
🌹KASIH EMAK DUKUNGAN YA GAIS. TEKAN LOVE🌹
🌹JANGAN LUPA FOLLOW: @RedLily123.🌹
🌹SELAMAT MEMBACA. I LOVE YOU. 🌹
Ares pulang dalam keadaan otak yang tidak sinkron. Kenapa dia mengatakan hal tersebut pada Laura? Apa hatinya yang mengatakan demikian? Demi Tuhan, Ares tidak berfikir sekalipun.
“Tapi aku mencintainya, hanya dia yang aku inginkan untuk menghabiskan waktu bersama denganku,” ucap Ares menahan napasnya sebelum menyandarkan punggungnya di bangku mobil.
Sampai dirinya dikejutkan oleh seseorang yang tiba tiba memukul pintu mobil.
BRUK! BRUK!
“Astaga! Kau ini kenapa?!” tanya Ares yang sedari tadi memang sudah berada di garasi dan belum keluar dari mobil.
“Kenapa kau diam di sana? Mommy mencarimu,” ucap Athena dengan kesal. “Dia pikir kau bertengkar denganku. Ayo cepat turun! Aku mau ke rumah Oma!”Â
BRUK! Athena kembali memukul kaca pintu mobil, yang membuat Ares terdiam dan memejamkan matanya saja. adiknya memang kurang ajar, tapi juga menyenangkan untuk diajak bercanda.Â
Ares mengeluarkan napas, dia keluar dari mobil dengan senyumannya. “Athena…. Apa kau tau?” tanya Ares dengan percaya dirinya.
Dan terkejutnya dia ketika tidak mendapati Athena di sana. “Oh, aku terlambat membuatnya kesal,” gumamnya kemudian melangkah masuk menuju rumah.
Dapat dilihat, di sana ada Lily yang menunggu kedatangannya. Berada di ambang pintu dengan tangan bersidekap di dada. “Mommy… I miss you….,” ucap Ares memeluk Mommy nya erat.
Lily berdecak, sebelum akhirnya membalas pelukan sang putra. “Dari mana saja?”
“Main dengan Laura.”
“Kau tidak terlihat senang dengan itu.”
Ares mengangguk, dia menyamankan pelukannya pada sang Mommy.Â
“Kenapa?”
“Perasaanku tidak senang, karena bukan bersama Cantika aku menghabiskan hari-hariku.”
“Ya Tuhan, akhirnya kau sadar juga Ares.”
“Mom?”
“Hmmm?”
“Apa cinta semenakutkan ini?”
“Kenapa memangnya?” tanya Lily. Dengan tangan terulur mengusap rambut sang anak.
Ares mengangkat bahunya. “Aku takut kehilangan.”
“Maka jangan pernah membuatnya hilang.”
“Aku malu, Mom.”
Lily menarik napasnya dalam, mengeratkan pelukan kemudian berkata, “Kau selalu membuat malu semua orang, jangan pernah merasa malu. Kemana rasa percaya diri itu pergi?”
🌹🌹🌹🌹🌹
Cantika sedang duduk termenung, melihat Ares yang marah padanya tadi membuat Cantika khawatir. Apa dia benar benar menyebalkan sampai membuat Ares marah.
Perempuan itu ingin menghubungi Ares, tapi ponselnya sedang diisi baterai. Dia juga bingung harus mengatakan apa.
“Astaga, kenapa Ares marah? Seharusnya jangan, apalagi ada Laura. Aku tidak ingin dia membuat persahabatan kami terlihat aneh di mata Laura.”
“Apa yang aneh?” tanya sang Nenek yang berada di ambang pintu.
“Haruskah Nenek memeluk udara?” tanya wanita tua itu dengan nada ketus. “Ini, pudding. Suapi ibumu dan makan bersama dengannya.”
“Baik, Nek,” ucap Cantika menerimanya.
Neneknya melangkah menjauh. Tapi baru juga beberapa langkah, dia sudah berbalik lagi menatap Cantika. “Ini tentang Ares bukan?”
“Astaga, bagaimana Nenek bisa…..?”
“Orang tampan selalu membuat masalah. Jangan khawatir,” ucap Neneknya mengedipkan mata. “Mereka itu melatih mental kita,” ucapnya dengan santai.
Sementara Cantika termenung di sana, dia tidak ingin membuat Ares marah, apalagi membuatnya sedih dengan membuat Laura salah paham dengan kekhawatiran Ares tadi.
Cantika akui, dia menyukai Ares lebih dari teman. Tapi satu yang membuatnya bertahan di tempat ini, Cantika tahu diri.
Ares adalah langit, dirinya adalah tanah.
Ares kaya, dirinya miskin.
Ares tampan, sedangkan dirinya begitu jelek dan juga sedikit gendut.
“Jangan mengharapkan apa apa , tapi setidaknya aku tidak akan membuat Ares sedih,” ucapnya mengaktifkan ponsel begitu baterai terisi 21 persen.
Cantika hendak menghubungi Ares, tapi dia lebih dulu mendapat pesan dari Laura.
Laura : Aku ingin kau tau, hubunganku dengan Ares sedang tidak baik baik saja. tapi kami akan bersama lagi, aku mengizinkannya mencari pelampiasan dulu, termsuk padamu. Bye.
Kening Cantika berkerut tidak paham. Sampai akhirnya dia mendapatkan sebuah telpon dari nomor yang tidak dikenal.
“Hallo?” cantika mengangkatnya.
“Hallo? Ini Cantika?”
“Ya, ini siapa?”
“Galuh.”
“Oh, ketua osis. Ada apa?”
“Kau ingat buku tentang pembelahan sel yang berwarna biru?”
“Ya, itu ada di perpustakaan kota. Kakekku meminjamkannya untukku, dan dia sudah mengembalikannya lagi.”
“Petugas perpustakaan bilang buku itu belum kembali.”
Cantika terdiam sebentar sampai akhirnya…. “Astaga! Pasti Kakek membawanya ke museum!”
“Dimana itu?”
“Tempat kerja kakekku, ada museum di dekat hutan.”
“Aku memerlukannya untuk besok, aku akan menjemputmu dan kau akan mengantarkanku pada buku itu.”
“Baiklah. Aku paham. Akan aku antar kau pada buku itu. Maaf ya sebelumnya.”
“Tidak apa, kirim alamat rumahmu dan aku akan datang besok pagi.”
“Oke, akan aku kirim. Sebentar,” ucap Cantika mengirimkan alamatnya.
🌹🌹🌹🌹
TO BE CONTINUE