Stuck With An Arrogant CEO

Stuck With An Arrogant CEO
Dihina



🌹Vote Vote Vote Vote Vote dong, Guys🌹


"Dia akan menjadi istrimu."


"Mama!"


"Aku akan ke kamar dulu," ucap Lily pelan, tanpa menatap siapapun, Lily melangkah meninggalkan meja makan dengan wajah sendu.


"Lily! Lily Sayang," panggil David berulang kali. "Lily Sayang, tunggu aku."


"Kau tidak akan pergi ke mana pun, David," ucap Dena menahan tangan David saat putranya hendak menyusul Lily. "Duduk dan makan malam dengan calon istrimu."


"Mama, kau gila," ucap David melepaskan tangannya dari jangkauan Dena. David melangkah, dan saat dia bertemu Eta, David berkata, "Eta, bawakan makan malam untukku dan Lily di kamar. Buatkan pudding dan makanan manis untuk istriku."


"Baik, Tuan Muda."


"David!" Panggil Dena. "David kembali! David duduk kembali dan bicara dengan calon istrimu. David! Tidak sopan mengabaikan orangtua, David!"


"Mama, sudahlah," ucap Megan dengan suaranya yang dibuat buat, dia sengaja menggunakan bahasa Inggris untuk membuat Dena mengingat kalau dirinya lebih pintar dari Lily. "Let David go, maybe he's not fully conscious (Biarkan David pergi, mungkin dia belum sadar sepenuhnya.)"


Dena menarik napas dalam. "You're right, David just hasn't opened his eyes. (Kau benar, David hanya belum membuka matanya saja.)"


Megan memberikan senyuman terbaiknya, dia mengusap tangan Dena. "How about we eat, Mama?  You'll get sick if you keep thinking about other people's problems, Mama. (Bagaimana kalau kita makan, Mama? Kau akan sakit jika memikirkan masalah orang lain terus, Mama.)"


"Gosh, you're so kind and awesome, fortunately I met you at the airport. (Astaga, kau sangat baik dan mengagumkan, untung saja aku bertemu denganmu di bandara.)"


Megan menyeringai, dia memang bertemu dengan Dena di bandara. Awal kedatangan Dena hanya akan meminta uang pada David, sampai dia bertemu Megan yang hendak pergi ke luar negeri. Megan tahu itu ibu dari mantan bosnya, karena Megan pernah melihat foto Dena di kamar David yang ada di kantor.


Megan menjadikan itu kesempatan besar, dia berpura pura membantu Dena yang membawa barang bawaan banyak. Lalu mengajak Dena ke caffe sebelum akhirnya mulai bercerita tentang David yang menikahi karyawan rendahannya, Megan juga mejelek jelekan Lily sebagai wanita penjilat yang menggunakan kemampuan menggodanya untuk mengambil hati David.


Dan saat itu juga Megan menceritakan dirinya yang dipecat hingga tidak punya tempat tinggal karena David memberhentikannya, dan dalang dibalik semua itu adalah keberadaan Lily.


"Megan dear, don't worry, I will always be on your side, I will not go home before you get married. (Megan Sayang, jangan khwatir, Mama akan selalu di pihakmu, Mama tidak akan pulang sebelum kalian menikah.)"


Megan menahan senyumannya. "Don't force it, Mama.  Maybe David really likes Lily. (Tidak usah memaksakan, Mama. Mungkin David memang suka pada Lily.)"


"He was contaminated by stupid women, she even graduated from high school, did not speak English and had no ability.  How terrible. I don't want to have a daughter-in-law like her. (Dia terkontaminasi oleh wanita bodoh, dia bahkan lulusan Sekolah Menengah, tidak bisa bahasa Inggris dan tidak punya kemampuan. Sungguh menggerikan. Aku tidak ingin punya menantu sepertinya.)"


Megan tersenyum kemenangan dalam hati, dia makan malam bersama Dena.


"Maaf, bolehkan aku meminta saus kacang?" Tanya Megan berpura pura sopan pada Eta.


"Sebentar, saya sedang menyelesaikan ini."


Dena berdecak. "Apa itu makan malam untuk si wanita bodoh?"


Eta tidak menjawab, membuat Dena kesal dan berdiri mendekat. Dia menarik tubuh Eta sehingga menghadapnya. "Layani dia, dia adalah calon majikanmu."


"Maaf, saya hanya melayani orang yang berhak. Anda tamu, saya akan melayani anda dengan baik, tapi saya mohon anda harus menghormati pemilik rumah."


Dena kesal, dia menghentakan tangan Eta. "Dasar tidak tahu diri!"


🌹🌹🌹


Ketika masuk kamar menyusul istrinya, David mendapati Lily sedang berada di kamar mandi.


"Lily Sayang, buka pintunya. Keluarlah ayo."


David pikir Lily sedang menangis di dalam. 


"Sayang…. Keluarlah…. Ayo keluar…. Biarkan saja mereka… aku tidak peduli."


Kenyataannya, Lily tidak menangis. Dia hanya mengunci diri di kamar mandi, dan duduk di atas closet sambil melamun. Lily sudah terbiasa mendapat cacian, hinaan dan bahkan lemparan kotoran. Lily pernah ditolak oleh orangtua kandungnya, tapi ini merasa lain. Lily merasakan jatungnya berdebar kencang. Saking kesedihannya tidak bisa diekspresikan, air mata tidak keluar. Yang mana malah membuat Lily diam melamun cukup lama.


Dia mendengar David memanggil. "Sayang… keluar cepat, ayo makan malam sambil menonton film."


Lily menarik napas dalam, dia keluar dengan wajah polosnya yang tidak berekspresi. Langsung berhadapan langsung dengan dada bidang David.


