Stuck With An Arrogant CEO

Stuck With An Arrogant CEO
Menyesal



🌹Vote ramai ramai yu, ajak yang lain baca ini ya🌹


Ketika terdengar suara seseorang terjatuh di luar, David bergegas ke sana untuk memeriksa bersama Sebastian.


"Lily?" Gumam David terkejut, dia hanya fokus pada sosok yang terjatuh di sana.


"Lily! Sayang, bangun, Sayang."


"Bawa dia ke rumah sakit, David."


Tanpa bicara lagi, David menggendong Lily dan membawanya menuju rumah sakit. Dia tidak mempedulikan apa pun lagi, David hanya fokus pada istrinya yang terbaring lemah.


Meninggalkan Sebastian sendirian di sana yang masih syok dengan keadaan, dia segera menghubungi Luke yang sudah berada di Swiss dan mengatakan apa yang terjadi.


Kembali pada David, dia berlari menuju mobil Holland yang berada di basement.


"Tuan? Apa yang terjadi?"


"Cepat bawa kami ke rumah sakit."


Holland siaga, dia melakukannya dengan cepat. Dalam perjalanan, Holland melihat majikannya yang selama ini dia kenal selama belasan tahun itu terlihat sangat ketakutan.


"Sayang, bangunlah, bicara padaku. Buka matamu, Sayang." David sudah tidak sabaran. "Lebih cepat, Holland!"


"Baik, Tuan."


David terus meminta Lily membuka matanya, dia bahkan mencium tangan  dan kening istrinya berulang kali. David ketakutan, apalagi melihat wajah istrinya yang begitu pucat, tanpa warna layaknya rona saat dulu David melihat wajah terakhir papanya.


"Lily, Sayangku, bangunlah. Buka matamu, ayo jangan buat aku ketakutan."


Lily tetap memejamkan matanya rapat, tangannya terasa  sangat dingin. "Lebih cepat Holland!"


"Maaf, Tuan. Ada kecelakaan di depan."


"Sial!" Tanpa berpikir panjang, David keluar dari mobil dan berlari menuju rumah sakit yang tinggal beberapa puluh meter lagi.


Tidak merasakan lagi teriknya matahari, mengabaikan rasa panas di tubuhnya. Yang David inginkan adalah keselamatan istrinya.


"Tolong istri saya, dia pingsan."


Segera tim medis membawa Lily ke ruang penanganan, di sana David menunggu dengan tidak sabaran. Dan entah mengapa, waktu terasa berjalan begitu lambat. Membuat David kesal akan ketakutan dan bayangan mengerikan yang menghantui pikirannya.


Sampai seorang dokter keluar, David mendekatinya dengan langkah cepat. "Bagaimana keadaannya?"


"Keadaannya mulai membaik, Tuan. Beruntung kedua janinnya juga baik baik saja, ketiganya hanya butuh penenangan. Saya harapkan, istri Tuan tidak mendapatkan tekanan dan beberapa pemikiran yang membuatnya stres. Setelah ini, pasien akan di pindahkan ke ruangan rawat inap."


Saat itulah Holland datang, dia yang mengambil alih semuanya. Mengatakan pada dokter untuk memindahkan Lily ke ruangan VVIP dan memberikan perawatan yang terbaik untuknya.


Setelah melakukannya, Holland menatap David yang masih syok di sana. "Tuan? Anda baik baik saja?"


"A… aku baik baik saja." Suara David tercekat. "Aku harus ke kamar mandi, jaga Lily ku."


Dengan langkah gontai, David menuju kamar mandi umum di rumah sakit itu. Ketika beradu dengan pengunjung lain pun, David tidak sadar. Pemikirannya berkecamuk sendiri, dia bertanya tanya akan apa yang terjadi sebenarnya.


"Dia hamil," gumam David setelah membasuh wajahnya. Kemudian membentuk senyuman lebar. "Anakku, mereka kembar."


Setelah kesadarannya pulih, David segera bergegas untuk menemui Lily di ruangannya. Ketika hendak menaiki lift, seseorang memanggilnya. "Tuan David!"


