
*JANGAN LUPA KASIH LOVE YA SEMUANYA.*
*IGEH JUGA DIFOLLOW DI : @REDLILY123.*
*SELAMAT MEMBACA\, SAYANG KALIAN SEMUA.*
Sebelum kepulangan ke negara masing masing, mereka kembali sarapan bersama di meja makan besar. Ini adalah suasana yang sangat disukai oleh Oma, dimana dia bisa melihat cucu cucunya tumbuh dengan penuh kebahagiaan. Mereka tersenyum, tertawa dan saling melemparkan candaan. Hanya ini yang Oma inginkan sejak dulu.
Dimana sekarang Sebastian tengah mengusap sudut bibir bayi gembrotnya dan juga memotongkan daging untuk sang adik tiri yang pernah dibencinya. Senyuman dan tawa Nana membuat mata Sebastian berbinar. Ya, dia berada dalam pelukan perempuan yang tepat. Tegas, berwibawa dan juga sedikit dipenuhi emosi. Itu menyeimbangi Sebastian yang sering berulah.
Beralih pada Luke; pria monoton yang selalu membuat Oma khawatir. Dia tidak menulis jalan hidupnya sendiri, dia selalu dikendalikan oleh sang kakek dimana dirinya harus dipaksa dijodohkan. Namun Oma senang, kini Luke berakhir dengan sosok Rara yang seharusnya menjadi pembantu dari istrinya. Rara adalah orang yang ceria, dia pandai melukis kebahagiaan dalam hidup monoton Luke.
Dan David, bule tengik Oma yang selalu bermain dengan banyak wanita di setiap malamnya. Oma pikir dirinya akan salah dalam mendidiknya, dimana dia selalu mabuk, keluar malam dan menghabiskan banyak uang. YOLO; adalah motto hidup David sebelumnya. Namun setelah bertemu dengan Lily yang lemah lembut, David menjadi lebih baik dalam segala hal. Kelembutan dan kepolosan Lily tidak pernah berubah. Hatinya seputih salju, yang mampu membawa David kembali ke jalan yang benar.
Ahh, melihat cucu cucunya tumbuh dengan keluarga mereka membuat Oma menneteskan air mata kebahagiaannya.
“Aku dan Luke akan berlibur ke Jepang, bersama dengan Lucas juga. Sebastian yang akan membayar. Benar ‘kan, Dad?” tanya Rara.
Luke menyeringai. “Terima kasih atas hadiah yang kau berikan, Nana.”
“Aku juga berterima kasih padamu karena memberikanku kapal pesiar yang aku inginkan,” ucap David menatap Sebastian dengan senyuman miringnya.
Yang mana membuat Lily mengusap tangan suaminya demi menghentikan kejahilannya.
“Oma juga ingin menambah perhiasannya, Bas.”
“Lakukan saja Oma, uangku banyak,” ucap Sebastian dengan helaan napasnya.
“Bagaimana dengan kami?” tanya Ares yang ikut berbicara dengan orang dewasa.
Membuat Luke mengerutkan kening. “Bagaimana apanya?”
“Kami ingin hadiah,” ucap Ares yang mana membuat anak lain langsung mengangguk setuju.
Riuh ricuh pun terjadi. “Thea mau boneka Belbie yang Besal, Uncle.”
“Joy! Joy! Joy mau Uncle Mike, Daddy.”
“Heh, kenapa bocah ini mau manusia?” tanya Sebastian melihat kelakuan anaknya.
“Lucas mau buku.”
“Mike mau seragam baru.”
“Dan Ares mau Centini,” ucapnya yang sontak membuat semua orang menatap heran ke arahnya.
“Cantika? Kau kenapa ingin Cantika, Nak?” tanya Lily lembut.
“Tentu saja dia menyukainya, Sayang. ngaku kau,” ucap David dengan tatapan tajam.
“Tidak!” elak anak itu. “Ares hanya ingin dia melihat bagaimana Ares tampan sekarang. bukan menyukainya.”
