
🌹VOTEEE DONG CUTE CHUT🌹
Oma tetap diam di ujung ruangan menunggu tamu David selesai. Bahkan saat keduanya selesau bicara, Oma pura pura tidak melihat.
Tamu yang menjadi korban salah sasaran Oma itu berkata, "Sampai jumpa lagi, Nyonya Tayo."
"Pergi sana," gumam Oma menunggu pria itu hilang di balik pintu.
Sampai akhirnya dia hilang, David dan Oma bertatapan seketika.
"Oma membuatku malu, memanggilnya Tayo?"
"Kenapa dia ada di sini?"
"Mau apa Oma ke sini?"
"Kau harus mengganti rugi uang Oma."
Setelah mengeluarkan kalimat masing masing, keduanya menarik napas dalam. "Oma…"
"Ganti uang Oma."
"Mana bisa, aku tidak menyuruh Oma mempersiapkan itu."
Oma menarik napas dalam, dia tahu seharusnya dirinya tidak langsung mengeluarkan emosi. Oma tiba tiba tersenyum yang mana membuat David menatap ngeri.
"Kenapa Oma tersenyum seperti itu? Apa gigi palsu Oma kurang kuat?"
"Oma membawakan sesuatu untukmu cucu kesayanganku," ucap Oma mengusap kepala David sebelum membawa rantang susun itu ke meja. "Kemarilah, lihat apa yang Oma bawa."
"Oma…, itu tidak akan merubah pikiranku."
"Kau pikir Oma melakukannya untuk gantu rugi? Tentu tidak, Cucuku tersayang."
David semakin begidik, heran dengan kalimat kalimat Oma. Karena sedari kecil, David sudah terbiasa bertengkar oleh hal sepele bersama Oma.
Jadi jika mendadak baik, itu seperti bukan Oma.Â
"Duduk cepat, atau Oma gergaji gigimu."
"Nah, itu baru Oma," ucap David duduk di sofa. "Oma yang memasak?"
"Oh tentu, ini khusus untuk cucu tersayang Oma. Cobalah."
"Kenapa masak ini?" Tanya David pada makanan di depannya.
"Waktu kecil kau suka ini."
"Tentu aku suka karena aku masih dalam pertumbuhan," ucap David menatap syok makanan di depannya. "Bubur wortel? Cincang daging dengan beras merah? Nasi tim?"
Oma tersenyum lebar hingga membuat giginya goyah.
"Lihat kan, aku bilang lem nya tidak kuat."
"Ini kuat," ucap Oma membenarkan letak giginya. "Sudah ayo makan."
"Oma ini makanan bayi, lebih cocok untuk Ares dan Athena."
Oma mengangkat bahunya. "Tapi ini yang terbaik untukmu."
David menatap tidak percaya pada Oma yang kini memasang wajah sedih. Akting Oma sangat buruk, yang mana membuat David terpaksa mengambil bubur wortel.
"Nah, bagus. Makan itu supaya matamu bisa melihat mana yang baik dan mana yang tengik."
David memakannya sesuap.
"Enak?"
"Enek, Oma. Ini makanan bayi, aku tidak bia mengunyahnya, saat makanannya terjepit, mereka berontak dan keluar dari celah gigi."
"Ish! Oma sudah lelah membuat ini!"
David menyimpan sendok, dia berpindah ke sisi Oma lalu memeluknya. "Oma…., Akan aku ganti uangnya. Tapi biarkan anak anakku dengan dunia mereka."
🌹🌹🌹
"Terima kasih untuk hari ini, Nina," ucap Lily.
"Sama sama, Nyonya. Terima kasih kembali untuk saya," ucap Nina lalu pergi dari sana setelah membantu Lily menjadi sekkretarisnya.
Namun, Lily tidak menginginkannya. Jika David pulang, dia ingin merawat anak anak bersama sama berduaan dengan suaminya.
Maka dari itu, dia juga menyuruh kedua pengasuh pulang setelah memandikan si kembar saat sore hari.
"Kami pulang dulu, Nyonya."
"Terima kasih."
Lily menutup pintu, dia melangkah menuju kamar di mana kedua bayi mungilnya sedang terlelap.
Memang benar, Athena sangat mirip dengannya, dia memiliki darah China lebih banyak. Berbeda dengan Ares, dia lebih mirip orang Amerika Latin.
Sekilas mereka berdua tidak terlihat kembar. Tapi melihat lebih dalam pada manik keduanya, di sanalah persamaannya ada.
Lily selesai memasak makan malam, dia ingin menghabiskan makan malam berdua dengan suaminya, sambil mengawasi anak anak.Â
Lily tahu lelah bagi David ikut mengurus bayi bayinya, tapi waktu tidak bia diputar, Lily tidak ingin David kehilangan moment menjadi sosok ayah.
Saat sedang diam memandang kedua bayinya, ponsel Lily berbunyi, itu dari nomor asing.
"Hallo?"
"Hallo, Lily, ini aku."
Lily menegang tahu suara ini. "Ibu?"
"Ya, aku dengar kau melahirkan."
"Iya, Ibu. Aku melahirkan anak kembar."
"Syukurlah, tapi kami belum bisa datang."
Lily diam sesaat, dia pikir akan ada kabar baik untuknya.Â
"Tapi kami akan datang suatu saat nanti, Lily."
"Aku akan menunggumu, Ibu."
"Terima kasih. Aku hanya akan memberitahumu kalau aku dan Ayahmu mengirim sesuatu untuk bayi bayimu."
Lily bahagia, rona wajahnya kembali terlihat. "Benarkah?"
"Iya, tunggu saja. Kalau begitu…., Sampai jumpa."
"Sampai jumpa, Ibu."
Menutup telpon, Lily kembali menatap kedua bayinya. "Mereka peduli pada kalian."
Dan saat itu, David yang baru saja datang memeluknya dari belakang. Membuat Lily tergelonjak kaget. "David, kapan kau datang?"
"Hallo, Sayang. Aku lihat para pengasuh tidak ada," ucapnya melihat ke arah bayi bayinya.
"Aku memulangkan mereka, aku tetap ingin kita merawatnya selagi ada, David."
"Aku paham, Sayang," ucap David memberikan ciuman di puncak kepala istrinya. "Aku tidak percaya menjadi seorang ayah, memiliki istri dan dikelilingi keluarga yang menyayangiku."
Lily tersenyum, dia mengusap tangan suaminya.
Keduanya masih memandang bayi mereka yang terlelap.
"Akan ada banyak cerita tentang anak anak kita nanti. Sayang, temani aku menjadi seorang Ayah."
"Dan ajari aku untuk menjadi seorang istri untukmu, David."
David kembali mencium puncak kepala istrinya.
"Jangan pergi dariku, Sayang."
"Kemana aku harus pergi? Aku terjebak dengan CEO-ku sendiri."
David terkekeh. "I love you."
"I love you too."
🌹🌹🌹
THE END.