
🌹JANGAN LUPA KASIH LOVE YA SEMUANYA.🌹
🌹IGEH JUGA DIFOLLOW DI : @REDLILY123.🌹
🌹SELAMAT MEMBACA, SAYANG KALIAN SEMUA.🌹
Saat matahari mulai naik, Lily masih belum bisa menghubungi David. Ini membuatnya khaawatir dan juga kesal disaat bersamaan. Lily benar benar mengharapkan makan malam keluarga yang dipenuhi kehangatan, bukannya mereka ditinggalkan.
“Mommy?” tanya Athena dari pintu kamar. “Sedang apa?”
“Kemarilah, Sayang,” ucap Lily merentangkan tangannya, yang mana membuat Athena langsung berlari ke sana dan memeluk mommy nya. “Kapan Ales dan Daddy pulang?”
“Sepertinya mereka sedang ada urusan, Sayang.”
Athena menghela napasnya dalam, dia benar benar tidak bisa berjauhan terlalu lama dengan saudaranya itu.Â
“Padahal Thea ingin mempelihatkan kalau punya teman yang satu aksen pada Ales.”
“Teman satu aksen?”
Athena mengangguk. “Iya, Joy bicalanya sama sepelti Thea. Tapi Ales tidak ada, jadi tidak bisa pamel.”
Lily tersenyum menahan tawanya. “Kalau begitu bermainlah dengan Joy.”
Athena menggelengkan kepalanya. “Joy sedang belmain pasil dengan Lucas, Thea tidak suka.”
“Kalau begitu buatkan sesuatu untuk Joy. Bagaimana kalau memasak dengan Oma?”
“Aye yeee!” ucap Athena berlari keluar mencari Oma.
Kemudian terdengar teriakan. “Lilaaaa!”
Yang mana dibalas tawa saja oleh Lily, sepertinya Oma sedang sibuk sehingga tidak mau diganggu. Tapi mau bagaimana lagi, sesibuk apapun Oma dia pasti tidak akan pernah bisa menolak permintaan cicitnya.
Lily pun turun dan mencari keberadaan teman temannya, dia mendapati Rara yang sedang menjaga Lucas dan Joy di halaman belakang. Anak anak itu sedang bermain pasir. Yang mana membuat Lily duduk di samping Rara di sana.
“Dimana Nana?” tanya Lily.
“Sepertinya sedang mencoba menghubungi suaminya..”
“Astaga, aku harap makan malam kita tidak kacau.”
Rara mengangguk. “Aku khawatir Luke diculik wanita binall.”
“Hei, ayolah. Itu tidak akan terjadi,” ucap Lily meyakinkan. “Tapi mereka jahat jika menninggalkan kita seperti ini.”
“Jika mereka tidak datang saat makan malam, kita akan tinggalkan mereka. Bagaimana?” tanya Rara dengan wajahnya yang dipenuhi oleh senyuman iblis.
Lily hanya tersenyum kemudian menatap anak anak yang sedang bermain pasir. Di sana Joy terus bicara tanpa henti dengan kalimatnya yang cadel, sementara Lucas hanya diam dan memainkan pasir di depannya.
“Entah anaknya Nana yang memiliki mulut radio atau anakku yang telinganya tersumbat, dia hanya bermain tanpa menghiraukan Joy,” ucap Rara.
Sampai dia melihat Joy yang kesal karena diabaikan terus, dia marah dan memukul kepala Lucas dengan sekop mainkan. BUK! “Dengalkan aku! Jangan nakal!”
Sedikit kemudian. “Huaaaa! Mommy!” teriak Lucas.
🌹🌹🌹🌹🌹
Ares membuka matanya dan mendapati Michael yang masih tidur, yang mana membuatnya kesal. Pengasuhnya tidak menyenangkan, apalagi kini dia sedang tidur terlentang dengan mulut terbuka.
“Abang…..,” ucap Ares menggoyangkan tubuh Michael.
Anak David itu tidak berhenti. “Bang…., ada bakso tuh…”
Ternyata adik dari Sebastian itu belum kunjung membuka mata. Membuat tangan jahil Ares menutup hidungnya, menjepitnya kuat sehingga. “Hah!” Michael membuka matanya seketika karena kehilangan oksigen. “Apa yang kau lakukan?”
“Bang pulang yuk, Ares mulas.”
“Abang mau cebokin Ares?”
