
🌹VOTE🌹
David mengerutkan kening, sampai pagi hari pun, Lily tetap membelakanginya. Membuat David berdehem dan segera keluar untuk menemui penjaga villa.
"Mang, tolong siapkan peralatannya."
"Baik, Tuan."
Setelah itu, David menghubungi Sebastian.Â
"Di mana kalian?"
"Masih dalam perjalanan, sudah siapkan peralatan canyoning nya?"
"Beres, seret Luke."
"Aku mengerti."
Setelahnya David kembali masuk ke kamar, dia mmembuka semua jendela dan tirai agar sinar matahari masuk. Melihat Lily yang masih terbaring dengan mata bergerak, David yakin istrinya sudah bangun. Maka darinya dia kembali menaiki ranjang dan memeluknya dari belakang.
"Ada apa? Kau masih marah?"
"Tentu saja aku marah," guman Lily membuka mata.
"Baiklah, tidak akan aku lakukan lagi. Aku tidak akan olahraga malam."
Lily diam, masih cemberut.
"Sayang."
Masih enggan menjawab.
"Berbaliklah."
Tidak adanya respon membuat David yang membalikan Lily perlahan. "Nah, begini kan enak. Aku bisa menatap wajahmu, bukannya bicara dengan punggung. Aku juga bisa mengusap perutmu."
Wajah David turun, dia berhadapan dengan perut Lily. "Bayi bayi Papa, Mama sedang BadMood. Tolong bujuk dia ya supaya memeluk Papa lagi, apalagi Papa sudah mandi."
Lily mengerutkan keningnya, bibirnya kelu tidak bisa melawan kenarsisan David.
Saat David kembali mensejajarkan wajah mereka, Lily memalingkan matanya.
"Tatap aku, kenapa kau masih marah?"
"Aku kesal padamu," ucap Lily pelan, suaranya halus sehalus pipinya saat David mengusap. "Bagaimana jika kau bertemu gadis kampung?"
"Aku tidak melakukan apa pun, berlari saja terus. Haruskah aku menyundul mereka?"
"David." Lily merengek. "Bagaimana jika mereka menggodamu?"
"Aku abaikan mereka."
Lily mengerucutkan bibir.
"Jangan cemburu pada hal yang tidak pasti. Suamimu yang tampan ini setia."
Lily mengusap tangan David yang terluka. "Anjingnya menggigit?"
"Aku jatuh, anjingnya hanya mengejar."
"Bagaimana bisa kau dikejar anjing?"
David melingkarkaa tangannya di pinggang Lily. "Saat itu aku kelelahan, padahal baru beberapa menit. Aku lebih sering makan, tidur dan menggodamu akhir akhir ini. Aku khawatir si cokelat liat ini meleleh."
Kening Lily berkerut saat David mengusap dadanya sendiri yang telanjang.Â
"Makanya, aku melempari anjing itu dengan kelapa tua di pinggir jalan. Jadi aku memaci diri agar berlari lebih cepat."
Lily diam, dia pikir itu tidak masuk akal. Sampai dia akhirnya mengir hal lain. "Tidak masuk akal. Cokelatmu masih keras, tidak meleleh." Lily ikut menyentuh perut David.
"Iya, aku hanya menjaganya."
"Apa jangan jangan yang menggigitmu gadis kampung?"
"Ada apa dengan gadis kampung di sini? Apa mereka keturunan dedemit sehingga menggigitku?"
Lily meengerucutkan keningnya. "Iiiiiii, David kau menyebalkan."
"Sayang, sayang buka pintunya. Biar aku mandikan ya? Ayolah jangan begini. Apa yang kau inginkan, hmm? Akan aku penuhi semua."
🌹🌹🌹
"Jangan marah lagi," ucap David yang sedang mengemudikan mobil. "Konon katanya, jika suami tampan dijuteki istri, suaminya akan lari ke pelukan janda."
"Ya sudah lari saja malam nanti," gumam Lily lemah yang membuat David semakin merasa bersalah.
"Aku janji tidak akan pergi lagi malam ini, ya?"
Keduanya sedang berada dalam mobil menuju tempat makan yang Lily inginkan.
David membuka telapak tangannya minta disentuh oleh istrinya. Ketika Lily membalasnya dengan genggaman, artinya adalah perdamaian.
David mencium tangan istrinya lama. "Jangan bertengkar lagi ya…"
Lily mengangguk dan mulai membenarkan posisi duduk.
"Dari mana kau tahu tempat makan ini?"
"Aku dulu pernah ke sini saat acara amal, dan makan di sana."
"Bukan warung pinggir jalan kan?"
"Bukaa."
Memastikan lagi, David menggunakan google assistent mencari review tempat itu. Sebuah rumah makan berlantai dua yang klasik bergaya China.
"Kau suka makanan China, Sayang?"
"Hanya beberapa makanan saja."
"Apa yang ingin kau makan?"
"Mie di sana enak."
"Baiklah, bayi bayi kita ingin mie?"
Dan ketika di perjalanan, ada telpon dari Sebastian. David menelan ludahnya kasar, dia baru berdamai dengan Lily.
"Angkat saja telponnya, dari Sebastian bukan?"
David segera menggunaka earpiece dan mengangkatnya.
"Dimana kau, David?"
Dalam keadaab darurat, akhirnya David menggunakan kode yang sudah lama tidak digunakan. "Batang pohon kelapa menjulang tinggi, tertanam kembali oleh palu."
Maksud dari kode diantara Sebastian, Luke dan David itu diibaratkan keperkasaan mereka yang menjulang tinggi dan besar seperti batang pohon kelapa, palu diibaratkan bahwa mereka dalam keadaan darurat sehingga kembali tertanam, bukannya menusuk langit yang merupakan kewanitaan perempuan.
"Aku mengerti, sampai jumpa."
Lily mengerutka keningnya. "Apa yang baru saja kau katakan?"
"Ah, tidak ada. Aku ingin membeli kepala segar…." David menarik napasnya dalam, memberi tahu bahwa dirinya akan bermain bersama teman temannya bukanlah waktu yang tepat saat ini.
Sesampainya di rumah makan, Lily memesan dua porsi mie.
"Sayang, aku tidak mau mie, aku ingin makan yang lain."
"Mie itu untukku," guman Lily malu malu.
Yang segera David alihkan dengan dirinya yang memesan yang lain.
Saat pesanan datang, David terkejut dengan mangkuk mie yang begitu besar. Itu ada dua, dan semuanya milik Lily.
"Mie di sini porsinya kecil, jadi aku memesana dua," alibi Lily dengan pipi memerah malu.
Sebelum David menyetujui itu, dia mendengar pelanggan lain yang berkata, "Astaga, mie nya sangat banyak. Kita bertiga tidak bisa menghabiskannya, rasanya perut ingin meledak."
David menatap Lily, dan menyelipkan ana rambutnya yang menghalangi saat makan mie. "Sayang, bayi bayi kita akan baik baik saja bukan? Tidak meledak?"
🌹🌹🌹
Tbc