
🌹VOTE🌹
"Sayang…..," ucap David menunggu jawaban dari Lily. Dia memegang pinggang istrinya, dengan satu tangan lain memainkn rambut Lily.
Sementara perempuan itu menunduk memainkan buket di tangannya.
"Sayang…..," panggil David lagi.
"Ya?" Tanya Lily menaikan pandangan, dia bingung harus berkata apa. Satu sisi Lily tentu saja kecewa, tapi di sisi lain dia bahagia.
"Katakanlah sesuatu."
Lily kembali terdiam, sampai akhirnya dia mengatakan, "Aku menghargai kejujuranmu."
"Jadi….?" David menggantungkan pertanyaannya. "Bisakah aku mendapat ciuman?"
Kedua tangan David kini berpindah di kedua pinggang Lily, menariknya agar lebih dekat dan saling bergesekan. Tatapan mereka beradu, David enggan mengalihkan pandangan dari wajah Lily yang chuuby, putih bersih dengan bibir merah ranum.
"Bisa aku mendapatkannya?"
Lily mengangguk malu malu sebagai jawaban, dan saat itulah tangan Lily melepaskan buket, bersamaan dengan ******* David yang semakin dalam.
"Kau akan tetap bersamaku bukan?"
Lily kembali mengangguk, yang membuat David kembali menciumnya. Lily menghargai kejujuran David, dan Lily senang pria itu terbuka dengan perasaannya.
Apalagi kini David melempar tubuh Lily di atas karpet bulu, ditindih olehnya di atas tubuh mungil istrinya. Dengan satu siku yang menahan, dan tangan yang lain meraba tubuh Lily.
Saat Lily merasakan tangan kekar David memegang buah dadanya, tubuh Lily bergetar merasakan sensasi yang berbeda.
"David…."
Tangan David mengusap kepala Lily yang mulai berkeringat. "Tetap bersamaku, Sayang…."
Dan David mengambil kesimpulan kalau Lily akan tetap bersamanya sebagaimana dia membalas semua sentuhannya.
"Sudah berakhir bukan?"
Perlahan Lily mengangguk, yang membuat David perlahan membuka pakaian Lily satu persatu.
🌹🌹🌹
Lily terbangun oleh hawa dingin Ac, dia menarik selimut sampai batas dadanya dan bergemul di sana. Sampai perlahan dia membuka matanya, Lily menyadari David tidak ada di sampingnya.Â
Membuat Lily terdiam sesaat, dia mengingat kejadian semalam yang sangat panas. Pengakuan David, dan permintaan suaminya di setiap sentuhan.
David terus mengatakan, "Tetap bersamaku." Dalam setiap sentuhan dan ciumannya.
Dan satu yang membuat Lily tidak terlalu kelelahan, David selesai ketika Lily meminta. Saat Lily merasa lemah, lesu dan mual akibat hentakan yang David lakukan. Hanya dalam waktu 2 jam, mereka mengakhiri kegiatan mereka.
Lily mendudukan dirinya di ranjang, dia memakai kemeja David yang ada di bawah ranjang. Saat Lily sedang mengikat rambutnya, pintu kamar terbuka.Â
"Morning." David datang dengan nampan berisi sarapan.
Dia membuka meja lipat itu dan menyimpannya di hadapan Lily.
David memberikan kecupan di bibir sebelum berkata, "Makanlah."
"Kau yang membuatnya?"
"Tidak cukupkah melihat aku memakai apron?"
Lily menahan senyumnya, dia mengambil sendok dan mencoba sup yang dibuatkan David.
"Enak bukan?"
Lily mengangguk.
Sarapan kali ini terasa sangat romantis, hanya ada keheningan dan suara denting sendok.
"Aku tahu," ucap pria itu fokus pada makanannya. "Apa yang salah?"
"Tidak bekerja?"
David terkekeh. "Aku sudah bingung dengan uangku yang terlalu banyak, Sayang. Aku bingung cara menghabiskannya. Sesekali aku tidak masuk kerja agar ada yang bisa menyaingiku. Itu sebabnya kau harus bersyukur karena aku kaya dan tampan, aku baik pula membuatkan sarapan untukmu."
Lily tidak bisa berkata kata, dia masih bingung dengan jawaban ketika David narsis seperti ini.
"Marylin akan ke sini."
"Untuk apa?"
"Kita akan pergi ke Pesta Pertunangan Luke."
"Luke bertunangan?" Kalimat tanya Lily membuat David mengerti.
Pria itu mengangguk. "Hasil perjodohan, bukan taruhan. Apa kau masih marah padaku, Sayang?"
"Aku tidak marah," ucap Lily cepat dengan suara polosnya. Kenyataannya memang seperti itu. Lily tidak marah, dia hanya tidak bisa berkata kata.
"Kau tidak akan pergi bukan?"
Lily menatap David, dia menggeleng pelan. Kemana Lily akan pergi, orangtuanya saja sudah meninggalkannya. Hanya David dan Oma yang Lily miliki.
"Akan tetap bersamaku?"
Lily mengangguk.
Membuat David tersenyum. "Aku tahu kau akan tetap bersamaku, aku pintar dan tampan."
"Ya, setidaknya kau jujur," ucap Lily pelan.
"Aku tidak ingin kehilanganmu."
Dan keheningan melanda, sampai David membuka suara.
"Ingin mandi bersama?" Tanya David.
Lily tidak ada pilihan, apalagi David sudah menyingkirkan meja dan menarik Lily ke dalam pangkuannya. Kewanitaannya kembali bergesekan dengan sesuatu dalam celana David yang mengeras.
Berbeda dari sebelumnya, Lily kini yang dimandikan. Dengan halus, penuh kasih dan beberapa sentuhan.
"Apa…." Kalimat Lily menggantung.
"Katakan."
"Apa orangtuaku pergi ke China?"
"Ya, mereka menjadi sukarelawan untuk virus corona."
"Huh? Benarkah?"
"Aku hanya bercanda, kenapa kau mudah ditipu?"
Lily mengerucutkan bibirnya.
"Mereka pergi ke China, Sayang."
Lily lebih banyak diam.
"Kau punya aku, kenapa harus bersama mereka pula? Lagipula Megan dan Mama sudah pergi ke Amerika. Jadi kau bisa memilikiku selamanya. Kau bahagia?"
🌹🌹🌹
TO BE CONTINUE...