
🌹JANGAN LUPA KASIH EMAK VOTE YA ANAK ANAK KESAYANGAN EMAK SEMUANYA.🌹
🌹IGEH EMAK JUGA DIFOLLOW DI : @REDLILY123.🌹
🌹SELAMAT MEMBACA, EMAK SAYANG KALIAN SEMUA.🌹
Ares terdiam saat sang mommy memarahinya. Bagaimana tidak, Ares pulang bukan hanya membawa dirinya sendiri, tapi juga guru BK yang mana membuat Lily marah.
“Mommy hanya ingin yang terbaik. Jika kau sudah tidak suka di sana, tidak apa. Cari sesuatu yang kau suka, yang bernilai positive dan lakukan yang terbaik.”
Ares mengangguk, sebenarnya pikirannya melayang memikirkan hal lain. Tapi daripada melawan sang mommy, lebih baik terdiam.
“Sudah memikirkan keinginan Daddy mu untuk sekolah bisnis?”
“Mom, aku memang tidak sungguh sungguh bodoh, tapi aku hanya bodoh. Mommy dan Daddy yakin akan memberikan perusahaannya padaku? Alden lebih jenius.”
Lily mengusap kepala Ares dan berbisik, “Kau pikir Mommy tidak tahu kau yang menyelesaikan project Alden.”
Ares tersenyum setelah mendapatkan ciuman di puncak kepalanya. “Ganti baju dan turun untuk makan malam.”
“Oke, Mommy.” Matanya menatap Lily yang menjauh pergi keluar ruangan itu.
Kemudian Ares menatap Daddy nya yang berdiri di ambang pintu. “Ares dicium dong, Daddy enggak.”
David berdecak. “Daddy bisa lebih dari itu.”
“Daddy bisanya minta saja, Ares diam saja dicium Mommy,” ucap Ares dengan mengagungkan dirinya dan melangkah menaiki tangga.
Ares masuk ke kamarnya dan merebahkan diri di kamarnya, dia menatap langit langit dan merasa penasaran apa yang terjadi dengan teman temannya. Ares menahan tawa membayangkan Samuel dan yang lainnya kini sedang dimarahi.
“Kenapa kau tertawa sendiri?”
“Oh my god, Dad. Kau tidak tahu apa artinya privacy?” tanya Ares dengan matanya yang memicing.
David masuk dengan aura tajam mendominasi, membuat Ares menegakan tubuhnya sambil berdehem. Dalam pikirannya, sang Daddy pasti akan memarahinya.
“Kau pergi ke warnet untuk bermain game?”
“Tidak ada guru yang datang, Dad.”
“Dan menurutmu bermain game adalah ide yang baik?”
“Dad, apa membuat bayi saat perusahaan sedang kacau adalah hal yang tepat?” Sindir Ares mengingat dulu daddynya lebih sering dirumah daripada di perusahaan yang membuat perusahaan naik turun. Beruntung sekarang sudah kembali stabil.
David terdiam saat itu juga, dia berdecak dan mengeluarkan ponselnya. “Game apa yang akan kau mainkan?”
“Kenapa? daddy akan memainkannya.”
“Bukan hanya Daddy, kita akan memainkannya.”
“Wohooo.” Ares langsung mengeluarkan ponselnya. “Tunggu, Mommy akan memarahi kita, kita akan mati di tangannya.”
“Tidak jika kau tidak memberitahunya.”
“Oke oke,” ucap Ares tertawa.
Inilah kebiasaan yang tidak diketahui oleh Lily, mereka selalu bermain game bersama dan menghabiskan uang untuk itu.
🌹🌹🌹🌹🌹
Cantika sudah pulang dari kota pamannya, dan benar saja dia tidak melihat perubahan pada mamanya.
Beberapa hari tidak bersekolah juga membuat tugas Cantika menumpuk, maka dari itu dia akan mengerjakan semuanya sekarang.
“Nek, boleh aku minta camilan?”
“Ini sudah malam, kenapa belum tidur?”
“Aku harus mengerjakan tugas untuk besok, Nek.”
“Bilang saja kau lupa, setelah perjalanan panjang kau harus istirahat.”
“Tidak apa, ini akan sebentar. Cantika mau ini,” ucapnya membawa kaleng rengginang ke kamarnya.
Mamanya sudah tidur, hanya dirinya dan neneknya yang sedang memilah kacang yang masih terjaga.
Saat sibuk mengerjakan tugas, Cantika mendapatkan telpon dari Laura. Dia segera mengangkatnya.
“Apa kau masih terjaga?”
“Iya.”
“Aku punya sesuatu untukmu, aku akan ke rumahmu.”
“Baiklah,” ucap Cantika yang segera keluar rumah dan menunggu Laura datang.
Akhirnya wanita blasteran yang memiliki kulit putih pucat itu datang membawa sesuatu. “Ini untukmu.”
“Wah, terima kasih. Apa ini?”
“Pai buatan ibuku.”
“Mau masuk dulu?”
Laura mengangguk, dia melihat sekeliling rumah besar yang sudah tua itu. Dalam hatinya dia bergumam, “Kenapa banyak orang menyukainya? Dia miskin.”
“Kau sudah mengerjakan tugas?” tanya Cantika.
“Ada yang belum aku pahami, bisa bantu aku?”
“Tentu, ayo ke kamarku.” Cantika memberikan pai pada neneknya dulu sebelum pergi ke kamar. “Apa yang tidak kau pahami?”
“Fisika, nomor lima.”
“Ah…. Fisika.”
“Kau mengerjakan apa?”
“Kimia.”
Saat itulah Laura menegang, dia lupa tidak mengerjakan itu. Dan sialnya pelajaran kimia mengharuskan dia menganalisis dengan membuat soal sendiri.
“Ini bukunya, coba kau lihat dan tanyakan yang belum kau pahami.”
Laura mengangguk dan duduk di pinggir ranjang Cantika. Laura tidak memahami semua pelajaran, jadi dia diam diam memotret jawaban Cantika. “Apa kau sangat dekat dengan Ares?”
“Kami sahabat sejak kecil. Kedekatan kami sebatas itu.”
“Apa dia kaya?” tanya Laura penasaran.
“Kau bisa melihatnya di google, coba cari dengan kata kunci Fernandez Inc.”
Laura pun melakukannya. Dan alangkah terkejutnya dia membaca penjelasan kalau keluarga Fernandez adalah salah satu keluarga terkaya di Asia, nama Ares juga tertulis di sana sebagai anak dari pasangan David Fernandez dan Lily Kristina. Banyak artikel tentang mereka, tapi kebanyakan berbahasa Inggris.
Tangan Laura bahkan sampai bergetar membaca jumlah kekayaan Ares. “Cantika.”
“Ya?” cantika masih focus pada pekerjaan tugasnya.
“Apa Ares menyukaiku?”
“Ya, dia menyukaimu.”
“Kalau begitu aku akan menerimanya jika dia memintaku menjadi pacarnya.”
Cantika berhenti menulis untuk sesaat. “Wah, Ares pasti akan sangat bahagia.”
“Kalau begitu tolong jangan dekat dekatnya, kau harus mulai terbiasa kalau dia tidak akan menjemputmu.”
Cantika mengangguk. “Aku paham.”
🌹🌹🌹🌹🌹🌹
 
 
TO BE CONTINUE