Stuck With An Arrogant CEO

Stuck With An Arrogant CEO
Saling menggenggam



🌹VOTE🌹


"Jangan marah, David."


"Untuk apa aku marah? Aku tidak mempedulikan ucapan mereka." David terkekeh sinis. "Mereka hanya anak anak yang rendah berada di bawahku."


Jelas saja Lily tidak suka David yang arogan seperti saat mereka bertemu. David boleh arogant dan terlihat menakutkan untuk orang orang di luar sana. Tapi bagi Lily pribadi, dia suka David yang bermanja manja hanya padanya, meskipun di luar sana dia menakutkan.


"David?"


"Hm?"


"Mau ke rumah Oma?"


"Tidak."


"Lalu rotinya?"


"Nanti minta Nina antarkan saja."


Lily merasakan kemarahan David, rasa kesal suaminya. Dan itu membuat Lily menyentuh tangan David. Membuat pria itu mengemudi dengan satu tangan demi menggenggam tangan istrinya, kemudian David mencium tangan Lily.


Dan setidaknya itu membuat Lily senang, David tidak kesal padanya.


"Aku ingin mendekor kamar kita."


"Mendekor bagaimana?"


"Dengan warna merah muda."


David terdiam sesaat, warna kamarnya saat ini adalah hitam dan abu. 


"Merah muda? Bagaimana dengan biru? Itu lebih netral."


"Warna apa yang kau suka, David?"


"Hitam, Sayang."


"Aku tidak akan menghilangkan warna dasar di kamar, hanya mendekor dengan beberapa warna di sudut tertentu seperti meja rias. Seperti itu."


"Lakukan apa yang kau suka," ucap David pada akhirnya, dia selalu mengalah.


"David?"


"Hmm?"


"Besok Kak Radit menikah."


"Kita akan datang, tenang saja."


Lily kembali diam, dia tidak punya topik pembicaraan. Biasanya David yang selalu cerewed, mengatakan apapun yang membanggakan dan menaikan harga dirinya.


Namun sekarang, David lebih banyak diam. Dan Lily tidak suka itu.


"David?"


"Apa, Sayang?"


"Kau lebih banyak diam."


"Apa yang kau ingin aku lakukan hm?"


"Kau masih kesal?"


"Tidak."


"Kau bahkan tidak menatapku."


David terkekeh. "Kau selalu memarahiku saat aku tidak fokus ke depan bukan?"


Lily megerucutkan bibirnya.


"Ah, aku ada teman yang hendak datang ke apartemen."


"Siapa?"


"Mecca, dia teman semasa kuliahku."


"Mantanmu?" Tanya Lily penasaran.


Dan itu membuat David tertawa, dia kembali menggenggam tangan Lily dan menciumnya. "Bukan, Sayang. Sejak aku kuliah aku hanya fokus mencari dirimu."


Sontak saja itu membuat Lily tertawa. "Apa yang akan kau lakukan jika sudah tau hal ini akan terjadi?"


David mengangkat bahu. "Mungkin aku akan membawamu pergi dan merawatmu."


Lily menahan tawanya. "Bagaimana jika aku mengiramu adalah ayahku?"


"Oh tentu," ucap  David menepi.


Hal itu membuat Lily diam seketik, pikirnya suaminya marah. "David?"


"Mengira aku ayahmu?"


Membuat perempuan itu terkikik geli menahan serangan dari suaminya.


🌹🌹🌹


"Jika ingin istirahat, aku bisa mengantarmu ke atas dulu."


"Tidak apa," ucap Lily memilih menemani suaminya di caffe bawah. "Apa temanmu sudah datang?"


"Aku rasa belum," ucap David duduk di salah satu kursi di dekat jendela. "Kau ingin memesan sesuatu, Sayang?"


"Bagaimana denganmu?" Tanya Lily malu malu, pasalnya dia baru saja makan roti yang begitu banyak.


"Aku akan memesan kopi."


"Aku ingin milkshake."


David mengangguk, dia pergi ke tempat pemesanan. Dan saat itulah temannya yang bernama Mecca datang, dia langsung menghampiri David dan mengejutkannya dari belakang.


"Dor!"


"Oh shiit," umpat David tanpa suara. "Bisakah kau hilangkan kebiasaanmu itu?"


Wanita berambut pendek yang sangat stylish itu tertawa.


Lily hanya menatap dari sana, wanita itu sudah matang. Tingginya mencapai telinga David, tubuhnya bagus, dan sangat cocok dari segi fisik jika disandingkan dengan David.


"Kau sudah pesan?"


"Ya."


"Permisi, aku ingin ice Choco Banana."


"Kau masih suka pisang?"


"Aku suka pisang, kecuali pisangmu," ucap Mecca lalu tertawa kembali.


Lily terdiam, dia memperhatikan interaksi keduanya yang terlihat alami. Dan siapa saja yang melihatnya pasti akan mengira mereka pasangan.


"Pesanan anda."


"Oh, kami tidak memesan cokelat ini," ucap Mecca.


"Ini hadiah dari caffe kami yang sedang ulang tahun untuk pasangan yang memakai warna pakaian yang sama."


David segera membantah. "Sepertinya ada kesalahan, di--"


"Terima kasih," ucap Mecca mengambil baki itu. "Ayo cepat."


Mereka menjauh dari sana. "Kenapa kau tidak membantah?"


"Hei, siapa yang tidak ingin cokelat, di mana mejamu?"


"Di sana, aku mengajak istriku."


"Oh, disana rupanya. Hallo, Nyonya Fernandez, aku Mecca."


"Panggil saja aku Lily."


Mereka bersalaman.


"Aku tidak sabar datang ke resepsi kalian, aku dengar David akan memberikan pesawat jet sebagai bingkisan."


"Ya, pesawat jet dengan dahimu sebagai landasannya."


"Hahaha, siallan kau, David."


Keduanya tertawa lagi, membuat Lily hanya tersenyum.


"Mecca ini yang akan mengatur keamanan di pernikahan kita, Sayang."


"Dibalik wanita tangguh ada uang yang memupuni, aku punya sebuah layanan penyewaan jasa bodyguard, Lily."


"Itu sangat keren."


Mecca sangat ramah. "Ini cokelat untukmu, Lilu, hadiah dari caffe ini."


"Terima kasih."


Meskipun mereka berteman, Lily merasa tidak nyaman, Mecca dan David terlihat sangat akrab.


Apalagi orang mengira mereka adalah pasangan, seperti seseorang yang baru saja datang ke arah mereka lalu berucap, "Astaga, Mecca, apa kau yang akan menikah dengan David?"


Dan Lily hanya bisa meremas pakaian menahan rasa kesal, namun remasannya lepas saat tangan David menggenggamnya.


Saat tatapan mereka bertemu, David mengucapkan, "Ini istriku."


🌹🌹🌹


tbc