
🌹JANGAN LUPA KASIH LOVE YA SEMUANYA.🌹
🌹IGEH JUGA DIFOLLOW DI : @REDLILY123.🌹
🌹SELAMAT MEMBACA, SAYANG KALIAN SEMUA.🌹
Seorang wanita bernama Nana itu menatap sang pengasuh meminta anaknya diawasi saat sedang bermain, dia melangkah kea rah dapur dan melihat istri dari Luke itu sedang sibuk mempersiapkan makan malam. Baru juga dia akan mengeluarkan kalimat, seseorang lebih dulu membuka pintu dengan keras dan berkata, “Oma datang! Yuhu para wanita cantik, kalian dimana?”
BRAK! Rara langsung melempar spatula yang dipegangnya kemudian berlari ke arah Oma sambil merentangkan tangannya. “Omaaaaaa! Aku rinduuuu!”
“Astaga, itukah bocah yang ingatannya terjebak dalam usia belasan tahun, Lily?”
“Oma jangan mengatakan hal itu,” ucap Lily yang berada di samping Oma.
“Astaga, Oma. Oma terlihat lebih muda daripada di ponsel.”
“Oh astaga, Oma malu. Bagaimana kabarmu? Oma mau istirahat dulu. Nanti bicaranya ya,” ucap Oma sambil memeluk Rara. Kemudian matanya menatap cicit perempuannya. “Athena, beri salam pada Aunty Rara.”
“Hallo Aunty Lala.”
“Haha,” ucap Rara dengan kaku. “Hallo, Thea. Istirahatlah di kamar. Yang itu milik Oma, dan Athena juga Ares memiliki kamar di atas. Eh, dimana Ares?”
“Dia ikut bersama Daddy nya ke perusahaan Luke suamimu.”
“Oh, perkumpulan pria ya? Sudah sana istirahat.”
Oma mengangguk, dia melangkah menuju ke kamarnya. Saat melihat Nana yang sedang memotong sayuran bersama pelayan, Oma menyapa, “What’s up, Nana?”
“Istirahatlah, Oma.”
“Oke baiklah,” ucap Oma memasuki kamarnya yang ada di lantai dua berdekatan dengan anak anak.
Sementara kamar Lily, Nana dan Michael berada di lantai satu. “Istrirahatlah di kamar.”
“Tidak, aku butuh minum.”
“Pergilah, ada Nana di dapur. Biarkan aku membawakan kopermu yang sebesar dosa ini, Lily,” ucap Rara sambil tersenyum dan membawakan koper itu ke kamarnya.
Lily melihat keadaan sekitar, rumah ini sangat bagus. Tangga menuju lantai dua juga tidak terlalu tinggi, jadi aman untuk anak anak. Kakinya melangkah menuju dapur, mengambil air dingin dari dalam kulkas.
“Apa yang kau masak, Na? kenapa mencincang sayuran?”
“Anakku sulit memakan sayuran jika tidak dalam keadaan bubuk.”
“Oh iya, dimana Joy?”Â
“Dia sedang bermain bersama pengasuhnya di belakang.”
“Lucas? Dimana Lucas?” tanya Lily sambil menatap Rara yang berjalan ke arah mereka.
“Lucas sedang tidur, jangan ganggu dia ya.”
Yang mana membuat Nana berdecak. “Dia mengganggu anakku tapi anaknya tidak mau diganggu.”
“Oh ayolah jangan marah, nanti aku belikan permen jelly untukmu.”
Seketika Nana menghentikan gerakan tangannya yang sedang mencincang, yang mana itu membuat Rara dan juga Lily menelan ludahnya kasar. Dia tau bagaimana sifat Nana yang barbar, ditambah sekarang sedang menggunakan pisau, bukankah itu mengerikan?
“Apa kalian tidak merasa aneh?”
“Apanya?” tanya Rara dan Lily secara bersamaan.
“Suami kita pergi berkumpul, aku rasa dia tidak akan makan malam di sini.”
Rara malah tertawa. “Heih, Luke pasti akan pulang. Dia selalu menepati janjinya.”
“David juga.”
