Stuck With An Arrogant CEO

Stuck With An Arrogant CEO
Nina Bobo



🌹VOTE🌹


David menatap aneh pada gigi Oma yang disimpan dalam mangkuk di samping Oma sendiri. Mereka sedang sarapan, tapi David tidak bisa mengalihkan perhatiannya dari gigi palsu Oma.


"Apa yang kau lihat?" Tanya Oma kesal.


"Kenapa Oma menyimpannya dalam mangkuk?"


"Wadah gigi Oma tertinggal di rumah, lalu apa yang harus Oma lakukan?"


"Kenapa juga harus disimpan di samping Oma? Tidak dijauhkan saja."


"Begini." Oma mengunyah sesuatu yang lembek tanpa gigi, membuat David menatapnya aneh untuk pertama kali. "Apa yang kau lihat, bule tengik?"


"Oma, pakai gigi itu jika bersama orang lain. Aku bisa melihat masuk ke dalam mulut Oma dan tahu bagaimana cara bubur itu diguncang oleh gusi Oma."


"Dasar kurang asam."


Lily segera menengahi. "Oma, David tidak bermaksud seperti itu."


"Tidak, Sayang. Aku serius dengan Oma. Aku bisa melihat bagaimana gusi itu berjuang untuk mengunyah makanan. Sebaiknya Oma pakai gigi palsu saat bersama orang lain."


"Apa kau orang lain?"


David segera mengangkat tangannya ke udara. "Aku menyerah. Sayang… suapi aku."


"Baik."


Oma kesal melihat tingkah David yang manja, padahal seharusnya Lily lah yang manja mengingat dia sedang hamil. "Kenapa tidak makan sendiri? Apa jarimu lelah berjuang mengambil makanan?"


David berdecak. "Aku tidak bisa makan sambil menatap Oma dengan gigi di sana. Kenapa tidak pindahkan saja?"


"Astaga! Gigi Oma pernah dibawa kucing jika tidak di dekat Oma!"


David tertawa tidak percaya. "Apa gigi Oma bau ikan?"


"Entah, coba kau cium."


Seketika David merasa mual, dia berlari ke kamar mandi untuk memuntahkannya. Bukan hanya karena ucapan Oma, tapi tiba tiba saja perutnya mual dan ingin mengeluarkan isi perutnya.


"Hei! Gigi Oma tidak sebau itu!" Teriak Oma.


Lily segera menyusul suaminya dan menepuk punggungnya. 


"Sayang… aku mau pelukan," ucap David saat duduk di closet. Dia memeluk perut Lily sambil berulang menciumi perut buncit istrinya. Memang benar, efek kehamilan bisa datang pada sang suami. Dan David tahu itu, membuatnya bergumam, "Tidak apa, Sayang, biarkan Daddy mu yang tampan ini yang menyerap semua rasa mual."


"Daddy? Kau ingin mereka memanggilmu begitu, David?"


"Kau tidak suka, Sayang?"


"Eum… bukan begitu, hanya saja wajahku sepertinya tidak pantas dipanggil Mummy."


"Tentu saja kau tidak pantas."


Seketika kalimat itu membuat Lily meradang, tapi dia menelannya dan membiarkan begitu saa dan mencoba tidak menghiraukannya.


"Karena seharusnya mereka memanggilmu Mommy, bukan Mummy. Kau ingin menjadi mayat yang diawetkan, Sayang?"


"Ishhh….," Gumam Lily kesal, dia cemberut. "Ayo kembali makan."


"Aku mual."


"Ingin aku pijat dengan minyak gosok?"


David diam sebentar, dia melihat jam di tangannya. Harusnya sekarang dia pergi untuk menyusun peralatan rumah sesui keinginannya bersama Holland yang mendampingi. 


Namun…., David menginginkan sesuatu yang lain.


"Aku ingin dipijat dulu."


"Baiklah, ayo ke kamar. Aku nanti akan menyusul."


David keluar lebih dulu dari kamar mandi, dia melihat Oma yang mengunyah kulit dengan gusi. "Pakai gigi, Oma. Atau gergaji, aku kasihan pada gusimu itu."


"Dasar tengik, kenapa kau kembali ke atas huh?"


David terkekeh di ujung bawah tangga. "Aku dan Lily akan membuat adonan. Jadi Oma diam sebentar oke?"


"Apa?! Kau seharusnya pergi, Lily akan Oma ajak senam."


"Dasar cucu tengik!"


🌹🌹🌹


Oma gelisah melihat Lily yang masih ada di kamar atas. 


"Haduh, bagaimana ini? Si kacang mete akan segera datang, Eta."


"A… apa masalahnya, Nyonya Besar?"


Oma duduk sesaat, dia mengambil giginya yang ada dalam mangkok kemudian memasukannya ke dalam mulut.


"Astaga… bagaimana ini?"


"Apa masalahnya, Nyonya Besar?" Tanya Eta lagi.


"Sebenarnya, Eta….."


"Ya, Nyonya Besar?" Tanya Eta, dia mendekat agar majikannya mengatakan kegelisahan. "Katakan padaku, Nyonya Besar. Mungkin aku akan membantu."


Dan saat Oma akan mengatakan, David keluar dari kamar dan menuruni tangga.


"Mana Lila?"


"Astaga… Oma, jangan ganggu, dia sedang tidur!"


"Apa yang kau lakukan padanya?!"


"Aku memijatnya," ucap David santai, dia mengambil bir dari dalam kulkas.


"Kenapa dia sampai kelelahan?"


"Dia aku pijat sampai tidur, Oma."


"Bukankah kau yang mual?"


David diam, dia tersenyum. "Sebenarnya kami saling memijat."


"Apa?"


"He he, Oma kenapa kau tidak mengerti? Kami saling memijat, membuat adonan, sudah jangan ganggu. Lily sedang istirahat, dia akan mandi nanti. Oma senam saja duluan."


"Tidak bisa, David!"


"Oma berisik. Jangan berteriak, nanti giginya mental."


"Dasar cucu kurang ajar!"


David malah tertawa, dia segera keluar dari sana setelah mencium pipi Oma. Dan kepergian David membuat Oma kembali khawatir. "Bagaimana ini?"


"Apanya yang bagaimana, Nyonya Besar?"


"Sebenarnya…. Dalam perjanjian bersama Mete, aku menuliskan jika salah satu pihak tidak datang akan membayar uang."


"Maaf, Nyonya?"


"Aku maafkan. Astaga, aku pikir aku akan menang banyak. Ternyata rugi banyak, ini semua gara gara David."


Dan saat itu, Nina datang. 


Eta segera membukakan pintu.


Ketika melihat Nina, Oma tersenyum lebar. Nina memiliki badan yang tinggi, tapi tubuh yang kecil. Membuat Oma memiliki ide.


"Selamat pagi, Nyonya Besar."


"Nina bobo…. Kau sangat cantik. Maukah kau memakai jaket lalu terbaring di sini pura pura sakit?"


"Ma.. maaf, Nyonya Besar?"


"Aku maafkan, Nina. Jangan ulangi lagi oke. Nina Bobo, harusnya bobo di sini. Ayo, kemarilah."


🌹🌹🌹


TBC