
🌹VOTE YA GAISS🌹
"Sampai kapan badai ini reda?" Gumam David menatap keluar, dia berdecak sambil merokok.
Yang David hanya bisa lakukan adalah merokok di sana.
Sampai terdengar suara ketukan, David membuka dan melihat Holland ada di sana. "Ada apa?"
"Kerabat Tuan Luke membutuhkan penerbangan sekarang."
"Suruh saja Thor datang dan memberinya tumpangan palu petir. Dasar gila, badai sangat besar saat ini."
"Tapi, Tuan….., landasan dibuka untuk dua jam ke depan."
"Kau mendapatkan pilotnya?"
"Ya."
David menimang sebentar, sampai dia menanyakan, "Bagaimana rumah?"
"Kami sudah siap sejak dua hari lalu."
"Kita pulang sekarang."
"Tap--"
Kalimat Holland terputus karena David menutup pintu dan berbalik seketika. David tersenyum senang. Dia segera menghubungi Oma di sana.
"Hallo? Di sini malam, apa kau tidak punya pikiran?"
"Astaga, Oma. Beritahu Lily aku akan pulang hari ini. Kemungkinan akan sampai besok pagi."
"Yang benar?" Tanya Oma seolah mempermainkan.
"Benar, Oma. Beritahu istriku, aku tidak ingin mengganggunya."
"Lalu?" Tanya Oma malas. "Kau pikir Oma ke kamarnya jam malam begini tidak mengganggunya?"
"Ayolah, Oma. Nanti aku pulang berikan jam tangan limited edition."
"Siap, Boss," ucap Oma semangat seketika. "Tapi… bagaimana? Kau masih membutuhkan Oma sebagai Owner?"
"Aku akan memberitahu Oma nanti. Sampai jumpa dan selamat malam di sana."
Di saat itu, Oma yang menerima laporan dari David segera memakai sweater dan melangkah menuju kamar Lily.
"Apa anda butuh sesuatu, Nyonya Besar?" Tanya perawat yang ada di sana berjaga di depan kamar Lily.
"Aku perlu bicara dengan Lily."
"Nyonya Muda sudah terlelap."
"Tidak apa," ucap Oma melangkah melewati perawat itu dan masuk.Â
Kebetulan yang bagus, di sana Lily sedang terjaga karena memainkan ponsel. "Oma…"
"Apa yang sedang kau lakukan? Apa kau tidak tidur?"
"Eum… tidak." Lily menyembunyikan ponselnya. "Ada apa, Oma?"
"David sekarang pulang. Dia akan datang besok."
"Benarkah?!" Teriak Lily senang, yang mana membuat putra putrinya bangun dan menangis.
Karena tidak ingin kehilangan moment bersama Oma membicarakan suaminya, Lily menekan alat yang mana bisa mendatangkan para perawat.
"Tolong bantu mereka," ucap Lily yang memerintah dengan mata tidak lepas dari Oma. "Yang benar, Oma? Benar, ya?"
"Iya, David akan pulang besok. Tenanglah."
🌹🌹🌹
Marylin datang terburu buru setelah dia mendapat panggilan dari Lily. Dengan ngos ngosan dia mendatangi kamar majikannya.
"Nyonya muda?"
Di sana Lily sedang berdiri di walk in closet. "Masuklah."
Marylin masuk, dia mendekat. "Anda sudah bisa berjalan?"
"Kau seperti melihat wanita mati hidup lagi."
"Ya itu karena anda sering terbaring lemah, Nyonya Muda. Maafkan aku."
Lily cuek, dia memilih milih pakaian di depannya. Dan itu adalah lingerie.
"Oh, ya. Aku butuh lingerie, tapi bukan yang seksi seperti ini."
"Ya?" Marylin sedikit heran, biasanya yang pesan lingerie adalah tuan besarnya yakni David. "Lingerie?"
"Ya, David akan datang sore ini. Bisa kau buatkan dengan cepat?"
Marylin masih diam tidak menyangka Lily yang polos menginginkan hal itu. "Nanti aku bayar cash ke rekeningmu."