“Suami kalian memang selalu menepati janji, tapi suamiku adalah pencuci otak terbaik yang pernah aku kenal. Kalau mereka tidak pulang dan bersenang senang di sana…,” DUK! Nana menancapkan pisau di talenan. “Apa yang akan kalian lakukan?”
“Mungkin menggodanya, tapi tidak mengizinkan dia menyentuhku,” ucap Nana, matanya beralih menatap Lily. “Bagaimana denganmu?”
“Um… mungkin bisa dibicarakan baik baik?”
“What the…..”
🌹🌹🌹🌹
“Apakah pengasuh itu akan memakan kita, Kak Mike?”
“Mana mungkin.”
“Mungkin saja, lihat dia berjalan dengan kedua kakinya yang kaku itu,” bisik Ares melihat pengasuh yang berjalan lebih dulu.
Yang akan mengantarkan Ares dan Michael menuju kamar hotel untuk bermain di sana.
“Dia mengiming-imingi kita banyak mainan dan makanan, apakah dia penculik?”
“Mana mungkin, Uncle Luke yang memanggilnya, jadi dia bukan orang jahat.”
“Kan bisa saja,” ucap Ares yang kini berjalan di samping Michael yang lebih tinggi dengan umur yang lebih tua darinya.Â
David dan Sebastian memanggilkan mereka pengasuh, berdalih akan ada urusan sehingga harus menginap dan kembali ke Guarda besok. Karena itu, Michael dan juga Ares diberikan pengasuh untuk diam di hotel, sementara para pria dewasa akan menyelesaikan urusannya.
Di sisi lain, Luke memijat keningnya melihat kedua saudaranya yang lebih tua itu sedang memilih pakaian yang akan mereka kenakan malam ini, untuk bersenang senang. Luke beberapa kali menolak, tapi bukan Sebastian namanya yang mudah mencuci otak. Apalagi David sudah terpengaruh, yang mana membuat Luke kini tidak bisa menolak.
Berada di butik brand fashion ternama, sepertinya Luke akan menghabiskan uangnya di sini. Sampai terpikir sebuah ide gila, Luke hendak menyelinap kabur. Tapi baru saja dua langkah dia menjauh dari sofa, Sebastian mendapatinya. “Kau mau kemana huh? Jangan jadi pengecut.”
“Oh ayolah, Bas. Kau tau istrimu sendiri sangat menakutkan, bagaimana jika mereka marah pada kita?”
Sebastian yang sedang memilih sweater itu mengangkat bahunya. “Bilang saja si Aheng mulas dan kita tidak bisa meninggalkannya di kamar mandi.”
David mengangguk. “Ares bisa diajak diskusi jika dia mendapatkan apa yang diinginkannya.”
“Lalu bagaimana denganku?”
“Gunakan alasan yang lain, seperti ada orang gila yang menahanmu,” saran David.
“Kalian orang gila itu!”
Sebastian malah tertawa, dia memilihkan salah satu mantel untuk Luke dan memberikannya. “Coba pakai ini, apa kau masih tampan?”
“Guys, kita tidak bisa ke klab malam.”
“Kau takut disebut tua?” tanya Sebastian.
“Bukan itu ya Tuhan,” ucap Luke frustasi.
Yang mana membuat Sebastian mengeluarkan kartu hitamnya. Bukan hanya satu, dia memiliki banyak yang biasa dipakai istri, dan Michael. “Tenang saja, aku yang akan membayar semuanya. Oh ayolah, aku hanya butuh sedikit pesta. Besok sebelum makan malam hari paskah, kita akan kembali dengan membawakan telur dan cokelat untuk mereka. Pasti mereka akan suka.”
“David, kau setuju denganku bu……,” ucapan Luke menggantung saat melihat David sudah menumpuk pakaian di sana. “Bro, what are you f*cking doing?”
“Ayolah, Luke. Kita buat dia bangkrut hingga Nana meninggalkannya.”
Sebastian mengibaskan rambutnya. “Coba saja kalau kalian mampu menghabiskan uang ini.”
“David.”
“Luke, hanya malam ini. besok kita akan pulang dan meminta pengampunan.”
“Mereka akan tau.”
David menggeleng. “Nenek Tapasya bilang, hanya dewa yang tau.”
🌹🌹🌹🌹
TO BE CONTINUE