“Udah gede masih dicebokin? Ih gak malu.”
Ares menatap sinis Michael. “Suka suka aku lah, kan aku anak orang kaya,” ucapnya menirukan suara mail dalam serial upin ipin sambil turun dari ranjang. “Ares maunya dicebokin Mommy, ayo pualng aja. Ares tau jalannya kok.”
“Emang punya duit?”
“Yailah modal tampang gini mah bisa pulang, Bang. Ayo.”
“Jangan panggil abang kenapa?” gumam Michael turun dari ranjang dan memakai jaketnya, dia masih dalam keadaan setengah sadar sehingga pikirannya terkadang setengah jalan.
Dan Ares memanfaatkan moment, sebenarnya dia bisa poop sendiri, tapi saat ini dia ingin keluar dari kamar ini. dan sebelum benar benar keluar, Ares meraih sebuah snack, tangan jahilnya memasukan buliran snack itu ke dalam mulut pengasuh yang terbuka.
“Apa yang kau lakukan?”
“Ini sudah siang, dia pasti lapar, Bang,” ucap Ares kemudian menarik tangan Michael. “Ayo keluar dari sini.”
Ares sudah cukup familiar dengan hotel, dia juga yakin wajah tampannya akan dikenali orang orang. Saat menaiki lift dia menggerutu. “Kalau tau Daddy akan bermain, aku tidak akan ikut. Aku ingin bersama Athena, kudengar Joy juga satu jenis dengannya. Akan sangat lucu jika mereka berdebat bukan?”
“Kau ini bilang apa?” gumam Michael sambil mengucek matanya, layaknya anak kecil yang lucu. Padahal umurnya jauh lebih tua 5 tahun dari Ares.
Ares kembali menarik tangan Michel begitu pintu lift terbuka. Sampai matanya melotot. “Bang, ada game ares. Ke sana dulu yuk.”
Michael hanya mengikuti langkah anak kecil itu.
🌹🌹🌹🌹
David merasakan tendangan di kakinya saat dia sedang tidur. Ini benar benar mengganggu, dirinya baru tidur selama beberapa jam setelah berpesta. Tubuhnya terasa remuk dan juga mual tidak bisa diajak bermain.
Sudah lama dia tidak meminum banyak alcohol, sambil bernyanyi di sepanjang lorong hotel dan bermain kartu bersama sahabatnya.
Ketika tendangan di kakinya kembali terasa, David menendangnya balik.
“David, aku akan pergi memeriksa anak anak.”
Oh, ternyata Sebastian. David memilih memejamkan matanya semakin rapat. “Hmmm? Pastikan Ares makan,” ucap David kembali memejamkan matanya dan memeluk Luke yang ada di sampingnya.
“Kau akan ikut atau tidak?”
“Kau bilang akan bertanggung jawab atas semuanya.”
“Dasar,” gumam Sebastian sebelum melangkah pergi dari sana, yang mana membuat David kini sedikit tenang. Dia memang mengkhawatirkan Ares yang diasuh oleh seseorang yang tidak dekat dengannya. Tapi kini akan baik baik saja karena Sebastian akan pergi ke sana.
Jadi David memilih untuk kembali memejamkan matanya sambil memeluk anak bungsu di sampingnya.
Sampai beberapa puluh menit dilewati, David mendengar suara gedoran di pintu. Awalnya dia berniat mengabaikannya, tapi ketukan itu semakin kuat dan sangat lama. Itu mengganggu.
“Siapa yang mengganguku? Menyebalkan,” gumam David mendudukan dirinya, dia menatap Luke di sampingnya. “Bagaimana bisa tidurmu sangat nyenyak?”
Tubuhnya dipaksakan berdiri dan mendekati pintu. “Sebentar! Aku tidak memesan layakan kamar! Pergi!”
“Tuan Sebastian meminta saya menyampaikan pesan pada anda, Tuan!”
David baru ingat, ponselnya dimatikan. Jadi dia membuka pintu dan melihat seseorang; sepertinya manager hotel berdiri di depannya.
“Ada apa?”
“Tuan Sebastian meminta saya menyampaikan pesan kalau anak anak hilang.”
“Oh… anak anak hilang,” ucapnya santai. Sampai sedetik kemudian, “Apa?! Anak anak hilang?!”
🌹🌹🌹🌹
TO BE CONTINUE