Stuck With An Arrogant CEO

Stuck With An Arrogant CEO
S2 : Menghabiskan uang



🌹JANGAN LUPA KASIH LOVE YA SEMUANYA.🌹


🌹IGEH JUGA DIFOLLOW DI : @REDLILY123.🌹


🌹SELAMAT MEMBACA, SAYANG KALIAN SEMUA.🌹


Saat ini, Rara sedang berusaha untuk mencari cara bagaimana dia bisa mendapatkan tips dari Lily, tentang seputar hubungan badan antar suami istri. Rara yang antusias malah membuat Lily sedikit risih, dia tidak terlalu bersemangat akan hal hal seperti ini.


Berbeda dengan Rara yang matanya berbinar, sedetik kemudian terlihat sendu sambil berkata, “Sebenarnya hari ini aku tidak mau ke Jepan sendirian, aku ingin bersama Luke. Aku tau mereka menyebalkan, tapi seharusnya kita makan malam bersama kan? Besok hari paskah, kita harus bersenang senang.”


Lily hana tersenyum. “Ya.. memang tidak baik meninggalkan suami di sini, aku takut sesuatu yang buruk terjadi jika keadaan pikiran sedang tidak baik. Bagaimana kalau kita bicara pada Nana lagi? Nana yang paling merasa bersalah karena Sebastian yang mengajaknya.”


“Ya, ini semua ulah Sebastian.”


“Hei, jangan berkata seperti itu,” ucap Lily sambil memberi isyarat agar Rara menurunkan nada bicaranya. “Nanti Nana malah tambah kesal dengan suaminya, kau tidak ingin meninggalkan Luke bukan?”


Rara mengangguk. “Maaf.”


“Ayo kita bicara baik baik dengan Nana supaya marahnya reda. Lagipula memang wajar para pria bermain, mereka terlalu lama tidak bertemu.”


“Tidak perlu bicara dengan Nana,” ucap Oma yang tiba tiba datang.


Wanita tua itu mendekat dengan senyumannya yang khas dan tawanya yang penuh kegembiaraan. “Apa kalian tau?” tanya Oma.


Membuat keduanya menggeleng.


“Nana tidak jadi meninggalkan suaminya, dia setuju dengan rencana Oma.”


“Rencana apa?” tanya Rara.


“Jadi, Sebastian akan ulang tahun seminggu lagi. Dan daripada meninggalkannya, lebih baik kita meminta sesuatu padanya bukan? nana juga setuju sebagai ganti karena suaminya membuat suami kalian belok. Jadi, Rara, biaya liburanmu ke Jepang di tanggung Sebastian. Untukmu Lily, kau akan mendapatkan kapal yang selalu suamimu inginkan. Dan Oma? Oma akan mendapatkan perhiasan,” ucap Oma bergoyang kegirangan.


Membuat Lily terdiam. “Wah, Oma sangat hebat dalam mencari kesempatan.”


“Sudah, sekarang hubungi suami kalian dan bilang kalau kita ada di rumah Rara yang ada di kota, anak anak juga.”


“Nomor mereka belum aktif,” ucap Rara.


“Terus coba. Jadi tujuan kita makan malam bersama tidak hilang, kita hanya akan mendapatkan hadiah dari Sebastian. Hehehehe.”


🌹🌹🌹🌹🌹


Ares dan Michael kini tengah berada di sebuah rumah yang sangat besar, mereka diberikan berbagai macam makanan dan minuman. Ares yang tidak tahu malu itu memakan semua makanan yang di meja, sementara Michael takjub melihat ada anak yang bisa menampung makanan sebanyak itu.


“Apa kau baik baik saja memakan semua itu?” tanya Michael. “Perutmu akan sakit jika makan lebih banyak, Ares. Sudah hentikan.”


“Bang, abang punya pacar tidak?” tanya Ares duduk di dekat Michael sambil memegang sebuah snack kentang manis.


