Stuck With An Arrogant CEO

Stuck With An Arrogant CEO
Mengendalikan



🌹Vote ya guys, ajak temen lain baca novel ini🌹


"Kau harus mulai menjaga semuanya," pesan Oma saat Lily terus saja memandang gambar di tangannya. Sebuah foto USG dirinya yang memperlihatkan ada dua cikal bakal bayi dalam perutnya.


"Lila, kau dengar Oma?"


"Iya, Oma."


"Mulailah minum susu kehamilan, Oma akan membelinya."


"Bagaimana jika David tahu?"


Oma mengerutkan kening. "Apa?"


"Kehamilan ini kejutan untuknya, Oma. Lily harus bisa menyembunyikannya lima hari lagi supaya David menerimanya tepat saat ulang tahunnya."


"Benar juga," gumam Oma memegang kepalanya. "Kau ada saran, Eta?"


Eta yang sedang berada di dapur, membuat cemilan untuk keduanya itu menoleh sesaat. Sedari tadi dia menyimak. "Bagaimana kalau kita ganti cover susu ini menjadi susu penambah tinggi?"


"Kenapa harus penambah tinggi?" Decak Oma. "Tapi itu ide yang bagus. Lakukan, Eta."


"Baik, Nyonya Besar."


Oma kembali fokus pada Lily, dia menatap perempuan yang terus saja mengusap perutnya yang datar. "Bagaimana kita akan memberinya kejutan nanti?"


"Eum, Lily pikir Lily akan datang saat jam makan siang nanti."


"Oh iya, sekarang tidak mengirim makan siang?"


Lily menggeleng. "David melarang karena Lily masih belum sehat seutuhnya."


Oma diam berfikir. "Bagaimana kalau kita buat hadiahnya sekarang? Dibuat secantik mungkin."


"Test pack dan foto USG?"


Oma mengangguk sambil tersenyum. "Kau bawakan itu, sementara nanti Oma menyusul dengan kue. Kau tidak perlu membawa kue yang akan membebanimu, biar Oma saja."


Lily mengangguk setuju, dan mereka mulai membungkus hadiah yang akan diberikan Lily pada David. Sebuah kotak berisikan tets pack dan foto USG.


Saat Oma dan Lily melakukan itu, Eta memasak makan siang untuk keduanya sesuai pesanan mereka. 


Melihat Oma dan Lily saling berbagi canda membuat Eta itu bahagia, dia bahagia melihat majikannya mendapatkan kebahagiaan yang dia cari. Terlihat jelas bagaimana cara Oma memperlakukan Lily, bahwa dia sangat menyayanginya. Majikannya itu selama ini mencari sosok yang akan menjaga cucunya, dan sekarang dia menemukannya.


🌹🌹🌹


Hari selanjutnya setelah pemeriksaan kehamilan, Lily minum susu hamil sambil menunggu David pulang dari bekerja.


Tepat saat dia sedang minum, suaminya datang. "Selamat malam, Sayang, maaf aku telat," ucap David memeluk Lily dari belakang dan mencium lehernya.


Itu dilakukan David saat Lily masih minum susu. Dia segera menghabiskannya sebelum David membuatnya tersedak.


"Susu apa yang kau minum?"


"Susu penambah tinggi."


David tertawa. "Aku suka tubuh mungilmu, tidak usah ditambah aku tidak apa apa."


Lily mengerucutkan bibirnya. "Tapi aku yang merasa buruk."


David terkekeh, dia memberikan Lily ciuman di pipi. "Kau tidak memasak?"


"Bukankah kau bilang tidak perlu karena makan malam di luar?" Tanya Lily sambil menatap terkejut, tadi dia hanya memasak makan malam untuknya saja. "Kau ingin makan lagi?"


David tertawa dibuatnya, dia memberikan Lily kecupan lagi di hidung. "Kau sudah merasa baikan?"


Lily mengangguk pelan, ini area gawat. David bertanya dengan tangannya merayap ke belakang tengkuk Lily. Memang tidak apa berhubungan intim, tapi harus sesuai porsi dan tidak terlalu kelelahan, itu yang dokter katakan.


"Kalau begitu aku akan mandi, tunggu aku di ranjang," ucap David memberikan ciuman di leher sebelum menjauh.


Lily tersenyum sebelumnya, sampai David hilang dibalik pintu Lily mulai gelisah. Dia menatap jam di dinding. "Astaga, ini sudah malam. Aku harus bagaimana?"


Lily menggigit kukunya merasa gelisah, beberapa menit dia tetap di lantai satu memikirkan apa yang akan dilakukannya, memikirkan rencana yang akan diperbuat. David tidak bisa mengajaknya bergadang sampai pagi, membuat Lily mendapatkan ide.


Dia bergegas pergi ke lantai dua, tepatnya ke kamarnya. Di sana dia mendapatkan David belum keluar dari kamar mandi, membuat Lily masuk ke kamar mandi.


"Apa kau masuk ingin melihatku?"


Lily menunduk malu saat David keluar dari bathub tanpa sehelai benang pun, dia memakai handuk untuk melilitkannya di pinggang.


"Aku hendak gosok gigi," ucap Lily melakukannya.


Dan sesuai dugaannya, David memeluknya dari belakang, menciumnya dan memberinya beberapa kissmark di leher.


Dalam sekali tarikan, Lily kini duduk di atas westafel, yang membuat David dengan mudahnya mengangkat pakaian Lily dan membuatnya menyisakan pakaian dalam saja.


David benar benar merindukan kebersamaan seperti ini, tiga hari dirinya menahan dan akhirnya sekarang bisa terlaksana.


"Tunggu, David….," Ucap Lily saat David hendak membuka pakaian dalam bagian atasnya.


"Ada apa, Sayang? Apa kau masih merasa tidak enak badan?"


"Tidak bukan begitu."


"Lalu kenapa?" David mencium bibir Lily dalam membuatnya harus menahan tengkuk perempuan itu. "Katakan padaku."


🌹🌹🌹


to be continue ya..


ha ha ha ha