Stuck With An Arrogant CEO

Stuck With An Arrogant CEO
Pesta Pembukaan



🌹VOTE🌹


David tidak bisa tidur, dia membuka mata saat merasakan lapar yang menghantui. Jujur saja, David belum makan malam.


Dia perlahan melepaskan pelukan Lily yang terlelap dan keluar kamar, David mencari makanan di dapur. Ini sudah pukul 1 malam, jelas dia tidak ingin mengganggu Holland yang sering dia andalkan.


Hanya ada beberapa bahan, dan David memilih mie instant agar cepat. Dia merebusnya, memasukan telur lalu mengangkatnya setelah di tiriskan. Bukannya di campurkan dengan bumbu, David menumisnya dengan beberapa bumbu tabur rasa tiram. 


"Aku lapar sekali."


Dan David tidak tega membangunkan Lily yang nyenyak.


Membawa mie instant buatannya sambil menonton tv, mencari acara serial barat yang sudah lama tidak David lihat.


Dan itu membuat Lily terbangun, dia mencari sosok yang seharusnya memeluknya.


"David?" Bibir mungilnya mengeluarkan suara. Liy otomatis bangun, dia keluar kamar untuk mencari.


Sampai dia menemukan sosok itu sedang menonton tv sambil makan.


"David?"


David menoleh. "Kenapa kau bangun?"


Lily berjalan mendekat tanpa menjawab. Membuat David berkata, "Kau pasti tidak bisa tidur karena tidak ada aku di sana bukan? Kau pasti sangat menginginkan aku berada di sana bukan?"


Lily diam, dia hanya duduk di samping David malu-malu. Apalagi saat David menyentuh kening Lily. "Sudah reda."


"Kau memasak sendiri?"


"Ya, tapi hanya ini. Aku malas," ucap David menyuapkan mie instant. "Kau mau?"


"Tidak."


"Tidur lagi sana."


"Nanti saja."


Lily merasakan David lebih fokus pada serial barat di depannya, bagaimana mata pria itu terlihat tertarik dengan jalan ceritanya.


Dan David akhirnya mengatakan. "Dulu aku suka menonton serial seperti ini, makannya sekarang agak suka. Jangan berpikir yang aneh, aku hanya menonton, tidak akan menjadi seorang yang gila cinta seperti mereka."


Padahal Lily tidak mengatakan apa-apa.


"Kau mau?"


Lily menggeleng saat ditawari mie instant. "Kau seharusnya membangunkanku."


"Kau sedang demam dan baru saja tidur, jika aku membangunkanmu, kau akan kembali sakit. Dan siapa yang akan memproduksi adonan bersamaku?"


Pipi Lily memerah.


"Ayo, cobalah. Buka mulutmu."


Lily menerimanya, suapan pertama dari masakan buatan David.


"Enak bukan? Tentu saja karena aku adalah pria sempurna yang bisa diandalkan."


Agak aneh sebenarnya, tapi Lily mengangguk menyetujui perkataan David.


"Ayo, makan lagi."


"Sudah, aku kenyang."


"Ck, kau ini." David membawa mangkuk itu ke dapur, dia kembali dengan membawa segelas air. "Minum ini."


"Terima kasih." Lily minum. "Apa… kau akan tidur kembali?"


"Nanti setelah ini selesai."


Tanpa sadar, Lily mengerucutkan bibirnya. Dia tidak sadar kalau dirinya ketergantungan pada David, pada semua sikapnya. 


Dan ketika serial barat itu memperlihatkan adegan dewasa, di mana sang pria dan wanita melakukan hubungan dengan sangat terbuka, David menelan ludahnya kasar. Sementara Lily berpaling malu apalagi ketika kejantanan pria mulai masuk dan menghentak, ekspresi wanita itu hampir sama dengannya.


Lebih menantangnya lagi, mereka melakukannya di ruangan terbuka, sambil berdiri dengan tiang di belakangnya.


David belum pernah melakukannya bersama Lily. Dan mengingat bagaimana Lily mendesah, berteriak dan berkeringat membuat kejantanan David bangun.


"A… aku akan ke kamar," ucap Lily saat adegan mulai menggila. Si pria menghentakan terlalu keras, membuat si wanita berayun di tiang tidak karuan. Lebih gila lagi, si wanita yang menjilati kejantanan si pria.


David segera mematikan televisi dan menyusul Lily. "Ada apa? Apa kau malu?"


"Ti… tidak," ucap Lily hendak berbaring, tapi David menariknya dan mendudukannya di meja rias. "Kau malu melihat sesuatu seperti itu?"


"Bukan seperti itu…." Lily gugup.


"Kalau begitu ayo kita praktikan langsung."


Lily menegang. Praktikan langsung? Membuat bulu kuduknya berdiri. Dia bertanya dengan tubuh yang panas dingin. "K...kau ingin aku…. Me… menjilat…. Itu?"