“Tidak, memangnya kenapa?”


“Hanya bertanya saja, Abang kan sudah dewasa.”


“Baru juga 12 tahun.”


“Oh….,” ucap Ares kembali focus pada makanannya.


Membuat Michael gregetan. “Sudah jangan makan terlalu banyak, Ares. Nanti perutmu sakit.”


“Tapi ini sangat enak.”


“Kau makan terlalu banyak.”


“Kasihan nanti mereka menangis jika kita tidak memakannya da⸻uk! Uk!”


Ares cegukan, yang mana membuat Michael mengambilkan air dimeja dan menggantikan snack yang ada di tangan Ares dengan gelas itu. “Lihat kau cegukan, minum cepat.”


“Cegukan mana bisa dilihat,” gumam anak itu.


“Coba tahan napasmu.”


“Sampai kapan?”


“Nanti jika abang bilang keluarkan udara, maka lakukan,” ucap Michael.


Ares yang kini sedang duduk berhadapan dengan anak lebih tua darinya itu hanya mengangguk. Dia mulai menahan napas saat Michael memberi isyarat.


Satu detik. Sepuluh detik. Dua puluh detik. Tiga puluh detik. Ares sudah tidak tahan, dia menggelengkan kepalanya sebagai isyarat kalau dia ingin mengeluarkan udara.


“Keluarkan udaranya sekarang!”


Pyuuuuuuutttttt….


“Ih jorok! Bau!”


“Abang bilang keluarkan udaranya.”


“Tapi dari mulut,” ucap Michael yang kini berpindah tempat dan menutup hidung. 


Membuat Ares hanya menatap dengan polos kemudian berkata, “Sama saja, cegukannya hilang. Bang, kita naik yuk, lihat lihat ke sana.”


“Nanti tunggu orang dewasa datang.”


“Kita hanya akan melihat lihat di rumah, bukan di hutan. Ayoooo….”


🌹🌹🌹🌹🌹


Mobil kembali berhenti untuk kesekian kalinya, yang mana membuat Athena yang ada tertidur di pangkuan Lily itu bergerak gelisah. “Kenapa, Mom?”


“Tidur lagi, Sayang. Joy hanya mabuk, ayo tidur lagi.”


Athena menurut, dia kembali terlelap dengan kepala yang menjadikan paha mommy nya sebagai bantalan. Sementara Lily sibuk mencoba menghubungi suaminya itu, nomornya masih belum aktif.


Jujur saja, Lily begitu kesal dengan mereka, tapi harus bagaimana lagi. Lily sadar kalau mereka lebih dulu datang pada kehidupan David sebelum dirinya, jadi dia mencoba paham. Toh daripada marah akan membuatnya stress. Selama David tidak bermain wanita, Lily akan merasa baik baik saja.


Sampai akhirnya, telpon Lily tersambung dan David mengangkatnya.


“David Sayang, kau dimana? Kenapa belum pulang?”


“Sayang… hiks… maafkan aku…”


“Kenapa?”


“Ares….”


“Ares ada di rumah Rara yang ada di kota,” ucap Lily seketika, dia tidak ingin memainkan suaminya. 


“Apa?” tanya David tidak percaya.


“Sudahlah, aku tidak ingin berkepanjangan. Datang ke rumah Luke yang ada di kota, kami juga dalam perjalanan menuju ke sana. Jaga anak anak dan jangan main main lagi, Sayang.”


“Iya, Honey. Aku paham, terima kasih. I love you.”


Lily diam.


“Kenapa tidak menjawab, Sayang?”


“maaf, aku sedang kesal padamu. Jadi… I love your money, bye.” Lily menutup telpon sebelum berteriak keluar jendela. “Gaiss, suamiku sudah aku beritahu. Mereka mungkin dalam perjalanan ke rumah Rara.”


🌹🌹🌹🌹


TO BE CONTINUE