*****
Setelah sarapan berakhir, semua orang bersiap untuk pulang. Mereka melambaikan tangan satu sama lain saat mobil merreka berpisah di pertigaan. Ya, Rara langsung berangkat ke Jepang. Nana dan suaminya akan pulang karena Michael harus kembali ke asrama.
Dan Lily, dia harus segera kembali ke tanah air dan mempersiapkan kelahiran putra mereka. Lily dan David berada di dalam mobil yang sama, mereka saling mengeratkan genggaman tangan, dimana Lily kini menyandarkan kepalanya pada bahu sang suami.
“Sayang?” Lily memulai pembicaraan.
“Hmmm?”
“Kapan kau bisa berada di rumah seutuhnya?”
David yang memahami pembicaraan Lily itu segera mencium puncak kepala sang istri. “Segera setelah Ares dewasa, dia akan menggantikanku. Dan kita bisa menghabiskan waktu kita berdua saja.”
“Bukankah seharusnya Ares ditempatkan di sekolah khusus?”
Yang mana membuat Lily menarik napasnya dalam, dia memejamkan matanya. “Aku ingin menghabiskan waktu denganmu sepanjang hari. Di pagi hari kita ke gereja, berdoa bersama lalu memulai aktivitas bersama sama.”
“Akupun menginginkan itu, Sayang. kau harus sabar, aku masih mencoba membujuk Ares.”
Lily mengangguk.
“Aku juga punya rencana. Jika kita anak anak sudah dewasa dan memiliki kehidupan sendiri, aku ingin kita pergi ke Eropa. Tinggal di sana, menikmati waktu berduaan.”
“Aku juga menginginkan itu.”
David mengangguk. “Tidak lagi mengkhawatirkan perusahaan lagi. Ares akan menangani semuanya. Dia akan tumbuh jadi pemuda yang tangguh.”
“Ya, aku harap dia bisa sepertimu.”
“Tampan dan baik hati?”
Lily menggeleng. “Menghasilkan banyak uang,” ucapnya disertai tawa kecil. Yang mana membuat David gemas dan mencoba mencium pipinya.
Namun…. “Da… David… perutku…”
“Iya, kau semakin buncit. Tapi aku suka, tenang saja.”
“Bukan… perutku kontraksi.”
“Huh? Ingin buang air?”
Lily menatap tajam suaminya. “David! Bayiku!” teriaknya saat darah mengalir di pahanya.
Dan itu membuat mobil Oma yang ada di sampingnya menurunkan kaca mobil kemudian berteriak, “Apa yang kau lakukan pada Lila Hah?!”
“Oma! Aku akan melahirkan!” teriak Lily menurunkan kaca mobil.
Oma membulatkan matanya, dia berteriak pada sopir. “Pak! Ke rumah sakit cepat!”
“Baik, Nyonya.”
Dan NGENG! Mobil Oma melaju lebih cepat dari milik Lily, menyalip dengan lihai yang mana membuat ibu hamil yang sedang kontraksi itu menatap heran.
Dan tiba tiba saja, kecepatan mobil Lily melemah. “Tunggu, kenapa ini?” tanya David.
Apalagi saat mobil menepi dan supirnya tiba tiba keluar.
“Heh! Kau kenapa?”
“Maaf, Tuan. Saya trauma dengan orang yang melahirkan.”
“Oh sialll,” umpat David frustasi.
Dia menatap Lily yang sedang menahan sakit. “Cepat kemudikan atau kau ingin bayi kita keluar dan menyetir hah?!”
“Ti… tidak, Sayang. ayo ke rumah sakit, sabar ya,” ucap David sambil bergerak pindah ke depan. Dia bahkan mendapatkan telpon dari Oma. “Hallo?”
“Oma sudah sampai, kau dimana?”
*****
TAMAT. FIN. I LOVE YOU ALL.
INI OMA, YANG CANTIQ DENGAN PAKAIAN MAHAL BY : CUCU CUCUNYA.