Dan saat itulah David berbalik, melihat sekretaris tuanya yang datang dengan membawa tas. "Tuan, ini milik Nyonya Lily. Dan saya yakin hadiah ini untuk anda."


David menerimanya. Dia membuka kotak hadiah itu, di dalamnya adalah sebuah test pack dan foto USG. Juga selembar surat yang bertuliskan ;


Selamat ulang tahun, Suamiku. Semoga tahun yang kau lalui menjadikan dirimu sosok yang semakin baik. Aku membawakan kabar buruk dan baik sebagai hadiah ulang tahunmu. Kabar baiknya, aku mengandung anak anakmu, ya mereka kembar. Itu alasanku sering muntah muntah, seringkali sensitive akan perasaan dan selalu meminta hal hal yang aneh. Dua penerusmu ada dalam kandunganku. Kau akan menjadi seorang Papa.


Dan kabar buruknya, tahun yang akan datang hartamu akan berkurang, aku dan anak anakku mungkin akan membolongi dompetmu.


Bagaimana pun, terima kasih telah menerimaku dalam bagian dari hidupmu.


David, aku mencintaimu.


🌹🌹🌹


Oma menatap pantulan dirinya dalam cermin, dia bersiap menyambut kedatangan cucu cucunya. Oma berdandan dengan sangat cantik, dia bahkan menggunakan kebaya jaman dahulu. 


Sampai akhirnya Eta membuka pintu, Oma senang bukan kepalang. "Mereka datang, Eta?"


"Nyonya Besar… Nyonya Lily masuk ke rumah sakit."


"Apa?! Siapkan mobil, kita akan pergi ke sana."


Oma bergegas memakai jaket, dia dibantu oleh Eta melangkah lebih cepat.


"Bagaimana bisa dia masuk rumah sakit?"


"Saya tidak tahu, Nyonya Besar. Saya hanya mendapatkan pesan dari Holland."


Sepanjang perjalanan Oma berdoa. "Tuhan, selamatkan mereka, selamatkan ketiganya. Aku mohon."


"Tenang, Nyonya Besar. Keadaan Nyonya Lily sudah stabil."


"Benarkah?"


"Ya, dia hanya belum sadarkan diri."


Meski pun begitu, setidaknya ada ketenangan dalam diri Oma.


"Lebih cepat!" Perintah Oma pada supir.


Setelah sampai, Holland sudah menunggu di depan pintu masuk. "Holland, kau mau ke mana?"


"Tuan Muda meminta saya mengambil baju, Nyonya."


"Ah, sekalian kau juga membawa makanan untuk menguatkan Lily dan janinnya, Eta."


"Baik, Nyonya Besar."


"Di mana mereka?"


"Ada di lantai VVIP nomor satu, Nyonya."


Oma kembali bergegas meninggalkan keduanya, dia berlari kecil menuju ruangan yang dimaksud. Orang yang melihatnya sekilas, Oma tampak seperti ibu mertua yang kabur dari pernikahan.


"Oma?"


"David… bagaimana keadaan Lily dan janinnya?"


"Mereka baik baik saja, hanya saja Lily belum sadar, Oma."


Oma menarik napas panjang merasa lelah, dia menutup pintu dan melangkah mendekat. "Bagaimana… bagaimana ini bisa terjadi? Katakan pada Oma?"


"Itu…."


"Dia datang bukan?" Oma mengambil botol air mineral yang ada di meja dan meminumnya, setelahnya dia mendekati Lily dan mengusap keningnya penuh kasih sayang. "Cucuku tersayang."


Kemudian tatapannya kembali pada David. "Dia datang membawa kejutan untukmu bukan?"


David diam, wajahnya merah padam menahan amarah untuk dirinya sendiri.


"David, katakan pada Oma, bagaimana hal ini bisa terjadi?"


"Lily datang, Oma. Dia datang saat aku dan Sebastian sedang berbicara."


Oma terdiam, tubuhnya menegang mendengar sebutan nama teman David. Sebastian jelas membawa dampak buruk untuknya.


"Apa yang kalian bicarakan?"


David terlihat menahan semuanya, suaranya tercekat.


"David, katakan pada Oma!"


