Stuck With An Arrogant CEO

Stuck With An Arrogant CEO
Menggali kotoran



🌹VOTE🌹


"Yakin sudah baik baik saja?" Tanya Lily untuk yang kesekian kalinya.


Pasalnya sekarang mereka akan pergi mencari hadiah untuk Radit menikah besok.


"David?"


David berbalik, menatap istrinya yang memakai sweater jaket dengan gaun selutut. Perutnya yang buncit selalu jadi pusat perhatian David.


"Berhenti menatap seperti itu," ucap Lily malu malu.


Membuat David terkekeh dan mendekat. Dia memberikan ciuman di pipi Lily sebelum berdiri di depannya.


Tubuh David yang menjulang tinggi membuat Lily harus mengadah untuk menatap manik suaminya.


"Ayo kita jalan jalan sore ini, kemarin aku tidur terlalu lama sampai bokongku terasa panas."


"Kau duduk, bukan tidur."


"Sama saja," ucap David menggenggam tangan Lily dan membawanya keluar dari kamar. Ketika menuruni tangga, David bertanya, "Sayang apa tidak lelah naik turun tangga?"


"Kenapa memangnya?"


"Oma selalu mengeluh, apalagi kau berbadan tiga. Bagaimana jika pindah saja kamarnya ke yang di bawah?"


Lily semula diam, dia memang lelah, tapi dia lebih suka pemandangan dari lantai dua. 


"Sayang?"


"Aku lebih suka yang di lantai dua."


David menarik napas menduga jawaban itu, dia memberikan ciuman di puncak kepala istrinya sambil melangkah menuju basement.


"Aku menghubungi Nina untuk membereskan rumah kita."


"Jangan biarkan dia mencuci."


"Apa?"


"Em….. jangan biarkan dia mencuci."


"Celana dalammu hilang lagi?"


Tanpa diduga, ternyata mereka berpapasan denga Nina di basement. Membuat Nina menunduk dan menyapa. "Tuan, Nyonya."


"Nina, kami akan pergi sampai jam makan malam. Tolong bersihkan di sana, tapi jangan mencuci pakaian dalam," ucap David yang membuat Nina was was.


Dia takut majikannya akan memotong gajinya atau sesuatu seperti itu.


"Ba… baik, Tuan."


"Lakukan apapun yang kau suka, tapi jangan merusak," ucap David membawa Lily kembali melangkah.


Nina terdiam di sana. Satu kesalahan kecilnya menghancurka  reputasinya yang sangat sempurna.


Nina tidak ingin hal itu terjadi. Maka darinya, Nina menghubungi seseorang. "Bawakan aku pita, kain tile, jarum, benang dan mutiara."


Apa yang Nina rencanakan? Dia berusaha memodifikasi celana dalam Lily yang rusak. Karena dia tidak membuangnya, melainkan menyimpannya untuk dilakukan sesuatu.


Nina melangkah sambil memegang tenggorokannya yang terasa kering.


"Aku harus bergegas."


🌹🌹🌹


Showroom menjadi incaran David. Dia akan memberikan sebuah mobil mewah pada pernikahan Radit. Bagaimanapun, David merasa dia pernah mendapat jasa Radit saat jadi sekretarisnya walaupun hanya sebentar. Radit mampu meng-handle pekerjaannya dengan pengusaha pelit yang tidak ingin berbagi ruang perusahaan.


Memilih mobil di salah satu cabang milik Luke, gunanya untuk mendapat diskon.


"Apa kau yakin akan memberikannya mobil, David?"


"Ya, ada apa?"


"Apa tidak berlebihan?"


"Sayang, tidak ada yang berlebihan di sini."


Pelayan di sana sudah tau dan mengenal David.


"Bagaimana kalau Ferarri?"


Lily diam saja, dia tidak tahu mana mobil yang bagus untuk dihadiahkan. Sebenarnya Lily ingin menghadiahkan kerajinan tangan, tapi dia tidak berani mengutarakan pendapatnya pada David. Sebab, David terlalu antusias untuk memamerkan kekayaannya.


"Berikan aku BMW tahun 1986."


"Baik, Tuan."


"Kenapa BMW?"


"Antik, Sayang." David merasakan kenginan ke kamar mandi. "Aku ke kamar mandi sebentar ya."


Lily mengangguk.


David pipis dan merapikan penampilannya. Saat keluar kamar mandi, ada kotoran yang masuk ke hidungnya yang membuat David beresin.


"Siiiall," umpatnya penuh tekanan.


Merasa kotoran itu ada di dalam, David menggunakan kelingkingnya untuk mengeluarkan.


"Oma terbaik, kelingking dengan kuku panjang mampu menjangkau hal hal diluar kendali," guman David sambil mencoba mengambil kotoran itu.


Dan saat dia melakukan itu, seorang pegawai datang untuk memberitahukan sesuatu padanya. "Tuan, untuk BM…..," ucapan pegawai wanita itu menggantu saat melihat David sedang mengupil. "Maaf, Tuan. Silahkan lanjutkan."


"Hei, hei, tunggu! Ini tidak seperti yang kau pikirkan."


Dan wanita itu sudah lebih dulu pergi. David buru buru menghubungi Holland.


"Hallo, Tuan Muda?"


"Showroom milik Luke, ada pegawai wanita berambut pendek, bermata hiju dan bernama Corey. Dia melihatku sedang menggali emas. Cari dia da desak agar informasi itu tidak bocor."


"Baik, Tuan Muda."


🌹🌹🌹


Tbc