaian sedang menangis di sana. “Sayang ada apa?”
Lily mendongkak menatap David, membuat tangisannya semakin kencang.Â
“Sayang… kau kenapa?”
“Hiks…. Aku pikir….. hiks…”
David segera menyimpan bubur dia atap mobil, dirinya masuk dan memeluk sang istri. “Kenapa? katakan padaku? Apa ada yang menyakitimu?”
“Aku pikir… hiks…. Kau meninggalkanku….”
“Astaga, pikiran macam apa itu? Aku baru saja membeli bubur untukmu, Sayangku. Kenapa sampai berpikiran hal sepeti itu?”
“Oh, Sayangku… buang pikiran semacam itu. Kenapa aku tega meninggalkanmu? Hal itu tidak akan pernah terjadi, oke?”
Lily mengangguk dalam pelukan David.
🌹🌹🌹🌹
“Thea mau mommy…. Hiks…… hiks…..” bibir itu terus saja seperti itu, bahkan dari semalaman yang mana membuat Oma pusing.
Athena bangun tengah malam dan tidak menemukan sosok yang sebelumnya tidur dengannya. Menunggu beberapa jam tapi tidak kunjung kembali, ponsel David sepertinya dalam mode penerbangan, dan Lily meninggalkannya di sini. Hal itu membuat Oma kewalahan sendiri menangani Thea.
Padahal Ares begitu nyenyak sampai suara dari dalam mulutnya mirip dengan orang yang sekarat.
Baru bangun tidur, Athena kembali menangis menginginkan ibunya.
“Oma… hiks… Mommy… membuang Thea?”
“Kenapa dia membuang Thea? Kalau dia membuang Thea, pasti akan meninggalkan Thea sendirian.”
“Oma belalti juga dibuang…. Hiks… bagaimana nasib kita Oma? Hiks… bagaimana kita makan?”
Oma menatap Eta dengan penuh permohonan, membuat sosok itu menggeleng yang menandakan kalau David beum bisa dihubungi.
“Ayolah, Thea… mereka hanya butuh waktu berdua, seperti Thea yang selalu bermain bersama Ares tidak ingin diganggu oleh Oma dan Mommy.”
Athena masih belum berhenti menangis, yang mana membuat Ares terbangun.Â
Dia berjalan gontai dan menatap adiknya yang sedang mengeluarkan air mata. “Dia menangis lagi?”
“Menangis lagi?” tanya Oma bingung. “Kau tahu dia menangis semalam?”
Ares mengangguk sambil menguap.
“Lalu kenapa tidak membantu Oma menenanngkannya?”
“Itu merepotkan, Oma. Ares sedang bermimpi menjadi president. Aduh… air liur di pipi Ares jadi mengeras, bukankah air yang mengeras itu menjadi batu? Apakah ini batu Thea?”
Athena malah semakin histeris saat melihat pipi Ares yang memiliki semburat putih panjang yang menakutkan. “Huaaaa… hiksss… bau….”
“Oh iyakah?” tanya Ares berjalan dengan santai ke kamar mandi.
“Sudah jangan menangis, mereka akan pulang, Thea,” ucap Oma lagi. “Nanti tenggorokanmu sakit.”
“Bagaimana… hiks… Oma tau meleka akan pulang?”
“Eum…. Bagaimana jika Thea menyiapkan nama untuk bayi yang ada di kandungan Mommy?”
Seketika wajah Athena menjadi ceria. “Bolehkah? Nanti akan dipakai?”
Oma mengangguk. “Iya, sekarang berhenti menangis ya…”
“Horeee! Alesss! Ayo menyiapkan nama untuk bayi!” teriak Athena sambil berlari mencari saudaranya.
Yang mana membuat Oma menegang di tempatnya, dia agak menyesali perbuatannya. Oma tidak menyangka Athena akan melibatkan Ares. “Semoga saja…. semoga saja bukan nama yang aneh. Tuhanku, tolong berikan otak Ares pencerahan kali ini saja, Tuhanku.”
🌹🌹🌹🌹
TO BE CONTINUE