"Tentu, Nyonya Muda," ucap Marylin langsung mengeluarkan buku sketsa nya. "Bisa kita duduk?"
Lily mengangguk, mereka duduk di sofa. Anak anak Lily sedang diasuh oleh para perawat, Lily ingin konsentrasi dulu menimang apa yang dia inginkan dalam benaknya.
"Sebutkan apa yang ada dalam pikiran anda tentang pakaian itu, Nyonya Muda."
"Tidak terlalu seksi, tapi menonjolkan suatu sisi manis. Tertutup, tapi membuat dia bisa melihat celah dan beberapa titik yang seksi."
"Jubah?"
"Aku ingin jubah lengan panjang, dengan bawahan pendek. Berwarna pini yang menambah kesan manis. Tidak ada renda, aku ingin kau bermain dalam desain."
"Aku paham, Nyonya Muda. Sudah?"
"Sudah."
Marylin berdiri seketika. "Jika anda memberiku waktu untuk pulang sekarang, ini akan jadi nanti siang."
"Pergilah."
"Terima kasih, Nyonya Muda. Saya akan datang dan membawa gaji saya," ucapnya sambil cengengesan.
Marylin pergi dengan cepat, yang mana membuat Lily tersenyum sendiri merindukan suaminya. Bukan rindu tentang hubungan badan, melainkan lebih ke bermanja manja dan saling bercerita di atas ranjang.
Dan Lily ingin David melihat dirinya yang sudah bersolek untuknya, Lily diam diam ingin membuat suaminya terkesan. Semalaman dia memainkan ponsel mencari desain yang bagus untuk pakaiannya. "Astaga, pipiku panas," ucap Lily.
Dia keluar untuk melihat bayi bayinya yang sedang dijemur. Namun, dari kejauhan Lily mengerutkan kening. Tidak ada Oma yang biasaya ikut berjemur di sana.
"Di mana Oma?" Tanya Lily pada bawahan Eta yang sesama pelayan.
"Ada di bawah bersama Eta, Nyonya Muda."
Lily menyusul ke sana, dia mendekati ke arah dapur, tapi tidak ada.
Membuat Lily berdecak, dia segera melangkah mencari keberadaan Oma. Lily ingin meminta petuah atau resep resep jaman dahulu agar suaminya semakin menempel dan enggan pergi jauh lagi.
Senyuman Lily terlihat saat melihat Oma sedang berdiri di ruang keluarga, dia mendekat.
Saat Lily hendak memanggil, kalimatnya terpotong dengan perkataan Oma yang mengejutkan.
"Apa yang harus kita lakukan? Haruskah kita memberitahu Lily?" Tanya Oma pada Eta. Keduanya membelakangi Lily.
"Sudah seharusnya, Nyonya Besar. Nyonya Lily harus tahu ini."
"Lalu bagaimana nasib anak anak mereka? Lily akan menangis mengetahui ini."
"Tapi, belum tentu Tuan Muda meninggal, Nyonya Besar. Mereka masih melakukan pencarian."
Lily terdiam di sana, kalimat kalimat Oma semakin tidak jelas. Yang mana membuat air mata Lily berlinang dan jatuh.
"Apa maksudmu, Oma?"
Dan saat berbalik, Oma terkejut bukan kepalang.
"Astaga! Lila!"
"Apa maksud Oma? David meninggal?! Pencarian?! Apa ini?"
Keduanya diam enggan memberitahu.
"Oma!"
"Tenanglah, Nak." Oma mendekat pada Lily yang sudah menangis. "Suamimu akan ditemukan."
"Apa yang terjadi pada David?!"
Oma memeluk Lily saat sudah berada di depannya. "Pesawat David jatuh, mereka masih mencari jasadnya."
"Jasad?! David baik baik saja, Oma!"
Lily menangis kuat. "Dia tidak… hiks… tidak akan meninggalkanku, tidak dengan anak anak kami. Dia… dia…. Hiks... akan datang dan menggendongnya, dia akan memelukku. David… hiks… akan pulang, Oma."
🌹🌹🌹
TBC