
🌹VOTE🌹
David tidak berhenti memandang Lily yang terlelap dalam pelukannya. Setelah makan tengah malam, mereka tidak melanjutkan lagi berhubungan. David tahu Lily lelah dan butuh istirahat. Melihat Lily yang masih mendesag kesakitan ketika bergerak saja membuat David tidak tega, apalagi melihat pangkal paha Lily yang memerah karenanya.Â
Hingga perlahan, rasa kantuk menyerbu David. Dia memejamkan matanya perlahan dan masuk ke alam mimpi.
Kini giliran Lily yang bangun, tepat saat jam menunjukan pukul 7 pagi. Lily enggan bergerak dari pelukan David, dia hanya menggerakan bola matanya untuk memandang objek di depannya.
David begitu tampan, Lily akui itu. Dan Lily ingat betul bagaimana bibir seksi David memanjakannya, apalagi Lily merasakan geli saat bersentuhan dengan jambang David yang mulai tumbuh.
"Apa kau suka mengagumiku?"
"Da….David, kau bangun?"
Lily semakin terkejut melihat mata David yang mulai terbuka.
"Good Morning," sapa David.
"Morning."
"Wah, kau bisa bahasa Inggris."
Lily mengerucutkan bibirnya mendengar David mengatakan itu dengan nada meledek.Â
"Aku tahu dasar-dasarnya, tidak sebodoh itu," ucap Lily dengan suara yang pelan.
"Kau itu lumayan cantik, sayang sekali bodoh. Maka darinya, belajar dengan benar saat bersama Oma."
Lily mengangguk paham.
Keduanya kini berbaring saling berhadapan, dengan Lily yang menggunakan tangan David sebagai bantalan.Â
"Apa kau tidak ada pekerjaan? Ini hari senin."
David baru ingat. "Lupakan saja, kita akan berbulan madu di sini."
Kalimat yang membuat pipi Lily memerah malu.
"Astaga, kau masih malu. Aku bahkan sudah merasakan setiap inci tubuhmu."
"Berhenti bicara seperti itu."
"Apa masih sakit?"
Lily mengangguk malu-malu, bagaimana tidak sakit jika David melakukannya selama hampir 7 jam dengan pencapaian lebih dari 20 kali. Kewanitaan Lily memerah, merasa ngilu dan pegal yang teramat. Namun tidak dipungkiri, Lily juga merasa nikmat.
"Berendam akan membuatmu jauh lebih baik, ayo…"
"Tunggu…" Lily digendong oleh David.
Dan ini pertama kalinya Lily dilayani oleh suaminya sendiri, bagaimana David mengisi bathub dengan air hangat, menuangkan sabun sebelum akhirnya ikut masuk ke dalam bathub.
Posisi Lily duduk di pangkuan David sambil membelakangi, dan Lily nyaman ketika punggungnya bersentuhan dengan dada liat David.
"Lebih baik?"
Lily mengangguk pelan sambil memainkan busa. "Apa kita akan lama berada di sini?"
"Apa yang kau inginkan?"
Lily menengok sesaat. "Apa maksudmu?"
"Lakukan apa yang belum pernah kau lakukan sebelumnya, beli apa yang belum pernah kau beli sebelumnya. Aku orang kaya, kau bisa melakukan apapun yang kau mau, ingat?"
Lily mengangguk paham.
"Jadi, apa yang kau inginkan?"
"Aku ingin pergi ke Pasir Putih."
"Di sana tidak ada apa-apa bukan?"
Lily diam masih belum berani.
"Lily."
"Tapi ke sana dianjurkan naik perahu."
"Kau ingin naik perahu?"
Lily mengangguk pelan, dengan suaranya yang kecil dia berkata, "Dulu saat datang ke sini aku ingin sekali naik perahu, tapi tidak bisa."
"Ya sekarang kau harus ingat dan tulis dalam otak kosongmu kalau aku ini orang kaya."
"Aku tahu."
"Jika kau ingin naik perahu, akan aku belikan kapal pesiar. Bagaimana?"
"Ti--tidak perlu. Aku hanya ingin naik perahu itu saja," tunjuk Lily keluar jendela, yang memperlihatkan langsung pantai, di mana airnya diterangi oleh cahaya matahari terbit.