"Apa yang kau lakukan?" David merangkup pipi Lily. "Apa kau menangis? Apa yang kau lakukan di sana?"


"Tidak ada, aku hanya diam," ucap Lily menatap David dengan wajah polosnya.


"Jangan hiraukan mereka."


Lily mengangguk, yang membuat ego David runtuh dan memeluk Lily. "Biarkan saja mereka, yang benar saja aku akan menikahi Megan dan melepaskanmu. Lagipula aku masih memiliki hati, aku tahu kau sangat menyukai dan memuja kesempurnaanku, aku tidak mungkin meninggalkanmu sendirian. Kau begitu membutuhkan dan menginginkanku, aku tidak bisa meninggalkanmu."


David masih belum bisa mengakui kebenarannya.


Lily membalas pelukan David, membuat pria itu berulang kali mencium puncak kepala istrinya. "Hadiah untukmu karena menurut padaku."


Kemudian terdengar suara perut Lily. David melepaskan pelukan mereka.


"Kau lapar?"


"Eta akan segera datang, tunggulah di sofa."


Dan benar saja, tidak lama kemudian Eta dan dua orang pelayan datang membawakan makan malam dan berbagai dessert pesanan David. Membuat Lily terpengangah menatap banyaknya makanan manis.


"Ada lagi yang anda inginkan, Nyonya Muda?"


"Tidak, terima kasih, Eta."


"Sama sama, Nyonya."


Pintu kembali tertutup.


"Begitu banyak cemilan di sini," ucap Lily pelan, dia mengadah menatap David yang berdiri menjulang di depannya sebelum duduk. "Apa aku boleh memakan semuanya?"


"Tentu saja, itu untukmu agar pipimu kembali mengembang. Kau harus tahu pipimu itu bagus jika mengembang indah."


Lily tersenyum kecil.


Dia mulai melahap makan malam sambil menyuapi David.


"Mama akan berada di sini tidak lama, akan aku pastikan dia pulang lusa."


Lily tidak menjawab, dia bingung harus bagaimana. Lily hanya menunduk menatap piring di depannya.


"Lily Sayang," ucap David menyelipkan rambut ke belakang telinga Lily. "Jangan hiraukan mereka."


Lily mengangguk, dia menyuapi David.


"Diam saja di dalam kamar, aku akan mengurus Mama agar pergi dari sini."


Dan ketika keduanya sedang asyik berbincang, terdengar gedoran pintu dari luar dan disusul teriakan Dena, "Megan akan tidur di kamar dekat Mama, barangkali kau ingin menghangatkan tubuh. Pergilah padanya."


🌹🌹🌹


Sarapan pun, kini David memilih jalan aman dengan tetap berada di dalam kamar. Semalam setelah Lily tidur, David berniat mengusir keduanya, tapi David kalah debat dengan Dena. Apalagi Dena mengunci kamar dari dalam dan menyembunyikan kunci cadangan.


"Aku akan bicara lagi dengan Mama, kau diam di kamar. Jika ingin keluar di sekitar lantai dua saja bersama Oma, jangan dekati Megan ataupun Mama."


Lily mengangguk, dengan rona wajahnya yang mulai terlelap akibat kesedihan yang dipendam.


"Apap pun yang mereka katakan, jangan percaya. Aku akan selalu bersamamu."


"Aku paham."


David kembali mendapatkam suapan dari Lily sampai semua makanan habis. David yang selesai sarapan merasakan sakit perut.


"Sayang, tolong siapkan dasi biru milikku, aku ingin ke toilet."


"Baik," ucap Lily mengakhiri sarapannya. Setelah mencuci tangan Lily melangkah ke walk in closet untuk mencari dasi David. Tapi tidak ada di sana, membuat Lily yakin jika dasi itu masih ada di lantai bawah.


Maka darinya Lily menekan tombol agar pelayan datang, tapi tidak satu pun dari mereka datang. Yang membuat Lily kebingungan, karena sebentar lagi David keluar.


Lily memberanikan diri keluar, dia harus mendapatkan apa yang suaminya butuhkan. Lily meyakinkan pada diri sendiri kalau dirinya sudah kebal dan tidak mempan dengan hinaan dan cacian.


Namun, semuanya tidak benar. Apalagi saat Lily melewati ruang tamu, di sana ada Dena dan Megan yang sedang minum teh.


"Hei kau!" Panggil Dena. "Ya kau, istri David! Kemarilah!"


Tidak ada pilihan, Lily mendekat.


"Apa ada yang bisa aku bantu?"


"Apa ada yang bisa aku bantu?" Ejek Dena menirukan suara Lily, membuat Megan dan Dena tertawa kencang. "Lihat, kau lebih pantas menjadi pelayannya David daripada istrinya."


"Hentikan, Mama, dia pandai berakting."


Dena menyilangkan tangannya di dada sambil berdiri. "Megan, coba katakan sesuatu dalam bahasa Inggris padanya."


Megan menyimpan cangkir tehnya, dia berdiri dan menatap Lily sambil berkata, "You are a stinky woman and a little stupid to live here. (Kau adalah wanita bau dan sedikit bodoh untuk tinggal di sini.)"


Lily hanya menunduk tidak paham saat dirinya di olok olok, apalagi keduanya tertawa begitu keras. 


Dena menambahkan, "You're not our equal, you're not part of the Fernandez family (Kau tidak sederajat dengan kami, kau bukan bagian dari keluarga Fernandez.)"


Megan tertawa kencang. "Hentikan, Mama. Dia terlalu bodoh untuk memahaminya."


🌹🌹🌹


to be continue.