"David… dan Sebastian membicarakan tentang taruhan, Oma."


"Apa?! Bukankah kau sudah jujur pada Lily?" Oma berdiri di depan David yang duduk. Oma merangkup pipi cucunya dengan kedua tangan keriput miliknya. Oma berkata dengan penuh penekanan. "Apa yang kalian bicarakan? Katakan pada Oma. Katakan, David. Kenapa Lily bisa sampai pingsan?"


"Lily tidak sengaja mendengar taruhanku yang lain dan Sebastian. Sebastian menantangku untuk mengungkapkan kebenarannya pada Lily, dan jika Lily bertahan di sisiku, maka aku akan mendapatkan kapal pesirnya, dan saham Sebastian juga Luke yang ada di perusahaanku kembali menjadi miliku."


Tanpa diduga, Oma mendaratkan tamparan di pipi David disusul dengan tangisan Oma yang pedih dan mendalam. "Bagaimana bisa…. Bagaimana bisa kau belum juga belajar? Kau belum juga paham, David? Tidak ada hati yang bisa kau permainkan, termasuk remaja yang sedang mengandung anakmu ini."


"Dengarkan penjelasan David, Oma."


"Tidak! Kau yang dengarkan Oma, David." Oma menunjuk wajah cucunya. "Untuk pertama kalinya, kau membuat tangan Oma menamparmu. Pertama kalinya, kau membuat kesalahan fatal. Pertama kalinya, Oma tidak akan membantumu jika Lily ingin pergi menjauh."


🌹🌹🌹


Perlahan, pemilik bulu mata lentik itu membuka matanya. Dia merasa silau dengan sinar matahari, sampai tangan Lily otomatis menyentuh perutnya yang datar.


Saat itulah David yang senantisa berjaga di samping Lily tersenyum. "Sayang, kau sudah sadar?"


"Bayiku?"


"Mereka baik baik saja," ucap David mencium tangan Lily yang masih dia genggam.


Sadar akan apa yang terjadi, Lily menarik tangannya dari David dan mendudukan dirinya seketika. Wajah Lily memperlihatkan jelas ketakutannya.


"Sayang, tenanglah. Ada apa?"


"Pergi! Pergi kau pria jahat!"


"Sayang, tenang."


"Aaaa! Jangan sentuh aku!" Lily histeris saat David hendak menyentuhnya, air matanya jatuh mengingat apa yang telah di perbuat pria itu.


"Sayang…"


"Berhenti memanggilku seperti itu, kau ********!" Teriak Lily dengan air mata yang terus mengalir.


Tatapan matanya memperlihatkan rasa sakit yang amat mendalam.


"Lily…"


"Keluar!"


"Dengarkan penjelasanku dulu."


"Keluar!"


"Aku mohon." Tangan David terus ditepis, Lily enggan tersentuh sama sekali. "Sayang."


"Aaaa! Aaa….. aaaaa…." Lily memegang perutnya yang terasa sakit.


"Sayang…"


"Pergi, kau yang membuatnya seperti ini."


"Keluar, David!" Teriak Oma yang baru saja datang dengan tenaga medis. Oma berjalan cepat dan mendorong David yang terus saja ingin memeluk Lily. "Menjauh darinya! Kau membuatnya kesakitan."


"Aaaaa…… sakit, Oma…. Aaaa…."


"Bertahanlah, Sayang. Dokter, bantu dia cepat."


David mundur saat petugas medis mengambil alih, jantung David berdetak kencang melihat bagaimana kekasihnya menolaknya, dan kehadirannya membawa rasa sakit.


"Keluar, David!" Teriak Oma lagi.


Dan saat itulah David keluar, wajahnya datar tidak menampilkan ekspresi apa pun. Tapi dalam matanya terlihat jelas, bahwa dia sangat tersakiti dan menyesal.


Tangan David bergetar, dia menyesal, hatinya terasa sangat sakit.


Di hari ulang tahunnya, dia mendapatkan kejutan yang luar biasa. 


"Maafkan aku, Lily. Jangan tinggalkan aku."


🌹🌹


to be continue...


next lagi....


ha ha ha ha ha ha ha ha h ha, kasihan kau David.