"Berjalan saja tidak bisa, bagaimana kau bisa ke sana."
Memang benar, Lily merasa sakit jika bergerak sedikit saja. Dan Lily harus menggigit bibir bawahnya saat merasakan tangan David merayap di dadanya.Â
Perlahan David memalingkan wajah Lily agar bisa mencapai bibir ranumnya, mereka berciuman di sana. Dan Lily ketakutan saat si jantan kembali bangun. Lily merasakan jelas benda tumpul yang panjang dan besar itu dia duduki, dan itu semakin membesar.
"David…"
"Aku tidak akan memasukannya, tenang saja."
"Maaf."
"Apa kau masih takut?"
Lily mengangguk malu.
"Kau tidak akan takut setelah mengenalnya."
Mata Lily membulat saat David mengarahkan tangan putihnya pada kejantanan. "Pegang itu, tidak apa-apa bukan?"
Lily meraba-raba, ternyata benda ini yang membuatnya pingsan semalam. "Ini… semakin keras, David. Semakin membesar."
"Jinakan itu, Lily. Pegang sampai dia meledak."
🌹🌹🌹
Lily tidak berhenti mendapat ciuman di pipi dari David. Setelah berpakaian, mereka duduk menghadap laut di beranda villa yang luas. Dengan Lily yang duduk di pangkuan David. "Kembalikan lagi pipi chubby itu."
"Oma bilang aku cantik seperti ini."
"Aku yang melihatmu setiap saat, dan aku suka saat kau chubby."
Lily diam memainkan kancing kemeja David.
"Apa kau menjalani program diet?"
Lily menggeleng.
"Bagus, aku memesan sarapan yang banyak agar kau kembali pulih."
Tidak lama kemudian, terdengar suara bel berbunyi.
"Diam di sini," perintah David. "Biar aku yang membukanya."
Lily mengangguk, dia merasakan bahagia. Entah bagaimana seorang David Fernandez melayani seorang perempuan seperti dirinya. Lily tidak pernah menyangka hidupnya akan berubah secepat ini.Â
Tidak lama, datang beberapa petugas villa yang membawakan sarapan untuk Lily. Ada bubur ayam, pisang goreng, teh jahe, lumpia basah, dadar gulung, kue ape, dan makanan tradisional lainnya dalam tampi berukuran besar.
"Ada lagi yang bisa kami bantu, Tuan?"
"Ya, siapkan perahu terbaik di sini. Kami ingin pergi ke pasir putih."
"Baik, Tuan. Ada lagi?"
"Tidak, pergilah."
Pelayan itu pergi.
"Ayo, makan," ucap David.Â
"Kau memesan ini? Tapi kau tidak suka sarapan seperti ini." Yang Lily maksud, David suka sarapan ala barat.
"Ya, tapi kau suka bukan?"
Lily mengangguk sambil tersenyum kecil.
"Ayo, mulailah makan. Apa perlu dalam pangkuanku lagi?"
"Tidak."
"Aku tahu kau menginginkannya, ayo mengaku saja. Kau mendambakan diriku."
"Tidak."
"Aku kasihan padamu, jadi aku izinkan kau kembali duduk di pangkuanku."
Lily merasa terkejut saat David mengangkatnya dan mendudukannya di pangkuan pria itu. "Suapi aku."
Dan Lily melakukannya, dia menyuapkan untuk dirinya, kemudian untuk David. Sampai akhirnya David menghentikan saat dia mendapatkan pesan di ponselnya.
"Ada apa?" Tanya Lily malu-malu. "David, ada apa?"
David membaca pesan itu dengan malas dan kesal. "Aku harus ke Bali, ada proyek yang harus aku tinjau."
"Kau akan pergi? Sendirian?"
"Tidak, aku biasa pergi bersama Megan."
Dan saat itulah rona di wajah Lily hilang. Dia tidak sebodoh itu, Lily ingat bagaimana cara Megan menatap David, Megan juga memperlakukan dirinya dengan buruk, padahal dirinya adalah istri David.
Melihat Lily kehilangan rona kebahagiaannya, David spontan bertanya, "Ada apa, Sayang?"
🌹🌹🌹
TBC