
🌹VOTE YEEEE GAISSS🌹
David lebih banyak diam sambil menggendong Baby Athena, memikirkan apa yang telah dia lakukan. David baru sadar kalau Sebastian mempermainkannya.
"Bunga apa ini?" Tanya Lily yang melihat buket di nakas.
"Hah? Untukmu," jawab David dengan masih terbengong.
Dirinya sendiri tidak percaya telah menyatakan cinta pada orang yang salah. Dan itu merupakan suatu aib. Eta melihatnya bertingkah konyol di depan wanita selain Oma.
"Kenapa kau belum berganti pakaian, David?" Tanya Lily yang membereskan jas milik suaminya.
"Hah?"
"Belum mandi? Aku dan Oma membuatkan cemilan sebelum makan malam."
"Kenapa Oma di sini?" Tanya David.
"Membantuku masak, dia rindu pada cicitnya. Sekarang Oma sedang bersama Baby Ares."
"Ah ya…., Aku akan mandi nanti, Baby Athena belum ingin melepaskan pegangannya padaku."
Lily penasaran, dia mendekat pada bayinya yang merengek dalam pangkuan.Â
Dan kenyataanya, Baby Athena diam ketika sang ibu menggendongnya. "Aku pikir dia ingin menyusu. Kau mandi saja."
"Sayang," ucap David menahan tangan istrinya yang hendak keluar kamar. "Mandikan aku ya."
"Apa?" Lily terkejut dengan permintaan yang sudah lama tidak dia dapatkan.
"Mandikan aku," ucap David dengan mata linglung. "Aku akan menunggumu di sini."
Tahu ada sesuatu yang salah dengan suaminya, Lily mengangguk. "Baiklah…"
Dan saat Lily keluar, David berteriak kuat tanpa suara.Â
"Kenapa harus Etaaaaaa!?" Teriak David tanpa suara. "Astaga…..! Itu membuatku ngeri, bagaimana kalau ada orang tahu aku melakukannya?!"
David bergidik kuat sambil berteriak kesal, membayangkan Sebastian adalag bantal yang sedang dia pukul pukul.
Dan saat itu, Eta yang sedang menceritakan alasan David datang dengan wajah syok pada Oma. Hal itu membuat Oma tertawa terbahak bahak.
"Benarkah? Si tengil tengik itu melakukannya?"
Eta mengangguk. "Tuan Muda syok berat, Nyonya Besar. Aku takut dia trauma atau semacamnya."
Di saat bersamaan, Lily datang dengan menyusui Baby Athena. "Ada apa? Kenapa Oma tertawa sangat senang?"
"Astaga, Lila. Kau tidak tahu ya."
"Tidak tahu apa, Oma?"
"Sudahlah, Eta buatkan teh madu," ucap Oma memerintah.
Eta segera bergerak. "Baik, Nyonya Besar."
"Di mana Baby Ares, Oma?"
"Bersama pengasuhnya, dia tertidur. Jangan khawatir, si sulung itu tidak pernah rewel seperti adiknya."
Lily tersenyum, dia ikut duduk di sofa.
"Ini teh madu nya, Nyonya Besar," ucap Eta menyerahkan nampan.
Membuat Lily bertanya, "Itu bukan untuk Oma?"
"Bukan, ini untuk David."
"Apa sesuatu terjadi padanya?"
"Aku yakin dia akan menceritakannya padamu nanti."
Membawa minuman itu, Oma masuk ke dalam kamar cucunya. Dan didapati di sana David sedang duduk syok. Matanya menatap kosong.
Tahu ini adalah waktu yang tepat untuk seorang nenek dan cucu, Oma berkata dengan lembut, "David?"
David menoleh, dia memasang wajah kesal bercampur sedih seketika. "Oma…"
🌹🌹🌹
Baby Athena dan Baby Ares memiliki ruangan bayi sendiri saat siang hari. Hanya saja saat malam mereka tidur bersama David dan Lily agar bisa diawasi.
Untuk waktu terang seperti sekarang, para pengasuh mengasuh mereka di ruangannya. Dengan asi milik Lily yang sudah dipindahkan ke dalam botol, jadi mereka bisa menyusu tanpa ada dirinya.
Ingat dirinya hendak memandikan David, Lily masuk ke dalam kamar.
"David?"
Tidak ada siapa pun di sana, membuat Lily berinisiatif masuk ke kamar mandi.
Dan tanpa diduga, dia melihat David sedang membuka baju sambil membelakanginya.
"David?"
"Sayang? Aku pikir kau tidak akan datang," ucap David yang kini memakai boxer. "Kau sudah mandi?"
Lily menggeleng dengan wajah polosnya, rasa kesal pada suaminya sudah mulai terhapuskan.
"Mau mandi bersama?"
Lily mengangguk malu malu, dia berkata, "Tapi bekas operasi di perutku belum sepenuhnya baik. Aku belum bisa….. itu…."
"Tidak apa, Sayang. Adonannya bisa dibuat nanti jika anak anak sudah bisa dibawa Oma ke mansion."
Kening Lily berkerut saat David mendekat dan membuka pakaian miliknya. Lily heran karena perkataan suaminya. "Dan kapan mereka bisa dibawa ke mansion Oma?"
"Nanti jika sudah mulai makan."
"Mereka mulai makan saat berumur enam bulan, David."
"Aku tahu," ucap David melepaskan gaun yang menempel di tubuh istrinya.
Sampai akhirnya hanya menyisakan pakaian dalam, Lily memeluk dirinya sendiri. "Tubuhku buruk bukan?"
Kini manik David membalas tatapan istrinya. Dia mengusap halus pipi sang istri kemudian mencium pipinya. "Kau sempurna."
Lily melingkarkan tangan dan kaki saat David menggendongnya di depan. Membawanya masuk ke dalam bathub luas dengan air hangat dan sabun aroma therapy di dalamnya.
Semua kejadian yang sedang mereka lakukan mengingatkan Lily akan masa lalu mereka ketika pertama bertemu.
"Sayang?"
"Hmmm?"
"Apa kau memaafkanku?"
Lily diam, dia masih memeluk David hingga keduanya tidak bisa bertatapan. Tangan Lily membuat pola pola abstrak dengan telunjuknya di punggung David.
"Sayang… kau masih marah?"
"Jangan lakukan itu lagi. Jangan berpura pura mati demi kejutan."
"Maaf, aku janji tidak akan mengulanginya lagi."
Dan saat itu Lily meneteskan air matanya tanpa suara, mengingat apa yang terjadi apabila David benar benar hilang dari muka bumi.
"Sayang, apa kau menangis?"
Lily diam.
"Sayang?"
Tidak ada jawaban.
David kesulitan menatap wajah istrinya yang masih memeluknya. Jadi dia hanya merasakannya lewat degub jantung dan suara napas yang berbeda. "Sayang? Kau menangis? Kenapa? Apa aku sangat membuatmu kesal? Apa pria tampan dan kaya yang kau peluk ini masih membuatmu marah?"
Hingga akhirnya Lily berucap, "Jika kau melakukan rekayasa itu untuk mengetahui perasaanku, ketahuilah bahwa aku sangat mencintaimu. Dan anak anak kita membutuhkanmu, mereka mencintaimu. Jadi jika kau meninggalkan aku begitu saja, kau tidak hanya membunuh perasaanku satu kali, tapi tiga kali. Kau meninggalkanku, kau meninggalkan anak anak, dan kau menghilangkan kalimat aku dan kau."
🌹🌹🌹
TBC