David tidak berpikir sampai ke sana, wanita yang menurutnya rendah akan berciuman dengan bagian bawahnya. Dan Lily, David tidak ingin Lily melakukannya, bibir Lily hanya untuk bibirnya, bukan hal lain.


Jikapun beroperasi di bagian bawah, itu hanya sentuhan, bukan dengan ciuman.


"Tidak, Sayang. Bibirmu hanya boleh menjilat bibirku saja," ucap David mulai mencium Lily.


🌹🌹🌹


Sebelum pulang ke Jakarta, Lily dan David menghabiskan sarapan di atas ranjang dengan posisi keduanya belum mandi.


Tapi kebersamaan mereka terganggu oleh suara telpon.


David mengangkatnya. "Hallo Megan?"


Mendengar namanya saja membuat Lily mengerucutkan bibir.


David menatap Lily yang memakai selimut tipis menutupi tubuhnya.


"Ya, datang saja."


"Baik, Tuan."


Ketika telpon terputus, David berkata, "Megan akan ke sini, ada dokumen yang harus aku tinjau."


Lily mengangguk. "Apa di--"


Suara Lily terpotong karena suara ketukan pintu. "Itu Megan?" Tanya Lily. "Dia cepat sekali."


"Biar aku yang keluar."


Dan Lily kembali cemberut saat David keluar hanya mengenakan jubah tidurnya saja. Ditambah rambutnya yang acak-acakan, dia terlihat sangat seksi. 


"Megan? Kau datang sangat cepat."


"Saya bisa diandalkan, Tuan."


"Kenapa membawa banyak dokumen?"


"Maaf, sebelumnya ada kesalahan dari pihak Malaysia."


David berdecak. "Masuklah."


Megan cemburu melihat ada kissmark di leher David. Dia duduk di sofa semalam. "Ini adalah dokumen dari kedut--"


"Tunggu di sini, ada hal yang harus saya lakukan."


David meninggalkan Megan untuk menemui Lily di kamar. "Kau sudah minum obat?"


"Megan sudah pergi?"


"Tidak, dia masih menunggu."


"Ouh…" Lily beranjak dari ranjang dengan hanya memaka selimut.


"Kau mau ke mana?"


"Mandi," jawab Lily.


Dan David mengikuti. "Aku akan mandi bersamamu."


"Lalu bagaimana dengan Megan?"


"Aku menggajinya."


Lily berteriak kaget saat David mengangkat tubuhnya dan mendudukannya dalam bathub. "Kita tidak bisa lama, David.. ini…."


"Tidak ada yang bisa mengganggu waktu kita."


Dan saat itu, Megan mengerucutkan bibir seorang diri. David tidak kunjung keluar juga.


"Aku harus cari cara agar Tuan David melirikku. Aku tahu dia dan istrinya hanya menikah karena taruhan."


Dan informasi itu Megan dapatkan dari Sebastian.


🌹🌹🌹


Lily bersandar pada dada David selama perjalanan dalam mobil. Dari helipad Pangandaran, David menggunakan helikopter untuk mempersingkat waktu. Sehingga sore hari dia sudah sampai di Jakarta.


Dengan pekerjaan yang siap menghadang, David harus siap kembali ke dunia nyata. Dengan Lily yang ada dalam pelukannya, David harap semuanya akan baik-baik saja.


Saat sampai di mansion, Holland berkata, "Sudah sampai, Tuan."


David membangunkan Lily dengan menepuk pipinya pelan. "Bangun, Lily…."


"Eum, sudah sampai?"


"Aku tahu pelukanku sangat nyaman."


Lily diam, dia keluar dengan kepala masih pusing. Hingga hampir terjatuh, beruntung David menahan pinggangnya.


"Apa masih pusing?"


"Tidak apa."


David menuntun Lily menuju ke mansion.


"Kenapa sangat sepi?" Gumam Lily.


Dan saat David membuka pintu.


"Halloooooo! Selamat Datang!" Teriak Oma lalu disusul suara terompet. "Selamat atas dibukanya pabrik kalian!"


Mata David melotot, bukan hanya ada Oma di sini. Ada kedua sahabatnya, dan banyak lagi sahabat Oma yang datang. "Oma… apa yang Oma lakukan?"


"Aku memberitahu mereka kalau kau membuka pabrik."


Sebastian tertawa, dia mendekat dan memberi jabatan tangan. "Selamat atas pembukaan pabrik barumu. Aku tidak tahu kau akan tertarik pada bagian industri."


David menatap Oma lelah. "Omaa….."


"Apa? Semuanya! Ayoooooo! Pesta pembukaan pabrik akan dimulai."


Lily hanya diam, bersembunyi di balik lengan David. "David… aku malu…."


🌹🌹🌹


TBC.